Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 139


Sementara itu...


Mobil yang di kemudikan oleh Elvan melaju menuju ke sebua hotel yang menjadi tempat tinggalnya selama di sana.


Karena tidak berencana lama di sana dan akan memboyong anak dan isterinya kembali ke Jakarta, Elvan mengurungkan niat yang sempat terbesit untuk membeli sebuah rumah mewah untuk Vada.


Mereka masuk ke dalam lift dan menuju lanyi paling atas bangunan tinghi menjulang tersebut. Tak butuh waktu lama mereka sampai di depan sebuh penthouse.


Selama mereka masih di sana, Elvan akan mengajak Vada tinggal di hotel tersebut.


"Kok ke sini, bang?" tanya Vada bingung.


"Sementara mengurus kepindahan kau sama Kya, kita tinggal di sini, ya?" ucap Elvan. Ia membuka pintu dan mengajak Vada masuk. Tempat itu jauh lebih besar dari apartemen milik Vada yang hanya berupa studio saja.


"Ya, tapi kenapa Kyara nghak di ajak sekalian tadi?" Vada mulai curiga.


"Kita butuh me time berdua, sayang," Elvan langsung memeluk Vada dari belakang dan menjatuhkan dagunya di bahu wanita itu.


Vada hanya bisa diam membisu ketika Elvan mulai mencum.bu lehernya. Ia kini tahu maksud pria itu menyuruh Rio membawa Kyara pergi.


"Aku sangat merindukanmu, sayang," lirih Elvan di telinga Vada. Suaranya sudah berubah serak.


Vada memutar badannya hingga kini mereka berhadapan. Di sentuhnya wajah Elvan, mata pria itu sudah berubah sayu, di kuasai oleh semua rasa yang selama ini harus terpendam.


Elvan menyentuh tangan Vada yang menempel di pipinya lalu menariknya ke bibir. Di kecupnya telapak tangan milik Vada yang ia yakini meski berpisah sekian tahun, tangan itu pasti menampung doa yang selalu menyebut namanya.


"Maafkan aku yang sudah berkali-kali menyakitimu, maaf," ucap Elvan penub penyesalan sembari terus mengecup tangan Vada.


"Aku tahu, terlalu serakah jika menginginkan untuk kembali memintamu memaafkan kesalahanku dan memintamu untuk tetap berada di sisiku. Tapi, itulah cintaku, aku ingin egois sekali lagi untuk memilikimu," ucap Elvan.


Mata Vada sudah berkaca-kaca, jika ingat kilatan masa lalunya yang diawali oleh kesalahpahaman Elvan terhadap dirinya, ingin rasanya ia membenci pria itu. Tapi, semakin ia memupuk rasa benci tersebut, justru yang tumbuh semakin subur adalah rasa cinta. Terbukti dari keinginan kuatnya waktu itu untuk memiliki Kyara meski tanpa persetujuan Elvan.


Dan karena salah paham pulalah yang membuatnya terpaksa ergi dari pria itu. Jika di tanya sekarang, apakah dia marah dan kecewa? Jawabannya adalah iya. Tapi, waktu bertahun-tahun telah cukup menyiksa batinnya. Tak ingin menambah luka lagi, Vada memilih memaafkan karena memang dirinya masih cinta.


Bukan Elvan yang memulai, tapi Vada. Wanita itu menangkup wajah Elvan dan menariknya, ia sedikit berjinjit dan menyambut bibir pria yang sangat ia rindukan tersebut.


Elvan tak menyia-nyiakan kesempatan. Apalagi dirinya sampai harus mengamankan Kyara, padahal ia sendiri tak yakin jika Rio bisa menjadi baby sitter dadakan yang baik.


Elvan menarik tengkuk Vada supaya ciuman mereka semakin dalam.


Elvan melapas pagutannyaa, kening mereka menempel satu sama lain dengan napas yang bersahutan karena gelora yang tengh menguasai.


Tanpa ijin pemilik tubuh, Elvan menggendong tubih Vada ala brudal style dan membawanya ke kamar. Ia menidurkan tubuh wanitanya tersebut dengan lembut.


Vada hanya bisa pasrah ketika Elvan menindihnya. Mata pria itu sudah merah menahan gejolak. Kembali Elvan meneguk manisnya bibir milik Vada.


Jujur, sekian tahun tak di sentuh, membuat Vada benar-benar merasa campur aduk, antara rindu sentuhan suaminya, malu dn juga deg-degan yang luar biasa. Tubuhnya tak berhenti Meremang padahal Elvan baru menciumnya, belum. Melakukan hal lebih yang paling ia rindukan.


Tangan Vada mencengkeram lengan Elvan ketika pria itu mulai bermin di lehernya. Membuat Elvan menghentikan aktivitasnya di sana lau menatap netra Vada penuh damba. Ia mencium kening Vada, lalu kedua pipinya dan sekilas di bibir. Ia melakukannya dengan lembut lalu kembali menatap wanita di bawah kungkungannya tersebut. Meminta persetujuan untuk melakukan lebih.


Vada mengerjapkan matanya sembari mengangguk, mengijikan Elvan untuk melakukannya.


Mata Vada terpejam saat merasakan bibir Elvan kembali menyusuri leher jenjangnya, tangan pria itu berusaha melepas satu persatu kancing baju yang Vada kenakan. Bibir dan tangannya kini berpindah ke dada milik Vada.


Mengikuti naluri, tak hanya Elvan yang bekerja, namun juga Vada. Masa bidoh dengan rasa malunya lagi, tangannya mukai berani menyentuh sesuatu milik Elvan yang masih berada di dalam sarangnya tersebut. Membuat Elvan juga semakin tersengal napasnya menahan gejolak.


Hingga pada akhirnya mereka sama-sama polos dan siap melakukan tugas utama. Namun, sialnya sebelum menunaikn tugas tersebut, ponsel Elvan yang berdering sejak tadi mengganggu konsentrasinya. Berhasil mengabaikannya beberapa saat hingga mereka sampai ada titik siap melakukan penyatuan, dan ingin mengabaikannya lagi kerena mereka baru akan ke menu utama.


"Angkat saja dulu, bang. Siapa tahu penting. Takutnya Kya kenapa-kenapa sama pak RIO," ucap Vada.


Elvan yang sudah berada di antara kedua kakinya mendengus dan mengambil ponselnya di atas nakas tanpa beranjak dari posisisnya


"Ck, dasar pak Tua. Awas saja kalau tidak penting," gumamnya kesal.


Tak ingin menyandang predikat anak durhaka lagi, eh menantu durhaka maksudnya, Elvan memilih mengangkatnya.


"Halo, pa," ucapnya.


"Jangan macam-macam dulu sebelum. Kalian akad kembali! kata Rio kamu lagi 'meeting penting' dengan Laras?"


"Kenapa memang?" tanya Elvan. Ia tahu, pasti yang di maksud sang ayah yang kini jadi mertuanya meeting penting adalah yang dilakukannya sekarang.


"Kalian berpisah sudah hampir empat tahun, kamu sudah menelantarkan istrimu tanpa memberi nafkah lahir dan batin selama itu. Jadi supaya sah kalian harus menikah lagi!" jelas tuan Adijaya.


"Iya, ini baru mau di kasih nafkah batin," jawab Elvan.


"Nggak gitu konsepnya BAMBANG! harus akad lahi, titik! Kalau enggak papa nggak restuin kalian! Mana Laras,?


"Ini di bawahku," jawab Elvan.


"Astaga ini anak, papa mau bicara sama dia!"


Elvan menatap wajah Vada yang terlihat bingung, "Papa mau bicara sama kamu,"


Vada menerima ponsel itu dan mendengarkan tuan Adijaya bicara. Ia hnya mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan ayah kandungnya tersebut.


"Abang nggak boleh, abang harus nikahin aku lagi baru boleh," ucap Vada setelah panggilan berakhir.


Elvan langsung menunduk, menatap lesu sesuatu miliknya yang sudah berdiri tegas seperti tugu monas tersebut,"Nanggung banget?" gumamnya miris.


"Kita kembali Ke Jakarta secepatnya, dan abang akan mengesahkan kamu sebagi sitri lagi," Elvan terpaksa menyingkir dari tempatnya.


"Abang akan menyelesaikannya di kamar mandi saja, kamu pakaialah bajumu dulu," ucap Elvan dengan raut kecewa.


Vada hanua bisa meringis dan menahan malu, karena tadi untuk pertama kali mendengar suara ayahnya justru malah membahas soal begituan. Memang sih, tuan Adijaya tidak melihat apa yang terjadi, tapi ia merasa malu sendiri karena hamoir lupa diri karena terbawa suasana.


Setelah Elvan menyelesaikan kenangggunhannya di kamar mandi dan membersihkan diri, gantian Vada yang membersihkan diri.


Kini mereka hanya bisa duduk bersebelahan di tepi ranjang dengan saling melirik satu sama lain. Tadi itu benar-benar nanggung untuk keduanya. Serasa ada yng hilang karena tidak sampai tuntas.


"Kalau cuma gini, boleh kan?" Elvan mendekati Vada lalu memeluk pinggang wanita itu.


Belum Vada menjawab, bel berbunyi dan mereka berdua memutuskan untuk keluar membuka pintu.


"Huaaaaaa, daddy.... Mamaaa. Uncle Lio nakal syama Kya. Kya di katain guk guk...ndak sopan! Huwaaa!" Kyara langsung mengadu kepada ayah dan ibunya.