Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 107


Vada membuka pintu kamar kosnya setelah mengambil kunci di bu Sukma yang sedang berada di toko.


Kamar berukuran tiga kali empat itu cukup banyak menyimpan kenangan Vada, dimana dulu ia dan Mirza sering mengahbiskan waktu bersama di sana, meski hanya sekwdar ngobrol dan makan. Karena Mirza tidak pernah datang dengan tangan kosong. Pasti membawa makanan. Kalaupun tidak, pasti karena pria itu ingin mengajaknya makan di luar.


Vada membuka lemari, di sana masih ada bajunya yang memang jumlahnya hanya beberapa saja. Meski sudah tidak di pakai lagi, tapi ia harus tetap membawanya supaya tidak meninggalkan benda yang bisa saja menganggu penghuni kos yang baru.


Setelah mengemas bajunya, ia membuka laci nakas. Vada tersenyum melihat sebuah kalung yang masih berada di sana, "Untung nggak hilang," gumamnya.


Vada mengambil sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati tersebut . Ia membuka liontin kalung di tangannya tersebut. Disentuhnya dua buah photo berukuran sangat kecil sesuai bentuk liontin tersebut. Dimana terlihat photo seorang pria dan wanita, juga anak perempuan kecil di antara keduanya. Dalam photo tersebut, terlihat sekali kebahagiaan kedua orang dewasa yang Vada yakini mereka sebagai kedua orang tuanya. Pasalnya, kalung tersebut adalah benda satu-satunya yang melekat pada tubuhnya saat Bunda, pemilik panti menemukannya berdiri sendiri di depan pintu panti asuhan kala itu.


Sempat terbesit pertanyaan dalam diri Vada kenapa orang tuanya tega menitipkannya di panti asuhan dan kenapa mereka tidak datang menjemputnya. Bunda pun tidak pernah tahu siapa orang tuanya karena beliau menemukan Vada berdiri sendiri dalam keadaan basah kuyup dan menggigil sambil terus menangis. Sejak usianya lima tahun, ia sudah berada di panti asuhan hingga ia memutuskan untuk mandiri dan tinggal sendiri, namun tak oernah sekalipun orang tuanya datang menemuinya.


"Aku hanya ingin tahu, apa kalian masih hidup, itu saja. Jika kalian tidak menginginkan kehadiranku, tidak masalah, tapi aku hanya ingin tahu kabar kalian, dan ingin memberitahu kalau aku juga bisa bahagia tanpa kalian," tanpa terasa air matanya jatuh membasahi kedua pipinya.


Jika melihat photo tersehut, memang ia sering menjadi melow dan lemah dan itu sangay ia benci, sehingga ia lebih memilih menyimpannya daripada memakainya selama ini. Setidaknya itulah harta berharga satu-satunya peninggalan kedua orang tuanya.


Vada menutup kembali liontin tersebut lalu memasukkannya ke dalam tas.


🌼 🌼 🌼


Dari kos-kosan, Vada mampir ke sebuah mall yang letaknya tak jauh dari kos-kosan karena ia ingin membeli buah untuk membuat rujak yang baru ia bayangkan saja sudah membuat air liurnya hampir menetes.


"Bestie!" entah darimana suara cempreng itu berasal, tapi sepertinya vada tidak asing dengan suar itu.


Dan benar saja, terlihat Helena sedang berlari ke arahnya yang baru saja masuk ke dalam Mall.


"Helen?" Vada mengernyit, pasalnya gadis remaja itu tidak sendiri, melainkan bersama Mirza yang berjalan menyusul ke arahnya dengan langkah santai dan cool. Ia membawa es krim di kedua tangannya yang mungkin baru saja ia beli untuk Helena. Jika dulu mungkin Vada akan melehoy melihat pemandangan keren tersebut. Tapi, sekarang sudah berbeda, ia tampak biasa saja melihat pesona Mirza.


Tapi tunggu, melihat Mirza kenapa Vada tiba-tiba ingin sekali perutnya di elus pria itu. Astaga, Vada langsung mengusir pikiran absurdnya tersebut.


Helena langsung saja menubruk tubuh Vada, hingga tubuh Vada terhuyung hampir saja jatuh, "Ya ampun kak, kangen banget tahu. Udah lama enggak ketemu, aku sering jajan di depan toko bunga, tapi kakak udah nggak kerja di sana lagi, katak oma Sukma. Pengin main ke rumah kakak, om Mirza nggak mau anterin..." cerocos Helena tanpa henti dan terus memeluk Vada.


Vada hanya bisa tersenyum saat Mirza sudah berada di depannya. Pria itu juga tersenyum.


" Helly, lepaskan pelukannya. Vada kesusahan bernapas," ucap Mirza. Dan Helena langsung melepaskannya.


" Hai, apa kabar?" tanya Mirza yang merasa sedikit canggung, pasti Vada berpikir yng bukan-bukan karena ia kedapatan jalan bersama Helena siang itu, pikirnya.


"Kabar baik, mas Mirza sendiri apa kabar?" sahut Vada


"Alhamdulilah aku juga baik, kamu sendirian aja?" tanya Mirza yang tak melihat orang lain bersama Vada.


"Suami kakak lagi sibuk, ini juga cuma jalan-jalan santai aja daripada nggak ada kegiatan," jawab Vada, yang hanya di timpali kata 'oh' oleh Helena.


"Ini!" Mirza mengulurkan eskrim yang sejak tadi ia pegang kepada Helena.


"Makasih, om!" seru Helena.


Melihat di tangan kiri mirza masih ada satu lagi ea krim, entah kenapa Vada ingin sekali memintanya. Padahal ia bisa beli sendiri, tapi rasanya ia ingin makan yang di tangan Mirza tersebut.


"Mau? Ini buat kamu!" seolah tahu jika Vada memerhatikan eskrim di tangannya, Mirza memberikannya untuk Vada.


"Enggak, makasih. Buat mas mirza saja," tolak Vada basa basi, padahal dalam hati mau banget.


"Ambilah! Ini nanti palingan Helly yang habisisn, dia udah terlalu banyak makan es krim. Buat kamu aja!"


"Ambil aja kak, terus kita duduk di sana yuk sambil ngobrol santai dan makan es krim," ucap Helena.


"Bailah kalau mas mirza nggak mau, makasih," ucap Vada tersenyum. Lalu mereka bertiga duduk di sebuah bangku panjang yang ada di mall tersebut.


Sudah di pastikan jika Helena terus saja berceloteh sambil memakan ea krimnya hingga mulutnya belepotan. Dengan sigap, Mirza mengusapnya dengan tisu. Hal itu tak luput dari pengamatan Vada.


"Aku mau cuci tangan dulu sebentar ya, kak?" ucap Helena yang langsung pergi meninggalkan Vada dan Mirza.


"Aku nggak nyangka, mas mirza semakin dekat sama Helen. Aku ikut bahagia," ucap Vada tulus.


"Mamaku sama mamanya ternyata sahabat. Kmubtahu sendiri kan, dia masih anak-anak. Jadi, Aku udah anggap dia kayak adik aku sendiri," ucap Mirza ia menatap lekat wanita yang duduk di sampingnya tersebut. Betapa sebenarnya ia masih menyimpan rasa untuk wanita tersebut. Masih ada cinta untuk Vada yang entah kapan bisa terganti. Vada hanya bisa tersenyum, ia bisa melihat jika ada yang beda dari tatapan matanya dan juga senyumnya ketika melihat Helena. Hanya saja, pria itu belum atau mungkin tidak berani menyadarinya karena seperti yang di katakan Mirza tadi, Helena masih kecil dan Mirza sadar umur.


"Nggak apa-apa sekarang di anggap adik,. Siapa tahu kan nanti kalaunaku udah glow up. Om berubh pikiran mau jadiin aku istri. Iya, kan kak?" Helena yang baru saja kembali langsung nyerobot duduk di tengah seperti tadi.


"Iya, jodoh nggak ada yang tahu," sahut Vada.


"Seperti kakak dan om ganteng kan?"


Vada mengangguk mengiyakan. Memang kita tak pernah tahu, takdir seperti apa yang menghadang kita di depan sana. Bahkan Vada tak tahu apa yang akan terjadi esok hari, bisa jadi sesuai keinginnnya, bisa pula tidak.


šŸ’•šŸ’•šŸ’•


...Mendekati plot twist ya....