THE LAST HOBBIT

THE LAST HOBBIT
38 - Pertemuan


...'Aku dan An meninggalkan Kerajaan Elmora. Keraguanku muncul dan tepat setelah itu... Pandanganku menjadi gelap. Aku tidak bisa melihat atau merasakan apa-apa.'...


...*****...


Meninggalkan Kerajaan Elmora kini membuat Arslan melanjutkan perjalanan hanya berdua dengan An. Mereka terus berjalan ke arah utara, melewati padang rumput dengan bebatuan serta sesekali beristirahat.


Hutan Bening yang merupakan lokasi tujuan Arslan sangatlah jauh. Apalagi pemuda setinggi 1,3 meter hanya berjalan kaki dan kadang dibawa oleh An di atas pundak. Hanya saja, perjalanan tidak terasa membosankan walau sejujurnya tak seramai saat Sofia dan Natur ikut.


Arslan saat ini sedang ada di pinggir sebuah sungai dan nampak membakar ikan. Suasana di sekitarnya sudah mulai sore dan tidak jauh dari tempatnya ada sebuah hutan berbukit. Dia memutuskan untuk memasuki hutan esok hari.


Arslan melihat An nampak memakan sebuah roti. Dialah yang membeli roti itu untuk An saat mereka berada di Kerajaan Elmora. Dan selain itu, Arslan juga membeli dua jubah yang dapat bertahan dari berbagai cuaca ekstrim.


".............."


Arslan bernapas pelan. Dia pun mengeluarkan batu bintang yang didapatkannya dari Pelelangan Lunar Orchis. Ingatannya tentang masa lalu kembali terbayang.


Karena benda yang mirip seperti batu di tangannya ini... Dunia dipenuhi ketegangan. Naga yang muncul dengan energi sihir murni dan lenyapnya naga itu oleh sebuah pedang batu bintang... Justru membawa dunia pada kekacauan yang lain dan sama mengerikannya.


"Semuanya sudah lama... Tapi terasa seperti baru kemari..." Arslan bergumam. Tatapan matanya sulit diartikan dan bahkan An terlalu polos untuk dapat memahaminya.


"Arslan... Makan.."


"Mn, kau makan saja An. Ikannya belum matang," Arslan memperhatikan sungai di hadapannya dan kemudian bernapas pelan.


Dia membatin, "Apa yang sebenarnya kupikirkan. Hobbit.... Mereka masih mengingat ras yang sudah menghilang dari peradaban. Ras yang menjadi persembahan... Di medan perang,"


"Ha ha," Arslan menggeleng. Dia tertawa pahit dan berkata, "Gearl Howl... Apa benar dunia ini membutuhkanku? Kenapa rasanya setiap hari keraguanku tidak pernah menghilang? Aku... Bahkan mulai mengingat... Bagaimana aku membenci ras manusia."


"Arslan..."


"Tidak apa-apa An, aku hanya bicara sendiri.." Arslan menarik napas dan menyimpan batu bintang di tangannya. Dia hendak membalik ikan yang dibakarnya saat tiba-tiba saja dirinya tersentak.


!!


Arslan menengadah dan tepat saat melakukan hal tersebut, cahaya menyilaukan terlihat. Dia pun lantas tidak bisa merasakan apa pun termasuk mendengar suara. Pandangannya seketika menggelap.


*


*


Suara tetesan air terdengar dan menyadarkan Arslan. Dia perlahan membuka mata, namun mengerutkan kening saat pandangannya masih begitu gelap. Arslan pun menyadari bahwa seseorang sudah menutup matanya dengan sebuah kain.


"..............."


Arslan perlahan menggerakkan tangannya dan kini tahu bahwa dia pun dalam kondisi terikat. Bahkan kakinya pun juga dalam posisi yang terikat. Di tempat yang entah di mana ini... Dia sadar bahwa dirinya duduk di sebuah kursi dengan tetesan air serta aroma yang tidak asing. Ini... Seseorang telah menangkap dan membawanya ke sebuah gua.


"..............."


Dibandingkan dengan panik atau perasaan cemas lainnya, Arslan jauh lebih terlihat tenang. Setelah dia tahu tangan dan kakinya dalam kondisi terikat, pemuda setinggi 1,3 meter itu bahkan tidak lagi bergerak.


"An..." Arslan masih bisa bicara, mulutnya tidak dibekap tetapi dirinya tidak bisa mendengar suara An. Kemungkinan An berada di tempat lain dalam gua ini.


Pemikiran Arslan bahwa ia dibawa ke sebuah gua benar adanya. Suara langkah kaki seseorang terdengar di sertai dengan dengusan yang ringan. Arslan menarik napas dan bersikap setenang mungkin.


"Sangat menarik,"


"Wanita?" Arslan dapat menebak bahwa suara jernih sosok itu adalah milik seorang wanita dan bila diingat-ingat lagi... Dia sepertinya cukup mengenal pemilik dari suara ini.


"..............." Arslan menelan ludah. Dia sudah ingat. Wanita yang berjalan semakin dekat ke arahnya tidak lain adalah pemilik dari Penginapan Lunar Orchis, Helena Vennamous.


Arslan tidak membutuhkan penutup matanya dilepas untuk bisa menebak subjek ini karena dia sudah pernah mendengar suara Helena Vennamous sebelumnya. Apalagi jika diingat, dia telah menyinggung wanita ini dan juga penginapan Lunar Orchis.


"Kau begitu tenang bahkan seperti tidak peduli pada kondisimu sekarang ini," suara itu kembali lagi. Benar-benar sebuah suara yang indah meski Arslan tahu ekspresi wajah pemiliki suara tersebut mungkin sangat dingin dan merendahkannya.


"Aku tidak pernah mendapatkan penghinaan seperti ini sebelumnya. Selamat. Kau adalah orang pertama yang mengusik ketenangan di tempat tinggalku,"


"..............." Arslan mendengus, seulas senyum terbentuk saat ia berkata. "Aku ingin tahu... Bagaimana orang biasa ini bisa mengusik ketenangan seorang Nona Helena?"


Sebuah tangan terulur dan kemudian meraih dagu Arslan. Tekanannya cukup menyakitkan sebelum akhirnya terdengar suara indah itu lagi.


"Sekarang... Bagaimana aku harus membunuhmu?"


******