Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Ingin Bertemu


Semenjak sudah mendapatkan ijin keluar rumah, Khumaira terus-terusan minta keluar rumah dengan karena ia ngidam ini ngidam itu dan makan harus di tempat, tidak mau di bawa pulang atau pesan melalui Ojek food online. Sampai-sampai ia ingin merasakan duduk di bangku Abbas, tempat duduk seorang CEO.


Setiap hari Abbas di buat pusing oleh istrinya, baginya ngidam istrinya itu aneh-aneh dan tidak abis pikir.


"Roy, wanita hamil itu. Kalau ngidam aneh-aneh dan tidak abis pikir ya?." Tanya Abbas, Roy mengerutkan alisnya.


"Maaf, tuan. Saya belum pernah ngerasain mempunyai istri yang sedang hamil, tuan tau kan saya ini masih perjaka ting-ting." Jawaban Sekertaris itu membuat Abbas tertawa.


"Hahahaha... Gue lupa kalau loe jones. Makanya buruan nikah, ngaku perjaka ting-ting. Tapi itu burung sudah beterbangan dimana-mana."


"Hehehe..." Sekretaris Roy menggarukkan kepala.


Pintu di buka begitu saja tanpa di ketuk dahulu. Abbas dan Sekretaris Roy menoleh.


"Mas." Khumaira pelakunya, ia tidak sabaran ketemu Abbas.


"Hais!!, pasti dia ngidam lagi. Hadew, untung sayang dan cinta." Kata Abbas dalam hati, ia menatap istrinya lemas.


"Mas, kok. Gitu ngelihat aku kaya gitu, ngga senang ya. Aku datang, ya udah aku pergi sendiri aja." Khumaira cemberut dan pergi.


"Hey, sayang. Tunggu." Abbas mengejar Khumaira.


"Hahaha... rasakan tuh, bos." Sekretaris Roy malah senang.


"Sayang, tunggu. Aku bukannya tidak suka kamu datang, itu karena hari ini mas lelah banget." Abbas mencegah Khumaira naik lift.


Semua karyawan melihat perdebatan bosnya dengan istrinya.


"Oke, sekarang kita. Pergi kamu mau kemana hm?." Abbas memegang tangan Khumaira.


"Tapi kamu janji jangan marah." Kata Khumaira.


"Lah, marah kenapa?."


"Janji dulu."


"Iya, buat istriku tidak ngambek lagi." Abbas mencium tangan Khumaira.


"Hmm... Aku ingin jalan-jalan ke Bandung hari ini, ingin menikmati makanan disana dengan suasana yang sejuk dan indah pemandangannya."


"Astaghfirullahaladzim, sayang. Aku kirain apaan, tapi itu jauh sayang."


"Aku tidak mau ada penolakan." Khumaira tegas.


"Huh, Baiklah. Aku akan menuruti keinginan mu, sayang."


"Baiknya suamiku ini, terimakasih ya mas." Khumaira mencium pipi Abbas.


"Kalau dikamar sudah aku terkam kamu, sayang." Abbas memeluk Khumaira.


Mereka berangkat diantar supir, Abbas selalu ingin di dekat Khumaira.


Di sisi lain.


Seorang wanita paruh baya sedang berdoa.


"Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosa ku. Aku begitu banyak dosa dan selalu berbuat jahat, hiks... Hiks... Hiks... Ya Allah, kalau hamba pantas meminta. Ijinkan ku bertemu dengan putra ku, Abbas. Aku ingin bertemu, walau hanya sekali. Aku ingin meminta maaf kepadanya, juga pada yang lain. Ijinkan aku ketemu dengan orang-orang yang pernah aku sakiti." Wanita itu adalah Mami Siska, ia sedang berdoa.


Suster Dyah dan Suster Desi melihat Mami Siska merasa terharu.


"Akhirnya, ibu Siska Benar-benar taubat." Kata Suster Desi.


"Iya, Alhamdulillah. Des, gue melihat dia saat ini merasa kasihan." Suster Dyah sedih.


"Lah, kasihan kenapa?." Suster Desi menoleh kearah Suster Dyah.


"Itu loh, ibu Siska ingin banget ketemu anaknya dan sama orang-orang yang pernah di jahati. Sebelum ibu Siska menemui sang pencipta, loe kan tau sendiri. Bos Nufail itu orang sibuk banget, gue udah telpon malah yang angkat asisten Songong. Masa gue di bilang minta transferan uang, sinting kan tuh Asisten." Suster Dyah kesel.


"Hahaha... Jangan terlalu benci sama orang, apalagi itu laki-laki lajang. Siapa tau nanti jodoh loe." Goda Suster Desi.


"Ih! Amit-amit dech, ogah gue. Yang ada nanti gue makan hati mulu, itu orang bikin gue emosi terus."


"Ya-ya... Terserah loe dah, gue dukung loe apa pun nantinya dan siapa yang akan menjadi suami loe. Asalkan loe jangan jadi pelakor aja, yang lagi booming saat ini."


"Sue, loe. Ih! mana mau gue jadi pelakor sama aja gue itu ibaratnya sampah tau, lebih baik gue nikah sama duda."


"Hahahaha... Benar tuh, tapi tipe calon suami loe gimana sih?."


Dari Kejauhan seorang pria sedang menikmati perbincangan dua Suster.


"Nah! ini yang gue cari-cari selama ini, wanita yang Benar-benar tulus. Gue akan membuat dia jadi istri gue." Kata dalam hati pria itu.


"Maaf, nona-nona yang cantik. Saya hanya menyampaikan ini dari bos saya." Pria itu adalah Asisten Joe.


"Ish! ngapain nih Asisten songong kesini." Batin Suster Dyah, ia nampak bete.


"Buat siapa mas?." Suster Desi pura-pura, ia sudah tau kalau paper bag itu buat Suster Dyah.


"Oh!, ini buat wanita judes tapi cantik yang ada di samping mu." Assisten Joe tersenyum melihat Suster Dyah cemberut.


"Apaan ini?Jangan-jangan anda hanya ingin mengerjai saya." Suster Dyah curiga.


"Anda jangan curiga dulu, ini dari Bos Nufail untuk Anda."


"Ya udah, sini." Suster Dyah mengambil kasar paper bag.


"Ngambilnya jangan galak-galak, non. Nanti jauh dari jodoh loh."


"Masa bodo, lagi pula bukan urusan anda. Ngapain ikut campur dengan jodoh saya jauh atau ngga."


"Ada kali, karena saya yang akan jadi jodoh anda." Bisik Assisten Joe, lalu pergi.


Mata Suster Dyah terbelalak dan tiba-tiba ada getaran di hatinya yang selama ini belum ia rasakan.


"Apa maksud dari Asisten songong tadi?Dia bilang ingin jadi jodoh gue?Stop Dyah, dia hanya mengerjai loe aja." Pikir Suster Dyah.


Di tempat lain.


Abbas dan Khumaira menikmati berbagai kuliner di Bandung.


"Mas, makanan disini ternyata enak-enak ya." Khumaira senang.


"Iya, Sayang. Kamu cape pasti cape, kita istirahat di hotel ya. Pulangnya besok aja, aku ngga mau nanti kamu kelelahan." Abbas mengelus tangan Khumaira.


"Iya, sayang. Tapi aku harus ke suatu tempat dulu."


"Emang, mau kemana lagi. Emang kamu ada teman di daerah ini?."


"Tidak, Mas. Kata Ukhti Alsava dan Abang Nufail, kalau Ibu mas ada di daerah ini. Apakah aku boleh menemuinya? Aku ingin menemui ibu mertua ku, semenjak kita menikah aku belum pernah sama sekali ketemu ibu nya mas. Boleh ya?." Khumaira manja.


Abbas terdiam, ia memikirkan apa keinginan Khumaira kali ini.


"Mas,kok diam aja." Khumaira menggerakkan tangan Abbas.


"Sayang, mas mau jujur sama kamu. Kalau Mami ku itu sedang sakit jiwa, aku ngga mau nanti dia akan ngamuk sama kamu." Abbas memegang bahu Khumaira dan ditatapnya mata indah dan wajah cantik sang istri di balik cadarnya.


"Mas, kamu yakin sama aku. Tidak ada seorang ibu yang akan tega menyakiti anaknya."


"Ada, sayang. Buktinya Mami, ia tega menyakiti aku dan Papi. Udah pokoknya aku tidak akan menuruti permintaan kamu kali ini."


"Mas, aku tau semua dari Ukhti Alsava. Tapi bagi aku mungkin dia ada alasan bisa tega dan berbuat jahat seperti itu, lagian ya mas walau Mami mu berbuat jahat. Dia tetap ibu kandung mas, yang mengandung, melahirkan dan membesarkan mas. Ingat surga seorang anak ada di telapak kaki ibu, mas." Perkataan Istrinya membuat Abbas merenung.


"Aku akan pikirkan lagi keinginan mu, yang penting sekarang kamu harus istirahat." Abbas menggenggam tangan Khumaira.


.


.


.


.


.


.


.


.


Apakah Asisten Joe dan Suster Dyah berjodoh?Dan Abbas menuruti permintaan istrinya untuk ketemu Mami Siska?


Tunggu jawabannya...


Jangan Lupa Like, vote dan komentarnya ya...


See you... 😘😘😘😘😘