Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 12 : Mansion Khan


Retia duduk di sofa lembut, menyeruput teh hangat yang begitu harum sambil mengecek informasi minuman itu.


"Mari lihat, mengapa si Tuan Tanah dan Mary ingin meminum teh ini," kata Retia.


[ Teh Rebilla ]


Rank: A


Kesegaran: 94%


Nilai Rasa: 87%


Nilai aroma: 90%


Nilai Bentuk: 77%


Nilai Dekorasi: 76%


Bahan: ( Tidak teridentifikasi karena kurangnya pengetahuan Pengguna )


Hidangan Serupa: Teh Putih.


"Hidangan Serupa? Ah, apa ini efek kemampuan baru itu?" batin Retia, perhatiannya kemudian teralihkan dengan kata sesudahnya.


"Teh Putih? artinya Pucuk Peko, kan? Apa di dunia ini mereka menggunakan tanaman lain?" sambungnya.


Sebelumnya, setelah mendengar apa yang terjadi dari sudut pandang Retia dan Peternak Kentang, Khan memutuskan untuk membawa Retia ke kediamannya dan membayar ganti rugi atas perilaku Retia yang membuat Peternak itu ketakutan setengah mati.


Ruangan tempat Retia duduk santai sangat luas, empat kali lipat lebih besar dari kostannya dahulu. Retia saat ini berada disebuah Mansion, tepatnya di kediaman Tuan Tanah, Khan, pria yang menyelamatkan nyawanya tadi.


"Maaf, terlalu lama."


Khan datang disambut oleh jatuhnya hormat pelayan-pelayan di sekitarnya. Pakaian Khan sudah berganti, dari yang semula terlihat mewah bagai bangsawan kini menjadi baju biasa yang nyaman dikenakan. Walaupun begitu wibawa yang dipancarkannya tidak menghilang atau berkurang, mungkin justru bertambah kuat, pasal tubuh kekarnya hampir tercetak sempurna di baju.


Retia mengangkat tubuhnya berdiri, tetapi Hans mengisyaratkan untuk tetap duduk.


"Jadi, atas dasar apa kamu mengunjungi Kerajaan terpencil ini?" tanya Hans. Retia bingung pada awalnya, tetapi dapat paham mengapa Khan menanyakan hal tersebut.


Khan memiliki rambut dan bola mata yang hitam, khas penduduk Kekaisaran. Khan mungkin mengira kalau Retia juga berasal dari tempat yang sama. Retia ingin berbohong, tetapi setelah berpikir, tujuannya pergi tadi untuk mencari nama dan koneksi. Tuan Tanah pastilah koneksi yang ia cari-cari.


"Saya ingin menjadi Ratu Memasak!" jawab Retia penuh semangat kepastian dan ambisi yang membara.


"Ratu Memasak? Ah, kompetisi itu? Jadi, apa Anda bisa memasak?" tanya Khan, wajahnya tersenyum hangat. Membuat Retia teringat Keinginan Khusus milik Khan yaitu: Mencari Orang Berbakat dan mungkin sekarang Retia diuji olehnya.


Retia menyeringai, kesempatan sempurna seperti ini tidak mungkin ia lepaskan. Bermain-main dengan seorang Bangsawan seperti di banyak novel fantasi menjadi nakhoda keusilannya.


"Apa Anda punya Kepiting di dapur?" tanya Retia. Mendengar itu Khan tidak terkejut seperti yang Retia harapkan. Khan malah terlihat semakin tertarik dan sedikit menaruh curiga. Retia menyesal mengatakan itu dengan penuh percaya diri. Sekarang bukan Retia yang menggenggam Khan, bisa jadi malah sebaliknya.


Khan mengangkat tangannya, sebuah isyarat untuk memanggil seorang pria yang berdiri tegap dibelakangnya. Pria itu langsung maju beberapa langkah ke belakang punggung Khan.


"Ron, apa Rena sudah membeli Kepiting yang aku minta?" tanya Khan pada Ron, kepala pelayan Mansion ini. Rena sendiri adalah asisten koki.


Khan kembali kepada Retia, "Jadi, apa yang ingin Anda lakukan dengan kepiting yang secara ajaib kamu tebak ada di dapur kami?" tanya Khan dengan wajah serius.


Retia akhirnya benar-benar menyesal telah mencoba bermain-main dengan Tuan Tanah tampan ini.


...•••...


Retia sekarang berada di dapur, disaksikan oleh hampir seluruh pekerja di Mansion tersebut. Sambil menunggu Ron membawakan kepiting yang capitnya sudah terikat, Retia menyiapkan berbagai macam alat untuk membersihkan dan memisahkan daging kepiting dari dalam capitnya.


Pemecah kacang untuk memecahkan capit, balok es untuk menidurkan Kepiting, dan sumpit untuk menarik keluar daging dari kaki-kakinya.


Karena tidak tahu sesuatu seperti hidangan rebusan Kepiting, Retia berniat membuat Garnis daging Kepiting. Retia menyiapkan, minyak, lada, garam, tepung, keju, mentega, daun sup, bayam muda, kentang, dan bawang bombai. Dapur di sini jauh lebih lengkap daripada di kediaman Hans.


Tak lama waktu berjalan, Ron datang membawa kepiting berukuran dua puluh tiga sentimeter, sebanyak empat ekor.


"Apa yang akan kamu lakukan untuk mematikannya?" tanya Khan, membuat Retia menjadi sangat gugup. "Aku tidak akan dibunuh jika hidangannya tidak enak, kan?" batin Retia takut.


"Pertama-tama, Saya akan memasukkan Kepiting ke dalam pendingin atau merendamnya ke dalam air es, supaya dia menjadi lemas, baru setelah itu akan Saya tusuk agar memastikan kepiting sudah meninggal," jawab Retia.


"Mengapa harus begitu? Bukankah cukup langsung menusuknya saja?" tanya Mariena, Kepala Koki di tempat ini.


"Saya tahu, tetapi setidaknya dengan membuat dia lemas bisa meringankan sedikit rasa sakit kematiannya. Yah, semacam memberikan kematian yang nyaman?" jelas Retia.


"Kematian yang nyaman, ya. Omong kosong macam apa itu?" Khan nampak jengkel tanpa sebab yang jelas. Matanya menyala dan tanpa sadar melepaskan hasrat membunuh yang tipis. Walaupun begitu, itu saja sudah cukup untuk membuat Retia tidak berani menoleh ke belakang lagi.


"Tunggu, biar aku bantu," kata Khan. Retia mau tidak mau harus menurut. Retia menyerahkan Kepiting itu kepada Khan. Namun, malah dibuat melayang olehnya.


Benar, semacam nyala api muncul di tangan Khan dengan warna birunya yang khas. Kemudian membuat Kepiting itu mengudara. Retia takjub, sedikit merasa takut. Jika hal seperti ini terjadi di Bumi, Retia seratus persen akan tidak mempercayainya. Namun, ini adalah dunia lain dengan Monster dan makhluk aneh lain yang menghiasi permukaannya.


"Tadi kamu bilang di dinginkan dulu, kan?" tanya Khan.


Khan menggerakkan batuan es yang sudah Retia pecahkan. Perlahan batuan es itu melayang, berputar mengelilingi kepiting yang masih takjub dirinya bisa terbang di udara.


Khan menggerakkan tangannya, membuat batuan es itu mencair dan dalam waktu yang hampir bersamaan, Khan menggenggam kembali tangannya, membekukaan kembali air yang mengelilingi kepiting hingga menjadi balok es besar berisi Kepiting di dalamnya.


"Setelah itu tusuk dengan kuat sampai mampus."


Khan mengeluarkan pisaunya dari ikat pinggang. Kemudian menusuk kepiting hingga tembus ke tempurung kepala.


"Dia pasti merasa nyaman, 'kan?" tanya Khan, seringai terukir di wajahnya.


Retia membisu tanpa suara. Sejak Retia sampai di dunia ini, Retia telah mempersiapkan hati untuk menunggu momen pertama kali dirinya melihat kuasa sihir. Namun, tidak pernah terbayang akan melihatnya dengan cara yang begitu brutal.


"Oh, sepertinya yang diharapkan dari Tuanku, tusukan Anda sangat kuat dan pedas.~" Mariena memecahkan suasana gelap itu dan dengan cepat mendapatkan kontrol penuh dari perhatian setiap orang.


"Namun, jika Anda ikut membantu, Nona Retia mungkin akan sibuk mengagumi Anda dan menjadi tidak fokus untuk memasak, bukankah tadi Anda bilang menemukan seseorang yang berbakat? Ayo, kunjungi dia bersama.~" Mariena berhasil membuat Khan yang sedang kalap keluar dari dapur.


"Hah...."