
Hans, Ron, dan Marthin melemparkan kuda-kuda bersayap yang pingsan ke tengah-tengah hujan halilintar, beberapa saat sebelum Khan selesai menghimpun seluruh tenaga yang ia punya ke dalam palu legendaris itu.
"Teknik Tempa Raja Dwarves: Penciptaan!"
Kilatan cahaya membutakan semua pandangan. Namun, bagi mereka yang jaraknya cukup jauh dari lokasi akan melihat sebuah suar cahaya yang menembus awan gelap.
Orang-orang awam akan menyangka itu merupakan suatu bentuk hukuman ilahi atau kelahiran seorang Pahlawan, tetapi bagi para penempa dan para sarjana, mereka menyadari kalau itu adalah teknik penempaan yang hanya ada di dalam sebuah legenda. Teknik yang menghilang bersama dengan seluruh ras asli Dwarves, atau mereka yang lebih dikenal dengan sebutan: Para Dwarf Red Amethyst. Kurcaci Kecubung Merah. Teknik Tempa tingkat paling tinggi: Teknik Penciptaan.
"Buka mata kalian," kata Khan.
Semua orang membuka matanya secara perlahan. Hal pertama yang mereka lihat adalah kabut asap yang cukup tebal dan Khan yang terbaring dengan satu tangannya yang menghitam.
"Apa itu?"
Semua orang takut dan bingung. Bungkam oleh sebuah benda panjang raksasa yang nampak seperti seekor ular besar. Namun, Retia sebagai kontributor desain tahu bahwa itu terlihat seperti sebuah kereta hanya saja ada beberapa keanehan di bagian atap dan rodanya.
"Bagaimana menurutmu Nona Retia? Keke." Khan bertanya. Retia terdiam.
Tidak ada pendapat yang bisa mulutnya keluarkan selain, "Menakjubkan," dan, "Luar biasa."
Kereta itu terlihat sangat sangar dengan bentuk kepala Naga dibagian depannya. Badan kereta ditutup oleh sisik-sisik Leviathan sedangkan bagian atasnya memiliki sirip dan sayap kecil dibagian samping. Kereta itu nampak menyala cahaya putih dan biru yang cukup terang dengan sembilan gerbong yang saling bertautan.
Ron dan Hans maju ke depan dan membantu Khan untuk berdiri.
"Selamat atas keberhasilan Anda, Tuan," puji Ron.
"Terimakasih."
Khan beralih kepada Hans. Ada sedikit rasa takut di hatinya.
"Seperti yang kita sepakati tadi malam, kamu tidak akan menyerangku, kan? Tuan Mid Guardian?"
"Daripada itu, apa benar benda ini Physical Form-mu? Itu berarti ular aneh ini termasuk makhluk hidupkan?" Hans bertanya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, saat ini aku bahkan tidak punya setetes pun energi sihir, dasar brengsek. Jangan coba-coba untuk ingkar janji, bukannya kamu disumpah ksatria oleh kerajaan?"
"Sudah tahu begitu mengapa harus resah? Jawab saja pertanyaanku kalau masih punya energi untuk mengumpat."
"Oh, maaf. Aku punya kecenderungan untuk tidak percaya dengan mereka yang jari tangannya tersisa delapan."
"Hey?!"
"Ya, itu wujud physical form-ku walaupun hanya di bagian kepalanya saja. Terimakasih untuk desain yang disertai penjelasan milik Nona Retia, sekarang aku menjadi penyihir pertama yang memiliki physical form dengan bentuk yang bisa dimanipulasi ulang."
"Sekarang siapa yang mengalihkan pembicaraan?"
"Sudahlah. Ron, bawa aku ke dalam kepala Naga."
"Baik, Tuan!"
"Sial," Hans mengumpat kesal.
"Oh, benar. Anda juga harus ikut, Nona Retia!" Khan berteriak, mengabaikan Hans sekali lagi.
"Eh? Oh, baik!"
...•••...
Di dalam kepala Naga terdapat batu biru bundar dan kursi empuk yang cukup nyaman ketika Retia duduki. Batu itu adalah pengontrol yang berguna untuk menyalurkan energi dari kepala Naga menuju gerbong-gerbong di bagian belakangnya. Juga, untuk mengontrol pergerakan makhluk yang tercipta dari sihir secara manual.
Pada umumnya physical form hanya bisa digunakan pada jasad hewan yang masih utuh, tetapi bisa juga digunakan kepada jasad hewan yang sudah dimodifikasi. Namun, untuk memodifikasinya membutuhkan waktu yang sangat panjang dan lama. Jika saja Khan tidak mewarisi teknik Tempa legendaris yang bisa menciptakan sesuatu dengan instan, mereka mungkin harus mengikhlaskan nyawa beberapa orang yang sakit.
Khan duduk di depan bangku pengendali, meletakkan tangan di atasnya dan membuat kereta bergerak sedikit melayang di udara. Bagian-bagian gerbong kereta mulai menabrak satu sama lain dan menyatu. Kini Retia dapat melihat di belakangnya sudah terdapat kursi-kursi pesawat terbang yang ia tempelkan di perkamen sebelumnya.
..."Aku pikir dia membuat kereta api, tetapi sepertinya dia malah menggabungkan semua desain yang aku tempel menjadi satu, sungguh orang aneh yang luar biasa."...
Gerbong pertama adalah ruang kontrol atau Kepala Naga, gerbong kedua dan ketiga berisi barisan tempat duduk yang terlihat seperti kursi pesawat terbang. Gerbong kelima berisi tempat tidur bertingkat, gerbong ke enam adalah gudang. Gerbong ketujuh dapur sedangkan di gerbong terakhir terdapat semacam toilet. Kereta yang lebih seperti sebuah rumah mewah.
"Ron, arahkan semua orang untuk masuk, kita harus segera berangkat untuk menguji kecepatan Naga ini. Jika memungkinkan aku ingin sarapan di Kansas saja." Khan memberi perintah.
"Baik!" jawab Ron.
Semua orang mulai naik satu persatu. Mereka yang sakit dan lelah dibaringkan di gerbong ke lima, sementara yang lain berada di gerbong kedua dan ketiga. Retia mengarahkan semua orang untuk memakai sabuk pengaman. Merasa bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang buruk dengan kereta ini.
"Semuanya sudah naik, Tuan!"
"Baik, kamu juga duduklah. Kita akan berangkat, menuju Kansas."
Kereta mulai bergerak, sedikit bergoyang hingga membuat bulu-bulu di tubuh penumpang menjadi merinding. Setiap gerbong memiliki jendela kecil berlapis kaca, sehingga mereka bisa melihat bahwa mereka sedang mengudara. Walaupun hanya sedikit di atas permukaan.
"Ron, apa sungai ini, sungai yang sama dengan yang membelah kota Kansas?"
"Ya, Tuan! sewaktu kota Kansas belum ditinggalkan, pada warganya pergi ke ibu kota menggunakan perahu."
"Jadi, apakah jalur sungai lebih cepat daripada jalur darat?"
"Kemungkinan seperti itu, karena jalur sungai cukup lurus, sedangkan jalur darat harus memutari gunung batu sebelum sampai di Kansas. Seingat Saya sungai ini malah membelahnya."
"Bagus, karena harus cepat sampai, kita akan bergerak di sungai."
Kereta kini bergerak mulai maju, cukup sunyi tanpa ada bunyi mesin penggerak sama sekali. Semua orang yang melihat pemandangan sekitar dari jendela, langsung dibuat pusing ketika Kereta bergerak dengan kecepatan tinggi. Semua orang menjadi bisu dengan keringat dingin yang membasahi tubuh. Mereka semua berpikir hal yang sama, "Bukankah ini terlalu cepat?"
Di gerbong kepala Naga terdapat empat kursi. Khan duduk bersama dengan Ron, sedangkan di belakang mereka ada Hans dan Retia.
Sejujurnya Retia cukup ketakutan sekarang ini. Alih-alih suara mesin yang bergerak, kereta ini sesekali malah memekik seperti suara Leviathan sebelumnya.
"Apa Suara itu tidak bisa dihentikan? Mereka yang ada di belakang terlihat ketakutan." Retia membuka suara.
"Hahaha, kenapa? Bukankah aku sudah bilang kalau benda ini makhluk hidup? Tentu saja mereka bisa berteriak senang layaknya anak kecil yang diajak jalan-jalan," jawab Khan.
"Secara teknis, saat ini kita sedang di makan olehnya." Hans menambahkan.
"Tunggu, lalu benda empuk dari sofa ini?"
"Yah, itu pasti dari daging Leviathan atau kuda bersayap, bukankah Anda melihat sendiri kalau si sinting itu menggunakan daging Leviathan dan tubuh kuda bersayap sebagai materialnya?"
Retia terdiam beribu bahasa. Rasanya canggung dan sangat aneh. Menumpang di dalam kepala makhluk hidup, siapa yang pernah memikirkan ide gila itu.
...•••...