Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Sebuah Bunga 2: Terkepung dan Bertarung


Yi Hua ingin mengatakan sesuatu pada 'pria' itu, tetapi lebih penting lagi jika Yi Hua pergi sekarang. Kertas jimat itu memiliki waktu yang terbatas. Jika keras itu padam atau hancur karena angin, maka para penjaga akan kembali mencari di setiap ruangan.


Itu tak akan diragukan lagi. Sebab, Tuan Qiu tampak sangat kaya dan bisa melakukan banyak hal dengan uang dan kekuasaannya. Percayalah Yi Hua pernah melihat banyak orang yang bisa mengambil hidup orang lain dengan mudah, hanya dengan kekuasaan dan perintahnya.


Tangan gadis itu sudah memeluk lengan Yi Hua dengan erat. Tinggi gadis ini nyaris setara dengan Yi Hua, padahal Yi Hua sudah terbilang cukup kurang tinggi dibanding yang lainnya. Akan tetapi, gadis ini bahkan lebih kecil darinya. Sehingga Yi Hua hanya bisa menyimpulkan bahwa gadis ini baru memasuki usia remaja.


Juga, ... Pria yang tengah beristirahat dengan santai di sana. Padahal ada banyak keributan, tetapi pria ini dengan tenangnya bertindak. Bahkan menunjukkan pintu rahasia pada mereka.


"Terima kasih," ucap Yi Hua pelan.


Meski begitu, Yi Hua tak punya pilihan lain lagi. Ia hanya bisa mempercayainya ini.


"Tuan ..."


Baru saja Yi Hua ingin bergegas menuju pintu yang dimaksud, gadis itu menarik lengan Yi Hua. Pertanda gadis ini ragu atas pilihan Yi Hua. Sehingga Yi Hua hanya menjawab dengan singkat.


"Tidak apa. Jika pria itu berniat buruk, maka dia akan memberitahu penjaga-penjaga itu di mana dirimu berada," jelas Yi Hua sambil menepuk tangan gadis itu yang bergetar.


Nyatanya jika pria ini memang bagian dari Tuan Qiu, maka pria itu akan berteriak ketika para penjaga melewati ruangannya. Namun pria ini dengan sangat tenang bangun dari berbaringnya. Lalu, menunjukkan pintu rahasia pada mereka.


Seperti pria ini sudah tahu kondisi mereka tanpa diberitahu. Entahlah.


SRET!


"Peramal Yi."


Yi Hua mendengar suara Huan Ran di luar, dan Yi Hua segera menjawab. "Saya."


"Kita pergi malam ini. Jika ada jalan keluar lain, lewat di sana. Cari keberadaan manusia ular itu, dia mungkin sudah siap," jelas Huan Ran cepat dan pelan.


Jika pendengaran Yi Hua kurang baik mungkin dirinya tak akan mendengar ucapan dari Huan Ran yang pelit bicara ini. Beruntung telinganya masih normal, dan bisa berkomunikasi dengan Huan Ran. Namun dari pembicaraan itu Yi Hua tahu jika Huan Ran ini bekerja cepat.


Bahkan Yue Yan pun bisa diajak kerja sama.


Yah, semoga saja ular sialan itu tidak melarikan diri sendirian. Jika berani, aku akan memindahkan rambutnya ke ketiak malam ini juga.


"Baik, Perdana Menteri Huan. Kita bertemu di luar. Mohon berhati-hati untuk Perdana Menteri," balas Yi Hua sambil berjalan menuju ke pintu tersembunyi yang dimaksud.


Yi Hua percaya jika Liu Xingsheng baik-baik saja jika bersama Huan Ran. Sehingga ini seperti yang sudah direncanakan oleh Huan Ran, mereka hanya pergi dengan jalan yang berbeda.


"Sekali lagi terima kasih atas bantuannya, Tuan Hua."


Yi Hua menundukkan kepalanya demi kesopanan.


Bagaimana pun tak sulit menebak siapa yang ada di ruangan itu. Ditambah Xiao yang menghilang tiba-tiba. Seperti yang sudah sering terjadi, Xiao akan menghilang jika Hua Yifeng datang. Pria ini juga bisa pergi dan datang semaunya.


Apalagi mengingat Ling Xiao pernah bercerita jika Hua Yifeng juga memiliki kalung keanggotaan Phoenix. Mungkin keberadaan pria itu di sini karena pria itu juga akan menuju ke Kerajaan Bawah. Sehingga Yi Hua tak mungkin dengan sangat angkuhnya menuduh Hua Yifeng mengikutinya.


Sampai sekarang aku tak mengerti dengan pikiran pria ini. Sebenarnya apa yang dilakukan Hua Yifeng selama ini?


Jika ada orang yang paling kurang kerjaan, mungkin itu Hua Yifeng. Dia bahkan pernah menjadi seorang pengawal di Kerajaan Li. Padahal Hua Yifeng memiliki istana besar di Gunung Hua. Dia juga punya tempat penjualan informasi di Istana Awan.


Tapi Hua Yifeng juga orang yang paling sering muncul di saat-saat tertentu.


Entahlah. Seharusnya Yi Hua tak melamun begitu banyak.


Ketika Yi Hua mengangkat kepalanya kembali, ia bisa melihat wajah tenang pria itu yang terlihat dari cahaya lilin yang temaram. Entah mengapa Yi Hua tak juga pergi keluar, dan gadis yang bersembunyi di belakang Yi Hua langsung mengguncang lengan Yi Hua.


"Tuan ...? Kita harus pergi," ucap gadis itu yang tak mengerti dengan keadaan ini.


"Pergilah, Yi Hua," ucap Hua Yifeng tanpa bergerak dari tempat duduknya.


Hal tersebut membuat Yi Hua terdiam sejenak. Bagaimana pun ia mengingat jika Hua Yifeng selalu mengikutinya. Meski begitu, Yi Hua tak punya hak untuk bertanya tujuan dari Hua Yifeng ini. Sehingga Yi Hua memutar wajahnya dengan angkuh.


"Baik. Saya segera pergi!" Nada suara Yi Hua mendadak tinggi.


Sangat konyol.


Mengapa Yi Hua mendadak marah saat Hua Yifeng tak mengikutinya lagi?


Padahal inilah yang sering Yi Hua katakan sebelumnya.


Mungkin Yi Hua sedang lelah sekarang.


BRAK!


Pintu itu tertutup dengan suara gebrakan keras. Dan Hua Yifeng hanya bisa tersenyum ketika melihat Yi Hua membuang muka dengan angkuh sebelumnya.


"Sangat cantik," ucap Hua Yifeng dengan senyum tipis di wajahnya. Sangat tipis hingga kau tak akan berpikir bahwa itu benar-benar sebuah senyuman.



SRET!


Tak lama setelah Yi Hua pergi, pintu di depan terbuka. Di sana masuk seorang pria dengan pakaian serba hitamnya. Akan tetapi, yang lebih menarik perhatian adalah rambut hitam pekat yang dimiliki oleh pria itu. Bahkan lebih pekat dari laut di malam hari.


"Melihat wajahmu saja aku sudah sangat muak, Iblis Kehancuran." Ucapan pria itu sangat dalam dan tenang.


Tak lama kerangka putih keluar dari belakang tubuh pria itu. Rangka-rangka tangan itu tampak meliuk untuk menyerang Hua Yifeng. Akan tetapi, Hua Yifeng mematahkannya dengan satu kali tebasan.


Tentu saja dengan pedang Li Wei.


"Lebih memuakkan lagi wajahmu yang selalu pandai berpura-pura, Bao Jiazhen," ucap Hua Yifeng dengan kedua matanya yang tiba-tiba berwarna merah terang.


SRAK!


Petir merah mendadak muncul dan melintas di ruangan itu.


Hua Yifeng harus mengurus makhluk ini dahulu sebelum menenangkan peramal kecilnya yang sedang marah.


***


Yi Hua mengambil ranting kayu yang bisa ia gunakan sebagai senjata. Apalagi di malam hari seperti ini, siapa tahu dirinya menabrak sapi karena tak melihat dengan jelas. Ia juga tak bisa menyalakan kertas jimat karena pasti akan menarik perhatian. Sehingga ia hanya bisa mengandalkan cahaya obor yang dipasang di halaman belakang penginapan.


Ternyata pintu rahasia itu mengarah ke belakang penginapan. Mungkin penginapan ini cukup ide untuk memikirkan kemungkinan jika kebakaran atau masalah lainnya. Meski begitu, Yi Hua yakin bagian belakang penginapan juga memiliki penjaga. Tak lucu jika pintu tersembunyi ini malah digunakan untuk melarikan diri karena tak bisa membayar.


Seperti yang dilakukan oleh Yi Hua sekarang ini.


Aku bukan melarikan diri dari bayaran penginapan. Sekarang aku sedang melarikan diri dari penjahat.


"Suara dirimu yang layaknya sapi adalah yang pertama kali ku dengar. Apa tidak ada yang lebih buruk dari ini?" tanya Xiao yang kembali muncul. Mungkin jarak mereka sekarang sudah cukup jauh dari Hua Yifeng.


Atau yah pria itu menghilang dengan seenak kepalanya seperti biasanya.


"Terima kasih atas pujiannya. Aku hampir menangis ketika mendengarnya. Sekarang temukan jalan keluar," jawab Yi Hua sarkastik.


Xiao terdengar menggerutu pelan. Akan tetapi, sistem itu terdiam sebentar, dan menjawab setelah Yi Hua dua kali menarik napas.


"Di bagian selatan adalah kumpulan penjaga Tuan Qiu. Rupanya hampir seluruh kamar yang ada di penginapan ini disewa oleh Tuan Qiu. Dia membawa banyak rekan kerjanya, dan gadis yang kau bawa adalah 'mainan' mereka," ucap Xiao memberi informasi.


Menjijikkan!


Mendadak tangan Yi Hua mengepal dengan kuat. Yi Hua bahkan bisa merasakan panas di wajahnya. Entah karena apa. Dan, mendengar itu, Yi Hua bersumpah akan membawa gadis ini keluar dari penginapan.


Jika Yi Hua bisa, ia malah ingin mendatangi para pria biawak dengan level mendekati kecoa itu, dan menendang mereka. Hanya saja ... Itu pasti tak bisa Yi Hua lakukan. Ia kekurangan orang dan kekuatan. Juga, ia kekurangan kekuasaan dan uang.


Dari gemetarnya tangan gadis ini saja Yi Hua sudah tahu betapa takutnya dia. Mungkin saat ia dengan sengaja menabrak Yi Hua tadi sore ialah sebagai percobaan. Ia mencoba mencari orang yang sekiranya peka terhadap keadaannya.


Sebab, tak semua orang mau mengambil resiko. Terkadang meski banyak orang yang tahu tentang kecurangan atau perbuatan buruk orang lain, tetapi tak semua orang yang ingin menanggapinya. Kebanyakan orang akan membuang pandangan, karena tak mau ikut campur. Menganggap bahwa setiap tindakan keji seseorang sebagai bentuk 'normal' dari manusia yang memang sering berbuat salah.


Sudahlah. Yi Hua juga bukan orang baik yang selalu putih bersih tanpa soda.


"Xiao, aku harus mencari di mana Yue Yan berada. Perdana Menteri Huan sudah menyiapkan semuanya," ucap Yi Hua yang mengingat jika Xiao tak 'ada' saat Huan Ran memberitahu hal tersebut.


"U ... ular." Gadis yang sejak tadi diam itu mendadak memekik.


Jantung Yi Hua nyaris melompat keluar karena terkejut. Bukan karena ularnya atau apa, tetapi lebih ke suara gadis itu yang ternyata cukup keras. Hal tersebut membuat Yi Hua segera menutup mulut gadis itu dengan telapak tangannya.


Bukan hanya Yi Hua. Ular putih yang ternyata melingkar di samping kaki Yi Hua itu juga ikut-ikutan terkejut. Terutama saat ular itu melihat Yi Hua memegang kayu. Secara alami ular itu tahu jika Yi Hua ini sering menindas tuannya, sehingga ular pelihara Yue Yan menjadi trauma dengan tingkah Yi Hua yang lincah ini.


"Ada suara di sana." Terdengar suara seruan itu beserta langkah kaki yang berlari ke arah mereka.


Mengapa takdir sial di hidupku ini tak luntur-luntur juga?


Mau tak mau Yi Hua menarik lengan gadis itu. Ia membawanya segera berlari mengikuti ular ... Yah, ular yang dilihat oleh gadis ini adalah ular milik Yue Yan. Walau Yi Hua tak bisa berkomunikasi dengan anak Yue Yan ini, tetapi ia bisa tahu jika ular ini diperintahkan oleh Yue Yan.


Akan tetapi, ular itu malah menaiki dinding batu yang tinggi. Kan ... Sial lagi?


Memang di sana ada jalan keluar. Tapi ini dinding batu ... Lain halnya Yi Hua ini makhluk tak kasat mata yang bisa menembus dinding. Dan, ular itu malah mengarahkan mereka ke jalan buntu karena Yi Hua bukan ular yang bisa merayap naik ke dinding.


Tinggi dinding ini lebih tinggi satu kepala dari Yi Hua. Meski begitu, perlu waktu untuk memanjat dinding ini. Sehingga jika pun ada yang bisa memanjat, hanya satu orang yang bisa naik duluan. Satu sisanya lagi harus menjadi tumpuan.


Kan sudah dibilang. Sial lagi untuk Yi Hua. Pasti dirinya yang menjadi tumpuan, karena sekarang dia 'pria'. Ditambah lagi yang dikejar adalah gadis ini, bukan Yi Hua. Dia harus menyembunyikan gadis ini terlebih dahulu. Apa boleh buat!


SRET!


"Tuan, saya tidak bisa," ucap gadis itu sambil menggelengkan kepalanya panik ketika Yi Hua berjongkok di depannya.


Yi Hua menghela napasnya. "Tidak apa. Tidak perlu takut. Dindingnya tidak tinggi, dan jatuhnya juga pasti ke bawah."


"Bagaimana dengan Anda, Tuan?" tanya gadis itu sambil menggenggam tangan Yi Hua kuat.


Eh? Gadis ini mengapa semakin ke sini malah ke 'sana'?


Yi Hua itu cenderung kasar dan tak sabaran. Jika ia mampu melempar gadis ini ke seberang dinding, maka Yi Hua akan melakukannya segera. Akan tetapi, Yi Hua hanya menarik napasnya pelan karena tak mau menakuti gadis ini. Nanti Yi Hua dikira jahat -_-.


"Awas, HuaHua! Kepalamu!" teriak Xiao memberi peringatan.


SRET!


SRUP


Yi Hua menundukkan kepalanya, sekaligus menekan kepala gadis di sebelahnya juga untuk menunduk. Tepat saat itu juga sebuah cambuk terbang melintas di atas kepala mereka. Setelah itu, Yi Hua mengangkat kepalanya lagi untuk melihat siapa yang menyerang.


Hoiii ... Kau pikir sedang membajak sawah apa, sampai membawa cambuk seperti ini?


"Hoo, rupanya Tuan Yi. Saya tak melihat Anda karena terlalu kecil," ucap pria itu, dan itu adalah Tuan Qiu.


Di belakangnya berderet beberapa penjaganya. Itu saja sudah cukup banyak, dan melebihi pasukan khusus milik Jenderal Wei. Dalam perjalanannya menuju Kerajaan Bawah yang berbahaya itu tentu saja pria tua membayar bandit-bandit ini untuk mengawalnya.


Yi Hua memberi senyuman dengan tenang. "Mungkin mata Anda sedang bermasalah. Silahkan diobati, siapa tahu itu tanda-tanda menuju penuaan," balas Yi Hua dengan kesopanan di atas rata-rata.


Senyum Tuan Qiu tak lagi ramah. "Tangkap Tuan Yi sekarang juga. Buat dia tak bisa bicara lagi."


Orang sialan ini sangat menyebalkan.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~