Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Sebuah Luka


DRAAAASSSHHH!


Yi Hua yakin sekarang matanya mungkin sedang dilindungi oleh badan sapi. Hal itu karena dia nyatanya masih bisa melihat, meski debu telah datang seperti air hujan. Pakaiannya bahkan sudah dipenuhi oleh serpihan debu di mana-mana. Yi Hua pun tanpa sadar menggertakan giginya, dan ia tahu jika dirinya telah mengunyah pasir.


Hey, jadi akhirnya menjadi seperti ini?


Pendeta Buta yang ditakuti oleh seluruh makhluk kerajaan sekarang sudah lenyap bersama debu. Semuanya terjadi begitu saja hingga Yi Hua tak bisa mensyukuri apapun dari kejadian ini. Katakanlah mereka berhasil membasmi musuh kerajaan, tetapi ...


Ia tak merasa senang sedikit pun. Ini malah terasa hampa seperti memakan daging sapi yang terasa hambar.


Xiao berseru di telinga Yi Hua, "Mengapa kau perlu kecewa, HuaHua? Kau harus ingat jika menyingkirkan musuh kerajaan adalah tugasmu."


BRUGH!


Yi Hua hanya bisa meringis ketika punggungnya di paksa berbaring di hamparan pasir.


"Tuan An ... Apa ..."


SRET!


HEY! HEY! MENGAPA MEMBUKA JUBAH LUAR MILIKMU BEGITU?


Yi Hua ingin protes dengan keras, tetapi suaranya tak keluar. Ditambah lagi An hanya membuka ikatan luar jubahnya, dan membentangkannya di sekeliling Yi Hua. Sehingga Yi Hua berada di dalam lindungan jubah besar milik An. An melakukan itu hanya agar Yi Hua tak tersapu oleh derasnya badai pasir.


Dari dalam jubah An, Yi Hua bisa mendengar badai keras mulai bersemi lagi.


Ia bahkan tak bisa membayangkan betapa kerasnya badai pasir menghujani tubuh An. Akan tetapi, Yi Hua masih berpusat pada pemikirannya hingga ia baru sadar ketika dada bidang tersaji di hadapannya.


Yi Hua ingin menyeka dagunya karena takut air liurnya keluar. Namun tangannya yang ditekan oleh An ke permukaan pasir jelas tak bisa digunakan. Sehingga Yi Hua hanya berdoa agar tidak tampil dengan keadaan yang memalukan.


Ini adalah pertama kali Yi Hua melihatnya. Semua itu karena An jelas tak pernah membuka pakaiannya di depan Yi Hua. Lagipula, jelas tak ada untungnya An membuka pakaiannya di depan Yi Hua.


Xiao mengejek Yi Hua lagi tanpa tahu kondisi hati Yi Hua, "Aku sangat kasihan pada pengawal itu. Bagaimana bisa kau mengatakan hal sekejam itu padanya? Padahal kau tertarik juga kan saat melihat dadanya?"


Yi Hua malas menanggapi ucapan Xiao yang melenceng dari prinsip hidup Yi Hua. Ya untuk mendapatkan banyak uang, dan tidak untuk tertarik pada orang. Dia harus hidup kokoh sendiri di kehidupan ini, hingga ia bisa mengumpulkan semua ingatannya.


"Tapi kau memperhatikan dada pria itu dengan liur di mulutmu, HuaHua!" ejek Xiao lagi.


Namun ...


Bukan pada dada bidang An.


Yah ... Jelas Yi Hua merasa kagum dengan tubuh tegap An hingga ia merasa ingin mengamuk pada Dewa karena kurang adil padanya. Akan tetapi, yang membuat Yi Hua terpaku ialah hal lain. Yaitu, luka yang membentang panjang di dada An.


Dari luka ini Yi Hua bisa tahu jika pria ini pernah mengalami luka yang sangat panjang di dadanya. Tepat pada jantungnya. Garis itu membentang tepat pada jantungnya.


Ada yang pernah mengatakan, bekas luka yang kau dapat sekarang mungkin adalah luka yang pernah kau dapat di kehidupan sebelumnya. Sehingga jika kau mendapat luka besar di kehidupan ini, dan saat bereinkarnasi, luka itu juga akan kau dapatkan. Meski dalam situasi yang berbeda. Entah mengapa Yi Hua memikirkan ini semua.


Dia bahkan memiliki luka di lehernya yang akan muncul jika dirinya di ambang kematian. Tak ada yang tahu bagaimana bisa itu terjadi. Anggap saja itu takdir.


Namun ...


Bagaimana bisa pria ini masih tetap hidup dengan luka yang pastinya dahulu tepat mengenai jantungnya?


Suara desing pasir dan gemuruh angin masih terdengar. Yi Hua yakin jika dia tak dilindungi oleh An, maka dia akan terbawa oleh angin. Ia hanya berharap jika para pedagang itu sempat dibawa oleh Jenderal Wei Qionglin ke tempat yang aman. Seingat Yi Hua, ada banyak bangunan kokoh yang masih bisa dipakai untuk bersembunyi di sekitar Lembah Debu. Sebab, para pedagang itu jelas tak bisa bertahan di daerah badai ini.


Selain suara keributan badai itu, Yi Hua tak mendengar suara apapun. Sehingga ia yakin tak ada siapa-siapa di sekitar mereka. Hanya ada Yi Hua dan An di sini. Bahkan Yi Hua bisa merasakan dagu An yang menekan ke pucuk kepala Yi Hua. Pria ini sangat memastikan jika Yi Hua tak akan merasakan serbuan pasir.


Mengapa pria ini melakukan hal sejauh ini?


SRAPP!!! SRAP!


Yi Hua merasa ngeri dengan suara hempasan pasir itu yang mengenai benda-benda di sekitarnya. Namun dengan perlindungan An, Yi Hua tak tertimpa oleh badai pasir. Ia cukup berterima kasih tentang hal itu. Meski begitu, ... Bagaimana dengan pria ini?


"Tuan An ... Mengapa Anda tidak berlindung juga di balik jubah besar ini?" Yi Hua hanya bisa berteriak agar suaranya didengar oleh An.


Namun tak ada jawaban apa-apa dari An. Pria itu malah semakin menekan kencang jubah yang menutupi tubuh kecil Yi Hua, hanya agar jubah itu bisa memantulkan pasir kembali. Hanya agar tak ada rasa hempasan yang akan mengenai Yi Hua.


Hal itu membuat tubuh An semakin dekat untuk melingkupi Yi Hua. Dan, wajah Yi Hua yang berjarak dekat dengan dada An. Bahkan bekas luka membentang itu bisa dilihat Yi Hua dengan sangat dekat. Yi Hua mengerutkan keningnya.


Lalu, ...


Yi Hua memajukan wajahnya dan hal tersenut membuat Xiao panik sendiri. "Hey, hey! Apakah sopan jika wanita yang melakukan 'gerakan' duluan? HuaHua, aku tak membesarkanmu seperti itu."


Berisik!


Akan tetapi, ... Dalam jarak yang dekat itu Yi Hua membulatkan matanya dengan pandangan tak percaya. Pria ini ...


SRAP!


"Baiklah. Apakah kalian tidak ingin bangun sekarang?" Suara itu terdengar jengkel di sekitar Yi Hua.


An membantu Yi Hua berdiri tanpa perduli pada wajah masam Wei Qionglin. Di tangan pria itu ada sebuah obor _ yang entah bagaimana_ bisa Wei Qionglin buat. Mungkin pria ini memasuki kediaman-kediaman kosong di sekitar kota mati ini. Dari sana Yi Hua yakin semua penduduk baik-baik saja.


"Tutup matamu, Yi Hua," ucap An dengan nada yang tenang.


Yi Hua bukannya ingin menurut, tetapi dia lebih ke bingung. Sehingga dia tak bisa melakukan apa-apa selain memejamkan matanya. Tak lama An menepuk pucuk kepala Yi Hua yang ternyata dipenuhi pasir. Pasti sekarang rambut Yi Hua seperti sisik sapi yang kurang disisir.


Wei Qionglin menghela napasnya. "Aku masih ada di sini."


Namun An sangat tenang dan pendiam, jelas pria ini tak akan menanggapi apa-apa. Itu adalah situasi yang menyedihkan untuk Wei Qionglin. Sebab, lebih baik jika Yi Hua atau An membantahnya, daripada seperti diabaikan seperti inu.


Ia layaknya sapi yang salah pertemanan dengan biawak pulau terpencil.


Sedangkan Yi Hua tak menanggapi juga karena dia tak berani bicara. Ia takut jika pasir yang dibersihkan oleh An di kepalanya akan masuk ke dalam mulut.


Jelas aku sudah sangat kenyang makan pasir sejak tadi!


Baiklah.


Yi Hua menepis tangan An yang masih membersihkan rambutnya. Mungkin sekarang Yi Hua sudah paham keadaannya. Ia hanya perlu membicarakan ini di Pengadilan Tinggi nantinya.


Bagaimana pun ini adalah tentang kerajaan!


"Jenderal Wei, apakah Anda mengetahui hal ini sebelumnya?" tanya Yi Hua sambil menatap Wei Qionglin yang melipat kedua lengannya di dada.


Mendengar Yi Hua yang serius, Wei Qionglin juga bertindak serius. Pria itu menatap Yi Hua, dan tak lama Wei Qionglin menggeleng. "Aku bahkan tak tahu mengapa kerajaan waktu itu mengirim pasukan untuk melindungi kota ini. Padahal ..."


Jelas Wei Qionglin tak bisa melanjutkan ucapannya. Ditambah lagi mereka sedang ada di luar Pengadilan Tinggi. Jika di ruangan 'panas' itu, mereka bisa membeberkan banyak hal tanpa takut diketahui oleh masyarakat. Sebab, informasi setengah-setengah seperti ini jelas bukan hal yang baik untuk didengar masyarakat.


Siapa yang bisa menjamin jika terjadi tindakan kudeta berikutnya?


Yi Hua menghela napasnya. "Apakah itu berarti Yang Mulia mengetahui yang sebenarnya?"


"Dia tak tahu."


Jawaban itu cukup mengejutkan. Apalagi ketika mendengar bahwa An tak menyebut Raja Li Shen dengan 'Yang Mulia'. Hal mengejutkan lainnya ialah Raja Li Shen, tonggak tertinggi Kerajaan Li, tak tahu tentang tragedi besar ini. Bagaimana bisa?


Jenderal Wei juga cukup terkejut dengan tindakan tak sopan An. Meski begitu, dia lebih fokus pada pembicaraan An. "Apa maksud Anda dengan tak tahu, Tuan Pengawal? Apakah Anda sudi berbagi? Bukankah Anda pengawal pribadi Yang Mulia?"


Jelas sekali An tahu banyak hal tentang kerajaan. Akan tetapi, An terlihat tak begitu takut untuk mengatakan tentang keburukan kerajaan. Entah dimana saja An menyimpan nyawanya ini.


"Seperti yang ada di tulisan dinding bawah tanah itu, ini adalah hal yang terjadi akibat kebijakan Raja terdahulu. Bukan Raja yang ini," ucap An yang berbicara tanpa mengucapkan panggilan kehormatan Raja.


Pria ini sungguh punya nyali, seperti tenaganya juga yang meniru sapi.


Wei Qionglin menganggukkan kepalanya membenarkan. "Itu mungkin benar. Sebab, pembantaian Pendeta Buta, Shen Qibo adalah tugas pertamaku saat aku masuk ke kerajaan. Saat itu aku masih menjadi prajurit biasa, dan tahta baru berpindah ke Yang Mulia Raja Li Shen yang baru berumur sepuluh tahun. Sehingga saat itu kebijakan masih ada di tangan ..."


DRAP! DRAP!


Di saat itu masih gelap karena masih malam hari. Jelas mereka akan menghabiskan malam yang 'indah' di tempat ini. Akan tetapi, suara hentakan kaki kuda jelas bukan hal yang baik di kala gelap. Jika dalam situasi perang, maka mungkin ada serangan musuh.


Hal itu yang membuat Jenderal Wei segera memadamkan obornya. Dan, An yang membentangkan lengan kanannya di depan Yi Hua. Itulah yang membuat Yi Hua merasa bingung dan agak tak menyukai hal ini. Dia adalah 'pria' di mata orang lain, tetapi An selalu memperlakukan Yi Hua seperti orang yang lemah. Padahal Yi Hua tak akan mati semudah itu.


"Yi Hua ... Apa kau sudah mati?" teriakan cempreng itu membuat Yi Hua nyaris ingin menendang pemilik suara itu.


Jelas sekali Liu Xingsheng yang datang. Sebab, pria itu akan datang dengan keributan luar biasa menyebalkan. Yi Hua menerbangkan kertas jimatnya lagi untuk membakar obor di tangan Wei Qionglin.


Lalu, segerombolan prajurit dengan pakaian khas Kerajaan Li datang. Sepertinya kepergian Wei Qionglin dan Yi Hua telah diketahui, hingga kerajaan mengirimkan Perdana Menteri turun ke lapangan. Jelas sekali itu bukan hanya Liu Xingsheng, tetapi 'pengasuh'nya juga datang. Huan Ran.


Juga ...


Yi Hua mengerutkan keningnya ketika ia melihat sosok yang tak biasanya terlihat ini muncul. Pria itu tampak berwibawa di usianya yang sekarang. Belum lagi dengan wajahnya yang tampan, hingga kau bisa membayangkan betapa tampannya pria ini ketika remaja.


Dia adalah Wang Zeming, Penasihat Kerajaan.


Seseorang yang juga berasal dari kebijakan Raja Sebelumnya. Wang Zeming adalah penatua yang juga berkecimpung di masa kejayaan Raja terdahulu. Oleh karena itu, Yi Hua sangat yakin pria ini tahu banyak hal. Termasuk fakta sebenarnya di balik pembantaian satu malam oleh Shen Qibo, Si Pendeta Buta.


"Jika kau sudah melihatku dengan tajam seperti itu, mungkin kau sangat pandai menebak, Peramal Yi Hua," ucap Wang Zeming yang masih berada di kudanya.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~