
"Siapa kau sebenarnya?" ulang Jenderal Wei lagi yang masih mencengkeram lengannya.
Jauh dari segalanya Yi Hua yakin Jenderal Wei hanya menebak. Walau sejatinya Yi Hua juga mengerti bahwa dirinya memang tak bisa meniru Yi Hua asli secara keseluruhan. Meski begitu, Yi Hua masih terlalu dini untuk ketahuan.
Yi Hua menatap tangan Jenderal Wei yang masih berada di bahunya. "Saya rasa Anda tidak buta. Lagipula, hal aneh apa yang Anda tanyakan itu? Mungkin Anda sedang lelah."
SRET!
Tangan Yi Hua menepis lengan Jenderal Wei cukup kasar. Setelah itu, Yi Hua berjalan terlebih dahulu tanpa menoleh lagi. Seperti biasanya sifat sombong Yi Hua selalu dapat diandalkan di saat ini.
Syarat utama dalam berbohong adalah tak terlihat gugup. Aku sangat berbakat untuk bertingkah sombong seperti ini.
"Baru kali ini aku melihat orang yang bangga dengan kesombongan," ejek Xiao di telinga kiri Yi Hua.
Jenderal Wei berjalan mendekat ke arah Yi Hua. Kini raut wajah pria itu tak lagi menuduh seperti sebelumnya. Seperti yang Yi Hua duga, Jenderal Wei hanya asal bertanya. Bagaimana pun jelas semua merasa aneh dengan sifat seseorang yang berubah drastis.
"Aku hanya bercanda, Yi Hua. Hanya saja aku merasa kau berubah sangat jauh," ujar Jenderal Wei sambil ingin merangkul bahu Yi Hua.
Biasa menunjukkan 'keakraban' seperti biasanya.
Namun Yi Hua menunduk untuk menghindari. "Mungkin ingatan saya dimakan oleh sapi sebelumnya. Namun kapan pertama kali Anda melihat saya sebelumnya? Saya pikir jika Anda menyebut tentang perbandingan, maka Anda tahu kesan pertama dan pandangan yang sekarang," ujar Yi Hua untuk mengorek informasi.
Jenderal Wei tampak berpikir sambil mengamati keadaan sekitar. Sepertinya malam keluarga Wei ini memang sangat jarang dikunjungi. Bahkan oleh Jenderal Wei sendiri yang sebenarnya kepala keluarga dari Wei.
"Aku juga tak terlalu ingat. Sepertinya saat pelatihan masuk ke istana. Kau tahu bukan jika pria seusia kita harus mengikuti seleksi kerajaan," ujar Jenderal Wei sambil mengingat-ingat. Entah mengapa dia juga berbicara seolah memancing agar Yi Hua juga mengingat kejadiannya.
Pria seusia kita katamu? Seingatku pria ini tua berapa tahun dari Yi Hua.
Jenderal Wei menambahkan lagi, "Aku masih cukup ingat siapa saja yang tak punya keahlian dalam bertarung. Bahkan kau pernah dikalahkan oleh salah satu prajurit dalam pasukanku saat masuk ke pelatihan."
Yi Hua yang malang ... Di masa sekarang status pria dan wanita agak berbeda. Seorang pria dibiasakan untuk memegang pedang dan berlatih dalam pertarungan. Bahkan terkadang ikut dalam perburuan di hutan. Akan tetapi, wanita diolah seperti layaknya bunga. Semakin indah bunga, maka semakin besar penghormatannya. Mereka akan dihormati sebagai kecantikan, dan diambil sebagai pendamping orang-orang besar.
Walau sekarang wanita juga terkadang berlatih bertarung untuk melindungi diri, tetapi bukan jenis bertarung yang sama dengan yang Yi Hua asli ini alami. Belum lagi dengan Yi Hua yang tak bisa mencintai orang yang ia cintai, karena status 'pria' palsunya.
Yi Hua mengusap dahinya yang masih terasa panas. "Saya masih tak bisa bertarung, Jenderal Wei. Sehingga saya sama sekali tak berubah."
Masih tak berguna, dan masih sombong seperti biasanya. Juga, untungnya Yi Hua ini tak begitu akrab dengan orang lain di masa lalunya. Ia tak perlu takut ketahuan, karena tak ada yang mengenalnya begitu dekat.
Yah, mungkin Ming Fan tahu tentangnya, karena Ming Fan adalah tunangan bohongannya. Bahkan Ming Fan tahu jika dirinya adalah seorang gadis. Dan, Selir Qian juga tahu jika Yi Hua adalah gadis.
Dan, Hua Yifeng ... Entahlah makhluk ini tahu atau tidak tentangnya. Ia tak tahu bagaimana Hua Yifeng bisa mengetahuinya. Bahkan pria itu sudah ada di sekelilingnya, dan menyamar sebagai An.
Lagipula, ...
Ini semua karena bayangan seorang Wei yang terlihat sebelumnya. Jika bukan karena kenangan Yi Hua asli, mungkin itu adalah seseorang yang Li Wei kenal di masa lalu. Akan tetapi, satu-satunya keluarga Wei yang Yi Hua kenal dari kerajaan adalah Jenderal Wei, Wei Qionglin. Dan, Yi Hua sangat yakin jika Wei yang ia lihat itu bukanlah Wei Qionglin.
Itu karena seharusnya di masa sekarang Puteri Li Wei sudah menjadi seperti bibi tua di pasar. Sedangkan Wei Qionglin hanya tua beberapa tahun dari Yi Hua. Hal itu membuat Wei Qionglin jelas masih anak-anak ketika Puteri Li Wei menciptakan kekacauan di Kerajaan Li.
Sedangkan Wei lainnya, yaitu Wei Fei*, dia sebenarnya hanya seseorang yang tak memiliki nama. Si Tuan memberikan nama padanya secara acak. Dan, Wei Fei sama sekali tak berhubungan dengan keluarga Wei. Seperti kau berpikir mana yang tepat untuk memberi anak sebatang kara ini sebuah nama. Itulah yang Yi Hua tahu tentang Wei Fei.
^^^*Ingat Wei Fei, Si Penari yang suka dengan Yi Hua. Sayangnya, sampai mati pun Wei Fei hanya tahu ia bernama Hua Yi.^^^
Lagipula, jika memang Wei yang ia setia padanya itu ada. Maka kehancuran akan selalu mengikutinya. Itu semua karena ...
"Keluarga Wei juga baru memperbaiki namanya di kebijakan Kerajaan yang baru. Dengan bersinarnya nama Wei Qionglin di kerajaan yang membuat nama keluarga Wei dikenal. Kau tahu bukan setiap tahta beralih ada beberapa keluarga yang tersingkir. Keluarga Wei sempat tersingkir di masa Raja terdahulu," jelas Xiao yang sedikit tahu tentang kebijakan kerajaan terdahulu.
Yi Hua mengerenyitkan keningnya, "Menurutmu mengapa? Apakah karena keluarga Wei merupakan pendukung Puteri Li Wei?" tanya Yi Hua dalam hati pada Xiao.
Itu adalah hal yang terkenal sebelumnya. Tentang perpecahan di Kerajaan Li. Pejabat Kerajaan terpecah, sebagian mendukung Puteri Li Wei, dan sebagian tetap pada Raja Li. Hal tersebut yang membuat munculnya perang hingga nyaris pada penggulingan kekuasaan. Dan, semua pergolakan ini terselesaikan dengan bunuh dirinya Puteri Li Wei.
Sangat ironis saat mereka harus mendukung orang yang lemah. Puteri Li Wei mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan ini semua. Sehingga orang-orang yang awalnya mendukung Puteri Li Wei beralih untuk mengutuknya. Puteri Li Wei pada akhirnya hanya bisa meninggalkan rasa kecewa pada orang-orang yang mendukungnya.
Akan tetapi, ... Sebagai orang yang terlahir kembali, ia belum mengingat tentang masa lalunya sebagai Puteri Li Wei.
Xiao terdengar agak malas. "Bisa jadi seperti itu. Yang jelas jika dia tahu kau adalah Li Wei, maka Jenderal Wei akan mencekikmu sekarang."
Jelas sekali jika Jenderal Wei sangat membenci Puteri Li Wei yang menggoreskan nama buruk untuk keluarganya. Oleh karena itu, ia tak boleh ketahuan. Jika perlu selamanya.
Dengan kata lain, ia mengubur semuanya dan mengikuti sistem ini. Selama ia mengumpulkan ingatannya sebagai Puteri Li Wei, maka itu sudah selesai. Setelah itu, tak ada yang tahu bagaimana nasibnya. Apakah dia akan bereinkarnasi dengan kehidupan baru, atau dia akan hidup sebagai Yi Hua sampai akhir hayatnya.
Karena sampai sekarang ia tahu bahwa Yi Hua asli sebenarnya sudah mati. Bahkan sebelum dirinya masuk ke dalam raga Yi Hua ini. Tentu saja tentang kematian Yi Hua asli ini juga harus ia cari tahu.
Dan, jika memang Hua Yifeng berhubungan dengan kematian Yi Hua ...
"Yi Hua, awas!"
SRAT!
Eh?
Apa yang aku injak sebelumnya? Pemakaman ini bahkan lebih stabil keamanannya dibanding rumahku!
TEK!
GRAKK
"HUWAAAAAA!" Yi Hua sepertinya telah menghabiskan seluruh kekuatan suaranya untuk berteriak hari ini.
Ironisnya Yi Hua bahkan lebih melarat dibanding makam keluarga Wei ini. Dengan keamanan sebaik ini saja makam keluarga Wei masih bisa dicuri. Sehingga tak aneh jika kediaman sederhananya sering dimasuki oleh Hua Yifeng kapanpun dia mau.
Ia menengok pada Jenderal Wei yang berusaha meraihnya. Akan tetapi, Jenderal Wei berada di jarak yang agak jauh. Sepertinya Yi Hua terlalu banyak melamun hingga tak tahu jika Jenderal Wei memanggilnya. Pada akhirnya, Yi Hua malah berjalan ke jalan buntu.
Awalnya Jenderal Wei ingin berdiskusi dengan Yi Hua tentang dimana jalan masuk selanjutnya. Sayangnya, Yi Hua tak segan-segan untuk menjawabnya dengan perbuatan. Yi Hua ternyata menemukan mekanisme yang bisa membuka jalan.
BUGH!
Tempat Yi Hua terjatuh sebelumnya kembali menjadi jalan berbatu. Seolah tak pernah ada lubang yang menelan Yi Hua sebelumnya. Hal itu membuat Jenderal Wei berteriak pada pasukannya.
"Buka kembali jalannya," teriak Jenderal Wei memerintahkan.
Para prajurit yang sempat terkejut akhirnya bergegas menuju ke arah jalan itu. Mereka menyadari memang ada seperti sebutir batu yang jika diamati sekilas akan terlihat seperti batu biasa. Siapa yang bisa menyangka jika batu itu bila dipijak akan membuka lubang di sana.
GRAK!
Jenderal Wei mendekat ke arah lubang yang menelan Yi Hua di dalamnya. Lubang itu sangat dalam, bahkan Jenderal Wei tak tahu dimana dasarnya. Hal itu membuat mata Jenderal Wei membulat panik.
JAPPP!
Jenderal Wei menghitung pola tertutupnya lubang ini. Ternyata lubang ini akan menutup kembali setelah lima ketukan tangan secara cepat. Itu jelas akan membuat kebingungan bagi siapa saja yang jatuh di sana.
Pembuat makam ini juga ada di dalam rombongan. Sehingga pria pembuat makam itu segera keluar, "Lubang ini tidak begitu dalam seperti yang terlihat, Jenderal Wei."
Jenderal Wei menatap tajam pada pria itu. Seolah menyalahkannya mengapa tidak memberi mereka peringatan sebelum berjalan ke dalam makam. Jika seperti ini, entah apa yang terjadi pada Yi Hua. Juga, entah apa yang ada di dalam lubang dalam ini. Apalagi untuk pemakaman yang jelas-jelas di dalam hutan ini.
"Hey, katakan kemana lubang jalan ini mengarah?" teriak Jenderal Wei sambil meraih pakaian bagian depan pria itu.
Pria itu hanya bisa menunjuk dengan ketakutan, "Lubang ini mengarah ke air terjun di dalam hutan, Jenderal."
Mendengar itu, Jenderal Wei berlari kencang menunju ke arah air terjun. Darimana ia tahu arahnya? Tentu saja karena dari tempat mereka berdiri sekarang bisa terdengar suara air terjun yang cukup deras. Itulah yang membuat Jenderal Wei merasa khawatir.
Siapa yang tahu jumlah kesialan Yi Hua hari ini! Buktinya saja Yi Hua yang menabrak pintu dan sekarang masuk ke dalam jurang. Entah apa yang akan terjadi setelahnya.
***
Yi Hua merasa kakinya melayang sejenak sebelum ia merasa tubuhnya jatuh dengan kecepatan yang kurang rata. Dalam proses jatuhnya itu pun ia bisa mendengar Xiao mengomel padanya. Itu adalah kebiasaan Xiao yang sangat sering menyanggah ketimbang membantu.
Kemudian, ...
BYUR!!!
Lagi-lagi Yi Hua mempertanyakan tentang pemakaman ini.
Ini benar-benar pemakaman keluarga Wei atau sarana uji coba para prajurit kerajaan?!
Yah, Yi Hua tahu jika keluarga Wei dilahirkan untuk masuk ke dalam jajaran pasukan, tetapi bukan begini juga!
Ia tak henti-hentinya mengomel di kala ia berusaha berenang. Ketika Yi Hua menyembulkan wajahnya ke permukaan air, ...
"Buaahhh ..." Yi Hua menarik napas sebanyak yang ia bisa.
Telinganya bisa mendengar suara air yang terjatuh dengan sangat keras. Hal itu membuatnya mengangkat kepalanya dan melihat air terjun yang cukup tinggi. Sepertinya memang pemakaman ini berada di dalam hutan, tetapi pembuatnya sengaja membuat tembok tinggi untuk menipu.
Yi Hua berenang menuju ke bagian batu besar di tepi. Air terjun itu terasa dingin karena adanya batuan di sana. Yi Hua pikir meski dia agak malas mandi, tetapi bukan berarti dia akan berendam seperti sapi.
"Xiao, kenapa kau tidak memberitahuku tentang lubang itu?" tanya Yi Hua jengkel.
Xiao berkata dengan santai, "Aku sudah memberitahumu."
"Kapan?" tanya Yi Hua lagi dengan desakan di dalam suaranya.
"Aku bicara di dalam hati. Kau yang tak mendengar," jawab Xiao tanpa merasa bersalah sedikit pun.
S*ialan!
Yi Hua benar-benar akan mencekik Xiao suatu saat nanti. Bagaimana bisa makhluk cerewet seperti Xiao ini bisa bersemi di dunia ini. Menambah jumlah makhluk hidup saja.
"Pencipta memang sangat baik, dan bahkan menciptakan makhluk yang jenisnya seperti dirimu," balas Yi Hua yang semakin jengkel.
"Terima kasih. Aku sangat terkesan."
Sudahlah.
Jika Yi Hua mengurus Xiao, maka itu tak akan selesai bahkan sampai nyamuk beranak-pinak. Akhirnya, ia hanya duduk di atas batu sambil berusaha untuk mengeringkan pakaiannya. Yi Hua meremas ujung pakaiannya, tapi yang jelas pakaiannya tak akan kering dengan begitu cepat.
Pada akhirnya, Yi Hua hanya berusaha memeriksa dirinya sendiri. Dan menyadari jika kehilangan sesuatu ...
"Pedang Li Wei," ucap Yi Hua sambil masuk kembali ke dalam air.
BYUR!
BYUR!
BYUR!
"Apa yang kau takutkan, HuaHua? Hua Yifeng bisa menariknya dengan senar merah tak terlihatnya. Kau sendiri pernah dengar dari Ling Xiao, bukan?" tanya Xiao yang berusaha menenangkan Yi Hua.
Bagaimana pun itu benar. Hua Yifeng bahkan tak akan pernah takut untuk kehilangan pedangnya. Sebab, pedang itu bisa diambilnya kapanpun ia mau. Apalagi dengan karakteristik tak ramah dari pedang itu. Dia bisa menyerap darah dari siapapun yang bukan pemiliknya ketika menyentuh pedang Li Wei. Sehingga Yi Hua harusnya tak sepanik ketika ditagih hutang oleh orang lain.
Akan tetapi, ... Entah mengapa Yi Hua merasa agak kecewa sekarang. Ia tak tahu karena apa.
SRET!
Yi Hua kini menyelam lagi untuk mencari. Ia merasa seperti dia harus menemukan pedang itu segera, dan ...
"Apakah kau mencari ini?" Suara tenang seseorang muncul dari belakangnya.
Kala itu, pedang Li Wei yang masih terbungkus kain putih tampak di depan wajah Yi Hua. Peramal itu baru saja mengangkat kepalanya dari air. Dan dari sana teracung benda yang ia cari.
Namun ...
Yi Hua mengangkat kepalanya dengan cepat saat ia merasa sangat mengenal suara itu. Ketika itu Yi Hua bisa melihat sosok Hua Yifeng yang menunduk di depannya. Pria itu masih berdiri di pinggir danau, dan menatapnya dengan mata teduh seperti biasanya.
Pria ini tidak menggunakan rupa An. Hua Yifeng hadir dengan wajah yang lebih muda dari biasanya. Rambut panjang Hua Yifeng yang lurus dibiarkan tergerai. Meski begitu, pria ini terlihat tak berantakan.
Pakaiannya didominasi dengan warna hitam, dan hal itu membuatnya senada dengan warna rambut Hua Yifeng. Matanya yang merah cemerlang seperti warna pengantin di pernikahan. Hal menandakan batasan kekuatannya.
Yi Hua pernah mendengar, jika mata merah pada iblis menandakan kekuatannya. Semakin merah, maka semakin kuat. Bahkan gambaran aneh Hua Yifeng di wajahnya juga tak disembunyikan oleh Hua Yifeng dengan topengnya.
Lebih dari segalanya ... Mengapa Hua Yifeng ada di sini? Bukankah ini adalah makam rahasia semi pelatihan prajurit milik keluarga Wei?
Mustahil juga jika Hua Yifeng masuk dari pintu depan ... Atau pria ini memang berada di antara prajurit yang mengikuti Jenderal Wei. Entah yang mana benar.
Yi Hua hanya tahu jika pria ini sangat pandai menyamar.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~