A Girls Revenge

A Girls Revenge
15.Muncul lagi?





"Mianhae, aku terlambat, tadi tiba-tiba saja aku menyenggol barang yang lain dan langsung berantakan." Ucap Hyejin.


"Tidak apa, lagipula rapatnya akan dimulai setengah jam lagi." Balas Seojun melihat jam tangan yang dia kenakan.


"Oppa, aju ingin menanyakan sesuatu." Kata Hyejin.


"Apa?" Tanya Seojun.


"Aku tanpa sengaja menemukan data kasus 12 tahun yang lalu." Ucap Hyejin.


"Maksudmu kasus... Perampokan senjata dan penyerangan polisi?" Tebak Seojun.


"Nee, aku curiga kalau pelaku 12 tahun yang lalu sama dengan tersangka pembunuh kode batang." Ujar Hyejin.


"Memangnya kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?" Tanya Seojun.


"Aku melihat data kasus 12 tahun yang lalu, dan tanggal pencurian 2 hari lebih dulu sebelum kasus korban kode batang pertama." Jelas Hyejin.


"Pertama kali aku bergabung ke kepolisian setelah 5 tahun kasus perampokan itu terjadi, kasus itu ditutup 2 tahun kemudian karena petunjuk mengenai pelaku sudah menghilang," Pikir Seojun.


"Aku juga sempat berfikir sama dengan mu, tapi pelaku perampokan itu mengajukan dirinya pada polisi dan mengakui perbuatannya sehari sebelum kasus ditutup." Lanjut Seojun.


"Aku juga mendengar hal itu, tapi untuk apa pelaku perampokan bersembunyi selama 7 tahun tetapi pada akhirnya menyerahkan dirinya? Aku berfikir kalau orang yang menyerahkan diri nya itu hanya dijadikan kambing hitam oleh pelaku sesungguhnya." Ucap Hyejin.


"Hah, arraseo, kita akan bahas itu lagi nanti, 5 menit lagi yang lain akan datang. Oh ya, bagaimana dengan Soojin?" Tanya Seojun.


"Aku sempat mengirimkan pesan padanya tadi pagi, dan dia bilang dia akan bersekolah selama beberapa hari, jadi tidak akan ikut masalah apapun yang melibatkan polisi." Balas Hyejin seraya meletakkan berkas yang dibawanya di meja.


"Yah, semoga saja keinginannya terkabul untuk tidak mendapatkan kasus." Sahut Seojun.


"Iya, dia selalu terlibat kasus dimanapun." Imbuh Hyejin sedikit terkekeh.


Ditempat Soojin.


"Hatchu..." Soojin sekarang baru saja keluar dari gedung sekolah sendirian hingga tiba-tiba dia bersin. "Siapa yang sedang membicarakan ku, ya?" Gumam Soojin.


Dia baru saja selesai piket kelas dan hanya tersisa dia saja di sekolah sedangkan yang lain sudah pergi sekitar 10 menit yang lalu. Hari ini guru sedang ada rapat untuk membahas ujian kelulusan murid kelas 3 jadi semua murid dipulangkan lebih awal, tapi piket kelas tetap di laksanakan.


"Hais, jinjja. Lagi-lagi aku yang tersisa di sekolah sendirian," Kesal Soojin seraya mengeluarkan ponselnya lalu memainkan benda persegi tiu sambil berjalan menuju gerbang sekolah.


Entah dia yang salah dengar atau bagaimana, tiba-tiba saja dia mendengar sesuatu seperti benda bertabrakan.


'Dari mana suara itu?' Batin Soojin mengedarkan pandangannya kesekeliling.


"Huh, mungkin aku salah dengar, lebih baik pulang dan beristirahat. Sudah beberapa hari ini aku kurang tidur," Kata Soojin mencoba mengabaikan suara tadi dan melanjutkan langkahnya menuju parkiran.


"Eh?" Pandangan Soojin tertahan pada seseorang yang tengah bersembunyi dibalik dinding tak jauh dari tempatnya berada, orang itu memakai jaket dan tudung hitam yang gayanya tidak asing lagi bagi Soojin.


Segera setelah menyadari hal itu, Soojin langsung bergegas mendekati orang itu dengan perlahan. Tapi ketika tinggal beberapa meter lagi orang itu sudah lebih dulu melarikan diri.


"Yak?!!" Pekik Soojin lalu mengejar orang itu.


Soojin terus mengejar nya sampai berhenti di dekat jalan raya, orang itu lari sampai keluar dari wilayah sekolah dan tiba-tiba menghilang. Padahal daerah itu hampir tidak ada orang dan tidak ada tempat yang cocok untuk bersembunyi, jadi bagaimana mungkin orang itu menghilang begitu saja? Tidak mungkin tadi dia melihat hantu.


Soojin tersentak saat ada yang meepuk pundaknya dari belakang, dia langsung menepis tangan yang menepuk pundaknya dan langsung berbalik menatap pelaku dengan waspada.


"Eh? Chef Han?" Kaget Soojin saat melihat pelaku yang tidak lain adalah Han Minjung.


"Maaf jika aku mengagetkan mu, tadi kebetulan aku lewat disekitar sini dan melihatmu yang sepertinya sedang mencari sesuatu." Kata Minjung.


"Ti-tidak masalah, aku hanya sedang mencari seseorang. Apa chef melihat seseorang yang memakai jaket berturung hitam?" Tanya Soojin.


"Ouh begitu," Gumam pelan Soojin.


"Lalu apa yang di lakukan chef disini?" Tanya Soojin.


"Aku sedang mencari beberapa barang untuk kebutuhan ku dirumah," Balas Minjung. "Emm, kapan-kapan datang lah kerumah ku bersama teman atau mungkin orang yang dekat denganmu."


"Nee, aku akan berkunjung jika ada waktu." Ucap Soojin.


"Arraseo, ini adalah alamatku." Minjung mengeluarkan secarik kertas yang berisi suatu alamat dan menyodorkan nya pada Soojin.


Soojin tak menjawab dan hanya menerimanya sambil tersenyum tipis.


"Gamsabhamnida," Ucap Soojin menundukkan kepalanya. "Aku permisi dulu, setelah ini aku masih ada urusan." Lanjut Soojin.


"Tentu." Balas Minjung.


Soojin menunduk sekali lagi lalu berjalan menjauh.


'Kenapa tiba-tiba dia memintaku berkunjung ke rumahnya? Bahkan langsung memberikan alamat rumahnya tanpa ragu?' Batin Soojin.


Soojin mengambil ponselnya yang bergetar. Dan ternyata Sunji menelponnya untuk ketiga kalinya, mungkin saja karena fokus mengejar orang tadi sampai tidak sadar kalau ada yang menghubunginya, pikir Soojin.


📞📱: "Yeobeseo?"


📞📱: "Soojin eonnie, oppa sudah sadar."


📞📱: "Eh? Bukankah Seojun oppa bilang dia akan sadar setelah beberapa hari? Bukan maksudku kecewa Sunhyung bangun lebih awal." Ucap Soojin.


📞📱: "Iya, tadi Seojun oppa sempat memeriksanya, dan ternyata penawar racunnya sudah bekerja. Jadi oppa bangun lebih awal."


📞📱: "Arraseo, aku akan menuju rumah sakit setelah kembali kerumahku sebentar."


📞📱: "Baik."


Panggilan itu diberakhir.


Soojin langsung masuk kemobilnya dan melaju menuju rumahnya agar dia bisa cepat ke rumah sakit. Ada beberapa hal yang ingin dia bicarakan dengan Sunhyung.


...⋇⋆✦⋆⋇ ...


Hyejin mengetukkan jarinya di meja sambil menatap layar komputer didepannya.


Sekarang Hyejin masih ada di ruangan nya dimarkas kepolisian. Seojun baru pergi sekitar 15 menit yang lalu dengan alasan untuk memeriksa Sunhyung dirumah sakit.


Hyejin tengah sibuk menatap data kasus 12 tahun yang lalu tentang pencurian dan penyerangan terhadap polisi.


"Kenapa tiba-tiba aku jadi teringat dengan teman Seojun oppa yang bernama Han Minjung itu?" Gumam Hyejin bertompang dagu.


"Hais, dari sekian banyaknya orang dan beberapa yang sempat jadi tersangka kenapa aku malah mengira Han Minjung?!!" Kesal Hyejin mengacak-acak rambutnya frustasi dan kesal dengan pemikiran nya.


"Hyejin-Ssi, ouh?" Yoona yang baru saja datang langsung terkejut dengan penampilan rambut Hyejin yang kelewat berantakan dan sudah seperti singa.


"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Yoona seraya menutup pintu lalu berjalan mendekati Hyejin yang sedang duduk dikursinya.


"Yoona sunbaenim? Tidak hanya sedikit frustasi. Kenapa sunbaenim ada disini?" Tanya Hyejin.


"Tadi aku keruangan Seojun tapi dia tidak ada, jadi aku mendatangimu untuk membahas sesuatu." Balas Yoona.


"Seojun oppa sedang dirumah sakit untuk memeriksa Sunhyung, dia baru pergi sekitar 15 menit yang lalu," Ucap Hyejin. "Memangnya apa yang ingin sunbaenim sampaikan?" Tanyanya.


"Mengenai penyelidikan tersangka kode batang," Kata Yoona dengan ekspresi serius.


"Aku sudah memerintahkan tim penyelidik untuk menyelidiki soal penyerangan dua anggota divisi mu itu. Dan mereka menemukan sebuah petunjuk. Ketika pengejaran pelaku, salah satu anggota ku sempat meletakkan alat pelacak pada pakaian tersangka. Setelah diperiksa ternyata alat itu masih berfungsi, akhirnya kami melacak pelaku, dan lokasi sudah kami dapatkan." Jelas Yoona.


"Itu sangat bagus. Dengan begitu kita tau siapa yang mungkin saja pelakunya." Kata Hyejin.