
"Maafkan aku mas, maafkan mama, Van. Ini semua salahku," ucap nyonya Tamara di akhir ceritanya sembari terisak.
"Aku hanya tidak menyangka kai sejahat itu, Tamara...," ucap Tuan Adijaya kecewa dengan sikap yang di lakukan oleh istrinya di masa lampau tersebut.
Sementara Elvan, tubuhnya terasa limbung, ia seperti kehilangan pijakan kakinya saat mendengar cerita dari nyonya Tamara.
"Kenapa kalian baru mengatakannya sekarang? Di saat istriku sudah pergi entah kemana," ucap Elvan. Dari nadanya tersirat rasa menyesal yang teramat dalam. Seandainya semua terungkap lebih awal, mungkin kisahnya dengan Vada tidak akan seburuk ini.
" Maafkan papa, papa hanya berusaha menjaga perasaanmu selama ini. Papa tidak tahu jika akan terjadi hal seperti ini pada keluarga kita," tutur tuan Adijaya.
"Semuanya belum terlambat, kalian masih bisa bersama meraih kebahagian kalian," ucap nyonya Tamara.
"Bagaimana mungkin, jika kalian adalah suami istri, bagaimana aku bisa bersama Vada?"
"Menikahi saudara tiri yang tidak ada hubungan darah sama sekali itu boleh menikah, kalian tidak ada hubungan nasab dan persusuan sama sekali," kata tuan Adijaya.
Elvan terdiam sesaat, perasaanya begitu kalut, campur aduk sekarang. Meskipun pernikahan mereka tidak salah dan di perbolehkan, sekarang apa gunanya. Istrinya sudah pergi dan dia tak tahu dimana keberadaannya saat ini.
" Percuma saja, semuanya sudah berakhir," ucapnya lirih dan langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
Di dalam mobil, Elvan terus berpikir kemana kiranya sang istri pergi. Wanita itu bagai di telan bumi tak berjejak. Empat buln terakhir, ia sama sekali tak mendengar kabar beritanya. Dalam pikirannya, pasti Vada pergi ke luar kota, tidak mungkin ke luar negeri karena Vada selalu mengeluh tidak pandai bahasa inggris.
Apalagi, Vada pergi tak membawa sepeserpun uang yang telah ia berikan. Wanita itu meninggalakn semuanya, black card dan beberapa pltinum card yang ia berikan untuk Vada, termasuk cek yang berisi uang lebih dari sepuluh miliar yang ia berikan setelah makan malam waktu itu.
Saat di persimpangan jalan antara ke kantor dan ke panti, Elvan membelokkan mobilnya ke jalan yang menuju panti. Berharapa ada sedikit petunjuk di sana.
Namun, tak sesuai harapannya, bunda pun tak tahu di mana keberadaan Vada sekarang. Elvan merasa bersalah karena ia justru membuat Bunda khawatir memikirkan Vada.
Elvan pun pulang dari panti tanpa mendapat petunjuk apapun.
.
.
.
Elvan tak menyerah begitu saja, ia terus berusaha mencari Vada, namun wanita itu bak tertelan bumi. Seorang Elvan yang bisa dengan mudah jika menginginkan sesuatu, kali ini ia sangat kesulitan mencari. Pada akhirnya ia berpikir, apakah memang takdir mereka hanya sampai di sini
"Kemana kamu, sayang? Apa ini memang takdir kita? Tidak bisa bersama? Kenapa takdir kita begitu kejam, haruskah aku menyerah pada takdir?" gumam Elvan dalam hati. Ia benar-benar merasa bersalah, pasalnya ia tak tahu jika Vada memiliki tabungan yang cukup banyak hasil kerja kerasnya selama ini. Elvan tak bisa membayangkan bagaimana wanitanya tersebut menjalani hidupnya tanpa membawa uang sama sekali, pikirnya.
.
.
.
Di sisi lain, Seorang wanita yang tak lain adalah Vada baru saja menutup toko roti tempatnya bekerja. Setelah selesai mengunci pintu, ia meliht sebuah mobil berhenti di depan toko. Ia tersenyum saat seorang pria keluar dari mobil tersebut.
"Tokonya sudah tutup, tuan," seloroh Vada.
"Oh, sayang sekali. Aku datang terlambat lagi, besok aku akan datang sebelum toko buka," sahut pria itu.
Detik kemudian mereka tersenyum bersamaan, "Ayo, hari ini aku traktir makan malam!" ucap pria tersebut.
"Di traktir lagi," ucap Vada.
"Kenapa?" pria itu mengerutkan keningnya.
"Kau terlalu baik," seloroh Vada. Pria itu hanya terkekeh. Ia lalu membukakan pintu mobil untuk Vada.
"Apa ini?" tanya Vada.
"Bukalah!"
"Susu hamil, lagi?" Vada menatap pria di depannya serius.
"Yups!"
"Tapi aku masih ada, yang kamu berikan waktu itu masih banyak. Lagian, nanti aku bisa beli sendiri," ucap Vada, ia merasa tidak enak karena selalu merepotkan pria yang duduk di sampingnya tersebut.
"Aku udah gajian, lagian aku juga masih ada uang tabungan," sambunya cepat.
"Nggak apa-apa, simpan saja uanganya, bisa di tabung buat tambah biaya melahirkn nanti,"
"Buat lahiran aku udah nyisihin sendiri,"
"Aku tahu. Tapi, aku beliin ini buat baby, buat buat kamu. Lagian, nggak boleh nolak rejeki,"
"Makasih, kamu udah terlalu banyak membantuku,"
"Ayolah, jangan katakan itu. Kita kan teman,"
Vada tersenyum, betapa ia beruntung bertemu dengan pria tersebut ketika ia baru saja tiba di Bandara waktu itu. Jika tidak ada pria itu saat ia pingsan waktu itu, ia tak tahu apa yang akn terjadi di negara yang tentu saja sangat asing baginya tersebut.
"Kamu terllau baik, Ndra!" puji Vada karena memang begitu kenyataannya. Bagaimana mungkin seorang pria yng tak oernah mengnal kita sebelumnya mau membantu wanita hamil seperti Vada. Bahkan menjadikannya sahabat.
"Baru tahu ya kalau Andra Almansyah itu baik? Udah dari lahir kali!" seloroh pria bernama Andra tersebut.
" Ayolah, kau mengatakan kalau aku baik seribu kali aku bisan dengarnya. Yang ingin aku dengan sekarang adalah ajakan ayok kita makan. Aku lapar, nona!"
Vada terkekeh mendengar ucapan Andra.
" Kita jalan sekarang?" tanya Andra.
Vada hanya mengangguk, dan mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Setelah makan malam bersama Andra, Vada lanhsung di antar ke apartemennya. Apartemen berukuran kecil itu adalah tempat tinggalnya empat bukan terkahir.
Ia langsung meletakkan tasnya lalu pergi ke kamar mandi. Ia menghela napas di deoan cermin setelah membasuh mukanya. Lelah, itulah yang ia rasakan sekarang. Namun, demi anak dalam kandungannya ia harus tetap semangat bekerja demi menambah tabungannya. Jika dulu keinginannya adalah melanjutkan kuliah, sekaranh beda lagi. Ia ingin membangun sebuh usaha meskipun di mulai dari yang kecil.
Vada mengusap perutnya yanh sudah terlihat memebsar di usia kehamilan yang ke enam bulan, ia telah melewati trismester pertama kehamilannya. Beruntung saat-saat sulit itu ada Andra yang menemaninya. Dimana pria itu selalu memenuhi setiap keinginannya di masa ngidam. Ia bahkan kadang sampai tak enak hati dengan pria itu yang terlampau baik menurutnya.
"Baik-baik ya sayang, sampai kamu lahir nanti. Waktu dimana kita akan menjalani hidup berdua, kamu akan menjadi kekuatan buat mama untuk tetap bertahan dari kerasnya kehidupan, mama menantikan saat-saat itu, tiga bulan lagi kita akan ketemu," gumamnya.
Vada masih sering mengingat momen kebersamaannya bersama Elvan. Setidaknya kenangan indah bersama suaninya itu yang menjadi pengobat rindunya selama ini. Ia sadar, jika ia dan Elvan tak akan pernah bisa bersatu karena ada sebuah ikatan yang tak mungkin mereka langgar untuk tetap bersama, yaitu saudara seayah.
Bahkan demi anak dalam kandungannya, Vada mengambil keputusan besar dengan nekat pergi dan menetap di Kanada. Tempat yang pasti tidak akan ada sagu orang pun memgira jika ia tinggal di sana, bahkan Elvan sekalipun tak akan ada pikiran sampai ke sana.
Tak ada alasan apapun Vada pergi ke sana, hanya ingin eorgi sejauh mungkin dari masa lalunya yang bisa saja mempermasalahkan soal anak yang ada dalam kandungannya. Bahkan sempat terbayang olehnya jika Elvan tahu kehamilannya, pasti pria itu akan memintanya menggugurkannya karena jika lahir pun besar kemungkinan akan.... Ah rasanya Vada tak sanggup untuk sekedar membayangkannya.
Entahlah, kenapa ia bisa senekat itu padahal tak memiliki bekal yang cukup, termasuk kendala dalam komunikasi. Untung saja ada Andra yang selalu membantunya. Namun, empat bulan saja tinggal di sana, ia sudah cukup mampu untuk berkomunikasi dengan orang di sekitar. Mungkin karena terbiasa dan keadaan yang memaksanya mau tidak mau harus bisa jika ia infin tinggal di sana lama.
Air matanya menetes, ketika ingat kembali dengan Elvan. Masih terasa berat rasanya menerima takdir antara mereka.
"Aku akan menjaga dan merawatnya dengan Baik, bang. Apapun dan bagaimanapun keadaannya nanti. Karena dia adalah penggantimu di sini. Aku di sini baik-baik saja dan mulai menata hidup baru tanpamu. Ku harap kau pun sama. Takdir kita memang harus seperti ini adanya," gumamnya sembari memejamkan kedua matanya.