
Untuk beberapa saat lamanya, pandangan keduanya terkunci satu sama lain. Memastikan ini bukanlah mimpi di siang bolong.
"Ab-abang?" gumam Vada tercekat.
Sementara Elvan, setelah hampir empat tahun lamanya, detik ini juga ia baru bisa menghela napas leganya,"Akhirnya..." batinnya lega.
"Astaga! Nona..." Rio pun tak kalah terkejutnya melihat Vada di saja. Namun, tentu saja keterkejutannya tidak berpengaruh apapun terhadap dua pasang mata yang kini masih beradu, tak berkedip seolah jika berkedip, pemandangan indah di depannya akan sirna.
Kyara yang mendengar suara gelas pecah di luar merasa penasaran. Ia bangun dari rebahannya dn meletakkan botol susunya di meja lalu mengintip keluar.
Melihat siapa yang datang, Kyara langsung tersenyum lebar, "Uncle hancem..." gumamnya.
Tak menunggu lagi, Kyara langsung membuka lebar pintu dan berari ke arah Elvan, "Uncle hancem!" teriaknya sembari berlari.
Teriakan Kyara membuayarkan lamunan Elvan dan Vada. Vada menoleh, "Kya awas, jangn lari banyak...." terlambat, tinggal selangkah lagi kaki Kyara menginjak pecahan gelas.
Namun, sebelum itu terjadi, Elvan dengan sigap berjalan melewati Vada dan langsung meraih tubuh mungil Kyara ke dalam gendongannya. Membuat Vada menghela napas lega.
Elvan mendudukkan Kyara di kursi yang kosong. Sementara Rio memilih duduk di meja lain yang kebetulan baru saja di tinggalkan oleh pelanggan yang sudah selesai dengan urusan mereka di sana. Entah sekedar nongkrong sambil ngopi atau yang lainnya.
Ia ingin memberikan ruang dan waktu untuk tuan mudanya melepas rindu yang selama ini terpendam.
Vada meminta maaf ke pengunjung lain atas ketidak nyamanan yang ciptakan barusan. Elvan memeperhatikan wanita itu yang kini semakin terlihat cantik dan dewasa.
Vada menyuruh Cindy untuk membersihkan pecahan-pecahan gelas dan piring yang berserakan di lantai bahkan ada yang menyebar hingga ke sudut ruangan. Ia langsung menghampiri Kyara.
"Sayang, are you oke?" Vada duduk di samping Kyara dan meneliti seluruh tubuh anaknya tersebut untuk memastikan jika sang putri baik-baik saja. Vada benar-benar khawatir Kyara terluka.
"Yes, mama! I'm okey!" jawab Kyara.
Vada langsung memeluk Kyara,"Maafin mama, tadi mama hampir membuat Kya terluka," ucap Vada, ia terus menghujani puncak kepala Kyara dengan kecupan. Jika sampai Kya terluka karena pecahan beling yang ia ciptakan, pastilah Vada akan terus merutuki dirinya sendiri. Ia bahkan sampai lupa dengan penyebab tangannya tremor hingga nampan di tangannya jatuh tadi.
Apa yang di lakukan Vada terhadap Kyara tak luput dari perhatian Elvan yang juga duduk di sana, namun seolah tak terlihat oleh Vada yang masih sibuk memeriksa Kyara untuk memastikan jika anak itu baik-baik saja.
Akhirnya! Itulah yang terus saja Elvan katakan dalam hati. Akhirnya ia menemukan wanita yang sangat ia cintai tersebut. Bahkan rasa cintanya tak pernah berkurang sedikitpun meski lama tak bertemu. Justru rasa itu kian membuncah seiring menumpuknya rindu yang semakin tak terbendung.
Tak hanya semakin dewasa dan cantik, namun Vada kini semakin keibuan. Terlihat jelas dari bagaimana wanita itu memperlakukan putri kecilnya.
"Bagaimana kabarmu? Kau pergi sejauh ini..." pada akhirnya Elvan tak tahan lagi untuk tetap diam dengan menyimpan sejuta pertanyaan di benaknya. Setidaknya ada satu dua kata yang ia keluarkan demi sedikit mengurangi rasa sesak di dadanya.
"Ke-kenapa abang bisa di sini?" tubuh Vada kembali lemas, matanya memanas menahan air matanya. Pria yang ia rindukan ada di depan mata, tapi ia tak berani memeluknya. Ia sadar, hubungan mereka sudah berakhir, bahkan pernikahan mereka di katakan tidak sah karena mereka saudara. Sampai saat ini masih seperti itulah pemahaman Vada soal status mereka, yaitu saudara seayah.
"Aku nggak nyangka, kamu akan pergi sejauh ini... Aku...." entahlah, banyak sekali yang ingin Elvan katakan, namun tercekat di tenggorokannya. Untuk saat ini ia sebenarnya tak ingin mengatakan apapun selain mendekap Vada dengan erat.
Namun, ada satu hal yang membuat Elvan membatasi diri, yaitu Kyara. Jika Kyara adalah anak Vada, itu artinya Vada adalah isteri dari kliennya, Andra. Mengingat kenyataan itu, membuat hati Elvan begitu tersayat.
"Mama, kenapa nanis? Kya ndakpapa, Kya tidak teluka, uncle hancem syelamatin Kya, jadi Kya tidak injak beling, mama jangan nangis," tanya Kyara dengan polosnya saat Vada tak mampu membendung air matanya. Pun dengan Elvan yang matanya sudah memerah. Wanita yang selama ini cari ada di depan mata, namun seperti ada tembok tebal yang menghalangi.
" uncle hancem, makacih, udah tolong Kya,"
Elvan hanya bisa tersenyum tipis kepada Kyara. Ia tak menyangka Vada kini sudah menjadi ibu. Dan anaknya adalah Kyara, pantas saja sifatnya sangat mirip.
Baik Elvan maupun Vada belum bisa berkata-kata banyak, mereka masih tenggelam dalam keterkejutan mereka masing-masing.
"Mamaaa, ini uncle hancem yang Kya celitain kemalin. Milip kan syama Kya? Apa dia papa Kya?" tanya Kyara berbisik di telinga Vada. Anak itu cukup pintar untuk tidak menanyakan secara terang-terangan kepada Elvan karena ada rasa malu dalam dirinya. Meski menyukai Elvan, tapi namanya sifat anak-anak, terkadang tiba-tiba merasa malu.
"Mama kok diam? Kya tanya, mamaaa..." Kyara mulai merengek.
Sebelum semakin rumit jika Elvan tahu Kyara adalah anaknya, Vada memilih membawa Kyara pergi dari sana. Ia membopong Kyara lalu berdiri, "Maaf mengganggu kenyamanan abang, biar nanti Cindy yang melayani abang, aku harus bawa Kya masuk, permisi!" pamit Vada.
Elvan tak membiarkan Vada pergi begitu saja, ia bangkit dan menyusul langkah Vada yang menggendong Kyara.
"Kya ndak mau masyuk, mamaaa... Kya mau main syam uncle hancem, tulunin Kya!" rengek Kyara.
"Uncle-nya mau makan, Kya nggak boleh ganggu, sayang. Kya masuk ya?"
Pada akhirnya Kyara manut, ia merosot dari gendongan Vada dan masuk terlebih dahulu dengan berlari. Ia ingat jika susunya masih belum habis di dalam.
Vada yang akan melangkah masuk ke dalam ruangannya, tangannya langsung di cekal oleh Elvan. Vada menoleh, "Abang?"
Tanpa bicara lagi, Elvan langsung menarik Vada ke dalam pelukannya. Ia tak peduli jika memang Vada sudah menikah lagi bahkan memiliki anak dari pria itu. Ia tak bisa lagi membendung rasa rindunya selama ini.
Vada hendak memberontak namun elvan segera menahannya. Ia justru semakin mengeratkan pelukannya,"Jangan menolak, biarkan seperti ini... sebentar saja," pintanya dengan suara parau.
Akhirnya Vada membiarkan pria itu memeluknya. Tangannya menggantung di udara, gamang antara ingin membalas pelukan itu atau tidak. Pada akhirnya, Vada membiarkan tangannya tetap menggantung. Ia tak ingin larut dalam ketidakmungkinan ini.
Setidaknya, Vada merasakan pelukan hangat Elvan setelah sekian tahun tak ia dapatkan namun tak juga ia lupakan rasanya. Hanya kenangan-kenangan merekalah yang selalu menemani hari-harinya tanpa berani berharap untuk mengulang lagi. Air matanya menetes, mewakili perasaannya.