
Melihat kehadiran Li Wei beberapa di antara mereka berusaha untuk mendekat. Bagaimana pun mereka berharap pada seseorang yang dianggapnya bisa membantu mereka. Hanya saja ... Li Wei tak yakin bisa membantu apa-apa di sini.
PLAK!
"Jauhkan orang itu dari Putri!" teriak prajurit yang menjaga di sekitar Li Wei.
Mereka dengan keras memukul ke arah orang-orang yang terjangkit penyakit batu itu. Akibat pukulan itu lagi-lagi bagian yang terpukul itu patah. Terberai menjadi bebatuan di jalan. Orang-orang yang awalnya mengelilingi pria yang terjangkit itu mulai menjauh.
Takut.
Bagaimana jika penyakit batu itu menyebar melalui sentuhan?
Akan tetapi, tindakan seperti ini begitu kejam di mata Li Wei. Setiap orang-orang yang terjangkit mendekat, para prajurit akan memukul mereka.
"Berhenti memukul!" pinta Li Wei keras. Ia berusaha maju ke depan untuk mencegah.
Namun tatapan Hua Yifeng menjadi tajam. Li Wei tak berani untuk melangkahkan kaki ke depan. Saat ini dirinya juga tak tahu apapun tentang apa yang terjadi.
"Tapi ... Mereka kesakitan."
Bagian yang dipukul itu terberai seperti batu besar yang hancurkan. Kemudian, jelas saja tak bisa kembali, dan Li Wei melihat orang-orang meraung kesakitan saat bagian tubuhnya terpotong. Batu yang tergeletak di tanah itu juga berlumuran darah, walau bukanlah daging lagi.
Air mata Li Wei tergenang di pelupuk matanya. Sayangnya, ia tak bisa menutup rasa mual dan takutnya pada penyakit aneh ini. Terutama saat mereka tak punya pilihan dan mengabaikan kemanusiaan. Nyatanya apa yang terjadi benar-benar menakutkan.
KRAK!
Li Wei mundur beberapa langkah ketika melihat seseorang yang juga terjangkit penyakit batu. Orang itu adalah wanita setengah baya. Wanita itu terluka di pipinya, sehingga dari lukanya yang belum mengering itu ditumbuhi batu-batu. Mendadak Li Wei berpikir bahwa, mungkinkah penyakit ini bisa menular melalui luka yang terbuka?
Jika seseorang terluka, maka luka itu akan ditumbuh oleh batu.
"Periksa siapa saja yang terluka," perintah Li Wei begitu saja.
Ia tak pernah berpikir jika perintahnya akan menimbulkan keributan baru. Mereka, yang mendengar tentu saja segera memeriksa. Namun masalah berikutnya adalah mereka memeriksa bukan untuk mengatasi. Melainkan menjauhi seolah sudah pasti yang terluka akan mengalami penyakit batu yang aneh itu.
"Siapa yang terluka?!!"
"Oh ya ampun ... Bagaimana bisa aku terluka? Aku mungkin telah dikutuk oleh Dewa."
"Jangan mendekat!!! Lukamu itu pasti akan berubah menjadi batu."
Banyak keributan yang terdengar di telinga Li Wei saat ini. Sangat ribut hingga ia sendiri di tak tahu lagi siapa yang tengah bicara.
"Hey ... Dengarkan ..."
BUGH
Ucapan Li Wei terhenti ketika melihat orang di sekitarnya yang memukuli orang-orang yang terluka. Terutama saat luka itu baru saja ditumbuhi oleh batu-batu kecil. Semuanya tak bisa dihentikan dengan mudah.
Apa yang sebenarnya terjadi di sini?
Ingatan Li Wei teringat pada Labirin Batu yang dahulu hancur. Di sana memang memiliki batu-batu yang berceceran. Jangan bilang jika batu itu dulunya tubuh manusia, dan berhambur juga dagingnya yang telah menjadi batu. Memikirkannya membuat Li Wei tak yakin dirinya akan bisa tertawa lagi.
Itu terlalu menakutkan untuk dibahas lagi. Jika memang ini sama, apakah bencana ini memang benar hukuman Dewa?
"AKH!!!" Teriakan itu terdengar dari kejauhan.
Hua Yifeng berlari menuju ke arah suara. Melihat itu Li Wei juga ikut memeriksa. Prajurit juga tak lagi menjaga Li Wei. Mereka sibuk memeriksa tubuh mereka sendiri. Memastikan jika ada luka atau tidak.
Apabila mereka melihat ada yang terluka, mereka akan sangat putus asa. Seolah hidup mereka tak akan berguna lagi. Namun itu bukan hanya persepsi mereka, itu adalah nyata. Setiap kali muncul luka orang-orang akan terjangkit penyakit batu. Dan, ...
Jika mereka memiliki luka, maka mereka akan ... Memotongnya?
"Jangan." Hua Yifeng yang jarang berteriak saja harus mengeluarkan suaranya untuk mencegah
"Huwwaaaa .... Ayah! Sakit," tangis keras terdengar dari anak yang telah dipotong tangannya.
Hua Yifeng segera menggendong anak itu dari tangan ayahnya sendiri. Karena takut jika anaknya akan mengalami penyakit batu juga, ayahnya rela memotong tangan anaknya. Mungkin mereka berpikir itu hanyalah pilihan yang bisa mereka lakukan.
Ini sedikit lucu. Bagaimana mereka takut terluka, tetapi mereka memotong tangannya untuk membuang luka?
Mungkin sekiranya mereka berpikir ada sesuatu di dalam luka tersebut sehingga membuatnya menjadi batu.
SRAT!
Dengan mengeraskan perasaannya sendiri. Li Wei dengan tangan bergetar segera merobek ujung pakaiannya sendiri. Bahkan karena tarikannya yang cukup kuat, di bagian pakaian bawahnya telah robek sampai menampilkan lututnya. Setelah itu, Li Wei mengikat tangan kiri anak kecil, yang usianya mungkin baru 7-8 tahun itu, untuk mencegah pendarahan.
Hua Yifeng entah mengapa memperhatikan Li Wei dengan lekat. Memperhatikan Li Wei yang pucat dan bergetar.
"Kau ... Kembalilah ke tenda. Sepertinya keributan ini akan panjang," ucap Hua Yifeng sambil menggendong anak kecil yang sudah pingsan di tangannya.
Dengan tangannya yang terpotong, anak ini mulai kehabisan darah. Sehingga Hua Yifeng juga tak yakin jika anak ini bisa selamat. Meski begitu, Hua Yifeng perlu meletakkan anak ini di tempat yang agak jauh dari kericuhan ini.
GRIIIIKK!
Dari luka anak ini yang dibalut oleh Li Wei tumbuh batu-batu sebesar telur katak. Jumlahnya terus bertambah hingga memenuhi lengan anak itu. Mau tak mau Hua Yifeng meletakkan anak itu di tumpukkan kotak berisi bahan makanan yang memang ditaruh tak jauh dari tenda.
Meski mereka sudah melihat penyakit batu ini, tetapi baru kali ini mereka melihatnya dari dekat.
"Pertumbuhan batu tidak bisa dihentikan," ucap Hua Yifeng yang sebenarnya bernada putus asa.
Penyakit aneh yang tak mereka ketahui mengapa bisa ada. Lalu, mereka juga tak tahu bagaimana cara menghentikannya. Jika pun mereka bisa menghentikannya jelas bukan perkara yang mudah seperti mencium sapi. Bahkan sampai sekarang pun tak banyak yang bisa mereka simpulkan tentang penyakit batu itu
Dalam waktu dekat mereka harus tahu bagaimana penyakit ini. Akan tetapi, tak ada yang bisa menyimpulkan ini dalam waktu dekat.
CRATT! KRIT!!!
"AKH!!!" pekik Li Wei ketika rasa sakit menyerang lengannya. Itu karena ternyata seorang prajurit di dekat Li Wei yang mencakarnya.
Bukan karena sengaja. Lebih karena prajurit itu merasa kesakitan akibat lengannya yang memberat. Pria itu rupanya terluka akibat melakukan pencarian di hari sebelumnya. Sehingga dari lukanya kini menjadi batu-batu yang mengeras. Lalu, memberati tangannya hingga ia tak bisa mengangkat kedua lengannya sendiri.
Itulah mengapa dia tanpa sengaja mencakar Li Wei. Karena ia berusaha mengangkat, dan merasa kesakitan. Ia tanpa sadar mencakar seseorang yang ada di dekatnya.
Akan tetapi, cakaran pria itu menjadi sangat menyakitkan karena kukunya juga telah berubah menjadi batu. Kuku itu menjadi tajam, dan menciptakan cakaran panjang yang dalam. Darah mengalir dari lengan Li Wei, dan lengan pakaiannya sobek.
"Li Wei!" Hua Yifeng yang baru saja meletakkan mayat anak kecil itu tentu saja berjauhan dengan Li Wei.
Ia tak bisa mencegah gadis kecil yang seperti bunga itu terluka.
Terutama ... Li Wei terluka, bagaimana jika Li Wei menjadi batu juga?
Tatapan Hua Yifeng berubah seperti melihat sebuah dunia yang akan berakhir. Pria itu berlari mendekati Li Wei, dan memukul pria prajurit yang juga ketakutan. Bagaimana pun meski tangannya membantu, pria itu masih memiliki kesadarannya. Ia tahu bahwa dirinya melukai siapa.
"Tolong, Pejabat Hua! Selamatkan saya! Saya tak mau menjadi batu," pinta prajurit itu yang melihat lukanya menyebar.
Li Wei merintih kesakitan sambil memegangi lengannya sendiri. Tak tahu harus berbuat apa. Pada akhirnya, Li Wei terduduk di tanah, sehingga pakaiannya yang berwarna putih dengan pita merah muda itu kotor. Bukan karena rasa sakit, tetapi lebih karena rasa takutnya sendiri.
Ibu ... Sakitnya ...
Siapa lagi yang bisa Li Wei panggil saat ini selain ibunya sendiri. Matanya menatap pilu pada Hua Yifeng yang mendekat ke arahnya dengan pandangan tak terbaca. Bukan tak terbaca. Tetapi lebih pada Li Wei sendiri yang berlinangan air mata.
Di sekitarnya timbul banyak keributan dan rusak parah. Mereka saling membunuh karena takut terkena penyakit yang sama. Namun nyatanya penyakit itu terus menyebar pada siapapun yang terluka. Sedangkan yang tidak terluka memilih melarikan diri karena takut dilukai.
Kekacauan ini sangat mengerikan.
"Pejabat Hua ... Tolong ..."
STAB!
Mata Li Wei membelalak terkejut ketika pedang Hua Yifeng melintas. Bukan ke arahnya, tetapi ke arah prajurit yang sudah menjadi batu setengahnya. Yang tersisa hanyalah bagian pinggang ke kepala yang masih belum menjadi batu. Dan, Hua Yifeng melemparkan pedang itu tepat pada kepala pria malang itu.
"Kenapa Anda membunuhnya?" teriak Li Wei tak percaya.
"Apa kau memiliki cara lain?" Bukannya menjawab Hua Yifeng lebih memilih untuk membuat Li Wei berpikir.
Akibatnya pedang itu menembus kepala prajurit itu dari dahinya hingga muncul ke belakang kepalanya. Pria itu memohon agar Hua menghentikan dirinya menjadi batu. Akan tetapi, hanya kematian yang membuat penyakit aneh itu berhenti.
"Kita kembali ke istana," ucap Hua Yifeng sambil melilitkan lengan Li Wei dengan sebuah kain tebal.
Hua Yifeng biasanya menggunakan kain itu untuk mengikat pedang di tangannya. Sehingga pedangnya tak terlepas setiap kali ia memerlukan pedangnya dalam waktu yang lama. Dengan cepat ia melilitkan kain itu pada lengan Li Wei.
Namun luka Li Wei agak dalam sehingga darahnya masih menembus pada kain.
"Tuan Hua, bagaimana jika saya ..."
Hua Yifeng menghela napasnya dan melukai dirinya sendiri. Hal tersebut membuat Li Wei terkejut. Mereka tak boleh terluka, tetapi Hua Yifeng melukai tangannya sendiri.
CURRRR!
Hua Yifeng meneteskan darahnya dan meresap juga pada kain yang dililitkannya. Hal itu membuat Li Wei mengingat kembali jika Hua Yifeng adalah seorang dari klan Bao. Darah yang istimewa dan dapat membuat takut binatang buas. Bahkan mitos mengatakan jika darahnya juga bisa menawar racun ringan.
Pria itu mengambil peruntungan dengan menjadikan darahnya sendiri sebagai obat. Walau Li Wei yakin itu tak akan bisa. Karena ini semacam kutukan yang sudah melekat di Kerajaan Li.
"Kita sudah dikutuk juga oleh Pangeran Penduka!" teriakan itu sudah mewakili semua ketakutan mereka.
Hua Yifeng berucap pelan. "Setidaknya kau tak akan menjadi batu sendirian."
Itulah yang diucapkan oleh Hua Yifeng. Yang dilakukan oleh Hua Yifeng bukanlah untuk mengobati, tetapi menenangkan Li Wei.
Sebab, nyatanya jika Li Wei memang terjangkit penyakit batu itu, maka tak akan memakan waktu lama darahnya akan menjadi batu. Akan tetapi, ini sudah berlalu cukup lama dan Hua Yifeng mulai yakin jika Li Wei tak apa-apa. Entah mengapa Li Wei tak terkena penyakit yang sama padahal yang lainnya. Bahkan hanya dengan satu gores seperti digigit nyamuk pun akan menjadi batu.
Menyebut ini sebagai perbuatan manusia pun akan sangat ceroboh. Hanya saja ... Yang perlu orang-orang ingat bahwa ini bukanlah pertama kalinya.
Di tanah Kerajaan yang sama. Sekitar seratus tahun yang lalu, seluruh Pusat Kota berubah menjadi batu. Pusat Kota yang dahulu sekarang disebut Labirin Batu, walau sudah hancur. Sehingga Pusat Kota berpindah ke wilayah lain, dan menjadi Pusat Kota yang sekarang.
Dan, ini terjadi lagi di masa ini. Di masa setelah seratus tahun kemudian.
SRET!
Setelah itu, Hua Yifeng membantu Li Wei berdiri. Mereka berdua jelas tak bisa mengatasi ini semua, dan beruntung di antara segalanya bantuan datang. Di sana ada Li Jun dan Li Chen beserta pasukan yang mereka bawa.
Kedua orang itu bukannya terlambat, tetapi wabah ini juga terjadi di daerah terdekat dengan bagian kota yang terkena bencana. Seperti bencana ini bukan hanya memuntahkan kemarahan alam, tetapi juga memuntahkan suatu 'benda' yang membuat penyakit baru. Apakah itu berarti 'benda' itu berada di laut? Makanya setelah laut mengamuk, 'benda' itu keluar.
Atau, karena insiden di Labirin batu, dan penyakit itu datang melanda Pusat Kota (lagi).
Entahlah.
***
Ketika Li Wei berada di tangan Li Chen, kakak keduanya itu segera membuka kembali perban kain di tangan Li Wei. Luka itu sudah tak mengeluarkan darah lagi. Dan, yang diperiksa oleh Li Chen jelas bukan hanya luka. Pria itu meraba luka Li Wei hanya untuk memastikan tidak ada batu yang tumbuh di sana.
Li Wei meringis. "Tuan Hua sudah memeriksanya. Tidak ada batu yang tumbuh di sana.
Li Chen menghela napasnya pelan, dan ia menoleh pada Li Jun yang terlihat selalu mengeraskan wajahnya. Walau mereka memiliki rasa heran saat melihat Li Wei tak ditumbuhi batu. Bukannya mereka tak bersyukur jika adik mereka baik-baik saja.
Akan tetapi, saat ini mereka sedang menyelidiki tentang penyakit ini. Untuk saat ini cara mencegahnya adalah menjauhi orang yang terkena penyakit batu apabila memiliki luka luar. Akan tetapi, Li Wei terluka parah dan yang melukainya adalah seorang yang terkena penyakit batu. Sehingga Li Wei menjadi pengecualian yang berbeda.
Juga, Hua ... Pria itu melukai tangannya juga.
Apakah ini tergantung ke tubuh masing-masing?
"Namun Li Chen, kau sudah melihat bukan jika tak ada pengecualian sebelumnya. Orang-orang yang terluka selalu terkena penyakit," bantah Li Jun dengan wajah marah.
Li Wei tak tahu kemana Hua Yifeng pergi. Mungkin saja dia membantu para prajurit untuk mengatasi kericuhan sebelumnya. Ada kemarahan di wajah Li Jun, tetapi Li Wei tak tahu apa yang membuat pria itu terus-menerus marah.
Aku yakin pria ini akan terserang darah tinggi jika dirinya jarang menenangkan hati.
"Apakah kau meminum ramuan?" tanya Li Chen yang memahami tentang tanaman herbal.
Akan tetapi, Li Wei menggelengkan kepalanya. "Hanya ... Tuan Hua, dia meneteskan darahnya ke luka saya."
Apakah benar darah klan Bao memang sangat istimewa hingga bisa menyembuhkan penyakit aneh ini?
Li Wei jelas tak tahu jika semuanya akan sangat berurutan nantinya. Bahkan Li Wei tak tahu jika pandangan Li Chen dan Li Jun berubah. Bagaimana pun semuanya sudah sangat berantakan.
Di kesunyian itu, seorang pria dengan penutup wajahnya. Khas seorang Tentara Malam. Orang ini jelas datang bukan hanya datang. Pria ini jelas ditugaskan sebagai pengantar berita.
"Kesejahteraan menyertai Pangeran dan Putri Kerajaan Li," ucap pria itu sambil berlutut di tanah.
Li Jun menatap tajam ke arah pria itu, "Bagaimana dengan pasukan yang maju untuk melawan Kerajaan Xin?" tanya Li Jun cepat.
"Pasukan dipukul mundur dari perbatasan. Pasukan Kerajaan Li telah kurang separuh. Kerajaan Xin sempat mengepung, dan pasykan terpaksa mundur," ucap pria itu cepat.
Ini jelas bukan berita yang baik.
"Bagaimana dengan pasukan yang dipimpin oleh Zhang ... Maksud saya Pejabat Zhang Yuwen dan juga Penasihat Wang Zeming?" tanya Li Wei cepat.
"Pejabat Zhang terluka parah, sedangkan Penasihat Wang bersama Yang Mulia di perbatasan. Pasukan yang tersisa memperkuat penjagaan," jelas pria Tentara Malam itu.
Ia ingat jika Zhang Yuwen yang turun ke perang kali ini. Walau hanya sendirian, karena biasanya Zhang Yuwen selalu bertugas dengan Wei Wuxie. Ini seolah dituduhnya Wei Wuxie juga menjadi masalah bagi Kerajaan. Wei Wuxie tak bisa masuk dalam pasukan.
Li Wei menatap Li Chen yang juga berkeringat dingin. Bagaimana pun ada banyak kejadian di antara kejadian lainnya. Mengatasi bencana saja mereka sudah sangat keteteran. Ditambah lagi serangan dari Kerajaan Xin.
"Raja S*alan itu benar-benar pandai memanfaatkan situasi," cerca Li Jun kesal.
"Namun saat hamba diperjalanan untuk melapor, saya melihat Jenderal Wei menuju ke Perbatasan. Sepertinya Jenderal Wei membawa pasukannya sendiri," lapornya lagi.
Hal tersebut tentu saja membuat kemarahan Li Jun semakin meninggi. Bagaimana pun masalah Wei Wuxie belum selesai. Apalagi yang dibunuh oleh Wei Wuxie adalah Selir milik Pangeran Li Jun.
Pria itu segera memerintahkan prajurit yang bekerja di bawahnya untuk bersiap.
"Kita menuju ke Perbatasan dan bergabung dengan pasukan yang dipimpin Yang Mulia," perintah Li Jun pada pasukannya.
Li Chen segera berdiri. "Kakak, apa yang kau lakukan? Ayah memberi titah untuk memperkuat Pusat Kota! Jika kakak pergi ke Perbatasan pertahanan di Pusat Kota akan renggang. Apalagi Jenderal Wei ..."
"Bagaimana kau bisa membiarkan seorang pembunuh masuk dalam pasukan? Bagaimana jika dia adalah mata-mata? Aku hanya perlu untuk memukul pasukan sialan itu untuk mundur, sehingga mereka tak bisa masuk ke Pusat Kota," ucap Li Jun dengan wajah marah.
Bagaimana pun ia ingin maju ke medan perang, bukannya berjaga di Pusat Kota.
Lebih dari segalanya adalah harga dirinya sebagai seorang Pangeran yang hebat. Ia tak mau diletakkan pada tempat yang tersembunyi seperti menjaga gerbang Pusat Kota. Ia yakin jika pencapaiannya akan lebih besar di Perbatasan.
Li Wei jelas membantah hal itu, "Kakak, Wei Wuxie bukan orang yang seperti itu."
Akan tetapi, Li Jun tak menghiraukan ucapan Li Wei. Pria itu hanya menyiapkan pedangnya sendiri. Keputusan Li Jun sudah kuat, ia melepaskan penjagaannya di Pusat Kota. Itu sangat beresiko jika Li Jun diserang di jalan.
Siapa yang tahu jika penjagaan di Perbatasan luruh saat Li Jun berangkat!
"Dan ... Li Chen kembali ke istana bersama Li Wei. Bawa juga pria s*alan Hua itu ke sana," perintah Li Jun yang sudah bernada final.
Li Chen jelas selalu menjauhkan diri dari perdebatan. Sehingga pria itu hanya mengangguk. Li Wei juga merasa percuma memberitahu Li Jun. Karena ia kenal sifat kakaknya sendiri.
Setelah itu, Li Jun bergegas untuk naik ke kudanya dan memacu kudanya dengan cepat. Sekitar lima puluh orang prajurit mengikutinya dengan kuda mereka masing-masing. Li Jun memiliki pasukannya sendiri, dan inilah inti pasukan miliknya.
Hari-hari ini akan dijalani tanpa istirahat, serta sakit kepala.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~