
“Bagaimana?”
Hadi mengamati Prabu yang terus sibuk dengan ponselnya. Beberapa kali pewaris keluarga Widjaya itu menggeram marah, lalu menyugar rambut dengan kasar. Pada satu kesempatan lain, Prabu bahkan bersandar di tembok sambil menangis.
Keangkuhan juga sifat keras Prabu tak tampak lagi. Sejak tadi, Hadi mendengar lelaki itu menyebut nama Tiara berkali-kali. Siapa yang tidak takut, jika dihadapkan pada kehilangan yang sama untuk kali kedua?
“Belum ada! Argh!” Prabu melemparkan ponsel ke meja. Sementara itu, Hadi menyuguhkan sekaleng minuman dingin.
Prabu membuka kaleng berisi bir dengan kadar alkohol lima persen itu, dan menenggaknya hingga tersisa setengah saja. Tak lama, kaleng dingin itu ia letakkan, saat ponsel yang dilemparnya tadi bergetar. Matanya membaca dengan teliti, lalu menatap Hadi dengan saksama.
“Jauh. Keluar kota, dan terakhir di sekitar Bogor. Terus hilang, di sekitar Gunung Salak .... ” Prabu menggerakkan jemari di layar ponsel dengan tak sabar. “Gue harus ke sana sekarang!”
“Tunggu! Gunung Salak? Bukannya itu ....” Hadi tampak berpikir. Lalu ia dan Prabu bertatapan, seakan-akan menyatukan pikiran.
“Vila keluarga Gunadi?” Keduanya berkata nyaris bersamaan.
“Brengsek!” Prabu terlihat gusar.
“Apa kita butuh supir?” Hadi bangkit dari duduknya. “Gue ikut!” ucapnya lagi. Dalam.keadaan seperti ini, ia tak akan tega melepas Prabu sendiri. Membayangkan kejadian menghilangnya Lusi, Hadi sudah cukup ngeri.
“Siapkan peralatan sederhana, utamanya buat Tiara! Gue takut dia luka atau kenapa-napa. Kita berangkat malam ini!”
Usai berkata, Prabu melangkah cepat, meninggalkan ruang kerja Hadi. Sementara, dokter muda itu meraih sebuah tas olah raga berukuran sedang dari lemari, lalu mengisi dengan beberapa obat-obatan yang mungkin akan dibutuhkan nanti. Tak lupa ia membawa tabung oksigen berukuran kecil.
Sementara itu, di apartemen Lusi tampak mondar-mandir di dalam kamar. Satu jam yang lalu Leana menelepon, dan memaksanya keluar dari apartemen. Selain takut bertemu dengan wanita berbisa itu, tentu bodyguard sewaan Prabu tidak akan mengizinkannya. Sebab, sang tuan mengancam akan menghabisi, jika Lusi sampai keluar.
Namun, lagi-lagi Lusi tak bisa berbuat banyak saat Leana mengancam dengan keselamatan Prabu. Bagaimanapun, adanya mata-mata yang dipasang di rumah keluarga itu membuatnya takut, dan harus menurut.
Ia berpikir cepat, karena tahu jika Leana mungkin akan nekat. Maka dengan cepat ia mengetik alamat sebuah pusat kebugaran, ya g berada di lantai dasar apartemen. Sekarang, ia hanya perlu izin dari orang yang menjaganya saja.
“Nona Lusi, mau ke mana?” Pertanyaan itu muncul, saat Lusi keluar dari kamar.
“Ah, itu. Apa boleh aku ke bawah sebentar? Hanya ke tempat fitness. Maksudku, aku hanya akan mendaftar untuk ikut kelas besok.” Lusi berusaha meyakinkan.
“Ah, soal ini, Prabu yang menyuruhku. Dia bilang, aku boleh melakukan apa saja, asal tidak bosan.”
Lelaki itu masih tak percaya, dan berniat mengeluarkan ponsel dari saku. Akan tetapi, secepat kilat Lusi menahannya. Akan bahaya jika sampai bodyguard itu menelepon Prabu.
“Ah, kamu bisa ikut aku. Ya. Kamu bisa ikut aku, kalau tidak percaya.”
Mendengar itu, pria yang tadi mengangguk. Ia lantas membuka pintu, dan berjalan di belakang Lusi. Hanya mengambil jarak beberapa langkah, tentu saja membuat Lusi merasa risih. Akan tetapi, ia pasrah dengan keamanan yang disediakan Prabu.
“Kamu tunggu di sini, aku mau ke ruangan trainer.” Lusi berpesan pada pengawalnya. Lelaki itu menurut, dan duduk di salah satu kursi. Sementara Lusi masuk ke sebuah ruangan si sisi kiri tempat penuh alat olah raga itu.
Lelaki itu menurut. Ia duduk di ruang tunggu, sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tak ada yang mencurigakan, hanya orang-orang yang sedang melakukan olah fisik.
Baru saja Lusi masuk, saat Leana bangkir dan menyergap wanita itu. Dicengkeramnya dagu, lalu memojokkan Lusi ke tembok. Sementara satu tangan yang lain menjambak rambut yang terkuncir rapi.
“Jadi, kamu berani mengadu pada Prabu, heh?” Leana mendesis tepat di hadapan wajah Lusi.
“Ah! Ap—apa maksudmu?” Lusi berusaha menarik napas yang sesak, karena kini Leana mencekiknya.
“D—dia hanya supir! Prabu mempekerjakan pelayan dan supir untuk mengantarku ke mana-mana!” Lusi masih berdalih.
Leana menyentakkan Lusi, hingga wanita itu membungkuk sembari terbatuk-batuk. Ia menepuk dada beberapa kali, sambil berusaha memasukkan oksigen sebanyak-banyaknya demi memenuhi rongga paru-paru yang sempat kosong.
Sementara itu, Leana menuju kursi yang tadi ia duduki, dan menyulut sebatang rokok. “Kamu akan tau imbalannya jika berbohong. Maka yang kamu sebut supir tadi akan habis, karena yang sedang olahraga di luar adalah orangku semua.”
Mata Lusi membulat. “Apa kamu sudah gila? Kenapa selalu mengancamku dengan nyawa orang lain? Bukankah perjanjian kita hanya membuat hati Prabu hancur, lalu dia berlutut di kakimu? Jadi, biarkan akau menyelesaikannya, dan jangan jadikan aku hanya umpan!”
“Tenang, Lusi. Baru lepas sehari, dan kamu lupa posisimu?” Leana mengembuskan asap putih dari mulutnya, masih tetap tenang.
Lusi bersedekap, dan menatap penuh kebencian pada Leana. Wanita yang telah menghancurkan hidupnya sampai sedemikian rupa. Orang yang menenggelamkannya ke dasar lumpur, hingga ia kesulitan sekadar kembali ke permukaan.
“Apa maumu? Aku tidak punya waktu lama, atau Prabu akan curiga!”
Leana mengembuskan asap rokoknya sekali lagi. “Pelayan itu diculik, apa kamu tau?”
Lusi membekap mulutnya. Kemudian ia berteriak, “Kenapa kamu mengubah semuanya? Kamu benar-benar tidak bisa dipercaya! Kamu bilang, aku hanya harus menjebak agar Tiara keluar, lalu mengajaknya pergi jauh!”
“Hey, Nona! Bukan aku pelakunya! Itu sebabnya, aku memintamu datang ke sini!” Leana bangkit, dan berdiri sejajar dengan Lusi sekarang. “Apakah benar, dia hanya menghilang ... atau kamu mau berkhianat?” tanya Leana penuh selidik.
“Bahkan kamu tau, aku belum keluar sama sekali, dan menyadap teleponku!” Lusi menatap Leana dengan tajam. Mengingat kelicikan wanita itu, ia akan melakukan caranya sendiri jika Tiara benar-benar hilang.
“Baik, aku percaya. Tapi, kalai sampai kamu bohong ... kamu akan datang ke pemakaman Sundari, juga Prabu.”
Lusi terkekeh pelan, lalu menatap dengan tajam ke arah Leana, balas menghardik.
“Kamu tidak akan bisa menghabisi Prabu. Karena kamu mencintainya, mencintai tubuhnya. Sampai sekarang, tidak ada yang bisa bercinta denganmu sehebat dia, bukan? Membunuhnya, berarti membunuh hasratmu sendiri!”
Usai berkata demikian, Lusi menuju pintu dan keluar dengan langkah lebar. Jika boleh jujur, dia amat gemetar saat ini. Akan tetapi, ia harus berusaha tegar dan kuat di hadapan Liana. Lusi tidak ingin wanita itu curiga lalu rencananya berantakan.
Sesampainya di apartemen, Lusi menghubungi seseorang. Sebenarnya, itu adalah orang yang sangat ia hindari. Namun Lusi tak punya pilihan lain.
“Apa tawaranmu untukku masih berlaku?”
Lusi berkata sembari menggigit bibir. Air matanya jatuh membasahi pipi, tapi ia berusaha agar air matanya tak terdengar.
Mendengar suara dari seberang, hati Lusi kembali terkoyak. Orang yang dihubunginya ini adalah salah satu anak buah kepercayaan Leana. Lelaki yang pernah menggagahinya, dulu saat masih disekap. Mengingat wajah lelaki itu, sama saja mengoyak luka lama yang berusaha ia lupakan sekuat tenaga.
Namun, Lusi kembali pada logika. Bahwa dia kembali untuk mengucapkan selamat tinggal dengan manis, pada lelaki yang amat ia kasihi sepanjang sisa hidup. Prabu. Maka, inilah saatnya, saat ia harus benar-benar berkorban, demi kebahagiaan lelaki itu.
Lusi menarik napas dalam dengan tangan mengepal. Setelah itu, ia berkata, “Aku bersedia jadi jalangmu seumur hidup. Tapi kumohon, temukan pelayan itu, dan kembalikan pada Prabu. Jangan biarkan apa pun menimpa gadis itu. Jangan biarkan dia bernasib sepertiku, hanya gara-gara ambisi Leana. Setelah itu, aku berjanji akan menyerahkan diri ... padamu.”
Seluruh tubuh Lusi bergetar, saat mendengar suara di seberang sana menyanggupi. Ia lantas meluruh, dan bersimpuh di lantai. Setelah Tiara ditemukan, maka hidupnya dengan dunia akan benar-benar selesai.
**
Bersambung ....