
...'Untuk menyelamatkan teman, dia terpaksa keluar dari persembunyian.'...
...*****...
"Aku jelas-jelas melihat Arslan dan Natur pergi ke arah sini, tapi di mana mereka?" Sofia mengedarkan pandangan dan mencari kedua temannya. Dia pun mengerutkan kening saat melihat burung pipit Natur terbang memutar, entah sebuah pertanda apa.
"Arslan...! Natur...!" Sofia kembali memanggil nama kedua temannya, namun tidak ada jawaban. Gadis cantik itu pun mulai meminta diturunkan oleh An saat sesuatu mendekat.
!!
Sofia tersentak. Dia menyaksikan beberapa orang terbang mendekat dan kaget saat tahu bahwa orang-orang ini adalah para kesatria sihir. Jubah ungu yang mereka pakai dengan corak anggrek bulan sudah menjadi pertanda bahwa mereka merupakan kesatria sihir Helena Vennamous.
"A-An, lari. Lari An..!" Sofia menyuruh agar An lari, namun di belakang mereka juga terlihat beberapa kesatria sihir. Dia pun menelan ludah dan jelas merasa sangat tegang.
"Ba-bagaimana ini..." Sofia tentu saja tidak dikenali oleh para kesatria sihir sebab Natur menggunakan sihir pengubah penampilan sebelumnya. Dia pun terlihat seperti gadis dari ras manusia, apalagi dengan rambut berwarna kecoklatan.
"Mereka yang duduk di samping kedua penyusup itu!" salah satu kesatria berseru dan membuat Sofia terkejut.
"Aku juga melihatnya. Kedua orang itu adalah komplotan penyusup! Tangkap mereka!"
"Ga-gawat," Sofia melebarkan mata saat para kesatria di sekelilingnya mulai mengacungkan tongkat sihir dan melesatkan serangan. Dia memegang An erat-erat dan memejamkan mata sambil berteriak meminta pertolongan.
"DISCREAM TIENSA!" lesatan sihir datang dan berhenti tepat di atas Sofia serta An. Serangan itu menahan sihir penangkap dari para kesatria Lunar Orchis dan membuat kejutan yang besar.
!!!
Sofia masih dalam kondisi syok, dia melihat ke sekitaran dan serangan yang seharusnya telah mengenai dirinya menjadi lenyap seketika. Dia memang mendengar seruan ketika sesuatu tiba-tiba melompat dan menapak tepat di hadapannya.
"A-Arslan?!" Sofia merasa sangat lega karena sosok yang berdiri di hadapannya saat ini tidak lain adalah teman petualangannya. Dia sangat senang karena Arslan datang di waktu yang tepat.
"An, bawa Sofia dan pergi dari sini." Arslan buka suara. Dia berbicara namun dengan tatapan mata yang lurus ke depan.
Sofia kaget dengan yang didengarnya, dia pun berkata. "Arslan, apa maksudmu... Kau akan menghadapi mereka sendirian? A-aku tidak akan membiarkannya-"
"Berhentilah bicara. Ini semua adalah karena salahmu," Arslan harusnya dapat bersembunyi dengan baik andai Sofia tidak datang dengan An. Apalagi, burung pipit Natur juga seolah tahu bahwa pemiliknya ada di tempat ini.
"Arslan..." Sofia menangis karena merasa sangat bersalah. Namun hal itu sama sekali tidak membantu untuk melepaskan diri dari apa yang sedang mereka hadapi.
"An, sekarang!" Arslan memberi perintah dan An kemudian berlari dengan membawa Sofia. Beberapa kesatria sihir mencoba untuk menghentikan mereka, namun sebuah lesatan panah mengagetkan para kesatria sihir itu.
Ada kesatria sihir yang spontan mengikuti asal dari lesatan anak panah tersebut dan melihat sosok berjubah putih berdiri di sebuah dahan kecil pohon pinus. Dia pun mengeluarkan sihir miliknya, tetapi Arslan menghentikan hal itu.
Ada sekitar 9 kesatria sihir yang harus dihadapi Arslan. Pemuda setinggi 1,3 meter itu yakin bahwa akan ada banyak kesatria sihir lain dari Lunar Orchis yang datang kemari. Mereka harus segera memenangkan pertarungan ini sebelum bala bantuan dari lawan datang.
Natur kembali menarik busurnya. Sebuah anak panah tercipta dan saat berada di udara. Anak panah itu nampak seperti membelah diri hingga menjadi sangat banyak. Para kesatria yang kuat dalam sihir bertahan pun kini membentuk perisai. Hanya saja Arslan tidak tinggal diam dan melesatkan sihir yang mampu menyebar ke berbagai arah.
!!!
"Tidak mungkin..."
"Mu-Mustahil..."
!!!
Tentu saja sangat mengejutkan. Para kesatria itu terlempar ke berbagai arah hanya dengan satu kali mantra sihir milik Arslan. Tidak sedikit dari mereka yang sangat syok sebab lawan mereka mempunyai fisik yang begitu pendek.
Rasanya seakan-akan bahwa kemampuan hebat dari subjek di hadapan mereka sangat berbanding terbalik dengan fisik yang hanya setinggi 1,3 meter tersebut. Bahkan Natur yang ada di dahan kecil pohon pinus pun terlihat tidak menyangka.
Orang-orang ini memang tidak tahu apa pun, termasuk fakta bahwa Arslan dahulunya adalah salah satu dari makhluk yang pernah menyelamatkan dunia dari serangan naga. Pertarungan semacam ini jelas tidak akan dapat dibandingkan dengan perang besar itu.
Meskipun sudah lama sekali bagi Arslan untuk kembali memakai sihirnya, namun kecepatan dan kekuatannya sama sekali tidak pernah berkurang.
Sihir yang dipakai Arslan memang adalah sihir yang cacat, tetapi itu karena kekuatan sihir tersebut tidak bisa dikalahkan dan kebanyakan orang yang mempermainkan sihir ini akan langsung tewas di tempat.
Arslan tahu cara menahan kekuatannya dan karena itulah selama ini dia tidak pernah memakai tongkat sihir. Senjata pengganti tongkat sihir hanyalah sebuah belati tua yang bahkan telah sangat karatan.
Salah seorang kesatria sihir menggeram, "Aku tidak akan melepaskan penyusup yang telah berani mengacaukan Lunar Orchis dan mencuri barang berharga di tempat itu..!"
!!
Natur yang masih berada di dahan kecil pohon pinus pun nampak tersentak. Arslan yang meminta agar dirinya tidak boleh turun dan hanya perlu membantu dari jarak jauh. Namun salah satu kesatria sihir jelas berada di level yang berbeda. Natur pun tidak punya pilihan selain mengkhawatirkan Arslan.
Berbeda dengan Natur, sikap Arslan justru tidak banyak berubah. Pemuda setinggi 1,3 meter itu terlihat memasang ekspresi setenang biasanya, bahkan ketika para kesatria sihir itu mengumpulkan kekuatan mereka untuk dilesatkan secara bersamaan.
Arslan tahu bahwa orang-orang ini adalah sosok kesatria terbaik yang telah terpilih. Dia tidak akan meremehkan mereka walau jujur saja, para kesatria ini memang masih harus mempunyai banyak pengalaman jika bertarung sejajar dengannya.
"Arslan..." Natur terlihat sangat tercengang kala menyaksikan bagaimana Arslan bertarung seorang diri menghadapi 9 orang kesatria sihir. Tidak hanya itu, pemuda tersebut bahkan mampu menghindari puluhan anak panah yang dilesatkannya.
"Dia yang menyarankan agar aku terus melesatkan anak panah seperti di lembah waktu itu dan ini benar-benar efektif. Hah, para kesatria sihir itu sama sekali tidak bisa membalas." Natur menjadi bersemangat.
Dia memuji Arslan yang mempunyai banyak rencana mengejutkan dan sangat seru bagi seseorang penyuka tantangan sepertinya. Natur tersenyum lebar saat menarik kembali busurnya, "Ini keren sekali..!"
Hanya Natur yang bisa tersenyum dalam situasi semacam ini, Arslan justru terlihat sangat serius dan benar-benar harus hati-hati dalam tiap langkahnya. Dia hanya berharap agar An dapat membawa Sofia dan pergi ke tempat yang aman sebelum kondisi ini menjadi semakin runyam.
Baik Arslan maupun Natur tidak ada yang menyadari bahwa kesatria sihir yang lain dari Lunar Orchis mulai terbang mendekat dan tidak hanya itu, ada salah satu orang di antara para kesatria tersebut yang menaiki sapu terbang miliknya dengan cara berdiri. Sosok wanita yang memegang kuas berukiran aneh di tangannya.
******