
...'Dia melakukan perebutan paksa dan bahkan mengacaukan pelelangan. Lunar Orchis mengalami kerusakan dan Helena Vennamous telah menandai dirinya.'...
...*****...
Natur sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan Arslan, tetapi dia memiliki firasat buruk mengenai sesuatu yang hendak dilakukan oleh pemuda bertubuh pendek di sampingnya ini.
Sambil menelan ludah, Natur pun bersuara pelan dan berkata. "Arslan, apa pun yang akan kau lakukan. Kuharap kau sudah memikirkan semuanya dengan baik, termasuk risiko jika ini gagal."
Arslan tanpa nada berkata, "Saat berada di lembah dan menghadapi burung gagak berekor tikus waktu itu... Kau terlihat sangat semangat. Apa kau menyukai tantangan?"
"Kenapa kau menanyakan hal itu?" Natur heran dan membuat pemuda bertubuh pendek di sampingnya menoleh.
Arslan pun berkata, "Karena ini saatnya untuk menguji kecepatan terbangmu."
?!
Bersamaan dengan ucapan tersebut, Natur pun tersentak pada riuh orang-orang. Pandangan matanya lantas mengarah pada Helena Vennamous yang sedang melelang tiga barang terakhir malam ini.
Benda pertama adalah sebuah tombak cahaya yang merupakan senjata sihir tingkat tinggi dan berhasil terjual dengan harga 300.000 keping emas. Benda berikutnya merupakan sebuah jantung naga yang masih berdetak dan berhasil menarik perhatian semua orang.
Ada banyak yang memperebutkan benda ini seolah mereka tahu cara menggunakan sebuah jantung naga. Benda tersebut pun terjual dengan harga yang luar biasa fantastis sebab mencapai 150.000 kristal dengan level tinggi. Natur sampai terlihat sangat syok karena dalam waktu satu malam---Lunar Orchis telah menghasilkan kekayaan yang tidak terhitung jumlahnya.
Natur menoleh untuk melihat siapa sosok yang sudah membeli jantung naga itu. Dia pun menyaksikan tiga orang berdiri di seberang sana dan dengan jubah berwarna merah. Dia tidak tahu mereka karena ketiga orang itu menutupi wajah dengan tudung. Namun bila diperhatikan dari postur tubuh, salah satu di antara ketiganya adalah seorang wanita.
Helena Vennamous sendiri nampak memberi tanda agar benda terakhir dibawa naik ke panggung. Dia pun berkata, "Ini adalah benda yang menjadi penutup acara lelang malam hari ini~ para hadirin pasti sudah pernah melihatnya. Benda yang seperti batu hitam karang ini adalah sebuah benda langit,"
"Natur, bersiaplah." Arslan berujar pelan dan membuat Natur menatap ke arahnya.
"Jadi kau..." Natur akhirnya tahu benda yang ingin direbut oleh Arslan. Dia mengerutkan kening dan memperhatikan dengan saksama batu yang seperti tidak berguna itu.
Helena Vennamous yang berada di atas panggung berkata, "Benda ini bernama Batu Bintang. Sebuah benda yang sangat misterius dengan kekuatan yang tidak terukur. Harga pertama untuk benda ini adalah 200.000 kristal level tinggi dengan kelipatan 5.000 kristal level tinggi."
!!!
"Benar-benar mahal,"
"Sebenarnya sekuat apa batu bintang itu? Kenapa harganya setinggi langit?!"
Natur mendengar ucapan orang-orang di sekitarnya dan dia pun mengangguk setuju. Dia sendiri juga tidak tahu kegunaan dari batu tua itu dan fungsinya untuk para penyihir, namun yang jelas---Arslan memiliki pendapat yang berbeda.
Helena Vennamous menunggu, namun tidak ada dari para tamu yang ingin melakukan penawaran. Dia sudah memperkirakan hal ini karena memang sejak pertama kali batu bintang dilelang di tempat ini---tidak ada yang mengangkat tangan untuk membelinya.
Helena Vennamous tersenyum lembut dan berkata, "Baiklah. Dengan ini pelelangan pun ditutup-!!"
BLAAAAR...!
Petir menyambar sangat keras di saat Helena Vennamous hendak menutup pelelangan. Kristal yang menjadi penerang ruangan ini pecah dan meledak bersahut-sahutan. Semua orang pun menjadi panik.
"Lindungi Nona Helena..!!"
"Jaga semua benda pelelangan!"
Para pengawal tempat ini segera bersiap. Mereka melindungi Helena Vennamous dan juga benda-benda lelang yang masih ada di dekat panggung, termasuk batu bintang yang ada di dekat Helena Vennamous.
Sambaran petir kembali datang dan kali ini mengenai bagian sisi panggung serta tempat duduk pengunjung. Beberapa benda yang dilelang hampir terkena sambaran petir andai tidak dilindungi oleh sihir perisai milik para pengawal tempat ini.
!!
Cahaya menyilaukan datang dari langit-langit ruangan yang berbentuk kubah dan sangat menyilaukan. Para penjaga tempat ini panik dan berusaha untuk merapalkan mantra supaya bisa menghilangkan sihir cahaya itu.
Hanya saja semakin tinggi tingkatan mantra yang mereka gunakan, sihir cahaya tersebut kian bersinar terang hingga menyilaukan semua mata yang ada. Helena Vennamous pun bahkan menggunakan lengannya dan lantas memalingkan wajah karena merasa cahaya ini sangat menyilaukan.
AAH..!
Teriakan orang-orang membuat suasana malam itu kian menjadi. Tiga orang berjubah merah yang dilihat Natur sebelumnya melesat dan hendak memanfaatkan kekacauan yang ada untuk mengambil benda pelelangan termasuk batu bintang.
Hanya saja penjaga yang bertugas melindungi batu bintang itu sama sekali bukanlah petugas biasa. Sosok itu merupakan penyihir tingkat tinggi yang bahkan berhasil membuat orang jahat terpental sangat jauh.
"Natur, ayo!" Arslan buka suara sebelum akhirnya melesat turun. Dia kembali memakai sihir yang sangat kuat dan bahkan mampu membuat penjaga batu bintang terlempar hingga membentur sebuah dinding.
Bersamaan saat petir kembali menyambar dan cahaya yang sangat menyilaukan itu berubah menjadi gelap, bahkan kristal yang menjadi penerang tempat ini pun meledak hingga hanya menyisakan kegelapan---Arslan pun berhasil memegang batu bintang itu.
Hanya saja beberapa detik saat penerang di tempat ini menggelap, Arslan sempat bertatapan mata dengan Helena Vennamous. Dia pun ditarik Natur dan dibawa pergi oleh remaja tesebut. Mereka menggunakan busur untuk terbang.
"SLYPEUS..!!"
Para kesatria sihir yang menjaga tempat ini menyerukan mantra sihir yang sama. Itu adalah sebuah mantra sihir yang mampu membuat kubah pelindung transparan agar ledakan dari kristal di langit-langit bangunan ini tidak sampai mengenai orang yang ada di bawahnya.
"LIGANTE IMPETUM..!"
Beberapa kesatria sihir menyerukan mantra lain yang bertujuan untuk mengikat siapa pun penyerang dari tempat ini. Sihir itu juga menciptakan cahaya dan mereka terkejut dengan penampakan garis redup semerah darah.
"A-Apa itu?"
"Fragor Magnus!" sebuah tangan yang terlihat memegang belati nampak terangkat dengan kuat dan lintasan garis merah mengarah tepat di tengah langit-langit bangunan.
Serangan itu menciptakan ledakan dahsyat dan termasuk angin kejut yang membuat para kesatria di tempat ini begitu kesulitan mempertahankan keseimbangan mereka.
Sosok yang menyerang itu tidak lain adalah Arslan dan Natur yang bersama dengan pemuda itu hanya memberikan tumpangan dengan memakai busurnya yang bisa terbang. Natur luar biasa terkejut, bahkan sampai tidak tahu harus mengatakan apa.
Langit-langit yang berbentuk kubah itu langsung runtuh. Natur bergerak dan berusaha menghindari reruntuhan yang ada. Dia kaget saat ada beberapa kesatria sihir yang juga memakai mantra terbang.
"Arslan,"
"Kau fokus saja membawa kita keluar dari tempat ini." Arslan melesatkan serangan yang besar kembali dan membuat kesatria sihir itu terjatuh. Tanpa nada dia berkata, "Kita lewat atas. Jadi cepatlah,"
"Baiklah-!" Natur terbelalak dan dia pun berseru, "Ginseng Airnya..!"
Natur melupakan ginseng air saat dia sudah hampir mencapai lubang di atap. Arslan pun menggunakan belati miliknya dan kemudian mengeluarkan sihir lain.
"Stuppa di Filum!"
Akh!
Mata Arslan terbelalak saat dia berhasil menarik ginseng air dengan menggunakan mantra benang penjerat. Hanya saja ginseng air di tangannya ternodai oleh darah yang cukup pekat dan ini membuatnya langsung sadar bahwa tanpa sengaja... Dia sudah membunuh orang.
******