A Girls Revenge

A Girls Revenge
33.Kabar duka





8 jam kemudian...


Sudah 8 jam berlalu sejak pertemuan Seojun dan Minjung di restoran tadi sore.


Sekarang Seojun berada di ruangan nya dan tengah berkutip dengan laptop sejak 2 jam yang lalu.


'Hah, hanya tersisa 10 jam sebelum kabar mengenai teman Soojin yang menjadi korban kesembilan pembunuh kode batang,' Batin Seojun bersandar pada senderan kursinya dan memijat kepalanya yang terasa pening akibat menatap layar laptop untuk waktu yang lama.


"Kenapa Sunhyung malah tidak bisa dihubungi?" Gumam Seojun menatap layar ponselnya, setelah Minjung mengatakan kalau Sunhyung mengetahui semua nya, dia segera menghubungi hacker polisi itu, tapi sudah 10 kali dia tidak mengangkat panggilannya.


"Apa ponsel dan laptopnya terjatuh kedalam air? Tidak mengangkat panggilan ataupun membalas pesan dariku," Kata Seojun mulai kesal sendiri.


Tiba-tiba saja ruangan yang sunyi, tenang, dan hanya diisi oleh suara keyboard laptop serta suara dari pemilik ruangan berubah menjadi ramai saat pintu di buka kasar oleh Soojin hingga menyebabkan kertas-kertas yang ada dimeja Seojun beterbangan kemana-mana, bahkan pemilik ruangan ikut terkejut dan hampir melempar ponsel yang dia pegang.


Soojin berjalan mendekati meja Seojun dengan raut wajah panik mengabaikan hasil dari kelakuan nya.


"Oppa, apa benar kalau Yejun ditahan oleh Cheon Youngsik?!" Tanya Soojin.


2 jam yang lalu dia menghubungi Soojin dan memberitahu kan hal ini, setelah mendengar hal itu Soojin langsung segera menyelesaikan kasus yang sedang dia tangani lalu langsung ketempat Seojun.


"Nee, aku sudah memeriksanya, dan ternyata memang benar kalau dia adalah pelaku kode batang." Balas Seojun.


3 jam setelah bertemu Minjung, Seojun langsung kerumah sakit untuk mencari Cheon Youngsik, dan benar saja, dia sedang ada dirumah sakit untuk merawat pasien yang dia minta tangani. Sama seperti Sunhyung, Seojun menempelkan kamera pada baju Youngsik untuk mengawasinya.


Sekitar 30 menit lalu sebelum Soojin datang, Seojun memeriksa kamera itu, dan ternyata saat itu Youngsik tengah berada diruangan tempat dia menyekap Yejun.


"Apa oppa tau dimana dia menyekap Yejun?" Tanya Soojin.


Seojun menggeleng pelan, "Aniyo, meskipun aku sudah melihat tempatnya melalui kamera pengintai, aku masih belum bisa memastikan dimana lokasinya." Balas Seojun.


"Apa tidak bisa melacaknya?"


"Aku sudah mencoba, tapi seperti nya tempat itu tidak bisa dilacak. Aku juga sudah menghubungi Sunhyung, tapi dia tidak mengangkat panggilan atau membaca pesanku." Ucap Seojun.


"Ya ampun, bagaimana ini?!" Gumam Soojin mulai berjalan mondar-mandir.


"Tenanglah, jika kita bisa menemukan nya sebelum jam 11 besok siang, maka bisa dipastikan dia akan selamat." Ucap Seojun mencoba menenangkan remaja di depannya yang sudah dia anggap adik sendiri.


Hyejin tiba-tiba masuk keruangan itu.


"Eh? Apa yang terjadi?" Tanya Hyejin terkejut melihat keadaan ruangan yang berantakan dengan kertas dimana.


"Soojin yang melakukannya, dia panik setelah kuberitau kalau teman nya yang menghilang di sekap oleh pelaku kode batang." Balas Seojun.


"Eh?! Maksudnya pelaku kode batang menculik Yejun?!" Kaget Hyejin. Dan Seojun mengangguk sebagai respon.


"Aku akan coba menghubungi Sunhyung," Kata Soojin.


Ketika ingin menelpon Sunhyung, tiba-tiba panggilan dari orang itu sendiri masuk keponselnya.


"Sunhyung?" Gumam pelan Soojin, namun tetap bisa didengar oleh Seojun dan Hyejin.


Soojin mengangkat panggilan itu,


📞📱: "Yeo--"


📞📱: "Bagaimana perasaanmu setelah mengetahui siapa pelaku yang telah membunuh orang tuamu?" Bukannya suara Sunhyung yang menyahuti, melainkan suara dari orang yang menjadi buronan polisi selama ini.


📞📱: "Cheon Youngsik?!" Soojin menatap ke arah Seojun dan Hyejin, lalu Hyejin memberi kode untuk menggunakan speaker. Soojin menyalakan speaker nya.


📞📱: "Bagaimana kau--"


📞📱: "Mendapatkan ponsel ini? Jika kuberitau kalau dirinya sendiri yang membuatnya dalam keadaan seperti ini bagaimana?"


📞📱: "Bisakah kau to the point?!" Balas Soojin mulai kesal.


📞📱: "Dia akan kuberi waktu 48 jam seperti yang lain, oh ya, aku memberikan hadiah untuk mu Jung Soojin, dalam, 3,2,1."


Bertepatan dengan Youngsik yang selesai menghitung mundur, telpon yang berada di meja Seojun mendapat panggilan.


'Panggilan darurat 119'.


Seojun, Hyejin dan Soojin saling melempar pandangan.


'Yeoboseo?'


"Ada masalah apa?"


'Aku menemukan seseorang yang telah meninggal di taman Hera.'


Mendengar hal itu ketiga polisi itu merasa sedikit tegang, panggilan yang menghubungkan mereka dengan Youngsik juga masih tersambung.


"Apa ada... Tanda yang mirip kode batang pada punggung tangannya?"


'I-iya,'


"Seperti apa ciri-ciri korban?"


'Dia seorang laki-laki, dan dia terlihat seperti seorang siswa SMA,'


Mereka bertiga mulai was-was.


"Arraseo, kau tetap disana, tunggu sampai polisi tiba."


'Baik.'


Panggilan itu berakhir, Seojun mengabari tim polisi dan forensik untuk datang kelokasi. Lalu ketiga polisi itu beralih pada panggilan di ponsel Soojin.


📞📱: "Apa maksud semua ini?" Tanya Hyejin.


📞📱: "Anggap hadiah dariku setelah kalian tau kebenarannya."


📞📱: "Apa kau menganggap nyawa seseorang sebagai mainan?!" Bentak Soojin.


📞📱: "Aku tidak akan meladenimu sekarang, jika ingin menunggu kabar duka selanjutnya juga tidak masalah."


📞📱: "Kau---"


Belum sempat Soojin melanjutkan kata-katanya panggilan itu dimatikan sepihak.


Soojin menjatuhkan tubuhnya kekursi dibelakangnya.


"Seharusnya masih ada 10 jam lagi, bagaimana mungkin dia bisa membunuh korban selanjutnya lebih dulu?" Gumam Seojun.


"Bisakah ada yang sedikit penjelasan?!" Sahut Hyejin.


...⋇⋆✦⋆⋇ ...


Ditempat Sunhyung.


Sekarang dia tengah duduk diposisi yang sama seperti Yejun. Menatap kesal orang yang berperan sebagai pembunuh berantai yang sudah diincar polisi selama ini.


"Apa keuntungan mu menjadikanku sebagai korban mu yang selanjutnya setelah membunuh Yejun?" Sahut Sunhyung memandang Youngsik yang duduk berhadapan dengannya.


Youngsik memandangi ponsel Sunhyung yang dia genggam, sekitar 2 menit lalu dia mematikan panggilan nya pada Soojin.


"Tentu ada keuntungannya, meskipun tidak sebesar aku membunuh semua saksi mata, membunuh salah satunya mungkin tidak jadi masalah," Balas Youngsik berdiri dari duduknya dan mengambil buku yang sama dengan yang dia berikan pada Yejun.


"Aku yakin kau sudah tau apa yang harus dilakukan bukan?" Kata Youngsik meletakkan buku dan pena di meja tepat didepan Sunhyung.


"Dan kau belum memberikan jawaban dari pertanyaan Yejun mengenai alasan singkatmu membuat dirimu membunuh orang yang tidak bersalah." Balas Sunhyung.


"Kau benar-benar mirip dengan anak SMA itu, yang kudengar kau itu sangat jarang bicara, tapi seperti nya itu berbanding terbalik dengan rumor itu." Ucap Youngsik.


"Sebenarnya apa rencanamu ini?" Tanya Sunhyung dengan menekan tiap kalimat.


"Jika kuberitau itu tidak akan menjadi seru lagi bukan?" Balas Youngsik.


Sunhyung menatap kesal kearah Youngsik.


"Kuberi waktu untuk menulisnya, aku juga ingin melihat apakah kau bisa bertahan sampai aku yang membunuhmu atau tidak." Lanjut Youngsik lalu berjalan keluar dari ruangan itu.


"Apa maksudmu?" Pekik Sunhyung sebelum dinding pembatas tertutup.


"Racun ditubuhmu sudah bereaksi, dan aku sudah memastikan kalau kau tidak akan bertahan selama dua hari, mungkin sebelum aku membunuhmu kau sudah terbunuh lebih dulu." Balas Youngsik tersenyum miring. Lalu dinding pembatas tertutup.


Sunhyung menunduk menatap buku dan pena yang di berikan oleh Youngsik tadi.


'Harusnya sekarang Seojun hyung dan yang lain sudah mendapat informasi itu,' Batin Sunhyung. Lalu dia menghela nafas, 'Kuserahkan sisanya padamu, Ham Minjung, kau satu-satunya yang bisa kuandalkan sekarang...'