Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 132


Deg!


Vada merasa tenggorokannya tercekat, bagaimana pria di depannya bisa seyakin itu, "Abang jangan ngaco! Bagimana mungkin Kyara anak abang," ucapnya mengelak.


"Lihat aku, Vada!" Elvan menarik dagu Vada supaya menatapnya. Dan mata itu sudah berkaca-kaca.


"Jangan mengelak lagi kalau Kyara adalah anakku. Darah dagingku. Ini buktinya! Tes DNA ini yang membuktikan kalau Kyara adalah anakku," Elvan menunjukkan kertas yang menunjukkan hasil tes DNA antara dirinya dengan Kyara.


Vada mengambil kertas itu dari tangan Elvan. Setelah membacanya, Vada berusaha mengatur napas dan memejamkan matanya sejenak.


" Tentu saja DNA kalian cocok. Karena darah yang mengalir pada Kyara, Abang, dan aku sama. Ada darah tuan Adijaya, ayah abang. Itu tidak bisa membuktikan kalau Kyara anak abang. Karena... Karena aku dan Abang kakak adik," Vada masih mengelak. Ia takut sekali jika Elvan tahu, ia akan mengambil Kyara darinya.


Elvan tersenyum tipis mendengarnya," Sepertinya ada satu hal yang harus aku luruskan di sini. Yaitu, tidak ada darah papa yang mengalir di tubuhku, Vada," ucapnya.


Vada masih belum konek dengan maksud ucapan Elvan barusan,. Mungkin karena pikirannya terlau kalut. Elvan mengernyit, menunggu reaksi wanita di depannya tersebut yang terlihat masih sama.


" Katakan yang sebenarnya, kalau Kyara memang anakku, Vada. Aku ingin mendengarnya dari mulutmu," desak Elvan.


"Memangnya kenapa kalau Kyara anak abang? Apa itu akan merubah sesuatu? Apa abang akan mengambilnya dariku?" mata Vada semakin berkaca-kaca. Menyembunyikan status Kyara terus menerus juga tidak akan berhasil melawan pria yang menatapnya sendu tersebut.


"Vada, aku..." entahlah, melihat Vada menangis, malah membuat Hati Elvan teriris. Bagaimana bisa Vada memiliki pikiran seperti itu.


"Benar, Kyara memang anakmu. Anak yang tak seharusnya lahir ke dunia karena pernikahan yang juga tak seharusnya!" ucap Vada frustrasi.


"Vada!" Elvan tak terima dengan ucapan Vada barusan. Sepertinya memang penjelasannya soal tak ada darah tuan Adijaya yang mengalir padanya tadi hanya lewat saja di telinga kanan keluar telinga kiri tanpa di cerna oleh otaknya.


Vada menatapnya penuh dengan perasaan kalut, sedih, kecewa, takut menjadi satu.


"Kenapa? Memang benar, kan? Aku nggak tahu takdir apa yang bisa membawamu kesini dan menemukan kami. Tapi, jika itu untuk mengmbil Kyara dariku, aku tidak akan menerimanya! Abang tahu, bagaimana takutnya aku dulu saat mengandung Kyara? Takut kalau anak itu akan lahir tidak sempurna karena harus hadir akibat kesalahpahaman diantara kita yang sedarah...." Vada sedikit menjeda kalimatnya demi bertukar udara karena dadanya begitu sesak jika mengingat perjuangannya yang hanya seorang diri.


"Aku sangat bersyukur karena ketakutanku tidak terjadi, Kyara lahir begitu sempurna dan juga tumbuh dengan cerdas. Aku... Aku berusaha sekuat yang aku bisa untuk memberikan kehidupan yang baik untuk dia meskipun aku harus bekerja keras siang dan malam. Meski pun abang punya segalanya untuk menjamin kehidupan Kyara, tapi... Tapi aku akan berusaha lebih supaya Kyara memiliki masa depan yang bagus jika tetap bersamaku. Aku mohon, abang jangan ambil Kyara dariku... " tangis Vada pecah. Pipinya sudah banjir oleh cairan bening yang mengalir dari kedua matanya.


Elvan langsung menarik Vada dalam dekapannya," Maafkan aku,,, tidak akan ada yang mengambil Kyara darimu, sayang," Elvan mencium puncak kepala Vada Berkali-kali. Wanita itu masih larut dalam ketakutannya. Karena memang Kyara adalah kehidupannya.


"Tolong abang lepaskan kami, aku janji akan merawat Kyara dengan baik. Aku akan berusaha lebih keras lagi," kata Vada lirih.


"Iya, aku percaya kalau kamu selalu melakukan yang terbik untuk putri Kita,"ucap Elvan.


" Kalau begitu, abang bisa merelakan Kyara tetap bersamaku, kan? Abang bisa memiliki Kyara yang lain dari wanita lain, Kyara adalah satu-satunya yang aku punya di dunia ini, aku... "


Elvan melepas dekapannya, ia memegangi kedua lengan Vada.


"Kau yakin mengijinkan aku membuat Kyara-Kyara yang lain dengan wanita lain?" tanya Elvan lembut seraya menaikkan satu alisnya.


"Siapa bilang nggak mungkin? Sayangnya abang ingin membuat Kyara-kyara yang lain bahkan dalam versi cowoknya hanya denganmu. Bukan wanita lain, karena abang tak yakin hasilnya akan sebagus Kyara. Bukan hanya kamu yang akan mengurus Kyara, tapi kita berdua. Bersama-sama. Apa kau tidak mencintai Abang?" tanya Elvan.


Vada langsung mendongak, menatap wajah pria yang kini sedang tersenyum hangat keadanya tersebut, "Abang...." Vada menggelengkan kepalanya.


"Tapi abang mencintai kamu, sangat! Dan waktu tiga tahun, eh tidak... Hampir empat tahun ini sudah cukup menghukum abang. Abang nggak sanggup lagi, Vada istriku," Elvan menyelipkan rambut Vada ke belakang telinganya.


Vada mendorong dada Elvan, "Abang jangan begini. Kita tidak seharusnya membicarakan cinta, sementara kita adalah saudara! Itu artinya pernikahan kita tidak sah aku bukan istri abang!"


"Sepertinya otakmu memang sedang tidak bekerja dengan baik, bukankah tadi sudah aku katakan kalau kita..." belum juga Ekvan selesai bicara, Vada sudah mendiring tubuh pria itu hingga terpaksa harus berjalan mundur ke arah pintu.


"Aku nggak mau dengar apa-apa lagi, atau abang memang sengaja ingin menyakitiku lagi. Sudah cukup penderitaan Yang aku alami selama ini. Kali ini cukup! Biarkan aku hidup tenang bersama Kyara!" ujar Vada sambil terus mendorong tubuh Elvan.


Mereka melewati Kyara yang untungnya tertidur di depan tv, sehingga tak harus menyaksikan perdebatan kedua orang tuanya.


" Vada, dengarkan abang... "


" Apalagi yang perlu aku dengar? Lagian , bukankah dulu abang sendiri yang bilang kalau abang tidak ingin punya anak. Jadi lupakan saja soal Kyara," Vada membuka pintu dan mendorong Elvan untuk melewatinya.


"Vada Laras Sabrina! Dengarkan abang dulu!" sentak Elvan saat sudah melewati pintu, ia kehilangan kesabarannya. Ia berusaha menahan pintu agar Vada tidak menutupnya.


"Pernikahan kita Sah! Kita tidak memiliki ikatan darah sama sekali. Jadi kita bukan saudara seayah!" seru Elvan.


Vada tercengang mendengarnya. Ia terdiam. Apa itu artinya dia bukanlah anak tuan Adijaya.


Elvan mendengus karena reaksi Vada yang tak langsung memeluknya seperti bayangannya selama ini. Ia yang mengambil inisiatif itu. Di tariknya Vada ke dalam pelukannya.


"Abang jangan bercanda, bagaimana bisa kita...," Vada masih ragu antara ingin membalas pelukan Elvan atau tidak. Tangannya masih menggantung di udara. 2


"Kenapa kau masih mempertanyakannya? Apa itu perlu? Kau tidak percaya denganku? Aku bahkan hampir gila karena hal itu, Vada," Elvan mendekap erat tubuh Vada.


"Tapi... Apa aku bukan anak tuan Adijaya?" tanya Vada.


"Bukan kamu, tapi aku..." Jawab Elvan.


Terkejut, Vada sampai mendorong tubuh Elvan supaya melepas pelukannya.


"Jangan berontak lagi. Aku tidak akan melapskanmu," Elvan justru semakin mengeratkan pelukannya.


"Tapi, bang... Bagaimana bisa abang bukan anak tuan Adijaya?" bukannya senang, Vada justru prihatin.


"SSsssttt, bisa tidak untuk tidak banyak bicara atau bertanya?" kata Elvan.