Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Seorang Penari 6: Bunga


"Baiklah."


Yi Hua memperhatikan Wei Fei yang tampak menghela napasnya sebal. Setelah pria itu selesai, dia langsung menatap kembali pada Yi Hua. Seolah pria itu memiliki banyak keluh kesah di dalam kepalanya.


Namun tiada menunggu Yi Hua untuk bertanya, Wei Fei langsung memulai pembicaraan.


"Bukankah Yi Hua berjanji kita akan bertemu di Pusat Kota Zhu?" tanya Wei Fei dengan jengkel.


"Saya sudah datang," jawab Yi Hua seadanya.


Yi Hua menunjukkan wajah datarnya. Menjadi Yi Hua yang sombong dan dingin seperti biasanya. Walau terkadang sikap dinginnya tak betul-betul tampak. Sebab, dia seperti sudah terbiasa hidup lincah seperti anak sapi.


Mungkin di kehidupan sebelumnya aku bukanlah orang yang pendiam.


Hanya itu yang bisa Yi Hua pikirkan.


Yi Hua mempertanyakan tentang diri Wei Fei. Bagaimana pun Yi Hua dikenal sebagai seorang pria, dan Wei Fei masih terang-terangan menyukainya. Yah, Yi Hua memang tak bisa mengomentari tentang perasaan orang lain.


Namun mengapa Wei Fei berisik ini sudah ribut-ribut saat Yi Hua baru datang?


Yi Hua menatap Wei Fei seolah tak ada yang salah. Bagaimana pun dia datang sesuai janji. Ia telah memutuskan untuk ikut dalam tarian jalanan hari ini. Akan tetapi, mengapa Wei Fei menatapnya seolah hidung Yi Hua berpindah ke kaki?


"Lalu, mengapa harus membawa pria ini?" tunjuk Wei Fei pada sosok tinggi yang berada di belakang Yi Hua.


Oh ...


Yi Hua lupa jika dia tak sendirian.


Pria itu, An, tak terlihat terganggu dengan wajah kusut Wei Fei. Sebaliknya, An tetap datar seolah dia adalah kue yang baru diratakan di atas panggangan. Yah, Yi Hua jelas tak bisa mengomentari wajah An yang memang selalu datar dan tenang.


"Dia kakak saya," ujar Yi Hua menebarkan kebohongan. Bagaimana pun dia tak bisa memikirkan tentang identitas An yang datang tiba-tiba ini.


Wei Fei menatap An dengan sangsi. "Kau yakin dia kakakmu?"


Yi Hua menoleh sekilas pada An, dan pria itu hanya menatap Yi Hua dengan tenang. Lalu, Yi Hua kembali menatap ke depan dan menjawab, "Ha ... ha ... Kami memang tidak mirip. Namun kami ini adik kakak, beda rahim, lain ayah. Kami sudah lama tak bertemu karena kami memang tinggal di rumah yang berbeda sejak lahir. Begitu." Yi Hua jelas tak memikirkan lagi makna dari jawabannya itu.


Wei Fei merangkul bahu Yi Hua dengan santai. Kemudian, pria itu berbisik pada Yi Hua. "Apa kau tahu dia terlihat seperti ingin membunuhku sekarang!!! Seolah aku sedang merebut istirnya."


Yi Hua menoleh lagi pada An, dan menggelengkan kepalanya tak mengerti.


"Memang wajahnya seperti itu," balas Yi Hua sekenanya.


Dan, Wei Fei hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mengerti bahwa Yi Hua adalah makhluk langka yang tak peka pada sekitar.


SRET!


Ketika mendengar suara itu, Wei Fei langsung melepaskan rangkulan tangannya dengan cepat. Akan tetapi, itu bukan karena An menarik pedangnya. Pria itu hanya bergerak untuk memperbaiki penutup kepala Yi Hua yang miring.


"Pasti dia sengaja," pekik Wei Fei dalam hati.


TENG!


TENG!


"Wei Fei!! Ayo mulai!"


Lagi-lagi suara cempreng itu terdengar. Pelakunya tentu gadis dengan pakaian agak lusuh itu. Seperti kemarin, gadis itu memanggil Wei Fei seolah tak perduli jika tenggorokannya rusak atau tidak. Mungkin saja gadis ini merupakan salah satu penari di kelompok mereka.


"Iya, aku ke sana," teriak Wei Fei sebelum menarik tangan Yi Hua.


Namun An lebih dulu menjauhkan Yi Hua dari jangkauan Wei Fei. Hal itu membuat Wei Fei tertawa lagi dengan riang. Pertemuan ini memang terasa sangat menarik.


Wei Fei melambaikan tangan pada Yi Hua. "Jangan pergi ya, karena pelajaran menarinya setelah ini."


Dalam kesempatan itu, Yi Hua bertanya pada Xiao yang entah mengapa sepi hari ini. "Apakah dia beraura kematian lagi?"


"Tidak, HuaHua. Mungkin aku hanya salah perasaan," jawab Xiao malas-malasan.


Masalahnya adalah bagaimana mungkin sistem ini bisa salah perasaan?


Sesuatu yang tak beres memang terjadi di sini. Bagaimana bisa aura kematian bisa timbul tenggelam di sekitar Wei Fei?


"Hal yang aku takutkan ialah jika dia tahu bahwa kau mencurigainya. Itulah yang membuat dia terlihat 'normal' daripada kemarin," jelas Xiao langsung pada intinya.


Jika seperti itu, Wei Fei mungkin lebih waspada daripada yang Yi Hua duga.


Wei Fei menghampiri anak-anak yang berkeliling di sekitar iringan penari. Anak-anak itu sepertinya adalah anak-anak Kota Zhu yang berkeliaran. Wei Fei terlihat sangat akrab dengan anak-anak itu, bahkan anak-anak juga menyukainya.


Mereka mengelilingi Wei Fei untuk mendapat bunga-bunga, yang entah dimana Wei Fei menyimpannya. Hanya saja bunga-bunga itu terlihat seperti tak pernah habis. Pria itu seperti mengeluarkan sekuntum bunga dari telapak tangannya yang terkepal.


Itu seperti pertunjukkan yang menarik untuk anak-anak. Sebuah sihir dimana bunga bisa muncul begitu saja dari telapak tangan Wei Fei.


"Bagaimana dia melakukannya?" tanya Yi Hua pelan pada An.


Pria itu masih berdiri di belakang Yi Hua. Namun Yi Hua bisa mendengar dengan jelas jawabannya. "Dia mengambilnya dari lengan baju lebarnya," jawab An pelan.


Inti dari 'sihir' ini adalah Wei Fei harus menggunakan pakaian dengan lengan yang lebar. Setelah itu, sisanya hanya kecepatan tangan dan kepandaian untuk mengelabui arah pandang mata. Yi Hua mengacungkan jempol untuk gerakan tangan Wei Fei yang cepat dan terampil.


Tunggu sebentar ... Tangan yang cepat dan terampil?


"Bagaimana dengan hasil penyelidikan di Kota Selatan?" tanya Yi Hua lagi pada An.


Setahu Yi Hua, An datang kemari setelah datang dari Kota Selatan. Pria ini ditugaskan untuk memeriksa di kota yang berbeda. Setelah itu, An entah mengapa malah menyusul ke Kota Zhu. Harusnya pria ini melapor ke kerajaan.


Entah mengapa An selalu bertindak seenaknya. Bahkan tak takut pada kebijakan kerajaan.


"Tidak ada yang menarik. Hanya tentang masing-masing anak punya penderitaan tersendiri," jawab An yang merangkul bahu Yi Hua.


Hal itu membuat Yi Hua mendongakkan kepalanya untuk protes. Akan tetapi, pria itu memutar dagu Yi Hua lagi untuk terus menatap pertunjukkan di depan. Seolah mereka berdua hanya sedang menonton.


"Bukankah kita sedang bertingkah seolah kita adik kakak? Saudara tak akan dianggap aneh jika terlalu dekat." Suara An terdengar tenang di atas kepala Yi Hua.


Yi Hua tak lagi memberontak. Ia memilih fokus pada masalah yang diselidiki oleh An. "Apa maksud Anda dengan punya penderitaan tersendiri?"


"Seperti anak yang tak disayang oleh keluarganya. Atau, anak yang menderita karena orangtuanya sering memukul atau pemabuk. Seperti itu," jawab An.


Penderitaan? Lalu, mereka menghilang karena mereka menderita. Begitu? Apakah itu bisa menjai alasan yang relevan?


"Mungkin ada pahlawan yang berpikir jika dirinya menyelamatkan." Suara An kali ini sangat dalam. Hingga Yi Hua nyaris tak bisa mendengarnya dengan jelas.


Ketika Yi Hua ingin bertanya, Wei Fei menuju ke arah mereka lagi. Ditangannya ada bunga dengan kelopak warna putih yang mencolok.


"Pertama kali aku melihat Yi Hua di kerumunan orang, aku berpikir mengapa mawar putih secantik itu bisa tumbuh di sana?" ucap Wei Fei dengan senyumnya yang khas.


Lalu, Yi Hua hanya menjawabnya dengan datar. "Mungkin kotoran mata di mata Anda yang membuat warna putih itu semakin tampak."


Wei Fei menanggapinya dengan senyum yang menarik.


Namun tentang mawar putih, Yi Hua memang sering berpakaian putih. Itu karena semua pakaian Yi Hua asli berwarna putih. Ditambah lagi dengan pakaian khas yang sering digunakan oleh Yi Hua saat bekerja, yaitu pakaian peramal kerajaan. Pakaian itu memang dibuat dengan warna putih yang sangat mencolok. Sehingga mungkin itulah yang membuat Wei Fei memikirkan tentang mawar putih saat melihatnya.


"Terima kasih." Yi Hua menerima bunga itu dari tangan Wei Fei.


Setidaknya itu adalah pemberian dari orang lain.


"Ayo menari, Yi Hua," ucap Wei Fei sebelum menarik tangan Yi Hua.


Hal itu yang membuta penutup kepala Yi Hua terlepas. Ditambah lagi Yi Hua jelas tak siap ditarik seperti ini. Badannya cukup ringan, dan itu membuatnya seperti tak bisa mempertahankan keseimbangan.


Dia pikir tanganku ini tidak sakit saat ditarik!!


SRET!


Hal itu membuat Yi Hua terdiam sejenak hingga suara Wei Fei mengejutkannya. Hal itu membuat hal yang Yi Hua pikirkan menjadi terberai. Yi Hua dengan kaku mengambil penutup kepalanya pada An. Bahkan tanpa mengatakan apa-apa.


Hanya saja ...



Ini seperti dirinya melihat kenangannya. Kenangan hidupnya yang ingin diketahuinya. Walau itu hanya dalam kilasan, dan Yi Hua tak tahu siapa yang Yi Hua lihat dalam kilasan itu.


"Xiao, apakah itu ingatanku sendiri?" tanya Yi Hua hampa. Bahkan tanpa sadar ia mengucapkannya secara langsung.


Beruntung dia sekitar mereka cukup ramai hingga tak ada yang bisa mendengar ucapannya.


Xiao menjawab dengan hampa. "Benar."


"Mengapa kenangan itu bisa datang padahal aku tidak hampir mati?" tanya Yi Hua lagi.


"Mungkin itu karena kau melihat sesuatu yang mengingatkanmu tentang kenangan kehidupanmu sebelumnya," jawab Xiao di telinga Yi Hua.


Yi Hua menatap pada An yang terlihat semakin jauh. Bukan karena An yang menjauh, tetapi Yi Hua ditarik oleh Wei Fei untuk menuju ke dalam kerumunan. Meski begitu, Yi Hua bisa melihat dengan jelas pada An.


Pria itu tengah berdiri mengawasinya.


"Meski kau tak pernah tahu tentang diriku, tetapi aku selalu tahu tentangmu." Itulah yang bergema di kepala Yi Hua.


Mendadak Yi Hua merasa sakit kepala.


Siapa yang mengatakan itu padanya? Sejauh apapun Yi Hua ingin mengingatnya, tetapi ingatan itu tak pernah sampai padanya. Dengan pelitnya, kenangan itu datang.


Bahkan hanya dengan singkat seperti saat sapi makan!


"Mengapa kau tidak menari?" tanya Wei Fei saat melihat Yi Hua masih berdiri tegak.


Yi Hua menghela napasnya pelan. Ia harus fokus pada kasus ini!


Ia menggerakkan tangannya, tetapi itu sangat buruk. Bahkan ia terlihat seperti hendak memukul orang ketimbang menari. Hal itu membuatnya segera menarik tangannya kembali.


"Sebaiknya saya melihat Anda menari saja. Saya tak bisa menari karena tangan saya lebih cocok untuk menimba air saja," ucap Yi Hua yang merasa malu ketika melihat Wei Fei yang lebih gemulai ketimbang dirinya.


Wei Fei tersenyum lagi. "Tuan berkata kita harus memulainya dengan melenturkan gerakan."


Tuan lagi?


Sejak kemarin Yi Hua tak pernah melihat 'Tuan' yang dimaksud oleh Wei Fei. Meski begitu, ini sudah kesekian kalinya Wei Fei menyebutnya. Ditambah lagi wajah sumringah Wei Fei. Seolah seorang anak yang menceritakan tentang ayahnya.


"Apa 'Tuan' ini yang mengajarkan Anda menari?" tanya Yi Hua agak keras. Hal itu karena di sekitar mereka sangat ramai.


Wei Fei mengangguk. "Tuan bukan hanya mengajari aku menari. Dia juga memberi kami tempat tinggal. Aku berpikir jika aku harus membalas budi padanya suatu hari."


Yi Hua hanya bisa menyimpulkan bahwa Wei Fei bukanlah anak dari keluarga yang 'lengkap'. Meski begitu, semuanya masih terasa abu-abu di kepala Yi Hua. Ia sangat bingung untuk menyimpulkan semua hal di sekitarnya.




Anak-anak yang hilang. Mereka semua anak-anak yang tak bahagia di kediaman mereka. Tak ada catatan bahwa anak-anak ini kembali ke rumah, baik hidup maupun mati.




Mayat anak-anak yang ditemukan. Namun mereka bukan mayat dari anak yang menghilang sebelumnya. Setiap mayat ditemukan, kelompok penari ini selalu berada di tempat yang sama.




Kelompok penari ini sepertinya dibentuk dari anak-anak yang tak punya tempat tinggal. Meski begitu, anak-anak yang kemarin Yi Hua lihat menari itu juga bukan termasuk anak-anak yang hilang.




Tuan baik hati yang menjadi pemilik kelompok penari ini. Ia terlihat seperti menyediakan tempat, modal, dan Wei Fei terlihat menyukainya. Bukan terlihat seperti seseorang yang melakukan pemaksaan terhadap anak-anak.




Xiao berucap pelan. "Kau pasti punya dugaan di kepalamu, HuaHua. Mengapa tak kau sebutkan?"


Xiao, entah mengapa aku merasa bahwa semua ini masih terhubung.


"Mengapa?"


"Ini bukan kejahatan tunggal. Ada hal panjang di belakang kasus ini. Mungkin anak-anak yang hilang itu berada di suatu tempat. Entah hidup atau mati. Sedangkan, anak-anak yang ikut bersama Wei Fei ..." ucapan Yi Hua terhenti ketika mengangkat tangannya sendiri.


Bunga yang dibagikan oleh Wei Fei bukanlah bunga sekadar bunga. Anehnya bunga ini hanya diberikan untuk anak-anak. Salah satu bunga pasti beracun. Itu adalah anak yang dipilih.


Namun karena Wei Fei menarik tangan Yi Hua, pria itu lupa jika dia sebelumnya menyentuh racun.


Sedikit celah akan menjatuhkan tupai. Meski ia pandai melompat, tetapi celah itu akan membuatnya tergelincir.


Yi Hua adalah seseorang yang sedikit tahu tentang bahan-bahan seperti ini. Ditambah lagi Xiao adalah sistem yang punya pendengaran, penciuman, penglihatan yang seratus kali lebih baik daripada manusia. Dia bisa mendeteksi adanya racun di tangan Wei Fei. Meski jumlahnya hanya sedikit.


"Tak lama lagi, akan ada seorang anak yang meninggal, bukan?" tanya Yi Hua agak keras. Bahkan ia yakin Wei Fei akan mendengarnya.


BRUK!


"Apa yang terjadi?"


"Ada mayat!" Suara teriakan histeris itu terdengar lagi.


Tanpa menunggu banyak waktu Yi Hua menerobos untuk melihat siapa korban itu. Dan seperti dugaannya, anak kecil lagi. Usianya mungkin 7-8 tahun. Seorang gadis kecil dengan wajah cantik yang pucat.


Korban ketiga di Kota Zhu.


Yi Hua menoleh untuk mencari Wei Fei. Dan, pria itu masih ada di sampingnya.


Jika Wei Fei pembunuhnya, maka pria ini tak akan ada di dekatnya?


Pria ini bertindak seolah dia tak ingin terlihat seperti pembunuh. Padahal sesuatu seperti ini adalah hal yang bisa dilakukan bahkan tanpa tangan sendiri. Sayangnya, Yi Hua sudah punya kemungkinan dari ini semua.


Jika ada yang perlu disalahkan. Mungkin itu karena Wei Fei terlalu biawak hingga selalu merayu Yi Hua.


Wei Fei menatap Yi Hua dengan senyum di wajahnya. "Apakah kau seorang peramal, Hua Yi? Bagaimana bisa kau tahu tentang ini?"


Yi Hua menatap sombong ke arah Wei Fei. "Aku memang seorang peramal, Tuan Wei."


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~