Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Terjebak Cinta Sang Tuan Muda
33. Kenangan dan Rasa Takut


Prabu mengikuti gerak-gerik Tiara, sampai wanita cantik itu meninggalkan ruangan Sundari. Sementara sang nenek masih terus saja membahas perusahaan, dan langkah apa saja yang harus dilakukan Prabu demi meningkatkan kualitas produk mereka. Termasuk mempercepat pembangunan beberapa cluster sebelum akhir tahun.


Namun, bukan penjelasan sang nenek yang sekarang memenuhi benak Prabu, melainkan perbedaan sikap Tiara. Ia tahu, wanitanya itu sedang merajuk karena diabaikan, tapi memilih diam karena ada jarak antara mereka yang tak mungkin diabaikan. Antara pelayan dan majikan, sekat tak kasat mata yang tak bisa dilanggar Tiara, meski status mereka adalah sepasang kekasih.


“Baiklah, karena sudah ada Bu Nurma, aku ke kamar dulu, Eyang. Dua hari tidak pulang, aku juga butuh istirahat.” Prabu bangkit, diikuti tatapan Sundari. Ia memijat tengkuk, seakan-akan memberi penegasan jika ia benar-benar sedang lelah.


“Istirahatlah. Nanti kusuruh orang siapkan makan malam, dan kita makan bersama. Sudah lama kan, kamu tidak di rumah?” Sundari menghela napas dan tersenyum. Sementara satu pelayan yang datang bersama Nurma sibuk membereskan makanan.


“Sebaiknya Tiara tidak usah diganggu. Nanti kusuruh orang untuk mengantarnya ke rumah sakit.” Prabu berkata pelan.


“Bagaimana kalau malam nanti kamu tanya Hadi? Sudah lama juga kita tidak memanggilnya kemari. Aku pun ingin konsultasi, mana obat yang harus kubuang.” Sundari menanggapi, dan Prabu tersenyum.


“Baiklah, nanti biar hubungi dia.” Prabu menutup percakapan sebelum keluar.


Setelah meninggalkan kamar Sundari, Prabu berdiri sejenak di depan kamarnya. Namun, beberapa detik kemudian, ia memutar arah dan menuju kamar Tiara. Dibukanya dengan gerakan sangat hati-hati, agar sang empu tak terganggu. Aroma minyak kayu putih menyergap penciuman, begitu ia sampai di dalam.


Prabu mengedarkan pandang ke sekeliling, lalu mendapati Tiara meringkuk di balik selimut. Segera dihampirinya wanita itu, dan menyusup ke dalam selimut. Saat mengendus aroma khas minyak kayu putih itu, angannya melayang pada sebait kenangan. Masa lalu yang membuat kebahagiaannya melambung, karena Lusi mengabarkan jika ia akan menjadi ayah.


“Kamu kenapa?” tanya Prabu.


Dilihatnya Lusi yang melangkah dengan tubuh lunglai, usai muntah-muntah di kamar mandi. Ini sudah kali ketiga ia mendapati peristiwa demikian, karena kesibukan membuatnya membagi waktu antara di rumah, dan apartemen. Jika diperhatikan, wajah Lusi pun berbeda, penuh jerawat dan sedikit kusam.


“Kenapa?” ulangnya dengan nada cemas.


Dihampirinya Lusi yang bungkam, lalu bersandar di kepala ranjang. Di tangan wanita itu tergenggam balsem, juga sebotol minyak kayu putih yang telah dibalurkan ke seluruh tubuh. Menguarkan bau aneh, yang tidak pernah ia cium sebelumnya.


Lusi masih bungkam, dengan mata memejam. Kali ini, wanita itu mendekatkan kemasan balsem ke hidung. Iba dengan kondisi Lusi yang lemah, Prabu meraih kaki wanitanya, dan memberi pijatan lembut.


“Kamu baik-baik saja? Bukannya sudah kubilang, berhenti saja bekerja? Apa uang dariku masih kurang, sampai kamu harus bekerja dan mengambil lembur?”


“Kamu yang bikin aku begini, tapi kamu yang ngomel.” Lusi berbicara dengan mata memejam.


“Soal apa? Masih ada oraang di kantor yang menganggapmu mendekatiku hanya karena harta? Bukannya sudah kubilang, aku yang yakinkan Eyang? Kami bekerja, dan kamu punya kemampuan finansial sendiri, Lusi. Jadi, berhenti memikirkan omongan orang yang mengatakan kamu mengejar harta!” Prabu mulai menekan suaranya.


Selama ini, Lusi memang menjadi gunjingan seisi kantor karena mendekatinya. Wanita itu dianggap menggaet atasan demi harta semata. Ditambah tampilan Lusi yang memang sedikit seksi, dan menggoda.


Akan tetapi, Prabu tahu kekasihnya ini pekerja keras. Saat diberi tugas merawat Sundari selama seminggu pun, Lusi sigap melakukan dengan baik, tanpa mengeluh. Hal yang membuat ia semakin mantap melamar wanita itu, lalu akan meyakinkan Sundari yang memang enggan memberi restu.


Masalah klasik, perbedaan kasta juga status sosial memang masih melekat erat di benak sang nenek. Maka, tak heran jika prinsip kesetaraan status yang dipegang Sundari menjadi penghalang mereka bersatu. Untuk urusan itu, Sundari tegas dan tak bisa tergoyahkan. Betapa pun baik neneknya itu pada Lusi, tetap saja tak mudah bagi Prabu untuk membawa wanita itu ke dalam keluarga, sebagai istri.


“Bukankah sudah kubilang, aku yang akan meyakinkan Eyang?” ulang Prabu. "Aku pasti bisa meyakinkan Eyang, dan kamu hanya perlu bersabar, Lusi."


“Bukan itu, Sayang.”


“Lalu apa?”


Lusi hanya tersenyum, lalu meraih amplop dari laci meja, yang tak jauh dari ranjang. “Bacalah. Maka kamu akan tau, bahwa selama sebulan ini aku tersiksa karenamu.”


Prabu menerima amplop berlogo rumah sakit itu, dan membacanya dengan teliti. Lalu, ia mendapati dua lembar foto USG yang membuat napasnya nyaris putus karena bahagia.


“K—kamu hamil?”


“Sayang, jadi selama ini?”


“Ya. Aku begini karena kamu, dan kamu selalu protes, bukan?” Lusi mengusap perutnya, sambil mencebik.


“Tiba-tiba membangunkanku tengah malam hanya karena ingin mi ayam, atau tiba-tiba ingin memelukku seharian. Kadang marah tanpa sebab, dan menangis ... jadi, semua itu?” Prabu mengurai keanehan demi keanehan Lusi belakangan ini.


“Karenamu!” balas Lusi lagi, yang membuat Prabu bersorak girang.


Dengan kehamilan Lusi, maka rencananya berhasil, dan Sundari tak akan bisa menolak lagi. Picik memang, tapi Prabu menikmati jalan pintas yang ia tempuh, untuk bersatu dengan wanuta yang ia kasihi. Hanya butuh lamaran resmi dan menikah, maka semua selesai, dan Sundari tak bisa menolak kehadiran Lusi.


“Aku juga, Tuan.”


Kalimat Tiara membuat ingatan Prabu tercerai berai. Sekali lagi ia melirik kemasan balsem, juga mengendus aroma minyak kayu putih yang menguar dari tubuh Tiara, lalu mengajukan banyak pertanyaan. Saat terakhir kali mencumbu wanitanya ini, ia juga merasa ada perubahan pada tubuh Tiara. Lebih berisi di beberapa bagian.


"Tiara ... apa mungkin kamu ... hamil?"


Mendengar tanya itu, sontak Tiara duduk dengan mata membulat. Dielusnya perut beberapa kali, lalu menatap Prabu yang kini duduk di hadapan, memindainya dengan tatap penuh harap.


“Ha—hamil?” Tiara menatap Prabu. Tak percaya dengan tanya yang terlontar untuknya.


Prabu mengangguk.


“Tapi, bagaimana mungkin saya hamil, Tuan?”


“Maksudmu?”


“Ah, maksud saya ....” Tiara menjeda kalimat, lalu teringat jika sudah lebih dua pekan tamu bulanannya belum datang.


Tak hanya itu, ia juga mulai menghubungkan dengan perasaannya yang aneh. Mual dan pening setiap pagi dan juga benci aroma masakan. Rasa rindu yang menggebu-gebu pada Prabu, keinginan makan buah asam, juga hal yang lain lagi.


Seketika itu juga batin Tiara didera takut luar biasa. Bayangan sang ibunda dan Alia, lalu bayangan Sundari yang murka, semua itu bergantian melintasi seluruh ruang dalam benak. Pikiran kalut, yang menggiring kaca-kaca di kedua matanya.


Bagaimana jika ia dipecat? Dari mana Tiara akan mendapatkan uang untuk pengobatan ibu, juga biaya kuliah Alia? Belum lagi, rasa takut akan diusir dari rumah besar itu, dan dicampakkan Prabu. Tiara takut, amat sangat takut.


“Lalu, apa yang harus saya lakukan, Tuan?” tanyanya dengan nada gemetar.


Melihat air mata yang turun dari pipi mulus itu, Prabu menyusut jarak. “Hey, kenapa kamu menangis?” Prabu berniat memeluk, tapi Tiara beringsut mundur.


“Tiara?” Prabu sedikit heran dengan reaksi Tiara, yang malah ketakutan.


“Semua ini salah saya, Tuan. Andai saya bisa menahan perasaan, andai malam itu saya tidak membuka pintu kamar, mungkin saja tidak akan terjadi hal seperti ini.” Tangis Tiara pecah, dan ia menutup wajah dengan telapak tangan.


Prabu menghela napas. Bagaimana ia harus mengatakan, jika kemungkinan yang dialami Tiara adalah hal yang ia nantikan? Lalu ... saat kebahagiaan menyapa, bayangan Lusi melintas di benaknya. Maka, saat itu pula Prabu tahu, keputisan apa yang harus diambilnya.


***


Bersambung ...