Aku Bukan Siapa-siapa

Aku Bukan Siapa-siapa
Senang


Mereka berpamitan ke rumah sakit, Abbas sangat senang akhirnya benihnya bisa menghasilkan. Saking senangnya, Abbas mencium tangan Khumaira berkali-kali.


"Baby, aku senang banget. Sebentar lagi aku Benar-benar menjadi seorang ayah." Abbas merasa senang. Saat ini mereka ada di dalam mobil.


"Iya, Mas. Aku juga senang Mas, semua ini berkat atas ijin Allah dan usaha kita." Khumaira tersenyum senang.


"Ya Allah, aku tidak henti-hentinya bersyukur kepada Mu. Engkau telah banyak memberikan ku kenikmatan atas rahmat Mu, terimakasih Ya Allah." Abbas menadah kedua tangan keatas untuk berdoa.


Tak lama kemudian,


Mereka tiba di rumah sakit. Abbas membantu Khumaira berjalan.


"Mas, aku kan ngga sakit. Ngga pelu di tuntun seperti orang sakit." Protes Khumaira.


"Baby, aku ngga mau nanti Bayi kita ini kenapa-napa." Abbas mengelus perut Khumaira.


"Tapi..."


"Udah ngga ada tapi-tapian atau kamu aku gendong."


"Ish!, ngga maulah malu tau."


"Makanya nurut perintah suami."


"Iya, Mas."


Di lorong rumah sakit mereka bertemu dengan Dokter Erik dan Dokter Chelsea.


"Nah! kebetulan ketemu kalian, Chel. Periksa Bini gue." Kata Abbas.


"Lah! emang kenapa Khumaira?." Dokter Chelsea bingung.


"Lagian, sob. Datang-datang ucapin salam kek. Ini mah, malah galak amat." Dokter Erik menggelengkan kepala.


"Gue ngga ada urusan sama loe, gue ada urusan sama bini loe." Kata Abbas. Dokter Erik dan Dokter Chelsea sudah menikah. (Maaf ya tidak membuat cerita Dokter Erik dan Dokter Chelsea menikah).


"Santai bos, ngga usah sewot kaya gitu. Honey, kamu harus hati-hati mempunyai pasien seperti dia. Bawanya marah-marah mulu."


"Sue Loe, sana pergi." Abbas mengusir Dokter Erik.


"Ck, lagi pula ngapain gue kesini. Malay gue, ada pasien agak-agak sengklek kaya loe. Honey aku keruangan ku, ya. Bila ini pasien udah ngga ada kamu call aku ya. Cup." Dokter Erik mencium kening istrinya. Lalu pergi.


"Iya, Hubby." Kata Dokter Chelsea malu-malu.


Mereka bertiga masuk kedalam ruangan periksa Dokter Chelsea.


"Kalian ada keluhan apa?Atau mau memberikan kabar soal Satria, tapi kenapa ngga telpon langsung. Biasanya menghubungi ku lewat telpon, apa ada masalah dengan Satria?...." Dokter Chelsea penuh dengan pertanyaan.


"Stop!! Banyak amat pertanyaan loe, bikin gue pusing mana yang harus lebih dulu gue jawab." Abbas menghentikan pembicaraan Dokter Chelsea.


"Mas, Kamu diam dulu. Biar aku bicara dengan mba Chelsea." Khumaira menutup mulut Abbas dengan tangannya. Abbas langsung diam dan cemberut.


"Begini, Mba. Aku tadi cek kehamilan menggunakan ini di rumah Alsava dan ternyata aku hamil, aku dan Mas Abbas masih tidak percaya dan ingin membuktikan. Jadi kami langsung kesini untuk periksa lebih lanjut." Khumaira menjelaskan kedatangannya.


"Ooo... Seperti itu, biasanya kalau sudah garis dua begini apalagi terang. Memang benar sudah positif hamil, ngga apa-apa juga sih datang kesini. Untuk melihat lebih jelasnya, kesehatan janinnya gimana dan usia janin berapa. Nanti bisa di lihat dengan USG... Mmm... Oke kita periksa." Dokter Chelsea mengajak Khumaira tidur di ranjang untuk USG.


"Iya, mba. Tapi aku tidak mengalami mual dan muntah pada awal kehamilan, makanya aku ngga tau. Malah aku merasa aneh dengan sifat yang berubah-rubah, kaya bukan aku."


"Ngga apa-apa itu bawaan ibu hamil, tidak semua wanita hamil mengalami mual dan muntah-muntah... Lihat lah ini benar kamu hamil Khumaira, selamat ya Khumaira dan Abbas. Akhirnya penantian kamu membuahkan hasil, maaf sebelumnya dulu kamu di vonis tidak memiliki keturunan. Kenapa sekarang Khumaira bisa hamil?." Dokter Chelsea menoleh ke arah Abbas.


"Benarkah?. Ya Allah. Aku bersyukur kepada Mu." Abbas berkaca-kaca, ia tidak memperdulikan omongan Dokter Chelsea.


"Alhamdulillah, Chel. Itu semua berkat ijin Allah, ini semua mukjizat dari Allah." Kata Khumaira.


"Iya, Kamu benar. Oia, ini usia kandungan kamu sudah 10 minggu atau 2 bulan lebih dan keadaan janinnya sangat bagus. Tidak ada yang perlu di khawatir kan, hanya saja orang hamil itu moodnya akan berubah-ubah dan tidak boleh kecapean. Nanti aku akan memberikan catatan, apa saja yang di lakukan wanita dalam keadaan hamil dan konsumsi makanan apa saja baik untuk ibu hamil."


"Baik, Mba. Terimakasih."


"Chel, anak gue laki-laki atau perempuan?."


"Ya ampun, Abbas. Anak mu ini masih kecil, nanti kalau usia janin itu sekitar 4 bulan. Tapi tergantung sih debay mau memperlihatkan atau tidak."


"Loh! Emang anak gue pemalu ya?."


"Ya ampun, Abbas. Kalau ngomong sama loe, bikin naik darah." Dokter Chelsea membersihkan tangannya.


"Iya, aku ngerti. Lebih baik setiap bulan kalian kesini dan kita periksa kandungan kamu Khumaira."


"Iya, Mba. Terimakasih, maaf ya. Mas Abbas seperti ini."


"Ngga apa-apa kok, dari dulu kita seperti ini. Saling bacot tapi tidak sampai berantem."


"Alhamdulillah, kalian tetap solid ya. Akh bangga sama kalian."


"Chel, gue minta fotonya. Mau aku panjang di tempat kerja, agar aku selalu semangat melihatnya."


"Iya Abbas. Oia, aku mau ngomong bagaimana Satria biar aku asuh?Biar keluarga kami yang menjaga dan melindunginya."


"Gue tau, gue ini bukan Daddy kandung. Tapi aku selalu menganggap Satria seperti anak kandung ku aja, gue dan Khumaira udah terlanjur menyayangi Satria." Abbas tidak mau Satria di asuh Dokter Chelsea.


"Dari pada berebutan mengasuh Satria, lebih baik kalian membagi waktu. Contoh Seminggu di rumah kami dan seminggu di rumah Mba Chelsea dan Mas Erik."


"Iya, gue setuju." Ucap Dokter Chelsea.


"Aku juga setujuh, biar kita ngga jadi artis akibat merebut hak asuh sih bocah. Nanti membuat para netizen tidak bercuap-cuap. Kita Asuh Satria sama-sama... Minggu ini biar Satria tidak dengan kami, baru minggu depan untuk kalian berdua." Kata Abbas.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


–---------------------------TAMAT-----------------------


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tapi boong... 🤣🤣🤣🤣....


Jangan lupa like, Vote dan komentarnya ya...


See you... e😘😘😘😘😘