THE LAST HOBBIT

THE LAST HOBBIT
23 - Pengejaran


...'Mereka dikejar para kesatria sihir dan bersembunyi. Namun Elf dan giant itu datang sendiri ke arah bahaya,"...


...*****...


Ledakan besar dari serangan yang dilesatkan oleh Arslan sangat menggemparkan. Bahkan Sofia yang berada di luar bangunan Lunar Orchis bersama dengan An pun sampai kaget bukan main.


!!


Sofia melebarkan mata saat banyak orang yang berlari keluar. Dia hampir saja ditabrak dan diinjak-injak andai An tidak segera menarik dan membawanya ke tempat yang aman. Sofia terlihat masih sangat syok, entah apa yang sudah terjadi di dalam tetapi dari ledakan yang dilihatnya---kekacauan besar jelas sedang ada di dalam bangunan Lunar Orchis.


"Arslan..." An bergumam dan membuat Sofia menatapnya.


"Kau bilang apa?"


"Arslan..."


Sofia mengedarkan pandangan, tetapi sama sekali tidak melihat pemuda yang disebutkan oleh An. Dia pun lantas menatap raksasa yang mengangkatnya ini dan mengetahui bahwa mata An menatap ke arah langit.


Sofia pun menengadah dan melihat ada sesuatu yang terbang, seolah keluar dari dalam atap kubah bangunan Lunar Orchis. Detik itu juga dia melihat burung pipit Natur terbang menjauh dan seolah hendak mengikuti sesuatu yang terbang itu.


"An..!" Sofia buka suara dan seolah mengetahui maksud gadis ini---An pun mulai berlari untuk mengejar apa pun yang terbang tersebut.


An berlari memasuki sebuah gang dan bahkan melompati tembok dengan membawa sofia di gendongannya. Sofia sendiri berpegangan kuat dan mengarahkan setiap langkah An. Hanya saja tidak butuh waktu lama sampai rasa kaget muncul pada ekspresi wajahnya.


Sofia sudah memastikan bahwa sosok yang terbang menjauhi bangunan Lunar Orchis itu adalah temannya, Arslan dan Natur. Namun masalahnya ialah fakta bahwa ada beberapa kesatria sihir yang sedang mengejar kedua rekannya tersebut. Para kesatria sihir itu nampak menunggangi sapu terbang.


"An, lebih cepat..!" kekhawatiran nampak di wajah Sofia. Meski sebelumnya dia berkata membenci Arslan, tetapi bukan berarti dirinya akan membiarkan pemuda tersebut ketika sedang dikejar seperti ini.


Sofia baru akan memikirkan cara untuk membantu Arslan dan Natur saat dia melihat sebuah lintasan cahaya yang mengenai salah satu kesatria sihir hingga membuat sosok itu terjatuh dari sapu terbang miliknya.


Lintasan cahaya kembali datang dan kali ini Sofia tahu bahwa Arslan-lah yang melakukan serangan tersebut. Pemuda bertubuh pendek itu mempunyai keseimbangan yang hebat saat berdiri di atas busur milik Natur. Apalagi tiap kali Arslan menyerang... Itu bukan serangan yang lembut, namun kasar dan dengan efek yang menumbangkan.


Untuk Natur, dia sama sekali tidak menyangka bahwa Arslan mempunyai kekuatan sihir yang besar. Bahkan mantra sihir yang dipakai oleh pemuda setinggi 1,3 meter ini tidak pernah dia dengar sebelumnya. Itu jelas adalah mantra sihir yang belum pernah ada. Natur merasa perlu untuk mengenal Arslan lebih jauh lagi.


"Lebih cepat, Natur." Arslan buka suara. Dia tidak mengetahui apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh Natur dan dia juga tidak mau untuk memikirkannya lebih dalam. Kondisi di sekitarnya membuat Arslan merasa tidak punya pilihan selain berkonsentrasi.


Pemikiran Natur tentang mantra sihir yang dipakai oleh Arslan tidak sepenuhnya benar. Arslan menggunakan mantra sihir yang sejak lama sudah ada. Hanya saja, memang setelah banyak tahun berlalu---mantra sihir ini jadi tidak terlalu banyak dikenal.


"Arslan, kita ke mana sekarang?!" Natur menelan ludah. Dia terus bergerak dan sangat tegang sebab orang-orang yang mengejarnya adalah para kesatria sihir. Mereka tentu saja tidak boleh diremehkan.


"Hutan Pinus. Kita akan pergi ke sana. Kau lurus saja," Arslan memberikan arahan dan kembali mengeluarkan mantra sihir miliknya.


"Cresion Dolor Lux..!" Arslan berseru.


"Konvodere Impenitum..!" seorang kesatria penyihir melesatkan serangan bersamaan dengan serangan milik Arslan.


Kedua serangan tersebut mempunyai efek yang sama dan saat bertabrakan di udara, sebuah ledakan pun tercipta hingga membuat angin kejut. Hanya saja detik berikutnya, sesuatu tiba-tiba terjadi.


!!


Serangan Arslan nyatanya berlapis, sehingga ketika satu serangannya berhasil di tahan, maka serangan lain akan datang dan ini tidak diantisipasi oleh kesatria sihir tersebut. Tiga orang langsung terkena serangan Arslan dan terjatuh dari ketinggian yang lumayan bisa membuat patah tulang bila tidak mendarat dalam posisi terbaik.


"Arslan, kau keren sekali..!" Natur berseru. Dia tanpa ragu memuji Arslan dan sepertinya lupa dengan situasi mereka yang masih berbahaya.


"Arslan, kau harus ajari aku kapan-kapan." Natur kembali berkata dan direspon dengan suara yang tenang.


Arslan tanpa nada berujar, "Keinginanmu untuk belajar sihir dariku tidak akan tercapai jika kita sampai tertangkap. Jadi bergeraklah lebih cepat,"


"Tentu saja. Aku ini sangat percaya diri dengan kecepatanku," Natur tersenyum dan semakin mempercepat laju busurnya.


"Wuu huu..!" Natur berseru dan tertawa, seolah lari dari kejaran dari para kesatria sihir adalah hal yang menyenangkan.


Arslan berkedip dan dalam hati menggeleng pelan. Padahal nyawa mereka sedang terancam dan remaja berambut pirang ini justru sangat menikmatinya.


*


*


Kesatria lain yang melihat rekan mereka diserang seperti ini hanya bisa tertunduk. Tidak ada yang berani melawan sebab subjek yang sedang menyerang dan memarahi mereka adalah Helena Vennamous.


"Kalian yang jumlahnya sebanyak ini bagaimana bisa tidak dapat mengatasi dua orang pengacau saja?!" Helena Vennamous mengepalkan tangan. Dia berjalan ke salah satu kesatria sihir dan kemudian melayangkan tamparan.


"Tidak hanya mencuri ginseng air dan batu bintang itu, mereka juga menghancurkan kediamanku. Apa kalian tahu berapa kerugian yang kualami?!"


"Maafkan kami, Nona..."


"Beraninya," Helena Vennamous kembali menampar kesatria sihir di hadapannya. Dia pun memegang dagu subjek tersebut dan kemudian menariknya perlahan agar lebih dekat dengan wajahnya.


Kesatria sihir itu tersentak, dia takut, tetapi juga gugup dan sangat berdebar. Tamparan dari Helena Vennamous memang sakit, tetapi entah mengapa juga sangat menggairahkan.


"Aku ingin... Kalian mencari penyusup itu," Helena Vennamous mengusap lembut pipi kesatria sihir di hadapannya. Dia berujar, "Tangkap mereka hidup-hidup dan bawa ke hadapanku. Jika tidak, maka yang menjadi hiasan dinding di tempat ini... Adalah bola matamu. Kau mengerti?"


"Ba-baik,"


"Sekarang pergilah," Helena Vennamous melambaikan tangannya dan para kesatria sihir di sekitarnya pun mulai berpamitan untuk pergi.


Helena Vennamous menatap ke arah panggung, di mana terdapat sebuah meja giok yang dibentuk secara khusus untuk menaruh batu bintang. Tempat itu jelas dipenuhi oleh sihir perlindungan yang kuat, tetapi anehnya sosok yang mengacaukan tempat ini bisa mengambil batu bintang itu dengan mudah.


Helena Vennamous menatap ke arah tempat di mana ginseng air pernah berada. Dia pun ingat dengan wajah sosok yang menawarkan harga tertinggi untuk tanaman herbal tersebut.


"Aku.... Pasti akan menemukanmu,"


*


*


"Natur, turun di sana." Arslan menunjuk ke arah rimbunan pohon pinus dan dirinya pun lantas menapak di salah satu dahan kecil pohon itu. Natur pun juga ikut melakukannya dan busurnya segera dipegang.


"Furtiva travesti no trace," Arslan mengucapkan mantra yang membuat tubuhnya dan Natur kini ditutupi oleh daun-daun dari pohon pinus di sekitar mereka.


"Ini..." Natur menjadi gugup, dia pun mulai buka suara dan berkata. "Bukankah dahan pohon pinus itu sangat rapuh?"


"Tidak perlu khawatir, kita akan baik-baik saja." Arslan berujar tenang. Dia pun bisa merasakan kehadiran para kesatria sihir dan benar saja, mereka berhasil menyusul hingga kemari.


Natur menelan ludah. Dia sama sekali tidak tahu apakah persembunyiannya dengan Arslan ini lumayan efektif, tetapi satu hal yang pasti adalah bahwa jika mereka ketahuan---maka bisa dibayangkan bagaimana akhir riwayat mereka nanti.


"Aku yakin mereka tidak akan jauh dari tempat ini," salah satu kesatria sihir buka suara. Dia pun memberikan perintah agar rekan-rekannya berpencar untuk mencari penyusup yang sudah mengacaukan Lunar Orchis.


Natur tanpa sadar menahan napas. Dia sebenarnya ingin bertanya pada Arslan, tetapi niat itu diurungkan karena bisa jadi para kesatria sihir itu akan menemukan mereka.


"Ini menegangkan dan sejujurnya keren," Natur membatin saat dirinya merasakan kehadiran sesuatu yang mendekat padanya.


Natur pun lantas menatap lurus dan tersentak saat melihat seekor burung kecil terbang, seakan hendak ke arahnya. Dia pun syok kala mengenali burung kecil itu yang ternyata adalah pipit peliharaannya.


"Ke-kenapa Lili ada di sini?" Natur berekspresi pucat dan luar biasa terkejut saat mendengar suara perempuan yang memanggil namanya dan Arslan.


"Arslan...! Natur...!"


!!!


Arslan pun ikut kaget. Dia melebarkan mata saat melihat Sofia dan An. Padahal para kesatria sihir masih belum pergi dari tempat ini dan kedua temannya itu justru datang sendiri ke arah bahaya.


"Ya ampun..."


******