Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 19 : Bandit Bandana Merah


Kereta kencana telah berangkat dan jauh keluar dari kota Sorrow. Jalan yang mereka ambil adalah jalan tercepat menuju kota ujung timur, Kansas. Orang-orang menyebutnya sebagai jalan Berrew. Jalan lurus yang menembus hutan dan sungai untuk memangkas waktu. Berbahaya, tetapi tidak ada yang khawatir, apalagi setelah melihat pertarungan Khan dan Hans barusan.


"Urgh, pelan-pelan," keluh Hans.


"Sudah tahu terluka, kenapa malah bertengkar? Memangnya kenapa dengan Khan? Kamu punya dendam pribadi dengannya?" tanya Retia yang tengah sibuk membalut luka di tangan Hans yang kini kembali terbuka akibat benturan pertikaian dengan Khan. Ikatan perban Retia yang mungkin tidak mau dialami oleh siapapun saking ngasalnya.


Hans hanya diam, Retia tahu kalau Hans tidak banyak bicara, tetapi ini benar-benar mengesalkan. Susana super canggung dan tidak nyaman ini menghilangkan minatnya untuk melihat pemandangan dunia ini yang sangat asri dan indah. Pemandangan yang super langka jika di bumi.


"Tidak mau bicara, ya?"


Retia menyeringai dan menarik perban dengan sangat kuat membuatnya terikat erat hingga membuat Hans berteriak dan melolong.


"Dasar bodoh."


Mendengar itu Khan yang berada di kereta paling depan bergumam sambil mengobati luka di tulangnya dengan dibantu oleh seorang Ahli Alkimia yang ia bawa dari kota Sorrow.


...•••...


Sebelumnya...


"Kumohon berhenti!" Retia berteriak. Mau tak mau membuat Khan menghentikan serangannya. Ada beberapa sebab untuk Khan memilih mundur, yang pertama Khan tidak tahu apa yang membentur kepalanya. Yang ke dua, Khan harus menjaga relasi dengan Retia yang punya banyak pengetahuan. Yang terakhir, Khan merasa ada yang aneh antara Hans dan Retia.


Jika pertarungan terus berlanjut sudah dipastikan kalau Khan akan kalah, bahkan setelah mengetahui hal itu Hans menghentikan niatnya hanya demi Retia. Khan menjadi sangat tertarik, tetapi masih mencoba untuk memantau situasi, setidaknya sampai menemukan sebuah petunjuk tentang asal-usul Retia.


"Aku tahu kalau Aku imut, tetapi dengan merebutkanku seperti ini tidak akan membuatku bahagia!" Retia kembali berteriak, hanyut dalam dekapan cerita dongeng.


"Bicara apa?"


Khan mengerutkan wajahnya. Menolak percaya dengan pikiran Retia.


"Kosong satu empat, semua yang kau pikirkan itu salah, aku di sini bukan untuk menangkapmu atau sesuatu seperti itu, aku bahkan tidak tahu kalau kamu masih hidup, keke. Oh, benar. Maaf soal jarimu."


"Kamu!" Hans menggeram menahan amarahnya.


"Jadi, orang yang melukai Hans benar-benar Khan? Dasar tuan tanah sinting, dia masuk ke wilayah terlarang lalu memutus jari orang lain?" batin Retia. "Namun, apa itu kosong satu empat? apa itu semacam kode nama? Apa mungkin itu istilah psikopat dalam menamai korbannya?" sambungnya.


"Tuan Khan, mari berangkat sekarang, jika lebih lama lagi, mau tidak mau kita akan berkemah selama dua malam." Ron datang menengahi suasana yang masih panas itu.


"Baiklah, ayo Nona Retia."


Khan berbalik menurunkan penjagaannya dan menarik tangan Retia menuju kereta.


"Tunggu, biarkan aku ikut!" pinta Hans.


"Tidak mau!" tolak Khan.


"Akan aku berikan sekantung emas. Kamu juga bisa mempekerjakanku sebagai penjaga," kata Khan sambil memberikan sekantong emas yang ia dapatkan dari Retia.


"Pertama, emas itu berasal dariku, ke dua, aku tidak suka penjaga yang jari tangannya cuma delapan." Khan mengejek sambil terus berjalan meninggalkan Hans yang sangat kesal.


"Brengsek!" umpatnya.


"Aku berikan kediaman ini," tawar Hans. Mary dan Sylvi saling pandang, jika itu terjadi apa mereka akan menjadi pangangguran atau malah ikut dibawa ke kota ujung timur.


"Aku punya sebuah kota." Khan menolak.


"Bagaimana dengan gelar ksatria terkuat di kerajaan?" Hans masih gigih menawar.


"Aku tidak peduli, lagipula kerajaan menganggapku sebagai pahlawan." Khan menghentikan langkahnya dan memamerkan plakat emas kepada Hans yang kini semakin kesal.


"Apa kamu gila?"


"Hentikan!"


Retia kembali berteriak melerai. Sebentar lagi suaranya akan menjadi saura robot jika terus berteriak seperti itu.


"Kamu Hans, apa kamu sudah gila?"


"Eh?"


"Lalu, Anda Tuan Khan, jika Anda tidak mengijinkan Hans untuk ikut, Saya juga tidak akan pergi!"


"Sial."


Begitulah semuanya terjadi, Hans pergi menuju Area Reona untuk mengambil sesuatu dan Khan langsung menyihir Pegasus untuk mempercepat laju lari mereka, tetapi Hans masih bisa menyusulnya dan bergabung di dalam gerbong kereta ini.


Retia masih bingung dengan apa yang terjadi, tetapi ia tahu sesuatu yang pasti. Hans saat ini menjadi sangat miskin.


...•••...


"Kalian harus membayar jika ingin melewati jalan ini! Berikan pada kami semua yang kalian miliki!!"


Suara teriakan kasar itu menghentikan laju kereta. Mereka adalah bandit dengan skala keanggotaan yang besar, hampir mencapai seratus orang.


"Wow, seperti di dalam novel, setiap kali protagonis melakukan perjalanan, pasti ada saja bandit yang mencoba melakukan hal buruk pada rombongannya, apa mereka tidak melihat Khan di depan sana? Aku merasa kasihan dan turut berdukacita atas itu," batin Retia.


Tidak ada rasa takut sama sekali yang terlihat di wajahnya. Begitupun dengan anggota rombongan lainnya, mereka cukup santai untuk mengobrol dan bersiap keluar dari kereta. Mereka semua punya kepercayaan yang tinggi terhadap Khan, si orang sinting.


Di depan, Khan dan Ron berhadapan langsung dengan para bandit yang memakai bandana merah sebagai identitas mereka. Tubuh mereka besar, gelap, dan penuh bekas luka. Semua jenis senjata dari yang normal seperti pedang sampai senjata aneh ada di tangan mereka.


"Mereka semua bodoh, ya?"


Bahkan jika Khan cukup lelah, setidaknya dibutuhkan ratusan bandit untuk membuatnya gentar dan ribuan bandit untuk membuatnya tumbang.


"Saya rasa begitu," setuju Ron.


"Ron, pergi ke belakang dan katakan pada yang lain untuk bersiap istirahat makan siang di sini."


"Baik!"


"Oh, tunggu sebentar. Tolong katakan pada Retia...


...•••...


Ron pergi ke belakang, mengabari satu persatu gerbong sampai akhirnya sampai di gerbong terakhir, tempat Retia dan Hans berada.


"Nona Retia, Tuan Khan memerintahkan untuk istirahat makan siang di sini, kata Tuan, 'Kebetulan sekali ada banyak daging di depan sini. Oh, daging di sini mungkin agak berbeda dengan yang biasa aku makan, tetapi Nona Retia pasti bisa memasaknya'," kata Ron sambil berusaha meniru seringai khas milik Khan.


"Sudah kuduga, Khan jauh lebih mengerikan dan menakutkan jika dibandingkan dengan para Bandit di depan sana," batin Retia.


"Jadi, Tuan harap Anda bisa membantu dan mengarahkan wanita lain untuk memasak makan siang." Ron melanjutkan.


"Baiklah," kata Retia sembari berdiri hendak keluar dari gerbong, diikuti oleh Hans dan yang lainnya.


"Apa perlu aku membantu?" tanya Hans, berniat membantu menghalau Bandit ketika mendengar benturan logam saling hantam.


Namun, Khan menghampirinya dalam keadaan berlumuran darah.