Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 106


"Sayang, ini tidak seperti yang kamu kira, aku akan jelaskan,," ucap Elvan. Tangannya langsung terlepas dari kancing kemeja Soraya.


"Emang yang aku kira bagaimana?" sahut Vada seraya berjalan mendekat dengan terus menatap tajam Soraya, seolah ingin menelan wanita itu hidup-hidup. Namun, yang di tatap justru menatapnya dengan penuh kemenangan dan tersenyum licik kepadanya tanpa sepengetahuan Elvan. Benar-benar membuat darah Vada langsung mendidih.


"Minggir!" Vada sedikit mendorong tubuh Elvan supaya memberi tempat untuknya.


"Biar aku bantu, kalau pelan-pelan kayak gitu, dia bakal mati di sini!"


SWeeek!


Dengan keras, Vada menarik kemeja Soraya ke kanan dan kiri hingga sobek dan kancing-kancingnya terlepas.


"Wow!" gumam Elvan bersamaan dengan Rio yang baru saja tiba tanpa sadar saat melihat aksi keren sang Vada barusan.


"Apa yang kamu lakukan!" teriak Soraya kesal.


"Tuh, kan sembuh, malah langsung bisa berteriak," ucap Vada santai namun matanya menatap nyalang pada Soraya.


"Abang jangan lihat!" peringatnya.


"Nggak lihat!" sahut Elvan cepat masih dengan wajah takjub.


Vada melapas tangannya dari baju Soraya lalu ia menepuk-nepuk kedua tanganya.


Soraya berusaha menangkupkan bajunya ke dada namun sia-sia. Tangannya berusaha supaya dadanya tidak terlihat. Ia benar-benar syok, tak menyangka jika Vada bisa sebar-bar itu.


"Tadi aja mau di pamerin itu isinya, sekarang sok-sokan di tutup," ucap Vada tersenyum risih, matanya menunjuk ke arah dada Soraya.


Vada menoleh kepada Elvan yang masih tercengang menatapnya. Spechless lebih tepatnya. Ia kira sang istri akan langsung ngamuk-ngamuk dengannya, tapi di luar dugaan.


Vada menarik dasi Elvan, yang mana sialnya Elvan seperti kerbau di cucuk hidungnya, hanya manut saja berdiri tanpa berkata-kata. Lalu, Vada mendorong dada Elvan hingga terduduk di sofa. Ia menaikkan satu kakinya di sebelah paha Elvan dan kembali menarik dasi pria tersebut lalu mendekatkan wajahnya ke wajah sang suami.


"Gimana, Bang? Masih mau lanjut sama dia, atau sama aku?" Vada menoleh, menatap sebal kepada Soraya yang masih bersimpuh di lantai dan terlihat sangat jengkel tersebut.


Elvan tersenyum, ia lalu menatap Asisten Rio yang hanya berdiri sejak tadi menyaksikan aksi gila dari istri bosnya.


"Yo, urus dia!" titah Elvan.


"Hedeh, menyusahkan saja," batin Asisten Rio. Ia berjalan mendekati Soraya seraya melepas jaketnya. Asisten Rio sedikit membungkukan badannya dan menutup dada Soraya menggunakan jasnya,"Ayo nona, kita keluar dari sini!"


"Van..." Soraya masih saja berusaha. Ia enggan berdiri.


"Pergi!" bentak Elvan. Ia tak menyangka tadi hampir saja tertipu oleh wanita itu. Ia pikir Soraya benar-benar kambuh sakitnya.


Soraya pun terpaksa pergi dengan di papah asisten Rio, "Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!" sentak Soraya.


"Hari gini mau jadi pelakor. Nggak tahu malu!" gumam Vada.


Blam!


Vada menuntup pintu ruangan suaminya tersebut dengan kasar setelah Asisten Rio berhasil membawa Soraya keluar dari sana.


Elvan yang merasa aura sang istri berubah saat menatapnya hanya bisa meringis.


" Aw, aduh!" teriak Elvan saat tiba-tiba Vada mengigit bahunya yang kebetulan pria tersebut hanya memakai kemejanya saja.


"Aduh sakit sayang," rengek Elvan.


"Syukurin, siapa suruh main pergi aja tadi agi nggak bangunin dulu. Terus apa tadi? Mau-mau aja di suruh buka baju Si nenek lampir!"


"Aw, aduh!" Elvan kembali mengaduh saat Vada mengigit bahunya yang satu.


"Astaga, kamu aneh tahu nggak sih, macam drakula aja suka gigit," Elvan mengusap-usap pundaknya.


Vada duduk dengan kasar di sebelah Elvan denga tangan bersedekap,"Coba tadi aku nggak datang, abang udah lihat gunung kembarnya pasti. Dasar ya laki-laki emang nggak bisa di percaya. Udah tahu pura-pura sakit, masih di ladeni aja, aaarrgghh ngeselin!"


Elvan justru tersenyum melihat istrinya yang terus mengomel.


" Astaga, KDRT nih, kok jadi suka kekerasan gini sih,"


" Habisnya abang malah ketawa, panas tahu ini hati. Nggak kebayang tadi apa yang terjadi kalau aku nggak datang, bisa-bisa abang udah di perkosa sama ulat bulu!" omel Vada, dan hal itu justru membuat Elvan semakin gemas dan senyumnya semakin mengembang. Ia menusuk pipi Vada yang terlihat mengembung karena cemberut.


" Kamu cemburu?" tanya Elvan dan Vada dengan sangat jelas mengangguk.


" Sama dia? Tahu kan siapa dia?" dan lagi Vada menganguk.


Elvan terkekeh dan menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya, "Sejak kapan isteri abang ini jadi pencemburu, bahkan sama perempuan yang jelas-jelas tidak akan bisa buat abang tertarik. Kenapa cemburu, hem?" Elvan mengendus leher Vada yang mana membuat wanita itu lanhsung meremang karena bulu-bulu halus di sekitar rahang sng8 suami.


" Kok pakai tanya kenapa, ya karena....Karena... Ah masa aku yang bilang duluan. Abang harusnya pekalah!" Vada hendak bangkit dari duduknya namun Elvan segera menariknya dan ia sustru terduduk di pangkuan prianya tersebut.


"Ih, ini di kantor!" cebik Vada namun tangannya malah melingkar di leher Elvan.


"Emngany kenapa kalau di kantor? Emang mau ngapain, sih?"


Vada menunduk malu, dasar otak mes um pikirnya. Kenapa akhir-akhir ini ia merasa otakny semakin mes um. Terkadang hanya sebuah sentuhan biasa yanh suaminya lakukan saja langsung membuatnya menuntut lebih.


" Kok diam?" Elvan menenggelamkan wajahnya di leher Vada, menyesap bau harum yang menguar dari tubuhnya.


"Abaaaang," benarkan, Vada sudah tidak bisa berpikir jernih sekarang. Dan mau tidak mau mereka melakukannya siang itu di kantor dengan waktu yang terbatas tentunya.


Selesai melakukannya, Vada segera berbenah pakaiannya lalu ia pamit kepada Elvan.


"Aku mau ke kosan bu Sukma, katanya mau ada penghuni baru di kamar yang duku aku tempati, aku mau ambil barang-barang baku yang asih di sana, terus setelah itu mau ke cafe, kangen pengin nyanyi lagi. Lagian dulu belum pamit secara resmi sama bang Roni. Nanti Abang bisa jemput di cafe?" tanya Vada sambil mengancing bajunya.


" Mau abang antar?" Elvan yang masih bertelanjang dada manrik pinggang Vada, ia membantu mengancing baju sang istri.


" Nggak usah, Nanti abang jemput aja. Masih anyak kerjaan kan? "


"Baiklah," ucap Elvan, bonus rematan ada dada sang isteri yang sudah berbalut baju tersebut ia berikan, yang mana langsung di tepis oleh Vada, "Nakal ih!" ucapnya.


"Kamu yang nakal!" ucap Elva terkekeh, ia menyambar kemejanya yang berada di sandaran sofa lalu memakainya.


"Aku pergi ya? Itu tadi aku bawain makanan, rencananya mau makan siang bareng, tapi aku malah udah nggak selera, padahal tadi oenhin bangeg makan itu, nanti aku beli yang lain aja," celoteh Vada panjang.


"Ingat, nanti jemput aku di cafenya bang Roni, jangan kemalaman..."


Baru Elvan mau membuka mulutnya manyahut, Vada sudah kembali bicara.


"Jangan macam-macam! Selama abang masih jadi suami aku, nggak boleh ada wanita lain, kecuali abang udah bukan menjadi suami aku lagi, silahkan mau ngapain, bebas!" entahlah, kenapa mulutnya dengan lancar mengatakan hal itu yang mana mau di protes langsung oleh Elvan.


Namun, sebelum Elvan memprotesnya, Vada malah mengigit bahunya.


" Aw! Astaga!" pekik Elvan meringis.


" Gemas soalnya, hihi!! " Vada meraih tangan Elvan lalu mencium punggung tangan suaminya tersebut.


"Babay, jangan lupa di makan, ya?"


"Eh lupa, sini kissnya!" Vada mencium kedua pipi, kening juga bibir sang suami.


Tangannya juga tanpa sadar menarik tangan Elvan supaya mengusap perutnya. Dinusap begitu rasanya Vada merasa senang dan tenang, "Udah ya, aku pergi sekarang,"


Elvan semakin mengernyit dengan tingkah menggemaskan sang istri.


"Ada-ada saja, dasar!" gumamnya seraya menggeleng.


Elvan langsung kepikiran soal kejujuran Vada yang cemburu tadi. Padahal wanita tersebut tau betul Elvan sama. Sekli tidk tertarik dengan Soraya. Dan apa Vada bilang tadi? Dia minta Elvan yang mengatakannya lebih dulu?


"Apa Dia sudah benar-benar mencintaiku?" gumam Elvan tanpa sadar susut bibirnya terangkat sehingga membentuk sebuah senyuman.


Elvan langsung mengambil ponselnya, "Yo, pesankan tempat makan malam weekend ini, pastikan romantis dan tak akan bisa terlupakan," ucapnya melalui telepon.