
Tiara sampai di terminal sebelum Subuh, dan segera memesan taksi online. Rumah besar itu masih lengang, meski telah tampak aktivitas di paviliun belakang. Rupanya, beberapa pekerja yang pulang sudah hampir semuanya kembali, termasuk dirinya yang tiba paling akhir.
Ia menyapa Nurma seperlunya, lalu bergegas menuju kamar. Tentu akan sangat nyaman, menghilangkan penat dengan berendam di air hangat, ditambah beberapa tetes sabun aroma terapi. Wangi khusus yang dipilih Prabu untuknya, sebagai hadiah. Bukan tanpa alasan, sebab sang kekasih menyukai wangi itu di tubuh Tiara.
Tubuh Tiara telah sepenuhnya terendam dalam bathtub, dan ia memejam menikmati kenyamanan itu. Ia tak sabar ingin bertemu Prabu, dan memberikan kejutan. Tak mengirim pesan sejak kemarin, ia berpikir jika sang kekasih benar-benar marah karena ia datang terlambat.
Usai bersiap dengan seragam yang ia tanggalkan selama tiga hari, Tiara keluar dan menuju kamar Sundari. Ternyata ada Nurma di sana, yang tengah menyiapkan sarapan. Sementara, suster yang diminta Prabu menjaga sudah tidak terlihat. Mungkin, waktu bekerja mereka telah usai.
Tiara melihat jika wajah sang majikan itu berbinar, dan merentangkan tangan sebagai isyarat sebuah pelukan. Segera ia sambut dengan senyum yang sama, lalu bergegas melabuhkan diri dalam pelukan Sundari. Kini, ia tampak bagai seorang anak yang merindukan ibunya.
Tentu saja, itu membuat Nurma sedikit heran, karena tak biasanya Sundari bersikap demikian hangat pada pelayan. Namun, ia bersyukur jika kehadiran Tiara bisa mengubah perangai majikan yang terkenal ketis dan kaku itu.
“Kapan kamu datang? Seingatku, kamarmu masih kosong semalam?” Sundari menepuk punggung Tiara beberapa kali, lalu melepaskan pelukan.
“Saya datang beberapa jam lalu, Nyonya.” Tiara tersenyum, dan menggenggam jemari Sundari.
“Apa kamu butuh tambahan waktu beristirahat?”
“Tidak perlu, Nyonya. Segera membawa Nyonya berjalan-jalan sudah cukup membuat saya bersemangat lagi.” Tiara tersenyum lebar, menunjukkan matanya berbinar-binar.
Sundari mengukur satu tangan, dan mengusap pipi Tiara. “Inilah yang kurindukan darimu. Semangat yang menggebu, juga keceriaan.”
“Saya juga merindukan Nyonya.”
“Rupanya, memberimu cuti membuatmu lebih sehat dan segar.”
Sundari memindai wajah Tiara, yang entah mengapa tampak semakin cerah di matanya kini. Ada aura kedewasaan, serta wajah yang seakan-akan lebih bercahaya, setelah tiga hari tak bersua. Entah hanya perasaannya saja, tapi memang ia merasa Tiara berbeda sekarang.
“Oh, iya, Nurma.” Sundari menghentikan Nurma yang hendak beranjak. “Semalam Prabu tidak menjengukku di sini. Apa dia pulang terlambat lagi? Mungkin dia sibuk sekarang, jadi, buatkan sarapan yang baik untuk kesehatannya.”
Nurma tampak berpikir sejenak, dan menjawab, “Tuan tidak pulang semalam, Nyonya.”
Dahi Sundari mengernyit. “Tidak pulang? Tapi, dia tidak memberiku kabar, sekretarisnya juga tidak memberi laporan.”
Kalimat Sundari dan Nurma membuat Tiara merasa ada yang aneh. Sebab, selama ini ia tahu, jika sesibuk apa pun Prabu selalu pulang. Kecuali akhir pekan, yang memang dihabiskan sang majikan berpesta dengan teman-temannya. Atau, jika ada urusan di luar kota.
Selebihnya, Prabu akan selalu pulang meskipun larut. Sebab, selama ini lelaki itu selalu mengecek kondisi neneknya, tanpa pernah absen. Lalu, kenapa?
Berbagai tanya melintas di benaknya, terlebih karena pesan yang ia kirim tak berbalas, pun panggilan tak terjawab. Menepis penasaran, Tiara mohon diri sejenak, berpamitan akan mengambil sesuatu di kamar.
Namun, yang ia tuju adalah kamar Prabu. Setelah memastikan tak ada yang melihat, ia masuk dan berdiri di tengah ruangan. Menyapukan pandang ke sekeliling, seakan-akan mencari jejak dari sang kekasih.
“Aku sudah kembali, Tuan. Tapi, Tuan di mana? Katanya Tuan merindukanku, tapi kenapa tidak pulang saat aku datang?”
**
“Bagaimana keadaan ibumu? Apa dia sudah sehat?”
Tiara yang sedang merapikan kuku kaki Sundari mendongak, lalu tersenyum. “Karena kebaikan Nyonya, ibu saya telah sembuh. Memang masih banyak rangkaian terapi yang harus dilakukan, tapi kami percaya, ibu saya bisa sembuh, dan pulih seperti sedia kala.”
Sundari memperhatikan Tiara yang berkata dengan penuh semangat. Setiap kalimat yang diucapkan gadis itu terdengar penuh keyakinan. Hal yang membuat ia menaruh simpati sejak awal. Sebab, jarang ada gadis yang mampu berjuang tanpa menjual kisah duka demi simpati. Terlebih, Tiara adalah gadis yang cerdas.
Apalagi, latar belakangnya sebagai mahasiswi berprestasi, yang tak mengenal gengsi. Mau bekerja apa saja, demi kesembuhan sang ibu. Padahal, Sundari yakin di luar sana banyak gadis dengan kemampuan seperti Tiara, dan memilih-milih pekerjaan. Hal yang membuatnya memberikan bonus lebih dari yang lain, juga satu set perhiasan emas sebelum gadis itu mengambil cuti.
“Ibu juga senang dengan hadiah kalung yang Nyonya berikan. Begitu juga dengan Alia. Katanya, mereka tidak pernah menerima kalung sebagus itu. Mereka mendoakan semoga Nyonya selalu sehat dan bahagia.” Tiara menambahkan, dengan senyum lebar dan mata berbinar.
Meskipun ia berbohong soal kalung. Sebab, kalung dan cincin yang dihadiahkan Sundari ia simpan sendiri, lalu membelikan ibu dan adiknya perhiasan baru. Entah mengapa, Tiara berpikir ingin mengumpulkan kenangan dari sang majikan. Hatinya berkata, bahwa wanita di depannya ini akan menjadi orang yang ia rindukan, suatu saat nanti. Itu sebabnya, ia memilih menyimpan perhiasan pemberian Sundari.
Bonus berupa uang dari Prabu pun masih utuh, entah mengapa ia enggan untuk memakainya. Menerima uang begitu banyak tanpa bekerja, ada sisi hatinya yang ragu. Ia takut, jika Prabu menganggapnya menjual diri, atau hal yang lain yang menimbulkan prasangka. Maka lebih baik baginya menyimpan uang itu, jika sewaktu-waktu ada hal tak diinginkan.
“Ah, aku ikut senang mendengarnya.” Sundari yang duduk di kursi santai meneguk minuman sekali lagi. “Ah, smoothies buatanmu memang yang terbaik.” Ia memuji.
“Benarkah? Apa karena dua suster itu memaksa Nyonya meminum jus buah encer dan tidak enak?” Tiara berkata sembari memasang mimik wajah lucu. Tentu saja itu membuat Sundari tertawa.
“Aku akan memberi mereka peringatan! Lihat saja!”
Kali ini, Tiara menirukan gaya Prabu, membuat Sundari makin tergelak. Jika diperhatikan, dua orang itu tampak dekat, bak cucu dan nenek. Bukan seperti pelayan dan majikan, jika saja Tiara tak berseragam.
“Kamu benar-benar seperti Prabu kalau begitu!” Sundari berkata sambil menyeka sudut mata.
Wanita itu masih tertawa. Akan tetapi, tidak dengan Tiara. Mendengar nama Prabu disebut, tawa di bibirnya mendadak surut, terganti muram berbalut kerinduan. Ia lantas melihat ke atas, pada jendela sebuah kamar besar di bagian bangunan paling depan.
Sebuah ruangan besar, tempat ia beberapa kali menghabiskan malam dengan sang tuan. Sosok yang begitu ia inginkan saat ini, sekadar melabuhkan kerinduan.
Tiara juga tak paham, kenapa akhir-akhir ini ia begitu mendamba kehadiran Prabu. Ingin rasanya berlama-lama dalam pelukan lelaki itu, bermanja atau berkeluh kesah. Tiara benar-benar merindukan lelaki itu, dengan segenap jiwa.
‘Tuan di mana? Ini bahkan sudah dua hari, dan Tuan tidak memberi kabar sama sekali. Apa benar Tuan mengharapkanku kembali? Atau ... apa hadirku kembali tidak lagi berarti?’
Tiara menghela napas. Batinnya bergejolak. Ada rindu yang mendamba untuk dilabuhkan. Juga ada banyak kisah yang ingin ia utarakan, untuk sang tuan, tempat cintanya bermuara.
Tanpa sadar, Tiara mendesah pelan. Meski cemas terhadap keadaan Prabu yang entah di mana, tapi ia berharap agar sang kekasih baik-baik saja.
**
Bersambung ....