
"Sorry Nurse, we are brothers from Nufail and Alsava. We want to go to Doctor Cassandra, where is his room?.(Maaf Suster, kami keluarga dari Nufail dan Alsava. Kami ingin menemui Dokter Cassandara, dimana ruangannya?)." Kata Abbas sopan. (Hehehe... ceritanya rumah sakit ini yang milik Alsava dan keluarganya, jgn menghujat ya... Karena ini hanya ilustrasi atau kehaluan Author... Hehehe...😁😁😁).
"Really?." Suster merasa tidak yakin.
Abbas memberikan ponselnya, ia perlihatkan foto dirinya bersama Nufail.
"Sorry, I'll show Doctor Cassandara's room.(Maaf, saya akan menunjukkan keruangan Dokter Cassandra)." Suster menunduk.
"No, problem." Kata Abbas.
Abbas dan Khumaira di antar oleh Suster keruangan Dokter Cassandra.
"This is the room, Sir." Kata Suster.
"Thank's, suster."
Suster itu pergi meninggalkan Abbas dan Khumaira.
Tok
Tok
Tok.
"Excuse me." Abbas mengetuk pintu.
"Ya Wait." Kata Orang di dalam ruangan.
Ceklek pintu di buka.
Abbas dan Khumaira terkejut.
"Abbas!!!." Orang yang berada di dalam adalah Sarah.
"Loh, kamu ada disini?." Abbas bingung sekaligus terkejut.
"Aku dokter disini, kamu mau ngapain kesini?." Sarah bingung juga.
"Aku dan istri ku mau menemui Dokter Cassandra, Dokter yang di tunjuk oleh Nufail." Abbas menjelaskan kedatangannya.
"Oh, itu aku. Silakan masuk."
Abbas dan Khumaira saling menatap, mereka bingung. Apalagi Abbas tau betul nama Sarah itu Sarah Ardiansyah, kenapa bisa Cassandra?. Itulah yang di pikiran Abbas saat ini.
Sarah tersenyum melihat kelakuan suami istri yang nampak bingung.
"Pasti kalian bingung ya, nama asli aku itu Sarah Cassandra Ardiansyah. Karena nama itu tidak nyambung jadi aku menghapus nama Cassandra. Ya udah masuk, ngga usah mikirin pertanyaan nama yang ngga jelas itu."
Abbas dan Khumaira masuk kedalam ruangan.
"Nufail sudah cerita sama aku, sebelumnya aku minta maaf pada mu istri Abbas atas kejadian tadi. Aku tidak bermaksud untuk merebut Abbas dari mu."
"Tidak apa-apa, Mbak. Aku sudah memaafkan mu dan aku tau kehidupan Mas Abbas seperti Abbas, orang ganteng kaya gini. Pasti mempunyai banyak mantan kan?." Kata-kata Khumaira membuat Abbas terkejut, kenapa Khumaira bisa tau Abbas memiliki banyak mantan?.
"Hahaha... Abbas kamu memang hebat memiliki istri seperti dia."
"Khumaira namanya, aku sangat bangga padanya. Dia penuh kejutan."
"Aauuww..." Khumaira mencubit pinggang Abbas.
"Hahaha... Kalian lucu, ya udah. aku menceritakan yang sebenarnya..."
"Cerita apa?."
"Hmm... Kamu tau ngga adik kelas kita waktu SMA yang dulu pernah jadi mantan mu?Vika namanya, ingat ngga?."
Abbas melirik istrinya seakan meminta izin, Khumaira menganggukkan kepala.
"Mmm... Begini, waktu itu kamu kan memutuskan hubungan dengannya kan?."
"Ish!! iya, emang kenapa sih?bikin penasaran aja."
"Vika, bunuh diri dan kakaknya ngga terima, hingga membuat kamu kecelakaan. Untung kamu selamat, tapi waktu kamu pingsan aku melihat kakaknya Vika menyuntikkan diri mu. Aku ngga tau obat apa yang menyuntikkan di dalam tubuh mu."
"APA!!!." Abbas berdiri.
"Sabar, mas." Khumaira menarik Abbas untuk duduk kembali.
"Iya, Bass. Kamu sabar dulu, aku juga sudah mengecek dari sisaan suntikan di tempat sampah. Waktu aku ingin memberitahu, tapi kamu sudah tidak ada di rumah mu. Kata satpam rumah mu sedang keluar kota."
"Iya, aku berobat kesana. Obat itu apa sarah?."
"Obat itu seperti jenis KB yang kadarnya sangat tinggi, tapi untung aku sudah membuat obat penawarnya. Kamu bisa membuahi istri mu nanti. Obat ini sudah aku coba di bagai pasangan yang tidak bisa produksi dan Alhamdulillah mereka sudah mendapatkan momongan tanpa harus bayi tabung. Tapi kamu harus rutin menggunakan obat ini."
"Adakah efek sampingnya, Mbak. Aku takut nanti Mas Abbas kenapa-napa."
"Kamu tenang aja, cuma dia akan tambah bergairah. Kamu harus sabar melayani suami mu nanti Khumaira."
"Insya Allah, Mbak." Khumaira malu-malu.
"Gemas banget sih istri ku ini." Abbas mencubit pipi Khumaira.
"Kalian ini pasangan lucu sekali."
"Ya dong, tapi kamu yakin aku dan Khumaira bisa memiliki anak?."
"Insya Allah atas izin Allah dan kita selalu banyak beribadah, doa kalian akan terkabul."
"Iya, Sarah. Kami akan tetap berusaha dan banyak beribadah."
"Tapi sebelumnya kita tes dulu sel sper*** Kamu, Bas. Aku mau cek kembali."
"Iya, Sarah. Aku juga sudah ikhlas kalau aku memang belum bisa memiliki keturunan."
Mendengar cerita dari Sarah Abbas harus marah atau bahagia, Abbas sudah ikhlas apapun hasilnya nanti. Khumaira juga selalu menguatkan Abbas.
Kesalahan di masa lalu membuat dirinya tidak mempunyai anak. Abbas sangat menyesali perbuatannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Doakan Abbas dan Khumaira bisa memiliki anak ya...
Jangan lupa like, Vote dan Komentarnya ya...
See you... 😘😘😘😘