THE LAST HOBBIT

THE LAST HOBBIT
40 - Pembuktian


Arslan mengusap pergelangan tangannya. Tali yang sebelumnya terikat dengan kuat padanya kini sudah dilepas. Dia menatap Helena Vennamous dan kesatria sihir yang berada di samping wanita cantik ini.


Dia tahu bahwa kesatria sihir yang merupakan pengikut Helena Vennamous tidak mungkin hanya satu orang ini saja. Pasti ada kesatria sihir yang lain, apalagi An pun tidak berada di tempat ini.


Helena Vennamous memperhatikan pemuda setinggi 1,3 meter di hadapannya yang mulai mengambil palu dan kembali menatap ke arahnya. Dia pun berujar dingin, "Kenapa? apa kau tidak bisa melakukannya?"


"Aku hanya membutuhkan sedikit ruang untuk bergerak," Arslan berkata tanpa nada. Dia pun mengambil batu serta kayu yang benar-benar adalah benda biasa dan diambil sembarangan.


Batu biasa di tangannya bukanlah batu bintang, benda itu tidak termasuk dalam bahan pembuatan pedang. Belum lagi dengan adanya potongan kayu biasa ini, siapa pun penempa pedangnya---pasti akan memprotes Helena Vennamous. Hanya saja, Arslan tidak mungkin melakukan hal seperti itu keran nyawanya-lah yang menjadi taruhan.


Helena Vennamous. "Jika kau tidak bisa melakukan seperti yang kau katakan, maka sebelum menghabisi nyawamu---kau lebih dulu akan melihat bagaimana aku membunuh temanmu."


Arslan menarik napas. Ekspresi wajahnya tidak berubah dan seolah ia tidak mendengarkan ucapan dari Helena Vennamous. Pemuda bertubuh pendek itu sedang berkonsentrasi keras dengan apa yang ia lakukan. Jujur saja, sudah lama dirinya tidak pernah memakai palu ini, termasuk menempa senjata.


Arslan memejamkan matanya sejenak. Dia. Membatin, "Aku hanya perlu membuktikan diri. Tidak berusaha mengubah benda ini menjadi senjata yang berkualitas, ini hanyalah tes biasa."


Arslan membuka matanya dan kemudian mulai mengembuskan napas. Ia pun mengangkat palu di tangannya dan kemudian mengucapkan sebuah mantra sihir.


"Deterfom Fascia..!"


?!


Suara keras saat palu itu membentur batu menciptakan percikan api yang tanpa diduga langsung membara. Helena Vennamous dan kesatria sihir yang bersamanya bahkan sampai mengambil langkah mundur karena tersentak.


Keduanya melihat api menyembur dan di sisi lain Arslan tetap berada di dekat api itu. Dia memasukkan potongan kayu ke dalam api dan suara keras bagai dua benda berbenturan kembali terdengar.


Helena Vennamous dan kesatria sihir yang bersamanya memperhatikan dengan saksama setiap tindakan Arslan. Hal yang tidak terduga adalah bahwa hanya dengan sekali pukul, api kemudian muncul dan masih begitu membara.


Helena Vennamous bukanlah seorang ahli yang mempunyai pengetahuan tentang tata cara menempa senjata, begitu pula dengan kesatria sihir yang bersamanya. Namun mereka jelas tahu bahwa apa yang dilakukan Arslan ini termasuk jenis keterampilan yang luar biasa.


Arslan membutuhkan lima kali tempaan sebelum kobaran api di depannya perlahan mengecil dan akhirnya menghilang. Helena Vennamous dan kesatria sihir yang ada bersamanya pun mengambil satu langkah lebih dekat, sebelum akhirnya tersentak kaget.


Setelah api padam, terlihatlah sebuah belati dengan corak bagaikan serat kayu. Benda itu tidak mempunyai pegangan, namun tampilan yang terlihat benar-benar sebuah seni.


Arslan berkata, "Kau memberikanku batu dan kayu biasa. Kedua benda ini bukan bahan pembuat senjata, jadi jika hasilnya kurang memuaskan---itu bukanlah salahku."


Helena Vennamous tersentak saat pemuda pendek ini menyodorkan belati padanya. Dia pun mengulurkan tangan dan kemudian mulai memegang belati tersebut. Helena Vennamous memperhatikan benda di tangannya dan tanpa sadar menahan napas.


Dia sebenarnya tidak mengharapkan ini akan berhasil dan sejujurnya Helena Vennamous meragukan kemampuan Arslan. Dia tidak pernah menyangka bahwa sosok ini bisa melakukan sesuatu yang begitu mustahil untuk diwujudkan.


"Bagaimana kau dapat melakukannya?!" Helena Vennamous buka suara. "Ini tidak mungkin.. Ba-bagaimana kau-"


"Bukankah pada awalnya Pedang Penakluk Naga adalah sebuah senjata yang juga diragukan?" Arslan menyela dan kembali membuat Helena Vennamous menatap ke arahnya.


Arslan melanjutkan, "Semua ras meragukan kemampuan pedang itu. Jika saja mereka mempercayai dan menerimanya, maka tidak akan banyak korban jiwa yang berjatuhan."


!!!


Kesatria sihir yang bersama Helena Vennamous terkejut. Dia menatap Arslan dan buka suara, "Siapa... Siapa kau sebenarnya?"


"Hmph," Arslan mendengus. "Mungkinkah... Apa yang kuperlihatkan pada kalian---masih belum membuktikan identitasku yang sebenarnya?"


"Atau mungkin..." Arslan dengan tenang berkata, "Kalian sudah tahu tetapi tidak mau mengakuinya?"


Helena Vennamous merasakan napasnya seolah tercekat di tenggorokan. Dia menelan ludah dan berusaha untuk tetap terlihat tenang, namun ekspresi wajahnya jelas tidak bisa membohongi perasaannya.


"Sebutkan namamu," Helena Vennamous akhirnya buka suara dan membuat pemuda bertubuh pendek di depannya menatap tajam ke arahnya.


"Arslan Galie. Dan Lunar Orchis berhutang seribu nyawa padaku."


!!!


******