
•
•
•
"Aku pernah mendengar kasus itu, kabarnya pelaku akan membuat pola kode batang pada bagian punggung tangan korbannya." Ucap Soojin.
"Ya, dan alasan aku pergi ke London, karena ada kejadian yang terjadi dan serupa dengan kasus itu. Lalu aku dikirim sebagai perwakilan markas karena kita sudah menghadapi kasus itu sebelumnya." Kata Hyejin.
Tak terasa mereka mengobrol begitu lama sampai tidak sadar sudah berada dilantai 5 dan tepat dihadapan pintu ruangan kepala detektif.
"Ini aku dan Soojin!" Seru Hyejin seraya mengetuk pintu.
"Masuklah."
"Maaf kami terlambat." Kata Hyejin masuk keruangan yang cukup luas dan di dominasi oleh warna putih.
"Tak apa, aku juga baru selesai dengan urusan lain," Balas seorang pria duduk di sofa dekat jendela ruangan itu. "Dan kebetulan sekali, aku baru saja ingin menghubungi Soojin."
"Tadi aku tidak sengaja bertemu dengan Hyejin eonnie, jadi sekalian datang bersamanya." Ucap Soojin menutup pintu lalu berdiri disamping Hyejin.
"Kalau boleh tau kasus apa yang ingin dibahas, Seojun oppa? " Tanya Soojin.
"Kasus yang sama yang ditangani Hyejin." Balas pria bernama Seojun itu.
Jang Seojun, kepala pemimpin divisi detektif yang juga berprofesi sebagai dokter. Hampir sama seperti Hyejin, dia meminta agar dipanggil kakak, tapi itu hanya berlaku untuk yang berhubungan dekat dengannya. Seperti Hyejin dan Soojin.
"Maksudnya kasus tentang pembunuh itu?" Tanya Hyejin.
Seojun mengangguk sebagai respon, "Ada laporan dari beberapa mata-mata di bandara yang melapor kalau ada sosok yang mirip dengan pelaku pembunuhan, dan itu juga sudah dikonfirmasi dengan rekaman CCTV dan ciri-ciri pelaku." Jelas Seojun.
"Lalu apa dia bisa dilacak?" Tanya Soojin.
"Coba tanyakan pada Sunhyung, tadi aku memintanya untuk melacak posisi terakhir dia berada." Balas Seojun.
"Sudah selesai." Sahut seorang pria tampan berwajah datar mendekati ketiga orang yang sedang mengobrol itu.
"Lokasi terakhir berada di dekat sungai Han." Lanjut pria itu meletakkan laptop yang dibawa nya ke meja.
"Kenapa di sungai Han? Yang kudengar dia selalu terakhir berada di dekat perumahan atau gedung lama." Ucap Soojin.
"Aku juga tidak tau." Balas cetus pria itu.
Soojin berdecih, "Dasar Yoon Sunhyung." Kesal Soojin.
Yoon Sunhyung, anggota kepolisian divisi detektif. Dia menjadi polisi tepat setelah lulus SMA. Dia memiliki kemampuan untuk melacak apapun.
"Ya ampun, kalian ini, tidak bisakah tidak bertengkar selama satu hari saja?" Ucap Seojun menjadi penengah.
Sedangkan yang ditengahi hanya saling melempar tatapan datar tapi sebenarnya adalah tatapan musuh.
"Baiklah, kembali ketopik awal," Sahut Hyejin, "Jadi sekarang apa rencana untuk menangkap si Cold-Blooded Killer itu?" Tanya Hyejin.
"Aku sudah menyiapkan rencana begitu kabar kalau si pembunuh itu kembali ke ibukota, jadi sekarang hanya perlu bersiap dan berangkat kesana lalu menangkapnya." Balas Seojun.
"Baik."
Ketiga polisi itu berjalan keluar ruangan untuk mempersiapkan sesuatu.
"Soojin." Panggil Seojun.
"Iya?" Soojin berhenti diambang pintu.
"Bisakah kita bicara sebentar?"
Soojin hanya mengangguk pelan, lalu kembali masuk keruangan itu.
"Bicara tentang apa?" Tanya Soojin.
"Mengenai pembunuh itu," Balas Seojun dengan tatapan serius. "Kau tidak lupa kan mengenai perbuatan pembunuh itu?" Tanya Seojun.
"Tentu aku tidak lupa, akan kupastikan dia tertangkap setelah ini." Jawab Soojin.
Sebenarnya Soojin memiliki dendam pribadi dengan orang itu, dulu ketika usianya 10 tahun kedua orang tuanya dibunuh dirumahnya ketika dia pulang sekolah. Dan untungnya dia bersembunyi sebelum Killer itu melihat serta mengetahui keberadaannya.
Dan hal itu merupakan salah satu alasan dia masuk kepolisian.
"Aku sarankan kau yang paling berhati-hati, karena mungkin saja killer itu sempat melihatmu dulu." Jelas Seojun.
"Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja," Ujar Soojin. "Kalau begitu aku pamit, aku harus menyusul yang lainnya."
...⋇⋆✦⋆⋇ ...
Disuatu ruangan rahasia yang dipenuhi oleh buku-buku serta senjata, ada seseorang yang sedang duduk di sebuah sofa sambil meminum segelas kopi.
Dia langsung menyeringai setelah melihat secarik kertas yang berisi data seorang anak kecil.
"Jung Songyin..." Gumam orang itu.
"Aku tidak percaya bisa melewati satu hal yang bisa saja menjadi bukti polisi."
Lalu orang itu menuangkan kan kopi di gelas yang ada di genggamannya ke kertas yang berisi data tadi, membuat kertas itu langsung rusak.
...⋇⋆✦⋆⋇ ...
"Aku pulang!" Seru Soojin masuk ke sebuah rumah bernuasa putih dan cukup besar.
"Selamat datang Jinnie." Balas seorang wanita datang dari dalam rumah.
"Kapan eonnie datang?" Tanya Soojin melepaskan pelukan nya.
"Satu jam yang lalu," Balas wanita yang dipanggil eonnie itu.
"Kenapa eonnie tidak menghubungiku?Aku bisa menjemput eonnie dibandara." Ucap Soojin.
"Sebagai kejutan. Bagaimana menurutmu?" Tanya balik wanita bernama Jung Mingji, atau lebih tepat Shin Mingji.
Jung Mingji atau Shin Mingji, dia adalah kakak perempuan Soojin dan kakak kedua Soojin. Dia menikah 5 tahun yang lalu dan di karuniakan anak perempuan setahun setelahnya. Dia tinggal di Gyeongju setelah menikah.
"Kejutan terbaik yang pernah aku terima." Balas Soojin tersenyum.
"Lalu dimana gwiyeoun joka ku itu?" Soojin mengedarkan pandangannya mencari sosok kecil.
"Eonnie!!" Seorang gadis kecil berlari mendekati Soojin.
"Aeri-Ssi!!" Soojin langsung mengendong anak kecil itu saat dia melompat ke arahnya.
"Jangan berlari seperti itu lagi mengerti?" Kata Soojin.
"baik." Balas gadis kecil bernama Aeri itu.
Aeri adalah keponakan Soojin, dia lahir saat Soojin berada di bangku SMP tahun pertama.
Aeri adalah keponakan Soojin, dia lahir saat Soojin berada di bangku SMP tahun pertama.
"Baiklah, ayo, kau pasti lelah. Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu." Ucap Mingji.
"Terima kasih kak."
...⋇⋆✦⋆⋇ ...
Kedua wanita dan satu anak kecil itu tengah duduk sambil menonton televisi setelah makan malam bersama.
"Oh ya, dimana cheonam?" Tanya Soojin.
"Dia akan menyusul minggu depan." Balas Mingji.
Soojin hanya ber'oh'.
"Oh ya, aku dengar kalau kasus yang waktu itu sudah dibuka kembali?" Ujar Mingji.
Soojin diam sesaat, "Iya, kata Seojun oppa awalnya pelaku diduga melarikan diri ke London. Tapi beberapa hari lalu ada laporan kalau dia datang kembali ke Korea, ya... Jadinya kasus harus dibuka kembali." Balas Soojin.
"Bukankah itu alasanmu menerima tawaran kepala kepolisian?"
"Ya, untuk mengungkap siapa yang membunuh ayah dan ibu 8 tahun yang lalu sekaligus mengakhiri pembunuhan berantai ini agar tidak ada korban lagi." Ucap Soojin.
"Kau harus berhati-hati, aku tidak ingin kau menyusul ayah dan ibu lebih dulu." Kata Mingji.
Soojin terkekeh, "Jangan khawatir, yah... Walaupun aku sangat ingin bertemu dengan mereka, aku tidak segila itu." Ucap Soojin.
Mereka berdua tertawa bersama sampai lupa dengan si kecil Aeri yang menatap mereka bingung.
Setelah mengobrol beberapa hal, Mingji pamit sebentar untuk menidurkan Aeri.
I'm missing you waiting for you~
Nae mami geudaereul hyanghae---
"Sunhyung?" Soojin mengernyitkan dahinya begitu melihat siapa yang menghubunginya larut malam.
"Yeoboseo?" Soojin langsung mengangkatnya.
"Sekarang? Baiklah." Panggilan itu pun berakhir.
"Kenapa?" Tanya Mingji baru datang setelah menidurkan Aeri.
"Sunhyung meminta bertemu sebentar untuk membahas misi besok." Balas Soojin berdiri dari duduk nya.
"Sekarang? Tapi ini sudah jam dua puluh lewat tiga delapan malam loh." Ucap Mingji.
"Jangan khawatir, aku akan pulang secepatnya." Yakin Soojin mengambil jaket nya lalu berjalan keluar.
"Hati-hati ya!"
"Nee!"
Nama : Shin Mingji
Nama lama : Jung Mingji
Usia : 25 tahun
Kakak perempuan Soojin
Nama : Shin Aeri
Usia : 5 tahun
Keponakan Soojin dan anak Mingji