
"Apa teror seperti ini sering kamu terima?" tanya Elvan.
Vada menggeleng, "kalau teror baru dua kali, waktu itu aku dapat paket bangkai tikus. Awalnya aku pikir itu kelakuan orang iseng, tapi memikirkan teror yang baru saja terjadi di kamar ini, mungkin di lakukan oleh orang yang sama. Mengingat rumah sebesar ini dengan penjagaan yang sangat ketat, tidak mungkin orang luar bisa masuk.
Dan juga, kejadian di toilet cafe tadi, aku tidak tahu apakah berkaitan dengan teror ini atau tidak. Yang jelas jika ada kaitannya, aku semakin yakin jika orang itu bukanlah orang luar. Orang itu pasti tahu jika tuan pulang hari ini, dan sengaja memancing kemarahan tuan kalau aku pulang terlambat atau bahkan tidak pulang semelaman jika tuan tidak menolongku," ucap Vada panjang lebar, masih dalam pelukan suaminya. Ia melirik Zora sekilas.
"Apa maksud ucapanmu Vada? Kau menuduhku yang melakukannya? Buat apa aku melakukannya? Jangan asal tuduh kamu!" tembak Zora langsung.
"Nuduh kamu? aku hanya bilang kalau bukan orang luar yang melakukannya. Tapi aku tidak menuduhmu, Zora. Di mansion ini banyak orang. Dan aku tidak mengkhususkan siapa orangnya. Kenapa kamu yang ngerasa, Zora? Kalau memang bukan kamu ya santai saja, nggak usah langsung panik begitu," sahut Vada.
"Aku... Aku nggak panik. Hanya saja, kata-katamu seolah memojokkan aku, karena kamu bilang orang dalam yang melakukannya, bukankah aku juga orang dalam," kata Zora tergagap.
"Aku bahkan nggak sebut nama kamu sama sekali loh, kenapa merasa terpojok kalau tidak melakukannya? Bisa saja kan aku sendiri yang melakukannya, demi membuat drama. Atau, suamiku mungkin," Vada mendongak, menatap suaminya yang tetap bergeming, entah apa yang laki-laki pikirkan saat ini.
Yang jelas, Elvan bisa merasakan jantung Vada yang masih berdetak hebat. Jelas terasa pula olehnya jika sebenarnya istrinya masih shock akibat terkunci di toilet, di tambah lagi dengan teror yang baru saja ia alami, namun wanitanya tersebut sangat berusaha bersikap biasa saja di depannya maupun Zora.
" Ada banyak pelayan juga mbok Darmi, aku nggak bilang kamu loh orangnya. Tuh para pelayan aja santai, jangan panik kalau memang tidak melakukannya. Kebenaran akan selalu terungkap, heeee" Vada tersenyum diplomatis.
"Sial, licik juga perempuan ini. Dia tak selugu yang aku kira," batin Zora geram.
"Hehe iya juga ya, aku terlalu panik aja, Vada. Soalnya ini baru pertama kali aku lihat ada hal mengerikan begini. Kamu juga kan bilangnya orang dalam, ya aku jadi ngerasa gimana gitu... Hem..." Zora juga tersenyum diplomatis.
Vada mendongak, bertepatan dengan pandangan Elvan yang menunduk. Pandangan mereka bertemu," Tuan, bisakah ke kamar kita sekarang? Kepalaku sedikit pusing," ucap Vada sedikit manja dan menekan kata kamar kita. Dalam hati ia merasa geli sendiri dengan tingkahnya.
Tanpa bicara, Elvan memapah Vada melewati Zora yang hanya bisa terdiam.
"Zora, aku ke kamar kami dulu ya? Kamu nggak usah pikirkan omonganku tadi. Jangan takut kalau enggak salah. Kejahatan pasti akan terungkap kok, jadi santai aja," ucap Vada. Ia sama sekali tak melepas tangannya yang melingkar di pinggang suaminya.
Elvan merasa sangat aneh dengan tingkah sang istri yang berhasil membuat jantungnya berdisko ria. Bukan karena shock seperti Vada, melainkan karena rasa yang berbeda dari sebelum-sebelumnya.
"Dia kenapa sih? Apa kesurupan jin toilet?" batinnya tak habis pikir namun tak berniat untuk meminta sang istri melepaskan pelukannya.
Mereka keluar dari kamar itu meninggalkan Zora yang terdiam menahan kesal. Rencananya gagal total. Tapi tunggu! Bangkai tikus? Terkunci di toilet? Zora jelas tidak melakukannya.
"Apa ada orang lain yang yang melakukannya?" batin Zora bertanya-tanya.
🖤🖤🖤
Sesampainya di kamar utama, Vada langsung melepas tangannya dari pinggang Elvan. Ia langsung mundur satu langkah, membuat Elvan langsung mengernyitkan dahinya.
"Maaf tuan," ucap Vada. Ia merasa sudah lancang, namun tidak mau kalah oleh serangan Zora. Iya yakin sekali semua kejadian yang menimpanya adalah ulah gadis itu.
"Kenapa tadi kamu menuduh Zora?" tanya Elvan.
"Sudah aku jelaskan, aku tidak menuduhnya," jawab Vada.
Elvan maju satu langkah, "Kamu pikir, aku tidak tahu kamu sengaja bilang seperti itu untuk menyindirnya?" ucapnya memegang kedua lengan Vada dengan pelan.
"Berhentilah berasumsi dan menuduh Zora. Dia adalah adiknya Zoya, wanita yang sudah memberi penglihatan baru untukmu, Vada. Jadi seharusnya kamu berterima kasih kepadanya," ucapnya lagi.
Hati Vada terasa di cubit mendengarnya, karena Lagi-lagi Elvan tak mempercayainya. Membuat Vada heran, tadi Elvan begitu lembut memperlakukannya hingga ia akui membuat dirinya terlena, tapi kini laki-laki itu sudah kembali menyebalkan, mudah sekali berubah seperti bunglon.
"Bukannya aku tidak tahu terima kasih, tuan. Bahkan aku selalu mengirim doa untuk Zoya sebagai rasa terima kasihku kepadanya. Kalaupun benar aku menuduhnya, bukan tanpa alasan. Di pikir, siapa yang memiliki potensi untuk meneror ku? Siapa yang paling berpotensi membenciku di rumah ini? Hanya dia! Hanya dia yang memiliki alasan untuk melakukannya karena mata ini dan juga pernikahan perangkap yang Anda lakukan ini, mungkin dia tidak terima dengan semua ini," jelas Vada, matanya sudah berkaca-kaca, namun sekuat hati ia tahan supaya tidak menangis.
Tak di duga, Elvan malah mencium bibir Vada. Awalnya hanya sebentar," Kamu terlalu banyak bicara dan berpikir, tidak bisakah diam dan biarkan aku yang mengurus semuanya?," ucap Elvan yang terdengar ambigu di telinga Vada. Membuat wanita itu berpikir, apa maksud ucapnya suaminya.
Namun, sebelum mendapat jawaban, Elvan kembali mencium bibir sang istri. Klo ini lebih lembut, dalam dan intens. Vada hanya bisa membuatkan kedua matanya keran mendaat serangan mendadak dari suaminya tersebut. Ia benar-benar tak mengerti apa yang ada di pikiran suaminya. Sebentar baik, sebentar marah lalu sekarang main nyosor saja seperti soang.
Elvan seakan menumpahkan segala rindunya karena beberapa hari tidak bisa merasakan benda kenyal milik istrinya tersebut yang kini semakin menjadi candunya. Beberapa hari di luar negeri membuat bibirnya terasa garing dan buruh pelumas alami dari sang istri.
Elvan menggiring tubuh Vada hingga masuk ke dalam kamar mandi tanpa melepas pagutannya. Sesampainya di kamar mandi, ia melepas ciumannya. Vada menatapnya, ada rasa kecewa karena Elvan menghentikan aktivitasnya, padahal ia harus saja merasa... Enak, bahkan bawahnya mulai basah.
"Mandilah, kamu bau!" ucap Elvan yang langsung meninggalkan Vada di dalam kamar mandi.
Vada hany bisa melongo, detik kemudian ia mengendus ketiak kanan dan kirinya lalu nyengir, memang bau. Bagaimana tidak bau, hampir tiga jam ia terkunci di toilet. Kalau saja suaminya tidak datang mungkin ia sudah mati kaku di sana keesokan harinya karena rasa takutnya akan kegelapan.
"Terima kasih sudah datang tepat waktu tadi," gumamnya tulus.
Elvan menyambar ponsel di atas nakas, ia berniat menghubungi asisten Rio untuk menanyakan perihal insiden toilet tadi dan juga membahas soal teror yang di terima oleh Vada. Ia bukannya tak peduli dengan kejadian-kejadian yang menimpa Vada, meskipun ia sendiri bingung kenapa begitu peduli dengan istrinya tersebut.
Hanya saja, memang ia tak suka banyak bicara dan asal tuduh. Elvan lebih suka langsung bertindak daripada hanya menerka-nerka dan berspekulasi yang akan lebih menyita waktunya. Ia juga sebenarnya tak menyalahkan Vada yang berpikir jika kemungkinan Zora pelakunya, ia hanya tidak ingin membuat Vada lebih dalam masalah lagi jika wanita itu terlalu bar bar menunjukkan Kecurigaannya.
"Tuan!" panggil Vada dari balik pintu kamar mandi. Ia hanya menyembulkn kepalanya saja, karena pakaiannya sudah ia lepaskan.
Elvan yang sedang menunggu asisten Rio mengangkat panggilannya menoleh, " Ada apa?" tanyanya datar. Perasaannya mendadak tidak enak.
"Temani aku mandi!" kata Vada terus terang.
Elvan menautkan kedua alisnya dan juga menajmkan pendengarannya serta menyinkronkan dengan otaknya demi memastikan kalau ia tidak salah dengar.
"Kau sadar dengan ucapanmu?" Elvan berjalan mendekat dan membuka pintu kamar mandi tersebut. Ponsel yang masih menempel di telinganya hampir jatuh karena pemandangan di depannya. Tubuh istrinya yang... Sudah polos...
Kan, benar! Perasaan Elvan tidak salah, menemani mandi? Apa kabar dengan Elvan Junior nanti.
Lutut Elvan lemas seketika. Susah payah ia menelan ludahnya kasar, otomatis dedek gemesnya lngsung on fire.
Vada kembali menarik pintu demi menutupi tubuhnya dan hanya kepalanya yang kembali nyembul keluar.
"Iya, temani aku mandi, tuan. Aku takut kalau tiba-tiba lampunya mati kayak tadi di cafe. Aku benar-benar masih trauma. Tuam bisa beridir di depan pintu saja, tapi di dalam. Aku nggak minta di macem-macemin di dalam, cuma minta di temani mandi saja. Kalau tidak mandi, bau kata Tuan," ucap Vada apa adanya.
Vada benar-benar takut kejadian di cafe terulang lagi. Ia bahkan membuang rasa malunya demi meminta di temani mandi oleh suaminya. Setidaknya untuk malam ini saja sampai trauma ya berngsur membaik.
Toh, juga Elvan sudah melihat dirinya seperti bayi baru lahir beberapa kali. Bahkan mereka beberapa kali menyatu tanpa jarak dalam keadaan polos tersebut. Jadi, tidak ada salahnya hanya minta di temani mandi saja, pikirnya polos. Namun, sayang pentung keramat atu dedek Elvan junior tak sepolos otak Vada yang pastinya. Ia tahu mana yang polos dan mulus.
"Lampunya tidak akan mati, Vada," ucap Elvan berusaha tetap tenang meski dedek gemes di bawah sana sudah meronta.
"Aku tetap takut, tuan. Swear hanya menemani saja. Cuma sebentar," terlihat jelas wanita itu masih ketakutan, tak di buat-buat.
"Kau sadar, permintaan itu sama halnya membangunkan singa yang sedang tidur, apa kau mau di makan?"
"Tapi, tuan bukan singa, ayolah tuan, sebentar saja. Aku akan mandi bebek, kilat, yang penting sabunan dan wangi,"
ELvan mengusap wajahnya kasar, sebentar yang di bilang Vada bis menjadi lama bahkan berjam-jam kalau Elvan masuk.
"Baiklah, kamu yang minta. Jangan salahkan kalau aku tidak hanya me lu mat bibir atasmu. Tapi, juga bibir bawahmu, Vada Laras Sabrina!" gumam Elvan sambil merangsek masuk ke kamar mandi, membuat Vada mundur satu langkah. Ponselnya jatuh begitu saja di lantai, meninggalkan asisten Rio yang terbengong-bengong di seberang telepon sana.
Apa ini? Kata-kata terakhir Elvan, berhasil membangunkan imajinasi asisten Rio.
"Ya ampun, menelepon hanya untuk mendengarkan live soal polos-polos," batinnya lemas. Membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini di kamar mandi tuan mudanya. Ia jadi merinding, bulu kuduknya berdiri semua.
🖤🖤🖤
💠💠Maaf ya dua hari kemarin tidak up, othor sibuk banget kemarin, malamnya udah tepar gitu aja, capek plus pusing pala barbie... Like dan komennya yuk ah jangan ketinggalan, jempol ya gerakan dikit, itung-itung olah raga..💠ðŸ’