
Usai makan malam, Hadi menuju kamar Sundari yang terletak di lantai satu. Sejak bisa kembali berjalan, Prabu memindahkan kamar neneknya, agar lebih mudah beraktivitas. Meskipun untuk ke lantai dua telah disediakan lift khusus, tapi itulah yang terbaik bagi Sundari sekarang ini.
Setelah dipaksa oleh Prabu dengan sedikit mengancam, akhirnya Hadi datang ke kediaman Widjaya. Selain mereka, ada juga Nurma dan satu pelayan yang lain yang mendampingi saat Sundari diperiksa. Sementara itu, Tiara memilih istirahat di kamar, tidak keluar sama sekali setelah sepanjang hari tidur dalam dekapan Prabu.
Setelah melakukan pemeriksaan ringan, Prabu mengajak Hadi keluar. Tak lupa memberi titah pada Nurma, agar mengutus satu pelayan membuatkan kopi. Dua pria itu akan berbincang di kamar Prabu, di lantai dua.
“Kalian akan ngobrol di kamar?” tanya Sundari.
“Sudah lama kami tidak main PS, Eyang. Lagian, Hadi terlalu sibuk selama ini.” Prabu menjawab santai.
Padahal, ia sudah menyampaikan sebelumnya pada Hadi, untuk memeriksa keadaan Tiara. Namun, menutupi semua kemungkinan dari Sundari tetaplah jadi pilihan terbaik.
“Apa kamu mau menginap, Hadi?”
“Sepertinya tidak, Eyang. Karena—“
Sundari menepuk dahinya. “Ah, maafkan eyangmu ini. Aku lupa kalau pengantin baru tidak boleh diganggu.”
Hadi tersenyum, dan mengangguk. Saat makan malam tadi, ia memang sempat bercerita bahwa istrinya baru saja kembali usai menempuh pendidikan S2 di luar negeri. Meskipun telah memiliki dua anak yang lucu, tapi kehidupan rumah tangga dokter muda itu tak ubahnya pengantin baru. Selalu tampak harmonis, juga mesra sari sama lain.
“Eyang bisa saja.” Hadi menimpali.
“Andai Prabu juga sudah menikah. Tentu aku pun punya cucu seperti anak-anakmu.” Sundari menghela napas pelan.
“Eyang ....” Prabu berusaha menjeda kalimat neneknya, atau semua masalah akan semakin panjang. Bagian terparah adalah saat pembahasan Sundari berujung membahas masa lalu.
Tak lama, Hadi dan Prabu berpamitan. Mereka melangkah beriringan menuju lantai dua, sembari bercakap santai. Keduanya disambut seorang pelayan telah siap dengan sebuah troli berisi kopi dan aneka kudapan.
Prabu memang mencegah pelayan itu masuk, dan membawa sendiri troli setelah mengucapkan terima kasih. Belakangan ini, ia memang seramah itu pada pelayan.
“Terima kasih?” Hadi berkata setengah mengejek, saat mendengar Prabu berucap demikian sopan pada pelayan. Seperti bukan Prabu yang biasa ia kenal.
“Kenapa? Apa aku semanis itu? Bukankah orang juga bisa berubah seiring waktu?” Prabu menutup kembali pintu kamarnya. Satu tangannya mendorong troli makanan.
“Jadi, seorang Prabu bisa berubah? Apa saja? Hanya bicaranya saja, apa termasuk hobinya bermain panas?”
“Ah, sialan!” Prabu tertawa.
“Oh, jadi ... dia yang membuatmu berubah?” Tatapan Hadi tertuju pada Tiara yang duduk di sofa, tepat di sisi dinding kaca yang menghadap ke kolam renang.
Tatapannya menilai sosok di hadapan. Sangat berbeda dari selera Prabu selama ini. Tubuh tak terlalu tinggi, juga tidak semolek wanita yang selama ini menjadi incaran Prabu demi mengisi malam. Benar-benar gadis sederhana, meskipun kecantikannya tak bisa dibilang biasa saja. Kemudian, Hadi teringat wajah di depannya ini dulu mendampingi Sundari dengan mengenakan seragam pelayan. Lalu ia berpikir, apakah selera Prabu bergeser sedemikian jauh?
Sementara itu, Tiara yang sejak tadi menunggu akhirnya bangkit dari sofa. Ia menyapa Hadi dengan anggukan sesantun mungkin, dan merasa canggung amat canggung.
“Bisa dibilang begitu.” Prabu menjawab santai, lalu merengkuh Tiara. Seolah-olah memberi penegasan pada Hadi, jika ia telah memilih hadis itu sebagai pengisi hidupnya kelak.
Hadi mengangkat bahu, sambil tersenyum miring. “Well, cinta itu buta, right?”
Tiara melepaskan diri dari Prabu, lalu menghidangkan kopi dan makanan kecil ke meja kayu berwarna cokelat. Mendapat tatapan mengintimidasi dari Hadi, tentu nyalinya ciut juga. Lebih-lebih saat mengetahui dati Prabu, tujuan Hadi datang kemari untuk memeriksanya juga.
“Apa kamu siap, Nona?”
“Namanya Tiara.” Prabu menyela.
“Ah, baik. Yang pertama, ambil urine-mu dalam gelas ini, lalu lakukan pengecekan manual dengan alat ini.”
Hadi mengeluarkan sebuah gelas ulur kecil dari tasnya, berikut sebuah alat tes kehamilan. Sebagai dokter spesialis penyakit dalam, tentu ia tak memiliki kelengkapan itu. Hanya saja, apa yang ia bawa adalah sesuatu yang diminta Prabu sebelum ia datang kemari.
Tiara menerima benda dari tangan Prabu dengan gugup. Tangannya pun terasa dingin, dan sedikit gemetar. Bagaimanapun usaha Prabu menenangkan sejak tadi siang, tetap saja ini menakutkan baginya. Ia tak bisa membayangkan sang ibu dan Alia akan kecewa, jika ia benar-benar hamil. Serta masih banyak ketakutan lain yang menari-nari di dalam kepalanya.
“Kutemani?” Prabu mengelus bahu Tiara dengan lembut. Seakan-akan bisa memahami, apa yang dirasakan wanita di sisi.
“Ah, itu ... rasanya tidak—“
“Kemarilah. Kutemani.” Prabu bangkit, dan mengulurkan tangannya.
Lagi-lagi Hadi menggeleng. Tatapannya masih terarah pada Prabu yang menggamit pinggang Tiara, hingga menghilang di balik pintu kamar mandi yang berada di sudut lain ruangan.
Tiara membuka kemasan alat uji kehamilan dengan ragu. Sementara, Prabu menunggu dengan sabar, dan berdiri tak jauh darinya.
“Biar aku saja.” Diraihnya dus kecil dari tangan Tiara, laku membuka dengan cepat. Alat sebesar lidi itu diserahkannya pada Tiara, sedangkan ia membaca petunjuk yang tertera dalam brosur.
“Apa Tuan benar-benar akan menungguku?”
“Maksudmu?”
Pipi Tiara merona. Terlebih, bilik mandi dan closet hanya terpisah sekat kaca. Tentu aktivitasnya akan terlihat oleh Prabu. “Saya malu, Tuan.”
Prabu menaikkan sebelah alis, dan menatap wanitanya yang berbalut terusan berwarna merah jambu. “Malu? Kamu lupa kalau aku sudah melihat semuanya?”
“Tapi—“
“Cepatlah.” Prabu mengusap rambut Tiara dengan penuh kasih. “Berikan kabar bahagia untukku.”
Detik demi detik terasa begitu lama bagi Tiara, saat menunggu hasil dari alat itu. Demikian juga Prabu yang tampak tak sabar, dengan tatapan berbinar-binar. Namun, kemudian peehatian lelaki itu pada gelas ukur teralihkan pada ponsel di saku celana yang berdering.
“Halo?” Prabu menjawab telepon, tepat pada saat Tiara akan mengangkat alat itu dari gelas ukur.
“Apa maksudmu? Tunggu! Orang mencurigakan? Tetap awasi, jangan biarkan orang itu masuk! Aku segera ke sana!”
Tak menunggu tarikan napas kedua, bahkan, mengabaikan Tiara yang hampir menangis, Prabu melesat keluar. Meninggalkan kamar mandi, juga Tiara yang terpaku dengan alat bergaris dua di tangannya.
**
Lusi terjaga dari tidurnya, saat ponselnya berdering. Ia tak sadar jika ketiduran, saat membaca buku sore tadi. Nama Leana terpampang di sana, dan itu membuatnya takut setengah mati. Bagaimana jika wanita itu ada di depan pintu apartemennya sekarang?
Lusi panik, dan segera beranjak dari tempat tidur. Diabaikannya ponsel yang terus berdering tanpa menjawab. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Sementara, meminta perlindungan Prabu melalui telepon sangat tak mungkin, karena Leana menyadap ponselnya.
Jika ia ketahuan mengadu, maka bisa dipastikan nyawa Sundari atau Prabu terancam. Sebab, salah satu pelayan di rumah besar itu adalah mata-mata yang dibayar Leana. Ia takut dengan ancaman itu.
Ia melintasi ruang tamu yang gelap sembari mengendap-endap. Untung saja ia tertidur sejak sore, jadi tak sempat menyalakan lampu. Lusi gegas menuju pintu, lalu mengintip melalui lubang kecil yang ada di sana. Benar saja, seorang pengawal Leana berdiri di sana, sembari memencet bel beberapa kali.
Dengan gerakan cepat, Lusi menggeser sofa dan meletakkannya sebagai pengganjal pintu. Seluruh ruangan yang berlapis karpet tebal membantunya melakukan pekerjaan itu tanpa suara.
Setelah memastikan pintu cukup kuat, ia menuju kamar. Panggilan Leana yang terus berdering pada akhirnya dijawab juga.
“Halo?” sapanya setenang mungkin.
“Kamu berani mengabaikanku, Lusi?” Suara Leana terdengar penuh penekanan.
“Ah, maaf. Tapi ponselku dalam tas, dan aku tidak dengar.”
“Kami di mana?” tanya dari seberang penuh selidik.
“Aku? Aku ada di jalan, baru kembali dari toko buku.”
Terdengar Leana mendengkus kasar, lalu berkata, “Waktumu tinggal seminggu! Bawa gadis itu ke hadapanku, atau semuanya selesai, Lusi!”
Lusi menggenggam ponsel erat-erat, dan tubuhnya meluruh ke sisi ranjang. Sebisa mungkin ia menahan tangis dengan telapak tangan, agar tidak terdengar sampai keluar.
Sesaat kemudian, foto-foto masuk ke ponselnya. Beberapa di antaranya seorang gadis berpakaian pelayan, lalu di bagian lain Prabu sedang mendekap gadis itu.
Dua sisi hatinya tertikam perih sekaligus. Yang pertama karena melihat Prabu telah memiliki pengganti. Sementara, di sisi yang lain ia tak ingin lelaki itu tersakiti lagi.
**
Bersambung ....