
"Ibu-ibu terimakasih sudah menghadiri pengajian bulan, semoga ibu-ibu yang datang hari ini mendapatkan berkah dunia dan akhir. Amiin Ya Robbal'alamin, sekian dari saya wasalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh." Bu Salamah mengantupkan kedua tangannya.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh." Serentak.
"Akhirnya selesai juga dari tadi kuping ku terasa panas, tapi hati kenapa terasa tenang perasaan apa ini. Belum pernah aku rasakan." Kata Mami Siska dalam hati.
Umi Aisyah membantu ibu-ibu membereskan sisa makan dan minum yang berserakan dimana-mana. Sedangkan Mami Siska menatap sinis Umi Aisyah, ia merasa dendam. Karena di pikirnya Papi Mario lebih menceraikannya agar bisa berhubungan lagi dengan Umi Aisyah, ia tidak menyadari sikapnya lah yang membuat kehidupannya hancur.
"Ibu Siska, bagaimana gimana tentang pengajian ini?apa ibu Siska mau ada yang di tanyakan, soalnya saya lihat dari tadi ibu Siska terlihat bingung." Ibu Salamah menepuk tangan Mami Siska.
"Hah! Ngga kok, cukup bagus pengajiannya. Saya suka." Kata Mami Siska berbohong dan menggaruk tengkuk lehernya.
"Syukur Alhamdulillah, kalau Ibu Siska suka dengan pengajian ini. Kapan-kapan boleh kita mengadakan pengajian di rumah ibu Siska." Kata Ibu Salamah senyum.
"Wah! bisa gawat, nanti kuping ku terasa kebakar lagi. Lagi ini ibu Salamah deman banget nempel sama aku." Batin Mami Siska.
"Ah! i-itu... Insya Allah, kalau saya ada waktu ya bu." Mami Siska senyum kikuk.
"Baiklah, Bu. Boleh saya minta nomor ponsel ibu?buat nanti saya hubungi ibu."
"Ah! Iya, ini silakan." Mami Siska memberikan ponsel ke Ibu Salamah.
Ibu Salamah memasukan nomor ponsel Mami Siska ke ponselnya.
"Ini Bu, terimakasih." Ibu Salamah menyerahkan kembali ponsel Mami Siska.
"Iya, sama-sama bu. Oia, saya permisi dulu mau ke toilet. Dimana ya toiletnya?."
"Oh! itu yang dekat dapur aja biar lebih dekat."
"Terimakasih... Saya permisi dulu." Mami Siska berdiri dan menuju Toilet.
Ketika Mami Siska ingin masuk ke toilet berpapasan dengan Umi Aisyah.
"Maaf, kalau kamu buru-buru. Silakan masuk duluan." Umi Aisyah ramah dan mempersilahkan Mami Siska.
"Ngga usah ramah dech kamu sama aku." Mami Siska menyenggol kasar bahu Umi Aisyah, melihat tingkah Mami Siska Umi Aisyah menggelengkan kepala dan tersenyum.
Mami Siska telah usai membuang hajat.
"Eh! Tunggu, aku mau buat perhitungan sama kamu." Mami Siska mencengkeram tangan Umi Aisyah.
"Aauuww... Siska... Sakit..." Rintih Umi Aisyah, ia merasa sakit tangannya di cengkrem. Kuku Mami Siska panjang dan lancip.
"Sakit kan? Ini belum seberapa apa yang aku rasakan, kamu telah merusak keluarga ku." Mami Siska marah dan matanya melotot.
"Jangan pura-pura bodoh dan ngga tau hm..."
"Ya Allah Siska, aku benaran tidak mengerti ucapan mu... Tolong lepaskan tangan ku..."
"Puas kamu sekarang, Mas Mario telah menceraikan aku."
"APA!!, Mario menceraikan mu."
"Udah jangan sok kaget, kamu senangkan sekarang kamu bebas bisa bersama Mas Mario.."
Darah mengalir dari tangan Umi Aisyah, Mami Siska terus mencengkeram tangan Umi Aisyah.
"Sumpah demi Allah, Siska. Aku baru tau hari ini Mario menceraikan kamu, kenapa kamu menyalahkan aku?Aku tidak ada hubungan sama sekali sama kamu dan Mario... Siska tolong lepaskan tanganku... lihatlah sudah berdarah tanganku."
"Loh-loh, ini ada apaan... Ibu Siska lepaskan tangan ibu Aisyah, lihat tangannya sudah berdarah." Ibu Salamah datang dan kaget melihat Mami Siska mencengkeram keras tangan Umi Aisyah.
"Ibu jangan ikut campur urusan ku, asal ibu tau Aisyah ini pelakor. Perusak rumah tangga ku, gara-gara dia suami ku menceraikan ku." Jiwa Mami Siska seakan kesetanan. Ia pun Melototi Ibu Salamah dengan tajam.
"Astaghfirullah, itu fitnah. Saya bukan pelakor atau perusak rumah tangga orang, walau saya janda. Tapi saya tidak pernah menggoda laki-laki lain, asal kamu tau Siska. Bagi saya Almarhum suami saya Mas Adam jauh lebih baik dari Mario, kamu jangan menyebarkan fitnah." Umi Aisyah mencengkeram balik tangan Mami Siska, ia sudah habis kesabaran. Umi Aisyah dari tadi berusaha tenang, karena Mami Siska menuduhnya. Umi Aisyah langsung marah.
"Sudah-sudah, kalian berdua tenang dulu. Jangan bertengkar, kita selesai masalah dengan kepala dingin dan hati tenang... Ibu Aisyah silakan obati dulu lukanya, biar Ibu Siska saya yang urus." Ibu Salamah merarai Mami Siska dan Umi Aisyah.
"Eh! Aisyah, jangan pergi. Aku belum selesai." Teriak Mami Siska.
"Sudah Bu, nanti di teruskan lagi... Sekarang biar hati dan pikiran tenang, ibu wudhu." Tegas Ibu Salamah.
"Tapi Saya tidak tau berwudhu itu gimana, saya sudah lupa." Mami Siska cemberut dan menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"Ikuti saya." Perintah Ibu Salamah.
.
.
.
.
.
.
.