Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Musuh yang Tak Diketahui


Namun Yi Hua menyadari jika mereka tak bisa meladeni Yue Yan begitu lama. Hal tersebut membuat Yi Hua menarik kayu panjang yang digunakannya untuk menekan leher Yue Yan. Dan, karena Yi Hua melepaskannya, Yue Yan berniat untuk memukul Yi Hua lagi.


Seperti biasa ... Yue Yan sebenarnya tak terlalu pandai untuk pertarungan fisik. Sekali melihat saja Yi Hua tahu jika dahulu Shen Qibo benar-benar tak ingin melawan Yue Yan. Bahkan melawan Yi Hua saja Yue Yan sudah seperti dikejar sapi.


Gerakan Yue Yan sangat kasar dan gegabah hingga Yi Hua bisa mendengar bunyi langkahnya yang mendekat. Belum lagi dengan suara napas Yue Yan yang keras ketika mengerahkan seluruh kekuatan tangannya. Dalam pertarungan, kau perlu tahu bagaimana mengatur napas. Meski begini-begini, tetapi dahulu saat di Pelatihan Awan, ia sudah mempelajari tentang ini sedikit. Bahkan tanpa bantuan dari Xiao pun, Yi Hua tahu Yue Yan akan menyerang.


SLAP!


Huan Ran menolak untuk melihat kekejaman Yi Hua. Pria itu lebih fokus untuk membersihkan debu yang menempel di pipi Liu Xingsheng, serta memperbaiki penutup wajah Perdana Menteri Kiri. Sama seperti Yi Hua, Huan Ran juga seringkali memeriksa napas Liu Xingsheng.


Kan jika napasnya hilang tiba-tiba akan jadi pengalaman yang tidak lucu sama sekali.


"Kau tahu ... Aku ini sedang sangat sibuk hingga tak bisa bermain denganmu. Jadilah anak baik, dan hidup tenang bersama ular-ularmu," nasihat Yi Hua seperti orang paling benar dalam hidup ini.


Yue Yan berniat bangkit, "Yi Hua, KAU! Hey! Ku kira kau sudah mati karena tak bisa keluar dari Lembah Debu!" bentak Yue Yan dengan kesal.


Namun Yi Hua dengan lembah lembut menekan kepala Yue Yan dengan kayunya. Bahkan saking lembutnya, Yue Yan sampai nyaris terbaring di permukaan debu. Xiao bahkan membacakan puisi-puisi keagamaan hanya agar Yi Hua sadar. Sebab, lama-kelamaan Yi Hua bisa kejam melebihi Hua Yifeng.


Yah, jika Hua Yifeng bukannya kejam. Pria itu sangat kejam. Terkadang tanpa bicara saja, beberapa mayat tergeletak.


"Kau pikir orang cerdas dan berbakat sepertiku bisa dikelabui oleh Lembah Debu ini," jelas Yi Hua yang kelelahan sendiri.


Yue Yan nyaris berteriak karena sebal. "Jika bukan karena pria tinggi yang bersamamu, mungkin kau sudah mati, Yi Hua!"


Yang dimaksud oleh Yue Yan tentu saja adalah An. Atau, lebih tepatnya Hua Yifeng. Yi Hua mulai bertanya-tanya apakah Hua Yifeng dan Shen Qibo sebenarnya saling mengenal?


Ini seperti mereka berada di satu jenis. Mereka sama-sama bencana besar Kerajaan Li.


Hal ini layaknya mereka seperti punya satu kategori yang sama, yaitu musuh Kerajaan Li. Namun Yi Hua ingat penjelasan dari Hua Yifeng saat ia menyamar menjadi An dahulu. Katanya, para Bencana Besar Kerajaan Li tidak saling bersinggungan atau mengganggu urusan satu sama lain. Mereka tinggal di wilayah kekuasaan mereka sendiri.


Masalahnya Yi Hua benar-benar menindas dirinya. Padahal ia datang dengan gaya seperti bandit, dan ingin mengganggu siapa saja yang datang ke Lembah Debu. Mengelabui dan menakuti mereka, hingga mereka tersesat di Lembah Debu. Kemudian, mati karena kekurangan makanan dan kehausan.


Itulah yang membuat rumor tersebar di Kerajaan Li tentang 'sesuatu' di Lembah Debu.


Mereka, yang tidak tahu tentang kematian Shen Qibo, selalu mengaitkan hilangnya orang-orang di Lembah Debu sebagai bentuk pembunuhan yang dilakukan oleh Shen Qibo. Mereka mengatakan bahwa Shen Qibo membawa orang-orang tersesat di Lembah Debu, dan membunuh mereka tanpa ampun. Hal tersebut berkenaan dengan identitas Shen Qibo yang selalu dikaitkan dengan pembantaian satu malam di Lembah Debu.


Sayangnya, ... Itu tidak benar.


Sejak awal struktur Lembah Debu memang berbeda. Lembah Debu berada di antara pegunungan batu. Sehingga semua debu di dalamnya terkumpul. Belum lagi dengan jumlah debu yang naik di udara begitu banyak dan bisa mempengaruhi penglihatan. Bahkan tanpa dibunuh pun, orang-orang memang akan tersesat di Lembah Debu.


Yi Hua menghela napasnya karena Yue Yan masih konyol seperti biasanya. Entah mengapa Yue Yan tak pernah bisa memikirkan semua kemungkinan. Bahkan sampai kematian Shen Qibo dulu, Yue Yan masih tak mengerti mengapa Shen Qibo tidak membunuhnya. Mungkin jauh di dalam hati Yue Yan ia ingin memaafkan Shen Qibo, tetapi semua trauma dari pembantaian yang dilakukan Shen Qibo dahulu masih membekas.


Meski tak ada yang tahu bahwa Shen Qibo memiliki alasan untuk itu semua. Ia melakukannya bahkan untuk melindungi Kerajaan Li. Dirinya diperintahkan untuk membunuh habis penduduk Lembah Debu agar tidak terjadi pemberontakan. Semua itu atas perintah Kerajaan, tetapi kerajaan juga lah yang menetapkan Shen Qibo sebagai buronan.


Itu sangat menyedihkan untuk diingat.


Saat pembantaian itu terjadi, Kerajaan Li masih baru 'bangkit' setelah kehancurannya. Kebijakan masih kacau, dan kendali kekuasaan kerajaan masih diatur secara spontan. Seperti tanpa adanya Pengadilan Tinggi dan sebagainya. Sehingga sampai sekarang Yi Hua belum mengetahui siapa yang memberi perintah untuk pembantaian itu.


Apakah benar Li Shen yang memberi perintah?


Yi Hua mendadak tak bisa berpikiran baik tentang ini semua.


Kembali lagi pada Yue Yan yang dikerubungi oleh ular-ularnya. Barangkali ular ini merasa sedih karena Yi Hua yang memukul pemiliknya. Namun ular ini ternyata juga tak berani melawan Yi Hua yang sudah seperti sapi kerasukan.


"Padahal Yue Yan datang untuk meresahkan dan meneror siapa saja yang masuk ke Lembah Debu, tetapi siapa sangka penjahatnya adalah kau," kritik Xiao yang selalu tepat sasaran.


SRAT!


Pandangan Huan Ran menuju pada gerakan tubuh Liu Xingsheng. Sebelumnya Liu Xingsheng hanya berjalan seperti layaknya boneka. Akan tetapi, sekarang Liu Xingsheng tampak menarik napasnya agak dalam. Hingga bahu Liu Xingsheng agak naik dari biasanya.


Jika orang lain mungkin tak akan menyadarinya, tetapi mata Huan Ran sangat teliti.


"Xingsheng," panggil Huan Ran pelan. Hanya untuk menarik kembali kesadaran dari Liu Xingsheng.


Hal tersebut membuat pandangan Yi Hua teralih pada Liu Xingsheng. Dan, akibat peralihan itu, Yue Yan berusaha untuk melarikan diri. Namun tangan Yi Hua dengan sigap menarik pakaian bagian belakang Yue Yan. Yi Hua membawa Yue Yan seperti membawa anak kucing. Menyeretnya untuk mendekat ke arah Liu Xingsheng dan Huan Ran. Meski Yue Yan berusaha memberontak sekalipun.


"Hey ... Kenapa ular-ular ini tidak berani untuk menyerang dirimu, Yi Hua? Apa tubuhmu berisi racun hingga ular saja tak berani menggigitmu?!" tanya Yue Yan sebal.


Yi Hua tak memperdulikan ucapan Yue Yan. Ia sebenarnya merasa bahwa para ular ini mengikuti perasaan Yue Yan. Jika Yue Yan memiliki dendam di dalam dirinya, maka ular ini akan benar-benar kejam.


Namun lihatlah ular ini tak berniat menyerang Yi Hua. Itu berarti sejatinya Yue Yan juga tak ingin menyerang Yi Hua. Hanya saja mulut Yue Yan memang terbiasa menyimpan hal buruk dibanding hal baik. Sehingga pria itu tak akan mengatakan hal yang baik.


Yi Hua memperhatikan Huan Ran yang tampak mengerutkan keningnya. "Ada apa, Perdana Menteri Huan?"


Mendengar panggilan Yi Hua, Yue Yan menatap tajam pada Huan Ran. "Perdana Menteri katamu?!"


Haduh. Yi Hua lupa jika Yue Yan juga membenci orang-orang kerajaan.


Huan Ran tak menghiraukan ucapan Yue Yan. Pria itu lebih fokus untuk memeriksa Liu Xingsheng. Sayangnya, reaksi Liu Xingsheng hanya sekilas. Sekarang pria itu hanya diam seperti semula.


Huan Ran menarik tangan Liu Xingsheng yang terasa dingin.


"Apa terjadi sesuatu pada Liu Xingsheng? Tubuhnya dingin seperti air," tanya Huan Ran tak mengerti.


Ini tak wajar.


Saat ini udara di Lembah Debu sangat panas. Belum lagi dengan kapasitas debunya yang membuat kering. Bahkan Yi Hua bisa merasakan kulitnya yang terasa tebal dan panas akibat menumpuknya jumlah debu. Sehingga kulit Liu Xingsheng, meski sehat seperti apapun, tetap tak akan bisa dingin dan lembab seperti kulit ikan.


"Xiao, apa kau bisa melihat ke dalam diri, Liu Xingsheng?" tanya Yi Hua yang merasa khawatir. Yi Hua sengaja menyentuh permukaan dada Liu Xingsheng agar Xiao bisa mendeteksi keadaan pria itu.


Bagaimana jika waktu mereka habis? Mereka tak bisa menemukan jiwa Liu Xingsheng dengan cepat. Dan, ...


Xiao segera menjawab. "Jangan terbiasa berpikiran buruk, HuaHua. Dia seperti terkejut atau ada yang mempengaruhi dirinya di tempat ini."


Yi Hua mengendarkan pandangannya ke sekeliling.


"Bukankah hari ini terlihat lebih berkabut dari sebelumnya?" tanya Yi Hua yang ingat jika gejolak Lembah Debu berkurang karena pengorbanan Shen Qibo.


Yue Yan juga menyadari itu. "Beberapa hari ini sebenarnya agak berkurang. Namun hari ini lebih berkabut lagi. Apa mungkin karena kedatangan Yi Hua yang membawa energi buruk?" tanya Yue Yan, yang entah maksudnya hanya menyindir atau apa.


Beruntung Yi Hua tahan banting dan terbiasa masuk telinga kiri keluar, serta keluar ke segala penjuru. Jika hinaan semacam ini bisa melemahkannya, maka ia tak bisa bertahan untuk hidup menjadi Yi Hua yang menjadi musuh sejuta umat. Bahkan para Selir Raja Li Shen sering menatap Yi Hua sinis, kecuali Selir Qian, padahal Yi Hua yang 'ini' tidak berusaha menarik perhatian Sang Raja.


Susah sekali menjadi orang terkenal.


"Jika terkenal di jalur buruk sepertimu, maka lebih baik manusia menjadi biasa saja," komentar Xiao singkat.


"Harusnya debu di sini akan berkurang sedikit demi sedikit setiap harinya," jelas Yi Hua tanpa memperdulikan kejujuran Xiao yang senantiasa mengiringi hidupnya.


Yue Yan yang notabenenya merupakan penduduk tetap Lembah Debu tentu saja menyadari hal itu. Akan tetapi, ia tak menyangka Yi Hua akan mengetahuinya. Sebab, Yi Hua tak terus-menerus ada di tempat ini. Lalu, bagaimana bisa peramal berisik ini tahu?


Lalu, Yi Hua melanjutkan. "Pendeta Buta, Tuan Shen menarik semua energi buruk itu ke dalam dirinya. Yah, tepatnya sebelum Tuan Shen menghilang."


Hal tersebut tentu saja membuat Yue Yan menatap Yi Hua tak percaya. "Jangan mengatakan omong kosong, Yi Hua."


Nyatanya apa yang dikatakan Yi Hua benar. Dengan kekuatannya Shen Qibo menahan lonjakan energi buruk dari Lembah Debu. Karena banyaknya dendam dan kematian, semua itu membuat Lembah Debu menyimpan banyak kutukan dan kemarahan. Sehingga untuk meredam kutukan dari orang yang sudah mati itu, Shen Qibo menyerap semua energi buruk.


Bukankah karena itu Shen Qibo menjadi iblis?


Sayangnya, tak ada yang mengerti pria itu. Dunia telah menjadi buta untuknya, sehingga Shen Qibo juga memilih buta pada dunia.


Huan Ran memperhatikan ke sekelilingnya dengan cermat. "Apapun itu bicarakanlah nanti. Sepertinya ada sesuatu yang tak beres di sini."


Itu benar.


KRRTTTT ...


"Kalian kenapa?!"


Keributan itu muncul dari Yue Yan yang menatap tak percaya pada ular-ularnya. Mereka menggeliat seperti cacing kekeringan. Tak lama setelah itu, Huan Ran mendadak menarik pedangnya untuk bersiaga.


"Ada seseorang di sini!" ucap Huan Ran dengan nada yang agak lemah. Seperti berbisik.


Yi Hua menarik kertas jimatnya, tetapi Huan Ran menggelengkan kepalanya.


"Kita tak bisa melawannya seperti ini. Kau mau orang itu tahu kita di mana?" ucap Huan Ran dengan ancaman di dalamnya.


Nyatanya itu benar.


"Ini bukanlah seseorang. Itu iblis dengan kekuatan besar," ucap Xiao mengingatkan.


Yi Hua tanpa sadar berucap kencang. "Bagaimana bisa? Apa itu ..." Yi Hua segera menutup mulutnya sendiri saat ia nyaris menyerukan nama Hua Yifeng.


Apa Hua Yifeng ada di Lembah Debu juga?


Tapi ... Xiao masih aktif di telinga Yi Hua. Jika itu Hua Yifeng, maka Xiao akan menghilang keberadaannya.


Huan Ran menatap Yi Hua tak mengerti. "Kenapa kau tak bisa berhenti bicara, Peramal Yi? Nanti saja kau mengeluarkan suara cempreng itu!"


Lebih aman dari segalanya ialah mereka harus pergi dari sini.


Akan tetapi, Xiao mendadak berkata bahwa sistemnya terganggu oleh sesuatu. "Aku tak bisa melihat arah jalannya lagi, HuaHua. Udara dan energi di sekitar benar-benar dibuat kacau."


Jadi, ini memang begitu serius?


Yi Hua berjalan secara acak sambil memaksa Yue Yan untuk mengikutinya. Akan tetapi, ini seperti mereka terus berjalan tanpa henti. Sehingga Yi Hua menancapkan kayunya di permukaan pasir untuk memberi tanda. Lalu, mereka berjalan lagi.


Dan, akhirnya mereka hanya menemukan kayu itu lagi.


Dengan kata lain, mereka terus berputar di tempat yang sama..


"Ini berbahaya. Jumlah pasir meningkat," ucap Yi Hua yang melihat kayu yang awalnya ia tancapkan tinggi, tetapi sekarang tenggelam setengahnya.


Mereka terkurung di sini.


***


Yue Yan berniat melarikan diri secara diam-diam. Berkat Xiao, Yi Hua mengetahuinya dan segera menarik bagian belakang dari pakaian Yue Yan lagi. "Tunjukkan jalan untuk keluar dari putaran debu ini."


Hanya ini yang bisa ia lakukan. Yue Yan adalah orang yang terbiasa di sini. Ia yakin Yue Yan bisa membawa mereka keluar dari kubangan debu ini secara perlahan.


Namun Yue Yan jelas tak mudah diajak bekerja sama. "Bukankah aku pernah mengatakan bahwa kau mungkin akan mati di dalam Lembah Debu?!"


S*alan ini!


Yue Yan lebih fokus untuk mengumpulkan ular-ularnya di dalam pakaian. Hanya agar ular-ular ini tidak terkena sihir aneh yang mendadak membuat Lembah Debu menjadi kacau.


Yi Hua memperhatikan itu, dan menarik lengan Yue Yan. "Aku akan mencoba mengobati para ular ini. Apa kau tak melihat teman-temanmu menderita?"


"Mereka hanya kepanasan," bantah Yue Yan yang berusaha menarik lengan pakaiannya.


Namun Yi Hua lebih kuat lagi dibandingkan Yue Yan. Ia mencengkram lengan Yue Yan kuat. "Kau tak melihat kulit ular itu mengelupas?"


"Memangnya itu aneh, Yi Hua? Ular memang sering berganti kulit!" bentak Yue Yan kencang.


Masalahnya bukan seperti itu?


Yi Hua jelas-jelas melihat ular ini mengelupas dagingnya. Bukan kulitnya. Seperti ular ini telah direndam oleh air panas.


SYUT!


Baru saja Yi Hua berkata seperti itu, mendadak sebuah tulang belulang yang tipis dan panjang jatuh dari dalam pakaian Yue Yan. Hal tersebut membuat Yue Yan menatap tak percaya. Ia mengibaskan pakaian bagian luarnya untuk melepaskan para ularnya kembali.


TIK!


TIK!


Yang jatuh ke tanah itu bukanlah ular atau kulit ular. Yang jatuh di sana adalah tulang-belulang ular, yang bahkan sudah mengering. Seperti sudah mati selama beberapa bulan. Padahal baru saja Yue Yan melihat mereka masih berwujud.


Beberapa masih terlihat hidup, dengan luka besar di tubuh ular. Seperti yang dikatakan oleh Yi Hua, kulit dan daging mereka memang mengelupas. Terus mengelupas hingga hanya tersisa tulangnya.


"HuaHua, itu kutukan Tengkorak Putih," cetus Xiao tiba-tiba.


Hey, kau bercanda?! Bagaimana penguasa laut selatan itu bisa muncul di daratan? Ku kira Bao Jiazhen itu manusia setengah ikan!


Bagaimana pun ciri ini sudah menandakan keberadaan kutukan Tengkorak Putih. Di mana jika Bao Jiazhen mengutuk, maka yang dikutuknya akan mengelupas daging dan darahnya hingga menjadi tulang-belulang kering. Akan tetapi, mengapa mendadak Bao Jiazhen ini berjalan-jalan di Lembah Debu?!


Yue Yan tampak bergetar. Siapa yang tak takut pada salah satu dari Lima Bencana Kerajaan Li ini?


Ditambah lagi ... Tak ada yang benar-benar pernah melihat Bao Jiazhen. Ini sangat berbahaya karena mereka tak tahu apa yang mereka hadapi.


"Aku akan mencari jalan keluar. Tapi selamatkan dulu ular-ular ini," ucap Yue Yan cepat.


Namun apa yang Yi Hua janjikan adalah ketidakpastian. Sebab, ...


"HuaHua, kau tidak bisa menggunakan tungku iblis untuk memberi kekuatan pada ular-ular ini! Resikonya terlalu besar! Ular ini bukan Pohon Phoenix yang sebenarnya memiliki kekuatan. Ini ular biasa yang patuh pada manusia," bentak Xiao tiba-tiba. Tak biasanya Xiao begitu keras berteriak.


Akan tetapi, ...


Bagi Yue Yan ular-ular ini adalah temannya. Ditambah lagi mereka memerlukan bantuan Yue Yan untuk keluar dari Lembah Debu. Jika yang datang benar-benar Bao Jiazhen, maka sama saja dengan mati. Sehingga yang lebih penting ialah mencari cara untuk keluar dari tempat ini.


Intinya, menggunakan kekuatannya atau tidak hitungannya selalu resiko besar.


Juga, bagaimana membuat tungku iblis ini bekerja?


Percayalah Yi Hua juga tak tahu bagaimana menggunakan tungku iblis. Seingat Yi Hua, Hua Yifeng hanya menggunakan sentuhan untuk berbagi kekuatan. Begitu juga dengan Yi Hua yang menyentuh Pohon Phoenix kala itu.


Tangan Yi Hua mengusap pelan seekor ular yang ada di tangan Yue Yan. Ular itu terlihat sangat kesakitan akibat dagingnya yang mengelupas. Jika kekuatan tungku iblis bisa menyelamatkan para ular, apa itu berarti Liu Xingsheng juga ...


Xiao berseru marah. "Apa yang kau pikirkan, HuaHua? Kau pikir dirimu pahlawan?! Bukannya kau ini Peramal Yi Hua?"


Dalam kepanikan itu, mendadak seseorang meraih ular yang kesakitan itu dari tangan Yue Yan. Hal tersebut membuat perhatian mereka teralih pada pemilik tangan. Dan, wajah pria itu yang tenang serta pembawaannya yang tenang membuat Yi Hua mengingat seseorang.


Awalnya Yi Hua mengira yang datang itu adalah Hua Yifeng.


Apakah aku baru saja kecewa? Lucu sekali!


"Ayo pergi." Ucapan pria itu diakhiri dengan segerombolan kertas putih yang diterbangkan di udara.


Jelas kertas itu bukan seperti kertas Yi Hua yang lemah. Itu adalah kertas yang bahkan bisa bertarung dan menjadi berbagai makhluk yang terlihat seperti nyata. Daya tahannya lebih lama, dan Yi Hua tahu siapa pemiliknya.


Itu adalah Ling Xiao. Orang yang mereka cari.


Kertas itu tampak meninggi seperti batang pohon dan perlahan berubah menjadi burung-burung putih. Mereka tampak terbang tinggi ke udara, dan ...


PYAAR ...


Burung-burung itu seperti menabrak kaca di udara. Sepertinya memang ada seseorang yang memasang dinding penghalang yang tak terlihat di sekitar Lembah Debu. Itulah yang mengacaukan Xiao hingga tak bisa melihat arah lagi. Itulah juga mengapa mereka selalu berputar-putar di tempat yang sama.


"Ikuti saya," ucap Ling Xiao yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Yi Hua melihat Huan Ran menoleh padanya. Mau tak mau Yi Hua menganggukkan kepalanya. Mau curiga atau tidak, mereka tak punya pilihan lain. Lagipula, Ling Xiao adalah orang yang mereka cari.


Walau kehadiran pria ini sangat mendadak.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Semoga chapter ini bisa menghibur kalian yang sedang dalam suasana hati yang buruk. Walau yah isinya biasanya bikin tambah pusing. Meski begitu, yang bisa aku katakan adalah semangat dan selalu berpikir tenang. Jika rasanya begitu sedih dan ingin menyerah, maka ingat betapa jauh kau sudah melangkah. Juga, siapa saja yang ada di sekitar-mu.


Meski tak banyak. Hanya satu orang pun sudah menjadi bukti bahwa kita tak sendirian. Percayalah, setiap manusia memiliki orang yang mencintainya, walau tak semuanya nampak.


Sebisa mungkin aku membalas setiap komentar, walau gak bisa semuanya. Jadi, jika ingin bertanya, silahkan melalui komentar atau kirim pesan ke author langsung. Melalui grup chat, kayaknya aku gak terlalu aktif di sana. Makanya banyak yang mau masuk, tapi tidak diterima. Bukan karena apa, tetapi lebih pada author ini yang sangat pendiam dan tak banyak bicara di grup.


Selamat berpuasa bagi yang menjalankan 🙏


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~