
•
•
•
"Gamsabhamnida." Hyejin turun dari taksi dan langsung mencari alamat rumah yang diberikan pelaku. Hyejin berhenti didepan sebuah rumah.
'Bukankah ini rumah korban kelima? Pantas saja aku merasa tidak asing dengan alamat yang dia berikan.' Pikir Hyejin. Lalu dia memutar knop pintu, dan tidak terkunci.
Dengan perlahan Hyejin masuk kerumah itu, tangan kirinya diam-diam mengambil sebuah pistol dari saku jaket bajunya.
Rumah itu tertutup dengan sangat rapat benar-benar gelap, hanya ada penerangan di sebuah ruangan tak jauh dari pintu masuk.
Hyejin mendekati pintu ruangan itu dan membukanya perlahan. Ruangan itu adalah sebuah ruang kerja.
Saat hendak melangkah masuk, sebuah pisau menghentikan pergerakan Hyejin, sebab pisau itu mendarat mulus di lehernya. Hanya berjarak beberapa senti sudah dipastikan lehernya akan berdarah jika bergerak sedikit saja.
"Buang ponsel itu dan juga senjatamu." Kata orang yang menodong kan pisau itu dari belakang.
Mau tak mau Hyejin menuruti orang itu dan langsung melempar pistol dan ponsel yang dia bawa.
"Jangan coba melawan jika tidak ingin bernasib sama seperti korban lain." Kata orang itu.
'Suaranya sama persis dengan si penelpon tadi, jadi bisa kupastikan dia adalah orang yang sama untuk sementara. Dan dari suaranya dia adalah seorang pria, tapi kenapa suaranya tidak asing?' Batin Hyejin.
"Cepat jalan!" Pekik orang itu mendorong Hyejin berjalan ke arah lemari dipojok sebelah kiri ruangan itu.
Dia terlihat menekan sesuatu di daun pintu lemari itu dan siapa yang menduga lemari itu bergeser dan tergantikan sebuah pintu yang mirip pintu lift.
Pria itu kembali mendorong Hyejin masuk ke ruangan dibalik pintu itu yang ternyata mengarah kebawah.
'Aku ingat saat polisi dan tim forensik menyelidiki rumah ini dan tidak menemukan petunjuk apapun kecuali petunjuk mengenai keluarga korban. Dan ternyata ada satu bagian yang kami lewatkan.' Batin Hyejin.
Mereka berhenti didepan sebuah pintu berwarna putih, pintu itu dibuka dan didalamnya tidak berbeda jauh dari ruangan diatasnya, yaitu sebuah ruang kerja.
Karena merasa orang di belakangnya lengah Hyejin menjauhkan pisau yang ada menempel di lehernya lalu menendang pria itu. Orang itu tidak terjatuh tapi tetap membuatnya menjauh beberapa meter dari Hyejin.
"Siapa kau?" Tanya Hyejin menatap orang yang mengunakan topi dan masker itu. Penampilannya tidak berbeda jauh dari terakhir kali dia muncul saat menyerang Soojin.
"Perlu kah ku beritau agar kau menurut sedikit?" Tanya balik orang itu. Lalu dia mengambil pisau yang sempat terlempar.
Hyejin bersiap walaupun tidak yakin akan berhasil atau tidak bertahan sampai yang lain datang. Dia tau kalau Sunhyung telah melacak keberadaan nya saat menuju taman tadi, cara pelacakan Sunhyung berbeda dari hacker lainnya, dia bisa melacak atau menghack sesuatu tanpa jejak sedikit pun.
Karena sibuk dengan pikirannya untuk mengulur waktu Hyejin tidak sempat menghindar dan mengakibatkan leher bagian kiri dari depan sampai samping tergores, darah keluar dengan deras dari luka itu. Hyejin hanya bisa memegangi nya mencoba menahan darah yang keluar semakin banyak.
"Ternyata kau suka melamun, ya? Tapi itu menguntungkan ku." Kata pria itu.
"Justru aku ingin melihat bagaimana kau membunuh para korban, kenapa kau hanya meletakkan racun pada tubuh korban pertama, korban kelima dan ketujuh? Sedangkan korban lain tidak ada kepastian penyerangan ditubuh mereka?" Ucap Hyejin.
"Kau ingin melihat bagaimana aku membunuh mereka?" Balas pria itu mendekati pintu.
Dan Hyejin baru sadar kalau ada sebuah tombol didekat pintu. Pria itu menekan tombol itu, dan tidak lama kemudian Hyejin terkurung oleh sebuah kaca dari 4 sisi yang muncul dari lantai.
"Baiklah akan kutunjukkan bagaimana aku membunuh mereka." Lanjut pria itu.
Dan tidak lama setelah dia bberkata demikian, asap gas mulai muncul dari lubang dibawah lantai. Hyejin menutup mulut dan hidungnya berusaha tidak menghirup gas itu.
'Gas ini?! Ini adalah obat tidur?!' Batin Hyejin.
"Kau akan tidur setelah menghirup asap itu lalu perlahan-lahan detak jantungmu akan mulai melambat dan saat itu kau akan mati seperti para korban." Kata pria itu.
Hyejin menatap bengis pria itu, 'Jadi seperti ini dia membunuh para korban.'
Meskipun sudah berusaha kuat, gas itu tetap terhirup oleh Hyejin, membuatnya bersimpuh di lantai dengan sedikit terbatuk.
"Cepat juga reaksi obat itu padamu," Kata pria itu. "Mungkin para polisi akan senang kukirim kan tubuh salah satu Letnan mereka yang telah menjadi korban kedelapan Cold-Blooded Killer."
Tidak lama setelah dia berkata demikian, pintu didobrak dari luar dan menampilkan Soojin, dan Sunhyung yang membawa senjata.
"JANGAN BERGERAK!!!" Bentak Soojin menodongkan pistolnya.
Pria itu hanya diam sambil menatap Soojin dan Sunhyung yang menodongkan senjata kearahnya.
Pria itu mengikuti perintah Sunhyung lalu mulai mengangkat tangannya. Dan sesuatu yang ada di tangan nya membuat ketiga polisi disana terkejut.
"Granat?! Menyingkir!!!" Sunhyung dan Soojin langsung bersembunyi dibalik dinding.
Pria tadi tiba-tiba mengeluarkan granat yang kunci nya sudah dibuka. Dan tepat setela mereka berdua bersembunyi ledakan terjadi membuat penglihatan mereka terganggu akibat debu.
Bertepatan pelaku yang melarikan diri Sunhyung melihatnya.
"Jangan lari!!" Teriak Sunhyung lalu langsung mengejar pelaku.
Soojin yang mencoba menyingkirkan debu yang menghalangi pandangannya langsung terkesiap saat mendengar teriakan Sunhyung, dia langsung bergegas masuk keruangan tadi untuk menolong Hyejin.
"Eonnie?!!" Panggil Soojin. Dan tidak ada yang berubah dari kondisi tempat Hyejin berada. Berarti kaca itu tahan terhadap ledakan.
Dapat Soojin lihat Hyejin yang bersimpuh dilantai dan hampir tidak sadarkan diri.
"Eonnie bertahan lah!!!" Pekik Soojin mencoba memecahkan kaca itu.
Beberapa percobaan pertama tidak berhasil, dan akhirnya Soojin memutuskan menggunakan pistolnya.
Siapa yang menyangka itu akan berhasil, Soojin segera menutup mulut Dan hidungnya menghindari menghirup gas itu.
Dia langsung membawa Hyejin keluar dari ruangan rahasia itu.
Ditempat Sunhyung.
Sunhyung baru saja keluar dari rumah itu, dia segera mengejar pelaku yang melarikan diri ke sebuah gang.
Sempat beberapa kali Sunhyung kehilangan jejak pelaku tapi masih bisa dia menemukan nya.
Sekarang dia berada di sebuah bangunan tua yang baru saja direnovasi walaupun belum sepenuhnya selesai.
"Hah... Hah... Hah... Dimana dia?" Gumam Sunhyung mengedarkan pandangannya kesekeliling.
Lalu dia berhasil menemukan pelaku yang baru saja melarikan diri dari persembunyiannya.
"Berhenti!!" Sunhyung kembali mengejar pelaku tapi dia berhasil melarikan diri di sebuah perempatan.
"****!" Kesal Sunhyung memukul tiang listrik disampingnya. "Dia lolos lagi!"
Lalu dia teringat sesuatu saat mengejar pelaku, lengannya sempat tergores batang besi saat melarikan diri ketika berada di bangunan tua tadi.
Sunhyung langsung bergegas menuju ke tempat itu.
Dan begitu sampai seperti dugaannya, ada sebuah batang besi dengan noda darah yang masih baru.
"Ini mungkin bisa dijadikan petunjuk." Gumam Sunhyung. Lalu dia mengambil sampel darah itu dan kembali ketempat Soojin dan Hyejin berada.
Ditempat Soojin dan Hyejin.
Soojin berhasil membawa Hyejin keluar dari rumah itu, sekarang mereka berada didepan rumah korban kelima itu.
"Eonnie?! Bertahan lah!" Ucap Soojin panik.
"Naneun gwaechana yo, kalian datang ketika aku masih bisa bertahan, kalian tepat waktu." Ucap Hyejin dengan kesadaran yang mulai menipis.
"Kenapa eonnie selalu saja ceroboh dan nekat begini?!! Eonnie tidak tau betapa khawatirnya aku dan yang lainnya!!" Marah Soojin dengan air mata yang menetes.
"Mianhae, aku tidak punya pilihan lain, kuharap kau memaafkan kesalahan ku yang kali ini--" Tepat setelah Hyejin menyelesaikan kata-katanya dia langsung ambruk.
Untungnya Soojin dengan sigap menangkapnya.
"Eonnie?!! Eonnie sadarlah?!!" Soojin mulai panik. Tidak lama kemudian Sunhyung kembali.
"Mianhae, aku kehilangan jejak nya." Kata Sunhyung seraya mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"Tidak masalah, yang perlu kita khawatirkan sekarang adalah kondisi Hyejin eonnie!" Balas Soojin dengan air mata yang masih mengalir.
"Ayo kita bawa dia ketempat Seojun hyung." Ajak Sunhyung lalu dia mendekat dan memggendong Hyejin ala bridal.
Mereka segera bergegas menuju rumah sakit.