
Prabu menyimak setiap yang diceritakan Lusi. Mulai awal wanita itu diculik oleh Leana, sampai dipaksa menenggak aneka obat penggugur kandungan. Beberapa kali Lusi tenggelam dalam tangis, tergugu dan sama sekali tak bisa berkata.
Pada beberapa kesempatan, Prabu pun ikut meneteskan air mata. Bagaimanapun, semua hal buruk yang menimpa Lusi adalah tanggung jawabnya. Leana melakukan semua itu karena terobsesi padanya. Lalu ingin memiliki, dan menyingkirkan siapa saja.
Tak terhitung betapa Prabu geram akan cerita Lusi. Terlebih saat wanitanya dipaksa merelakan anak dalam kandungan, dan dilecehkan. Belum lagi, siksaan fisik yang diterima Lusi selama dua tahun. Namun, satu hal yang membuat Prabu salut, adalah Lusi yang bertahan.
Semua siksaan tak membuat Lusi menyerah, demi dapat bertemu lagi dengannya. Bukan untuk memulai dari awal, tapi untuk meminta maaf karena tak bisa menjaga buah hati mereka. Pun Lusi ingin mengucapkan salam perpisahan secara layak. Sebab kata wanita itu, dirinya tak ingin menghancurkan wanita lain, demi meminta hati Prabu menerimanya lagi.
Prabu masih memusatkan perhatiannya pada Lusi. Semua informasi dibuka, bahwa ia ditugaskan oleh Leana untuk memisahkan Prabu dan Tiara. Lisi juga menceritakan jika ada salah seorang pelayan yang menjadi mata-mata, serta ponsel Lusi yang disadap.
“Mereka juga mengutus seorang suster untuk memberi obat yang salah pada Eyang.” Lusi yang mulai tenang kembali bercerita. Sementara Prabu mendekapnya dengan erat.
Lelaki itu masih sama bagi Lusi. Selalu berusaha memberi ketenangan, bahkan rasa aman. Namun, untuk memulai segalanya dari awal, ia merasa terlalu kotor. Selain itu, ia tak ingin merebut Prabu dari pelayan itu. Wanita yang mungkin memiliki rasa lebih besar, untuk lelaki yang ia cintai setengah mati ini.
“Suster itu mengganti obat yang diberikan Hadi.” Lusi menyeka mata. “Leana berusaha memusnahkan semua orang yang ada di dekatmu, Prabu.”
“Tapi sekarang tidak akan lagi!” Prabu menggeram. Amarah yang ditahannya telah sampai di puncaknya. Ia bahkan tidak menduga jika Leana sampai melakukan semua hal itu.
“Orang tua Leana juga akan menarik semua saham dari perusahaanmu. Mereka sudah mempengaruhi dewan direksi untuk tidak lagi memihakmu.”
Lusi tahu, menceritakan semuanya membuat nyawanya di ujung tanduk. Akan tetapi, ia tak peduli lagi. Bahkan, ia merasa urusannya dengan dunia telah selesai, sejak Lusi menculiknya dua tahun lalu.
“Aku takut kamu tidak bisa bertahan dari serangan mereka, Prabu. Aku takut mereka mencelakai Eyang. Aku takut kamu—“
Prabu mengusap pipi Leana dengan lembut. “Tenangkan dirimu.”
“Bagaimana aku bisa tenang? Nyawa kalian semua terancam!”
“Lusi—“
“Pulanglah. Aku yakin mereka tau kalau malam ini kamu di sini. Jangan tinggalkan rumah!”.
“Aku akan tetap di sini malam ini.” Prabu memberi penegasan.
“Tapi—“
“Aku akan menemanimu.” Prabu memutuskan, tak ingin dibantah. Meskipun dalam hati ia teringat Tiara. Mungkin wanitanya itu kecewa, sebab ia pergi tanpa berpamitan. Bahkan, ia berharap Tiara akan mengerti, saat ia tidak pulang malam ini.
Setelah Lusi tertidur, Prabu menghubungi beberapa orang kepercayaannya, dan mengatur siasat dengan cepat. Sebelum tengah malam, ia berhasil memesan ponsel baru secara online. Lusi membutuhkan benda itu untuk bertukar info kapan saja.
Prabu menatap kelamnya malam dari tirai yang dibiarkannya terbuka. Sementara Lusi meringkuk di balik selimut, tak jauh di belakangnya. Sejak wanita itu hadir pertama kali, ia memang telah curiga. Maka segera ia mengumpulkan orang untuk mulai mengawasi semuanya. Termasuk menjaga di sekitar rumah, jika saja ada orang mencurigakan.
Ditatapnya ponsel di tangan, lalu menimbang akan menghubungi Tiara. Namun, ia takut jika wanita itu terganggu, maka memutuskan akan menghubungi Nurma atau Sundari esok hari.
Malam ini, ia mungkin tak bisa tidur nyenyak. Akan tetapi, ia yakin semua rencana akan berjalan baik. Yang pasti, Leana atau siapa pun itu, tak boleh mengacaukan hidupnya lagi. Apa lagi mengusik orang yang ia cintai.
**
“Belum pulang?” Sundari menatap Nurma. “Ini sudah malam, dan Tiara belum sampai?”
“Ke mana dia? Lalu, bagaimana dengan Prabu?”
“Sejak pergi tadi malam, Tuan juga belum pulang. Semalam, sepertinya Tuan buru-buru. Saat dibereskan Tiara, teh yang dibuat pelayan masih utuh, Nyonya.”
“Baiklah. Ada apa dengan mereka semua?”
Nurma menarik napas panjang, lalu berkata dengan hati-hati. “Apa Nyonya tidak mencium sesuatu yang mencurigakan?”
“Maksudmu? Antara Prabu dan Tiara? Jangan mengada-ada. Prabu tidak akan menjatuhkan pilihan semudah itu. Hubungannya dengan Lusi dulu, sudah menjadi pelajaran untuknya. Bahwa perempuan dengan strata sosial rendah hanya mempermainkan setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan Lusi membuktikan itu. Pergi begitu saja, setelah mendapat harta tak terhingga dari cucuku. Maka, tidak akan kubiarkan itu terjadi lagi sekarang. Tidak Tiara, atau siapa pun. Perempuan untuk Prabu, haris dari kalangan yang sepadan.”
“Bagaimana jika Tuan menginginkan Tiara?” Nurma masih bertanya dengan hati-hati.
“Maka gadis itu harus dijauhkan dari Prabu, tidak peduli bagaimana pun caranya.”
Nurma mengangguk pelan. Nyatanya, Sundari masih sama untuk hal ini. Puluhan tahun berlalu, dan majikannya ini tak berubah sedikit pun. Bahkan, anak perempuan satu-satunya yang ia miliki dipisahkan secara paksa dari sang suami. Sebab, ayah Prabu hanya anak dari keluarga sederhana.
Nurma menjadi saksi, bagaimana hancurnya ibunda Prabu saat harus berpisah dati suami yang dicintai. Tak hanya kehilangan semangat hidup, wanita itu juga enggan membuka hati dengan siapa pun lagi. Sampai akhirnya ajal menjemput, Nurma yakin jika ibunda Prabu itu sengaja menabrakkan mobilnya.
Sampai sekarang, ia masih mengunci rapat-rapat rahasia itu. Bahkan, saat Prabu terus bertanya siapa ayahnya, Sundari masih bungkam. Tak ada kisah dari sang tuan, membuat Prabu tak mengetahui secara pasti asal-usulnya sendiri.
**
Tiara mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa berkunang-kunang. Ia tak tahu ada di mana, karena sepanjang jalan mata dan mulutnya disumpal kain. Sementara orang di sisi kanan dan kiri terus memegangi tangannya.
Hal yang membuat Tiara heran, karena orang yang membawanya ini tak menggunakan bius atau tali untuk mengikatnya. Mereka hanya membentak, dan mencengkeram tangannya dengan erat.
Usai melepaskan ikatan di mata, Tiara memandang sekeliling. Ruangan serba merah jambu yang luas, dengan sebuah televisi plasma raksasa menggantung di dinding. Ada sebuah ranjang berukuran besar, berbalut seprei motif bunga berwarna merah jambu. Pengharum ruangan di sini cukup menenangkan, membuat kepanikan Tiara sedikit hilang.
Tiara menuju arah cahaya berbatas pintu kaca dan melihat jika sekarang ia berada di lantai dua sebuah rumah besar. Udara di sekitarnya sejuk, dengan pemandangan yang indah dari tempatnya berdiri. Ada pucuk pinus di kejauhan, pun lampu bulat di sepanjang jalan yang tampak meliuk.
Meskipun demikian, ia merasa takut. Tak bisa menghubungi siapa pun, karena ponsel dan tasnya direbut paksa. Namun, yang mengherankan, siapa yang menculik dan menempatkannya di ruangan senyaman ini?
Saat berusaha menenangkan diri dan menerka-nerka, seorang lelaki bertubuh besar masuk ke kamar. Hal itu membuat Tiara beringsut mundur karena takut.
“S—siapa kalian? Siapa yang menyuruh kalian? Apa salahku?”
Lelaki itu tak menjawab, hanya meletakkan sebuah kotak ke meja, lalu keluar setelah mengunci pintu. Tiara berlari ke arah pintu keluar, dan menggedor tak karuan.
“Lepaskan aku! Biarkan aku pulang! Kenapa kalian menculikku? Apa salahku?”
Setelah lelah berteriak, tubuh Tiara meluruh ke lantai, dan ia menangis di sana. Meratapi nasib, juga ketakutan dengan apa yang menimpanya.
“Lindungi anakku. Apa pun yang terjadi, tolong lindungi anakku.” Ia merintih dalam tangis.
**
Bersambung ....