
"Dok, tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya, berapapun biayanya saya tidak peduli. Yang terpenting anak saya bisa sehat lagi." Abbas memegang tangan Dokter Irwan.
"Baik, saya akan segera melakukan operasinya tuan. Doakan saja anak anda, kami tim dokter akan berusaha semaksimal mungkin menolong anak anda, tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter Irwan pamit.
"Semoga Aden Satria segera sembuh ya, tuan. Kasihan sekali anak sekecil itu udah operasi, bibi tidak tega, tuan. Lebih baik kita berdoa, Tuan. Untuk kesembuhan Aden Satria." Bi Inem menghampiri Abbas.
"Iya, Bi. Terimakasih sudah membawa Satria kerumah sakit." Abbas menepuk pundak Bi Inem.
"Iya, Tuan. Justru saya yang terimakasih sudah di perkerjaan untuk merawat Satria, karena Satria mengingatkan saya kepada anak saya meninggal dan maaf sebelumnya kalau saya lancang tuan, saya ingin memberitahukan kalau selama ini Nyonya tidak pernah memberikan Satria ASI dan lebih parahnya lagi tuan Satria dibiarkan menangis. Saya melihat itu langsung menggendong Satria dan saya beri susu formula." Bi Inem menundukkan kepala.
"Kurang ajar, ibu macam apa dia. Begitu tega dengan anak kandungnya." Abbas menaikkan rahangnya dan memukul angin.
"Sabar, Tuan. Sekarang lebih baik kita berdoa demi kesembuhan Aden Satria." Bi Inem memegang bahu Abbas.
"Ya, Bi." Abbas sudah mulai tenang. Di saat Bi Inem dan Abbas sedang berdoa, Dokter Irwan keluar.
"Tuan, anak anda kehilangan banyak darah. Harus segera transfusi darah secepatnya." Dokter Irwan tergesa-gesa.
"Ambil darah saya saja, Dok." Abbas berdiri.
"Golongan Satria A negatif, tuan."
"A negatif, golongan darah saya B+ dan Eliana AB. Kenapa bisa beda dengan orangtuanya, Dok?." Abbas bingung.
"Itu karena Satria bukan anak kandung loe." Dokter Erik yang tiba-tiba datang bersama Dokter Chelsea.
"Maksud Loe apa?."
"Satria itu anak Eliana dengan seseorang pria, tapi bukan loe."
"Iya, Bass. Satria itu sebenarnya anak Bang gue Rakka, sebelumnya Eliana dan Abang gue udah menikah dulu. Karena dia melihat loe dia terobsesi hidup kaya, Eliana pun melakukan operasi keperawanan." Kata Dokter Chelsea mulai bercerita.
"APA!!! bre**sek selama ini gue di bohongi." Abbas kembali marah.
"Dan lebih parahnya lagi, yang tidak bisa mempunyai anak itu bukan Alsava tapi loe, Alsava saking cintanya sama loe. Dia menutup keburukan loe, biar dia yang nanggung. Eh! Loe malah menceraikan Alsava demi wanita ja**ng seperti Eliana." Kata Dokter Erik menambahkan.
"APA!! Jadi selama ini gue yang mandul, Ya Allah. Gue begitu bodoh." Abbas terduduk lemas.
"Udah yang terjadi biarlah terjadi, ini semua takdir Allah. Loe harus segera bertaubat... Dokter Irwan golongan saya dengan Satria sama silakan ambil darah saya." Kata Dokter Chelsea menepuk bahu Abbas, lalu menghampiri Dokter Irwan.
"Baik, kamu ikut saya." Dokter Irwan mengajak Dokter Chelsea keruang operasi.
"Aarrgghhh... Kenapa cobaan yang gue hadapi ini bertubi-tubi. Apa ini karma yang gue hadapi, gue begitu banyak menyakiti Alsava." Abbas mengusap wajahnya dengan kasar.
"Loe harus tenang, Bass." Dokter Erik memegang bahu Abbas.
"Iya, tuan. Bibi bukan menceramahi Tuan, lebih baik tuan harus segara menghadap Allah dan minta ampun kepada Nya. Insya Allah, tuan akan mempunyai kehidupan baru lagi yang lebih tenang dan bermakna." Kata Bi Inem.
"Tapi saya sudah lama tidak Sholat, Bi. Kemungkinan saya lupa bacaan Sholatnya, Bi." Abbas menoleh kearah Bi Inem.
"Tidak apa-apa nanti Bibi akan bantu, Tuan. Sekarang tuan berwudhu saja dulu. Kita melakukan Sholat taubat."
Bi Inem dan Abbas menuju Mushola rumah sakit.
"Abbas cobaan loe ini memang dasyat, gue bingung harus bagaimana memberitahu loe. Kalau perusahaan loe bangkrut itu, mantan abang ipar loe dan Nufail yang melakukan. Tapi bukan salah mereka, itu juga salah Abbas juga menjanjikan kepada Alsava." Dokter Erik menatap punggung Abbas dengan sedih.
"Lebih baik loe banyak-banyak ibadah, biar loe siap menghadapi kenyataan pahit ini." Katanya lagi.
πΈπΈπΈπΈ
Dokter Irwan dan Dokter Chelsea keluar.
"Alhamdulillah... Operasinya berjalan lancar, sekarang Satria akan di pindahkan keruang rawat." Ucap Dokter Chelsea.
"Iya, dalam masa pemulihan Satria. Saat ini jangan biarkan dia bergerak terlalu aktif dulu, takut nanti jahitan terbuka." Kata Dokter Irwan.
"Terimakasih, Dok." Abbas menyalami Dokter Irwan.
"Iya, tuan. Itu sudah merupakan tugas saya. Kalau Saya permisi dulu." Dokter Irwan pergi.
Abbas dan yang lain menuju ruangan Satria.
"Nak, walau kamu bukan darah dagingku. Daddy tetap menyayangi mu, karena Daddy sudah terlanjur sayang sama kamu. Nak, dan maaf Daddy tidak akan bisa memaafkan Mommy mu itu. Kesalahannya sudah fatal, Daddy sangat kecewa dan marah sama Mommy mu." Abbas mengelus rambut Satria dan meneteskan airmata.
"Lebih baik biarkan Satria istirahat dulu, Bass. Dan loe juga." Dokter Erik menepuk pundak Abbas.
"Terimakasih ya, kalian tetap masih disini." Abbas menghapus airmatanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like, vote, komentar dan berikan hadiah ya... see you... πππ