
•
•
•
Perlahan Yejun membuka matanya yang terasa berat, walaupun begitu dia tetap memaksa membuka matanya.
Yejun menatap sekeliling, perlahan dia bangkit dari tidurnya, kepalanya masih terasa pusing karena efek obat tidur itu.
Yejun mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dia berada di ruangan serba putih, tidak ada pintu atau pun jendela, hanya ada sebuah meja dengan kursi, tempat tidur, wastafel serta toilet. Disalah satu sudut ruangan ada sebuah TV yang mengantung pada dinding.
'Dimana ini?' Yejun berdiri dan mengelilingi ruang itu memeriksa apa ada jalan keluar.
"Bagaimana bisa aku berada disini?"
Tiba-tiba dinding di belakang Yejun terbuka membuatnya terkejut dan langsung berbalik.
"Sudah bangun rupanya." Seseorang berdiri tepat didepan Yejun setelah dinding itu terbuka.
"Kau..." Yejun menggantung kalimat nya, "Dr. Cheon?!"
Yang dipanggil Dr. Cheon tersenyum miring setelah mendengar suara Yejun.
"Kau masih mengingatku rupanya." Kata Youngsik.
Mereka bertemu di rumah sakit tiga minggu yang lalu karena Yejun datang untuk menjenguk sepupunya, dan kebetulan dokter yang merawat sepupu nya itu adalah Youngsik. Selain itu dia juga bertemu dengan Hyejin dan Soojin ketika dia tengah bersama Youngsik di rumah sakit.
"Untuk apa anda membawaku kemari dengan cara seperti itu?" Tanya Yejun dengan tegas.
"Emm," Youngsik bertompang dagu sambil menatap kearah Yejun, "Mungkin untuk menjadikanmu korban kesembilan Cold-Blooded Killer." Balas Youngsik tersenyum miring atau lebih mirip seringai mengerikan.
Jawaban Youngsik sukses membuat Yejun terkejut, apa artinya selama ini pelaku pembunuh kode batang adalah Cheon Youngsik?! Pembunuh yang dicari-cari polisi ternyata berada didepan mereka sejak awal.
"Kau... Sungguh pelakunya?" Tanya Yejun dengan suara yang sedikit bergetar.
Bukan karena dia takut atau sebagai nya karena ada seorang pembunuh berantai menculiknya, tapi karena seseorang yang telah dia percaya ternyata membohongi semua orang dan telah merenggut nyawa orang lain.
"Perlu kah aku menunjukkan buktinya padamu?" Tanya balik Youngsik masuk keruangan itu.
"Kuharap kau tidak mencoba melarikan diri, karena percuma saja, kau tidak akan bisa keluar dari sini." Kata Youngsik.
"Aku tidak percaya, seorang dokter yang seharusnya melawan malaikat kematian demi menyelamatkan nyawa orang lain malah menjadi malaikat kematian itu sendiri, yang telah mengambil nyawa orang lain." Ucap Yejun.
"Kau cukup bijak, selain itu, hanya kau saja yang pernah melihatku membunuh secara langsung." Ucap Youngsik.
"Maksudmu di gang itu? Aku bahkan tidak memikirkan kau pelakunya." Ucap Yejun.
"Jika kau bisa mengingat dengan baik lagi, maka kau akan ingat saat kau melihatku memindahkan tubuh Hong Duhwan korban kelima 3 tahun lalu," Balas Youngsik.
Yejun mencoba mengingat kejadian yang dimaksud Youngsik. Lalu dia teringat dengan sesuatu yang mungkin tidak seharusnya dilihat.
Tiga tahun yang lalu, Yejun yang baru pulang dari les melihat seseorang berpakaian serba hitam sama seperti orang yang dia lihat di gang yang tidak lain adalah Cheon Youngsik, tengah memindahkan tubuh seorang pria dibangku sebuah taman sepi saat sore. Yejun bersembunyi di semak-semak tidak jauh dari tempat itu, ketika Youngsik berbalik untuk pergi saat itulah Yejun melihat wajahnya, namun karena takut dan melupakan kejadian itu dia tidak mengenali Youngsik.
"Sudah ingat bukan?" Sahut Youngsik.
Lalu dia mendekati meja kerja yang ada diluar ruangan itu, meja itu membelakangi ruangan serba putih itu dan menghadap kearah ruangan yang tampak seperti ruang kerja kantoran. Youngsik mengambil sebuah buku berwarna hitam pekat dan sebuah pena lalu meletakkan nya di atas meja diruangan tempat Yejun berada.
"Aku ingin kau menulis apa yang aku perintahkan di buku ini," Kata Youngsik.
"Untuk apa aku melakukan itu?" Tanya Yejun.
"Kau sungguh banyak bertanya, kau akan tau nanti, cepatlah, sebelum kubuat kau dijemput malaikat maut sekarang juga." Balas Youngsik.
Mau tak mau Yejun harus menuruti pembunuh didepan nya itu, mungkin jika dia bisa melarikan diri dia bisa memberikan informasi pada polisi bagaimana pelaku membunuh para korbannya.
"Aku ingin kau menulis ringkasan kisah hidup mu, mulai sejak kau kecil hingga saat ini, keinginan mu dan sebagainya." Ucap Youngsik.
Yejun menatao kearah Youngsik, "Kenapa kau ingin korban mu menulis kisah hidup mereka di buku ini?" Tanya Yejun.
"Arraseo, ini akan menjadi pertanyaan terakhirmu yang akan ku jawab," Kata Youngsik. "Aku tertarik membaca kisah hidup seseorang, karena itu aku menyuruh mereka menulis segalanya di buku itu." Jelas singkat Youngsik.
"Alasan singkat seperti itu membuatmu membunuh orang yang tidak bersalah? Jika kau sungguh ingin mengetahui kisah hidup seseorang, tidak sampai harus membunuh mereka bahkan mengukir kode batang ditangan mereka seolah mereka adalah buku atau barang." Ucap Yejun.
"Sudah kukatakan kalau itu akan menjadi yang terakhir yang kujawab, ku beri waktu selama dua hari untuk menulis nya, aku akan memeriksa sesekali." Kata Youngsik.
"Lalu setelah dua hari kau akan melenyapkan ku dan meletakkan tubuhku di tempat yang mudah ditemukan, bukan?" Ucap Yejun.
"Kau tau itu." Balas singkat Youngsik lalu dia berjalan pergi dari ruangan itu, bertepatan dengannya yang keluar dinding yang awalnya terbuka mulai tertutup perlahan hingga akhirnya ruangan itu kembali menjadi seperti saat dia bangun tadi.
'Kuharap Soojin bisa menangkap Cheon Youngsik.' Batin Yejun.
...⋇⋆✦⋆⋇ ...
Soojin memberhentikan mobilnya didepan rumah, dia menatap layar ponselnya yang menunjukkan pukul 6 sore, ia turun dari mobil dan berjalan masuk kerumahnya.
"Soojin-Ssi!"
Sebuah suara memberhentikan langkahnya. Soojin mengedarkan pandangannya mencari sumber suara.
Dan ternyata itu adalah seorang wanita paruh baya yang sangat Soojin kenal.
"Nee," Soojin ikut menghampiri wanita paruh baya yang juga mendekatinya.
"Apa kau tau dimana Yejun?" Tanya wanita yang tidak lain adalah ibu Yejun.
"Mianhae, aku tidak masuk sekolah hari ini jadi aku kurang tau," Balas Soojin. "Tapi memangnya kenapa?"
"Aku menghubunginya karena dia pulang terlambat, tapi dia tidak mengangkat panggilan ku sama sekali, aku juga bertanya pada Seoyoon-Ssi dan Yerin-Ssi, tapi mereka bilang kalau para murid sudah pulang sejak jam 11 siang tadi." Jelas ibu Yejun.
"Jinjjayo?" Kaget Soojin. "Emm, mungkin dia sedang bersama temannya dan tidak sedang memegang ponsel." Kata Soojin mencoba berfikir positif.
"Itu yang aku pikirkan sebelumnya, tapi aku juga sudah menghubungi teman kalian yang lain, tapi mereka bilang Yejun tidak bersama mereka." Balas ibu Yejun.
"Arraseo, kita tunggu saja sampai besok, jika memang dia belum kembali aku akan membuat laporan nya, dan sambil menunggu aku akan mencoba menghubungi atau mungkin melacaknya. Tidak perlu khawatir." Ucap Soojin.
"Arraseo, gomawo Soojin-Ssi." Kata ibu Yejun.
"Tidak masalah,"
Didalam rumah.
Soojin mengambil satu kaleng soda di dalam lemari pendingin dan meminumnya. Lalu dia berjalan menuju ruang tamu dan duduk di singel sofa.
Dia menyalakan ponselnya dan menghubungi nomor Yejun.
Hanya ada nada dering saja sejak tadi hingga akhirnya terputus karena tidak diangkat.
'Benar-benar tidak diangkat?' Batin Soojin.
Lalu dia mengambil laptopnya yang berada dikamar dan kembali ke ruang tamu, menyalakan laptop dan melacak lokasi ponsel Yejun.
Lokasi terakhir berada di jalan Cheoson, Seoul. Lokasi itu tidak jauh dari daerah rumah mereka, hanya sekitar setengah km dari sana dan membutuhkan waktu 10 menit jika berjalan.
"Kenapa dia tidak bergerak dari lokasi itu sedikitpun?" Pikir Soojin.
"Apa mungkin ponselnya jatuh?" Lalu Soojin mengirim lokasi itu keponselnya dan langsung keluar rumah untuk ketempat Yejun berada.
'Kenapa tiba-tiba perasaan ku tidak enak? Seolah akan terjadi sesuatu yang buruk?' Batin Soojin.