Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Terjebak Cinta Sang Tuan Muda
38. Kekacauan


Hadi yang tak berhasil mengejar mobil sedan itu akhirnya memutuskan kembali ke rumah sakit. Melintasi dua lampu merah, terjebak macet, serta tak memiliki tanda secara khusus membuatnya kesulitan menemukan mobil yang dicari. Maka setelah lelah menimpang pada ojek online, ia memutuskan menuju rumah sakit. Saat menuju pulang itulah, ia baru sadar betapa telah jauh mengejar, tanpa membawa apa pun.


Hadi tergesa menuju ke ruangannya, mengabaikan sapaan suster yang berjaga. Untungnya, hari sudah sore dan ia tak memiliki daftar pasien lagi. Segera ia mengambil ponsel, dan mencoba menghubungi Prabu. Sayang, nomor ponsel pria itu tak bisa tersambung di saat genting.


“Ah, sialan!” Hadi mengumpat. Ia mondar-mandir dalam ruangan, sambil terus mencoba menghubungi Prabu.


Dokter muda itu tampak gusar. Betapa tidak? Ia menyaksikan sendiri saat Tiara dipaksa masuk ke mobil, oleh dua orang berbadan kekar, tapi tak bisa melakukan apa pun.


Bagaimana jika sesuatu terjadi pada wanita itu, sedangkan Tiara tengah mengandung? Meskipun hasil pemeriksaan menyatakan ibu dan bayi dalam keadaan sehat, tetap saja di awal kehamilan adalah fase yang sangat riskan. Tiara diharuskan menjauhi stres dan rasa takut berlebih.


Belum lagi, peristiwa itu mengingatkannya pada peristiwa menghilangnya Lusi beberapa tahun lalu. Ia menjadi saksi betapa Prabu hancur, dan susah untuk bangkit kembali. Lusi, lalu Tiara. Bagaimana bisa Prabu akan bertahan dati gempuran ini? Saat dua wanitanya menghilang dalam keadaan hamil?


Segera Hadi melepas jas putih yang sejak tadi ia kenakan, lalu berlari meninggalkan ruangan. Kediaman Prabu adalah tujuannya saat ini.


Sementara itu, Prabu yang sibuk mengamankan Lusi dan menjalankan rencana kini mulai lega karena semua teratasi dengan baik. Maka, diputuskannya untuk pulang, setelah salah seorang orang kepercayaannya berjaga di sekitar apartemen Lusi. Terdiri dari seorang pelayan, dan satu bodyguard.


Saat tengah menuju pulang, ia ingat akan Tiara. Maka ia segera memacu kendaraan. Tak sabar ingin segera sampai ke rumah, lalu bertemu dengan kekasih yang beberapa hari belakangan ia abaikan. Jujur, Prabu belum tahu bagaimana cara memberi tahu Tiara tentang Lusi. Bagaimanapun, ia takut Tiara akan merasa tersisih dengan keberadaan masa lalunya. Meski belum sempat bercerita, tapi ia yakin jika Tiara sudah mendengar sesuatu.


Terpikir akan menghubungi Tiara, tapi Prabu teringat jika ponselnya kehabisan sejak semalam. Maka, mau tak mau ia harus bersabar, dan menahan kerinduan sampai ke rumah.


Prabu memarkir kendaraan dengan asal, lalu memasuki rumah dengan tergesa. Setengah berlari ia menapaki tangga, dan langsung menuju kamar Tiara. Harapan bertemu kekasih yang dirindukan pupus, saat kamar itu kosong. Segera ia menuju kamar Sundari, untuk menemukan Tiara.


“Kamu baru pulang?” Sundari menyambut, saat Prabu membuka pintu kamar.


Prabu melayangkan pandang ke seluruh ruang, tapi tak menemui sosok yang dicarinya. Hanya ada Nurma dan seorang pelayan. Itu berarti, Tiara masih belum bekerja, karena rencananya hari ini wanita itu memang akan melakukan pemeriksaan di rumah sakit.


“Eyang sendiri?” tanya Prabu, tak tahu bagaimana harus memulai. Menanyakan Tiara pada Sundari, jelas tak mungkin.


“Maksudmu? Aku bersama Nurma dan Lisa.”


“Ah. Iya.” Prabu berdeham sebentar. “Apa Tiara belum kembali bekerja sejak semalam?”


“Tiara?” Sundari menghela napas dalam. “Sejak tadi siang dia belum kembali.”


“Memangnya dia ke mana?” Prabu berusaha tetap tenang, meski dalam hati ingin mendesak Sundari.


“Entah dia ke mana. Yadi dia izin mau ke rumah sakit. Tapi sampai malam begini belum kembali, dan nomornya belum aktif.”


“Ah, baiklah.” Prabu bangkit, sembari memijat tengkuk. Sementara, satu tangan bertumpu di pinggang. “Aku ke kamar dulu, Eyang.


Seharian bekerja, aku butuh istirahat.”


Baru saja Prabu akan beranjak, saat satu pelayan masuk. “Kenapa?” tanyanya penasaran.


“Maaf, Tuan. Ada tamu. Dia--”


“Tamu?” Prabu segera meninggalkan kamar Sundari, dan berniat menuju ruang tamu. Akan tetapi, langkahnya terhenti di pertengahan tangga, saat mendapati Hadi berdiri di bawah sana.


“Bukannya Tiara ke rumah sakit?” tanya Prabu penasaran. Ia lantas mendekati Hadi yang ada di ujung tangga.


“Tiara ....” Hadi tampak ragu.


“Tiara? Kenapa Tiara? Bukankah hari ini ia ke rumah sakit?” Prabu mengulang kalimatnya, saat berada di hadapan Hadi.


“Tiara diculik!”


“Diculik?” Prabu mengulang kalimat Hadi dengan mata membulat. “Apa maksudlo?” Prabu maju selangkah, dan mencengkeram kerah baju yang dikenakan Hadi.


Tanpa mereka ketahui, ada seseorang yang menyimak percakapan mereka, lalu menyelinap begitu saja. Pergi setelah merasa informasi yang didapat sudah cukup.


“Dan yang kutakutkan, karena Tiara sedang mengandung.”


Mendengar itu, cengkeraman Prabu di leher Hadi terlepas. Tubuhnya seketika lunglai, dengan napas yang tiba-tiba terasa sesak.


“Tiara hamil?” Tatapan Prabu mengarah lurus pada Hadi, yang mengiyakan pertanyaannya. “Terus kenapa lo nggak telepon gue, *******!” Prabu berteriak. Tak peduli lagi jika Sundari atau siapa saja mendengar.


“Gue udah berkali-kali nelepon, tapi nggak bisa! Jangan lupakan bagimana kecewanya Tiara waktu lo pergi begitu saja semalam?” Hadi balas menatap tajam.


Prabu menggeram, dan berteriak. Namun, sejenak kemudian ia bergumam, seakan-akan untuk dirinya sendiri. “Gue harus gimana sekarang? Gue harus gimana?”


“Gini. Pertama, lo cari anak buahlo yang bisa melacak nomor Tiara. Satu jam lalu nomornya masih aktif, tapi nggak lo angkat.” Hadi berkata dengan tenang, meski tatapan Prabu masih mengintimidasi.


Mendengar itu, Prabu mengumpat. Lagi-lagi ia teringat ponselnya yang kehabisan daya. Tak ingin membuang waktu, ia berlari keluar diikuti Hadi.


“Gue yang bawa.” Hadi menuju kursi pengemudi, dan menyalakan mesin. Sementara, Prabu segera meraih kabel data, lalu mengaktifkan ponsel.


Sementara Hadi mengemudi ke arah rumah sakit, Prabu sibuk menelepon. Ia berbicara lugas pada orang-orang kepercayaannya, memberi instruksi singkat, sesekali membentak dan berteriak.


Melihat Prabu yang sekarang, Hadi seperti di seret pada masa lalu. Saat Lusi menghilang, dan Prabu mengalami kepanikan yang sama. Diliriknya Prabu yang benar-benar gusar, sambil menatap ke layar ponsel. Namun, sesaat kemudian sahabatnya itu bersandar dengan kepala memejam.


“Lusi ketemu.”


Sontak, Hadi mengerem mobil, menimbulkan bunyi berdecit ban yang beradu dengan aspal. Dengan mata terbelalak, ia bertanya, “Maksudlo?”


“Ya. Semalem gue mengamankan Lusi dari penculiknya. Dan gue nggak berpikir, kalau demi menyelamatkan Lusi, gue harus kehilangan Tiara.”


Hadi mengusap wajahnya. Ditatapnya Prabu yang benar-benar sedih sekarang.


“Apakah Tiara akan menghilang seperti Lusi?” Suara Prabu kian melemah, kini ia terisak. "Gue nggak siap kehilangan lagi. Tiara yang sudah bikin gue nyaman selama ini."


"Gue yakin Tiara kuat, yang harus lo pikirkan adalah menemukan lokasi terakhir dia sekarang."


"Anak gue, Di. Gimana anak gue?" Prabu menutup wajah dengan kedua telapak tangan, menyembunyikan air mata yang berdesakan ingin keluar.


"Aaarrggh!"


**


“Diculik? Apa maksudmu?” Leana menggebrak meja, saat mendengar kalimat dari ujung telepon.


“Bagaimana bisa?” Leana bangkit, dan menyugar rambut dengan gusar.


Kabar tentang diculiknya gadis yang ia incar membuat Leana geram. Siapa yang mendahului rencananya? Apakah Prabu memiliki musuh lain?


Berbagai tanya berputar di benak. Sementara ia memutar otak, untuk rencana selanjutnya.


“Siapa?” tanya Leana pada dirinya sendiri. Ia lantas meninggalkan ruangannya, dan menyerukan nama seseorang. Kemudian, lelaki berpakaian hitam datang dengan langkah tergesa.


“Cari info tentang pelayan itu, temukan bagaimanapun caranya. Bawa dia ke sini, waktumu satu minggu dari sekarang!”


**


Bersambung ....