A Girls Revenge

A Girls Revenge
25.Tidak biasanya





"Mwo?! Korban kode batang?!" Kaget Yejun.


"Nee, ketika aku memeriksa punggung tangannya untuk memastikan, aku melihat ada tanda kode batang yang sama dengan para korban sebelumnya. Setelah di autopsi pun nomor kodenya sama persis dengan perkiraan polisi." Balas Soojin.


"Apa ada CCTV didekat lokasi itu?" Tanya Yejun.


"Ada, tapi ketika kuperiksa ternyata kamera CCTV-nya mati selama satu jam dari perkiraan waktu mobil korban datang ke tempat itu." Balas Soojin seraya duduk disofa.


Mereka berdua duduk diruang tamu sambil meminum teh yang dibuat Soojin beberapa waktu lalu.


"Itu artinya rekaman yang tersisa adalah saat mobil itu belum muncul dan sesudahnya?" Tebak Yejun.


Soojin mengangguk pelan, "Benar, dan hal itu membuat penyelidikan polisi lebih sulit dari kasus sebelumnya." Balas Soojin.


"Kupikir pelaku memang sengaja melakukan hal itu untuk mempersulit pihak kepolisian." Kata Yejun.


"Aku juga berfikir begitu, tapi apa boleh buat," Gumam Soojin.


Mereka pun mengisi kesunyian dengan beberapa obrolan lain yang mungkin berhubungan dengan sekolah mereka.


...⋇⋆✦⋆⋇ ...


Sunhyung tengah mencuci tangannya diwastafel kamar mandi yang berada dikamarnya.


Tiba-tiba dia merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya, dan tidak lama kemudian beberapa tetes cairan berwarna merah pekat menetes ketangan nya.


Sontak Sunhyung mendongak dan melihat pantulan wajahnya dicermin, darah mengalir dari hidung nya, atau biasa disebut mimisan. Dia segera membersihkan darah itu.


Setelah selesai Sunhyung langsung keluar dari kamar mandi lalu berjalan mendekati balkon dan menatap langit yang mulai memasuki senja.


'Tidak biasanya aku mimisan seperti ini,' Pikir Sunhyung. Dan tiba-tiba kepalanya berdenyut nyeri membuat Sunhyung memegangi kepalanya, kemudian disusul dengan suara berdengung yang keras dikedua telinganya.


"Oppa! Apa kau didalam?!"


Mendengar suara Sunji dari luar kamar nya, Sunhyung menarik nafas pelan kemudian menghembuskannya, seraya mencoba menetralkan rasa sakit dikepalanya dan telinganya yang berdengung. Setelah merasa lebih baik dia langsung masuk kekamarnya dan menutup pintu balkon lalu berpura-pura tengah membaca buku di sofa dekat pintu balkon.


"Masuk saja."


Sunji muncul dibalik pintu.


"Ada apa?" Tanya Sunhyung.


"Tadi Seojun oppa menelponku, katanya kau tidak mengangkat panggilan darinya jadi dia menelponku." Balas Sunji.


"Mungkin karena ponselku sejak tadi ada di atas nakas sedangkan aku ada dikamar mandi untuk waktu yang lama, memang apa yang dia bicarakan?"


"Dia bilang agar kau tidak keluar secara sembarangan selama beberapa hari ini, karena kau dan Hyejin eonnie sudah menjadi korban gagal pelaku, kalian harus lebih waspada, Soojin eonnie juga diberi peringatan." Jelas Sunji.


"Arraseo, gomawo."


Sunji mengangguk pelan, "Aku permisi, beristirahatlah." Kata Sunji lalu keluar dari ruangan kakaknya itu.


Lagi-lagi Sunhyung merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya tepat setelah Sunji menutup pintu, kembali Sunhyung sentuh hidungnya. Dan benar saja, dia kembali mimisan.


Sunhyung mengambil selembar tisu yang berada di meja depan nya lalu membersihkan darah itu dari hidungnya.


'Ada sesuatu yang aneh, tidak mungkin aku mimisan terus-menerus seperti ini tanpa penyebab yang pasti?' Pikirnya.


Soojin masih berada dirumahnya, mengingat perkataan Seojun tentang dirinya yang mungkin menjadi sasaran pembunuh itu, dia memutuskan untuk berada dirumah seharian saja, dia juga tidak ada kegiatan apapun.


"Hais, membosankan sekali. Jika saja hari ini bukan akhir pekan aku akan kesekolah atau mungkin bermain bersama yang lainnya," Kesal Soojin.


"Jika saja Seojun oppa tidak melarangku datang ke markas pasti sekarang aku tengah mengerjakan kasus, lebih baik mengerjakan tumpukan kertas dari pada mati kebosanan,"


Tiba-tiba ponselnya bergetar, ketika melihatnya ternyata itu panggilan dari Seojun.


📞📱: "Yeoboseo? Wae oppa?"


📞📱: "Soojin, tolong kau urus masalah di dekat rumah mu. Telah terjadi kecelakaan tabrak lari, mungkin berjarak sekitar 1,5 km sebelah utara dari rumahmu."


📞📱: "Jarang sekali terjadi tabrak lari, tapi bukankah oppa melarangku mengerjakan tugas dari kepolisian apapun itu?"


📞📱: "Memang, tapi aku tidak bisa karena aku harus mengurus kasus kode batang bersama ketua lain. Kalau Hyejin, mengingat kondisinya yang belum pasti, jadi aku tidak memintanya mengurus hal ini. Jika anggota lain mungkin tidak sempat karena jarak dari markas sampai TKP sangat jauh."


📞📱: "Baiklah kalau begitu, tapi kenapa bukan Sunhyung saja?" Tanya Soojin. Seraya bicara dengan Seojun melalui telpon, dia tengah mengambil jaket dan beberapa peralatan polisi di lemari bajunya, yang tidak lain adalah borgol, pistol dan alat komunikasi serta earphone.


📞📱: "Tadi aku menghubunginya, tapi dia bilang sedang sedikit tidak enak badan, jadi tidak ada pilihan lain. Kalau masalah mengenai larangan ku itu, kau hanya perlu berhati-hati saat menyelidiki kasus itu."


📞📱: "Arraseo, aku akan sangat berhati-hati."


Panggilan itu berakhir.


"Sangat jarang manusia komputer itu absen karena tidak enak badan, biasanya jika sedikit pasti hanya flu atau sakit kepala. Tapi tidak sampai absen," Gumam Soojin, lalu dia segera keluar rumah dan masuk kemobilnya.


"Akan kutanya langsung nanti saja," Kata Soojin sebelum menjalankan mobilnya menuju lokasi tabrak lari.


Tidak sampai 15 menit Soojin telah sampai di TKP, walaupun tadi dia harus memarkirkan mobilnya agak jauh dari tempat tujuannya karena masalah tempat. Ketika sampai disana ada dua mobil polisi dan beberapa orang yang bergerumbul di tengah jalan.


Tempat tabrak lari itu berada di pertigaan dan tidak berada dijalan raya, sehingga tidak banyak orang berada ditempat itu.


Dua segera menghampiri kerumunan itu dan mendekati seorang polisi yang berada didekat garis kuning.


"Aku diperintahkan untuk mengurus masalah disini." Kata Soojin.


"Silahkan," Balas polisi itu mengangkat garis kuning yang membatasi daerah yang diselidiki polisi agar Soojin bisa mendekat ke TKP.


"Gomawo," Soojin segera menghampiri forensik yang tengah bertugas.


"Shinju oppa? Kupikir bukan kau yang datang kemari." Ucap Soojin menyadari siapa salah satu dari petugas forensik disana.


"Apa boleh buat, awalnya bukan aku yang akan datang, tapi karena Seojun bersikeras jadinya aku lah yang berada disini." Balas Shinju.


"Turut sedih jika begitu," Kata Soojin dengan terkekeh pelan. "Kembali ke kasus, bagaimana dengan identitas korban dan kejadian nya? Oh ya, apa dia masih selamat?" Tanya Soojin mulai serius.


"Korban tidak sempat diselamatkan, dia meninggal ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit beberapa waktu lalu, dia bernama Ye Jaekyung, usia 22 tahun, dia adalah salah satu mahasiswa lulusan di salah satu Universitas di Seoul." Jelas Shinju membaca data korban.


"Eh?" Soojin menyadari sesuatu dari data korban yang dibacakan oleh Shinju. "Namanya Ye Jaekyung? Apa dia mantan pacar dari mendiang Seo Daeun? Yang meninggal dalam kasus penyerangan bulan lalu?" Tanya Soojin.


"Nee, petugas lain sudah menyelidiki nya, ternyata dia adalah mantan pacar yang sempat dijadikan kambing hitam oleh Yoo Seoyun." Balas Shinju.


"Tidak menyangka kalau seseorang yang sempat menjadi tersangka kasus penyerangan kini dinyatakan meninggal sebagai korban tabrak lari." Kata Soojin.


"Mungkin sebagai pembelajaran kehidupan untuknya," Sahut Shinju. "Kembali ketopik pembahasan," Lanjutnya.


"Menurut kesaksian dari orang-orang yang berada didekat TKP, korban tengah berjalan kaki didaerah ini hingga tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju dengan cepat dan menabraknya." Jelas Shinju.


"Tapi di wilayah ini mobil dilarang masuk," Gumam Soojin. Daerah tempat itu kebanyakan adalah perumahan dan jalanan juga tidak terlalu besar sehingga tidak memungkinkan mobil masuk ke daerah ini.