THE LAST HOBBIT

THE LAST HOBBIT
35 - Perencana Licik


Arslan menatap Raja Henry Nelius Sulla II karena ucapan yang dia dengar sebelumnya. Di sisi lain, Natur dan Sofia jelas terkejut pada pernyataan Raja Henry yang mengatakan bahwa Arslan bukan berasal dari ras Garielnains.


Sofia mengerutkan kening, dia bertanya. "Apa maksud Ayah?"


Raja Henry Nelius Sulla II berjalan untuk lebih dekat dengan Arslan. Dia memperhatikan raut wajah yang sama sekali tidak takut apa pun itu dan lantas kembali berkata, "Garielnains bukan sebuah ras, tetapi penunjuk sebuah wilayah yang berada paling timur dari Kerajaan Elmora. Kau... Tidak menyebutkan ras-mu sejak awal."


Arslan memperhatikan subjek di hadapannya dengan saksama. Ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah. Itu adalah wajah tenang yang bahkan tanpa ekspresi.


"Kau tidak memiliki kaki besar dan tangan kasar seorang dwarf. Garis wajah juga tidak seperti mereka, bahkan termasuk tinggi badanmu. Kau..." Raja Henry Nelius Sulla II sedikit ragu sebelum akhirnya kembali buka suara.


Raja Henry, "Ada satu nama di dalam pikiranku saat ini. Mungkinkah... Kaulah yang disebut sebagai ras Hobbit?"


!!!


"Hobbit?!" Sofia terkejut dan spontan menatap ke arah Arslan. Tidak hanya dia, tetapi juga Natur, Gavin Willian, dan Liana Elberta. Bahkan orang-orang yang ada di tempat itu pun kaget.


Raja Henry menatap Arslan dan berkata, "Hobbit adalah ras yang sudah lama tidak terdengar di Dunia Tengah. Tidak banyak catatan tentang ras ini, namun yang paling tertanam di dalam ingatan semua orang adalah bahwa ras ini sudah punah karena sebuah tragedi di masa lalu."


".............." ekspresi Arslan tidak berubah. Dia masih sama saja.


"Kau... Apakah berasal dari ras Hobbit?" Raja Henry bertanya kembali dan ini membuat Sofia, Natur serta yang lainnya merasakan ketegangan.


Arslan memperhatikan subjek di hadapannya dan kemudian tanpa nada berkata, "Yang Mulia sudah mengatakannya bahwa ras ini sudah punah. Jadi bagaimana bisa aku berasal dari ras itu?"


"Pedang Penakluk Naga." Raja Henry buka suara dan membuat Arslan tersentak. Dia pun berkata, "Itu adalah satu-satunya pedang terkuat yang dibuat oleh seorang hobbit."


"Arslan..." Sofia bukannya tidak tahu arah pembicaraan Raja Henry Nelius Sulla II. Hanya saja dia sangat syok jika apa yang ada di dalam pikirannya ternyata benar, bahwa Arslan memiliki hubungan dengan Pedang Penakluk Naga.


"Apa kau... Adalah hobbit itu?" Raja Henry Nelius Sulla II bertanya kembali dan menatap pemuda setinggi 1,3 meter di hadapannya.


Arslan mengerutkan kening, dia pun menghela napas dan berkata. "Jika itu berhubungan dengan Pedang Penakluk Naga, maka Yang Mulia salah besar. Aku bahkan tidak tahu tentang sejarah apa pun itu,"


!!


Raja Nelius Sulla II tersentak, pemuda di depannya menjawab dengan begitu tenang, bahkan terlihat polos seolah memang tidak tahu apa pun. Dia menurunkan pandangan dan berkedip sambil memikirkan sesuatu.


"Kau sungguh tidak mengetahui tentang hobbit dan hubungannya dengan Pedang Penakluk Naga?" Raja Henry kembali bertanya dan dijawab anggukan pelan.


Arslan menatap Sofia sebelum kemudian mengarahkan pandangannya pada Raja Henry. Dia pun berkata, "Aku bertemu dengan Sofia secara tidak sengaja. Dari dialah aku mendengar tentang Pedang Penakluk Naga. Kupikir... Aku ingin mencari pedang itu karena Sofia sepertinya kesulitan. Aku hanya ingin membantunya,"


!!


Sofia tersentak mendengar penuturan dari Arslan. Dia padahal ingat dengan jelas bagaimana pemuda ini menolak ajakannya untuk mencari pedang tersebut, tetapi sekarang justru Arslan mengatakan hal yang sebaliknya.


Sofia baru akan membantah saat mendengar Arslan kembali berujar. Pemuda setinggi 1,3 meter itu tanpa nada mulai berkata.


Arslan, "Pada awalnya aku menolak ajakan Sofia karena dia terlihat asing bagiku. Tapi kemudian aku sadar... Aku ingin melihat dunia baru dan bertemu banyak orang-orang baru. Aku juga ingin... Seperti dirinya,"


"Arslan..." Sofia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa. Dia sampai berkedip beberapa kali seolah tidak percaya bahwa sosok seorang Arslan akan dapat mengatakan hal semacam ini.


Natur pun sama syok-nya. Dia memang belum lama mengenal Arslan, namun dirinya sudah cukup untuk dapat mengatakan bahwa pribadi pemuda setinggi 1,3 meter ini jauh berbeda dari apa yang disaksikannya sekarang.


Bagi Natur. Arslan adalah pemuda yang berpikiran tenang, perencana yang baik, dan seseorang yang dapat dikatakan dingin pada Sofia. Arslan juga tidak banyak memuji dan kepribadian pemuda ini sejujurnya membosankan, tapi apa yang dia lihat sekarang?!


Arslan memuji Sofia dan tidak hanya itu, pemuda tersebut bahkan mengatakan bahwa ia ingin menjadi seperti Sofia. Natur hanya bisa menghela napas karena merasa Arslan sepertinya sudah merencanakan ini semua sejak awal.


Entah apa yang akan diincar oleh subjek ini selanjutnya, namun Natur berharap itu tidak akan berakhir seperti insiden Lunar Orchis sebelumnya.


******