Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 120


"Temut-temut kecin, Kya mau tana, apatah tamu, di dalam tanah tidak kedelapan... Temut-temut kecin, Kya mau tana, apatah tamu di dalam tanah, tidak tatut geyap....oeee oeee, itu katamu.. Oeee oeee, itu dawabmu..."


Vada mendekati putri kecilnya yang sedang bersenandung menyanyikan sebuah lagu yang sering ia ajarkan.


"Se-mut, bukan Temut-temut, tapi se mut ke cil.. Bukankah Kyara sudah bisa? Hem?" tanya Vada dengan lembut, berjongkok di depan sang putri.


Kyara malah terkekeh dan menutup mulutnya menggunakan tangan mungilnya. Ia memang sengaja mencadelkan lidahnya saat bernyanyi karena menurutnya itu lucu. Ya, meski pun sebenarnya memng masih ada beberapa huruf yang bekum bisa ia ucapkan dengan baik, juga kadang ada kata-kata yang kebalik pengucapannya dan Vada selalu dengan sabar mengajarinya.


"Mama malah syama Kya?" tanya gadis yang akan berusia tiga tahun dalam beberapan bulan kedepan tersebut.


"Marah kenapa? Give me a reason, hem?" tanya Vada mengusap lembut pipi Kyara.


"Kalena Kya tak patuh, Kya mam cokat banak-banak! Mam aisklim, syama...." gadis itu mengetukkan jari telunjuknya di pelipis untuk mengingat sesuatu.


"Syama ah Kya lupa...Pokokna Yang lezaaat banet itu!" seru Kyara saat mengingat makanan apa yang tadi berhasil ia makan saat jalan-jalan dengan Andra.


Vada tersenyum melihat tingkah sang outri yang selalu berhasil menghilangkan rasa lelahnya.


"Kenapa mama harus marah, Kyara suka jalan-jalan sama ompapa?" tanya Vada dan Kyara langsung mengangguk.


"Kakau Kyara senang, mama juga happy. Tapi, mama coklat sama permennya enggak boleh banyak-banyak ya, nanti kalau gigi Kyara sakit, mama sedih," ucap Vada.


"Iya, mama. Kya cayang mama," gadis kecil tersebut meraup kedua pipi Vada dan menciumnya. Vada langsung memeluk Kyara. Betapa ia beruntung memiliki Kyara di sisinya, sang buah hati pelipur laranya.


"Sekarang Kya tunggu di sini sebentar , ya. Mama mau bantu kak Cindy di depan buat bersih-bersih. Habis itu kita pulang, oke?"


"Otey, mama!" sahut Kyara.


"No Otey, but Okey!"


"Hihi, okey, mamma...!"


.


.


.


Dengan menggendong Kyara yang tertidur di taksi tadi, Vada membuka pintu apartemennya. Ia langsung menuju ke kamar untuk menidurkan Kyara.


Vada tak langsung beranjak, ia menatap wajah pulas sang putri, "Tidk biasanya sore behini tidur, pasri capek habis jalan-jalan sama Andra," gumam Vada. Di saat terlelap seperti ini, ia akan memandang wajah Kyara lekat-lekat. Ada rasa rindu yang ia tahan dari sorot matanya setiap kali menatap wajah sang putri.


Rasa rindu yang selama ini berhasil ia tekan. Kehadiran Kayra dalam hiduonya sudah cukup membuatnya teralih dari pikiran masa lalunya. Saat ini, Kyara adalah satu-satunya yang ia miliki, yang menjadi alasan dirinya tetap waras menjalani kerasnya hidup di negara asing tersebut. Berkat kerja kerasnya, meski kecil, kini ia sudah memiliki sebuah cafe untuk menyambung hidup mereka di sana. Dan ia berjanji akan terus bekerja keras demi masa depan Kyara.


Vada melepas sepatu Kyara lalu mencium keningnya sebelum akhirnya ia pergi ke kamar mandi. Berendam sebentar sebelum Kyara terbangun menjadi pilihan Vada untuk melemaskan otot-otonya yang terasa kaku dan pegal karena lelah.


.


.


.


Ada akhirnya, Elvan memutuskan untuk menerima kerja sama dengan anak teman tuan Adijaya. Elvan berjalan santai mendekati kedua orang tuanya yang entah kapan datang ke mansion tersebut.


"Kau sudah mau berangkat, nak? Kenapa tidak bilang sama mama? Kalai Rio tidak kasih tahu, kmi tidak akan thu kamu akn berangkat sekarang," ucap nyonya Tamara.


"Ini bukan kali pertama Elvan melkukan perjalanan bisnis, lagi pula aku mau ketemu klien, bukan mau perang," Diperhatikan seperti itu, membuat Elvan sedikit geli.


"Keputusan yang bagus," ucap tuan Adijaya. Elvan itu hny menatap curiga sang ayah, "Kenapa papa yang semangat sekali, padahal ini hnya proyek kecil, kenapa aku harus turun tangan sendiri. Aku curiga, jangan-jngn ini akal busuk papa buat usir aku?"


"Jangan suudzon sama orang tua! Lagian apa yang papa dapat dengan ngusir kamu," cebik tuan Adijaya.


"Ya, kali papa punya anak lain lagi dan mau ngasih perusahaan ke dia," ucap Elvan asal.


"Elvan!" nyonya Tamara mengingatkan.


"Bercanda! Aku berangkat, kalian yang rukun!" ujar Elvan. Pasalnya sejk pengakuan nyonya Tamara waktu itu, ia melihat keduanya semakin berjarak meski kemana-mana selalu berdua. Tuan Adijaya masih kecewa dengan sikap nyonya Tamara dan nyonya Tamara menerima hal itu.


"Nikmatilah waktumu di sana dengan baik, papa tunggu kabar baik dari kamu," tuan Adijaya menepuk bahu Elvan saat ia menunduk untuk mencium punggung tangan tuan Adijaya.


Elvan sempat mengernyit dengan ucapan ambigu ayahnya, mungkin kabar baik soal kerja sama nanti. Padahal cuma proyek kecil, pikirnya. Ia langsung pergi setelah asisten Rio datang.


" Kenapa mas nggak mengatakan yang sebenanrnya kepada Elvan? Dia pasti akan sangat senang," tanya nonya Tamara setelah Elvan pergi.


"Biar dia usaha sendiri. Dia akan merasakan kebahagiaan luar baisa saat usahnya membuahkn hasil sesuai keinginannya," sahut tuan Adijaya.


"Di situ cinta mereka akan di uji," sahut tuan Adijaya.


"Padahal aku udah nggak sabar pengin lihat cucuku, mas. Kenapa harus menunggu lagi," ucap nyonya Tamara.


"Aku bahkan sabar menunggu lebih dari delapan belas tahun untuk bertemu putriku!"


Nyonya Tamara langsung terdiam. Ucapan tuan Adijaya terasa begitu menyindirnya.


"Kita pulang!" Tuan Adijaya sudah memutar kursi rodanya. Nyonya Tamara langsung menyusul suaminya tersebut.


.


.


.


Beberapa hari kemudian...


Cafe milik Vada hari ini sagat ramai, membuat dirinya sangat kewalahan membagi waktu antara cafe dan juga Kyara yang ikut dengannya ke cafe karena pengasuh putrinya tersebut berhenti bekerja seminggu yang lalu dan ia belum mendapat penggantinya.


Mau tidak mau, Vada selalu mengajak Kyara turut bersamany kemanapun ia pergi, termasuk saat bekerja. Beruntung, itu adalah cafenya sendiri, sehingga ia bebas membawa sang putri.


Tapi, karena terlalu ramainya cafe hari ini, membuat Vada sangay sibuk, hingga ia mengabaikak keberadaan Kyara yang sejak tadi sudah protes karena ia terus di kurung di ruang kerja Vada bersama boneka amirugumi kesayanganya.


Vada tak membiarkan Kyara keluar karena ia tak bisa mengawasi putrinya setiap waktu karena kesibukannya.


Untung saja, saat jam makan siang, Ndra datang ke cafe. Saat pria itu mendekati bada di meja kasir dan menanyakan keberadaan Kyara, rupanya gadis cilik itu mendengarnya. Ia langsung mengintip dari celah pintu. Setelah memastikan perkiraannya benar, ia langsung membuka lebar pintu tersebut, "Om papa!" teriak Kyara sembari berlari keluar.


"Hai anak gadisku, om papa kangen. Udah berapa hari nggak ketemu Kya," Andra lanhsung menggendong Kyara, "Uh, anak papa makin ndut ya, nggak ketemu berapa hari udah makin gemesin nih pipi!" Andra mencubit pekan pipi Kyara.


"No gemyes, cantik!" Protes Kyara.


"Oke, Kyara yang cuantik! Makan siang bareng om papa, mau?" tanya Andra.


"Mahu!" Kyara langsung mengangguk.


"Mau makan apa?" tanya Vada.


"Seperti biasaya aja, Sa," sahut Andra. Andra membawa Kyara untuk duduk.


Andra terus mengajak Kyara bicara sembari menunggu pesanan datang. Hadis cilik itu mengadu jika sejak pagi tadi ia tidak di perbolehkan keluar oleh ibunya.


"Kya bosyan, ompapa. Mama bilang no kelual, banak olang acing. Kya uga pusying liat olang banak-banak kelual masyuk, mata Kya oleng," celoteh Kyara yang mana membuat Andra terkekeh saat Kyara memperagakan matanya yang oleng katanya.


"Kya bisan ya, mau ikut ompapa?" tanya Andra.


"Tidak Ndra, nanti dia ngerepotin. Bukannya nanti kamu mau ketemu orang penting?" bukan Kyara yang menjawab tapi Vada yang baru saja datang dengan nampan berisi pesanan Andra.


"Nggak akan repot, Sabrina. Aku bisa membawa Kya bersamaku. Ini hnya sebuah pertemuan untuk memulai membahas proyek kerja sama yang akan kami lakukan. Belum tentu proyek ini akan Deal," ucap Andra kekeh. Ia memang lebih sering memanggil Vada dengan Sabrina, karena di sana orang-orang juga memanggilnya demikian.


"Justru itu, Ndra. Bukankah proyek ini penting buat kamu. Apa kata klien kamu kalau pertama bertemu saja kau udh nggak profesional , bawa anak. Biarkan Kya di sini saja, aku bisa menjaganya," ucap Vada.


"Lihat cindy, dia sangat kewalahan. Dan kamu harusn membantunya. Udah, biar Kya ikut aku..."


"Tapi, Ndra...."


"Ssst, udah sana. Kya aman bersamaku. Kya, habis nemenin ompapa makan, kita jalan-jalan, mau?" Andra beralih menatap Kyara yang sedang memainkan bonekanya.


"Mama boleh?" Kyara menatap Vada, meminta ijin kepada ibunya tersebut.


"Tapi harus janji, Kya harus ajdi anak baik. Nggak boleh nakal, nurut sama om papa,"


"Danji!" Kya tamoak senng, ia mengangkat jari kelingkingnya kepada Vada. Vada membalas dengan menautkan jari kelingkingnya di jari mungil putrinya.


"Ayo om papa, makan banak-banak. Bial kuat gendong Kya!" ucap Kyara semangat.


"Baiklah, anak manis. Ompapa habiskn dulu, ya. Kya mau?"


Kyara menggeleng, "Macih, kenang. Udah mik syusyu," gadis itu terus bicara, Vada yang melihatnya seraua berkerja hanya bis menggelengkan kepalanya. Setidaknya hanya keceriaan dan senyumnya itu yang di warisi oleh sang putri darinya.


Selebihnya, yang ada pada Kyara mirip dengan penyumbang bibitnya. Terutama wajahnya, sama sekali tidak meninggalkan Elvan.