
Prabu memijat pelipis yang terasa pening. Sudah beberapa malam ini ia nyaris tak bisa tidur sampai menjelang pagi. Lalu bangun dengan lelah, dan kembali bekerja menghadapi beberapa pekerjaan berat. Ada tender yang sudah ia menangkan dan masuk tahap awal pengerjaan, dan juga lelang proyek besar yang mandek karena kendala biaya.
Meski yakin semua proyek akan berjalan lancar saat di tangannya kelak, tapi ia dipusingkan dengan investor dan mitra yang mulai menarik ulur saham mereka. Prabu yakin, ada andil Leana dan keluarganya di balik semua ini. Ia harus bisa menaklukkan perempuan itu, atau kembali terjebak dalam malam-malam panas seperti dulu.
“Masuk!” seru Prabu, saat mendengar ketukan di pintu kamarnya. Akhir pekan ini ia sengaja istirahat di rumah, berharap akan mendapatkan tidur yang berkualitas.
“Selamat siang, Tuan. Nyonya Sundari memanggil Anda untuk ke kamarnya.” Setelah memberi hormat, Nurma berkata dengan suara lembut.
“Eyang? Kenapa? Bilang padanya aku sudah makan siang.”
“Bukan makan siang, Tuan. Katanya, Nyonya akan menunjukkan sesuatu.”
“Kenapa dia tidak meneleponku saja seperti biasanya?” Prabu menatap Nurma yang menggeleng. “Baik. Pergilah, nanti aku ke sana.”
Tak menunggu perintah kedua, Nurma segera beranjak diiringi tatapan Prabu. Ia sedikit heran, mengapa sang nenek meminta bertemu. Padahal biasanya, tanpa diminta pun ia akan datang ke sana. Setelah berdiam sejenak, akhirnya ia bangkit, menuju kamar Sundari.
“Eyang?” Mata Prabu membulat tak percaya melihat pemandangan di hadapan.
Sundari yang biasanya hanya berbaring di ranjang atau duduk di kursi roda, siang ini mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Wajah yang biasanya tampak pucat pun, kini berseri penuh semangat. Dengan rasa takjub tak terkira, Prabu mengayun langkah mendekat. Ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Melihat cucunya datang, Sundari melepaskan genggaman Tiara dan merentangkan kedua tangan, sebagai isyarat sebuah pelukan. Senyum lebar terkembang, menghias wajah ayunya yang keriput di beberapa bagian.
“Eyang?” Prabu mengulang panggilannya. Tatapannya masih tertuju lurus pada pemandangan di hadapan. Takjub tiada terkira.
“Tiara berhasil, Prabu. Dia berhasil membuat eyangmu ini berjalan lagi.”
Prabu melangkah cepat, lalu mendekap tubuh Sundari. Dikecupnya berulang pucuk kepala wanita itu, yang menguarkan wangi khas. Dalam situasi seperti ini, ia benar-benar yakin jika Tiara melakukan pekerjaannya dengan baik. Yakni merawat neneknya bukan semata demi gaji atau komisi, tapi benar-benar melibatkan hati.
Tiara. Mengingat nama gadis itu, Prabu melirik si Pemilik nama yang berdiri di sisi jendela. Tampak olehnya kini, Tiara sedang menatap ke arah lain sambil menyeka mata.
**
Berhasilnya Sundari menaklukkan ketakutan dan bisa berjalan lagi menjadi hal yang luar biasa di rumah keluarga Widjaya. Prabu bahkan menyiapkan sebuah pesta khusus.
Istimewanya lagi, pesta taman itu sengaja dibuat Prabu bagi semua pekerja. Katanya, itu sebagai ungkapan terima kasih atas dedikasi mereka. Demi membebaskan para pekerja, ia menyewa jasa katering, juga dekorasi dari luar. Hal yang sangat langka dilajukan Prabu, dan disambut sukacita oleh semua penghuni rumah sebagai hari besar.
“Kamu belum siap?”
Tiara yang tengah mengisi air dari dispenser terkejut dengan sapaan dari arah belakang. Gelas yang dipegangnya nyaris lepas, jika tak digenggamnya dengan erat. Tak jauh darinya, Nurma berdiri dengan tampilan berbeda.
Wanita yang biasanya mengenakan seragam merah jambu itu kini tampak anggun dalam balutan gaun hitam selutut. Rambutnya tertata rapi, meskipun dibiarkan tergerai. Riasan dengan lipstik merah marun membuat wajah Nurma benar-benar berbeda di mata Tiara.
“Ah, Bu Nurma. Sepertinya saya tidak ikut pesta itu” Tiara menjawab pelan, sebelum meneguk air hingga tersisa setengah gelas.
Nurma mengerutkan kening, dan menatap Tiara dengan saksama. “Tidak ikut? Ini adalah kali pertama Tuan Prabu mengadakan pesta untuk para pelayan. Kamu harus ikut, atau akan menerima hukuman.”
Tiara mengangkat bahu, lalu menuju meja makan. Ditariknya sebuah kursi, lalu duduk di sana. Sementara itu, tangannya masih menggenggam gelas yang telah diletakkannya di meja.
“Ya. Entah kenapa saya merasa kurang enak badan, Bu Nurma.”
“Tidak enak badan? Apa kamu sakit? Bukannya sudah kubilang, jangan lewatkan waktu makanmu?”
Nurma mendekat, dengan tatapan masih dipenuhi kecurigaan. Ia masih tak habis pikir, saat semua orang bersukacita, mengapa Tiara malah menolak ikut pesta itu?
“Saya sudah minta tolong Lisa supaya menjaga Nyonya di pesta nanti.” Tiara kembali meneguk air dalam gelas, kali ini hingga tandas.
“Apa Nyonya tahu? Maksudku, ini adalah pesta untuk merayakan kesembuhan Nyonya, dan secara tak langsung, bukankah ini pesta untukmu?”
“Bu Nurma.” Tiara menjeda kalimat, dan menatap wanita di hadapan. “Apa pun itu, akan baik bagi saya jika tak terlibat pesta ini. Bagaimanapun, saya adalah pelayan baru yang belum pantas mendapat kejutan semacam ini.”
Nurma menghela napas, dan melihat Tiara menjauh. Ia semakin curiga dengan gerak-gerik pelayan itu. Di matanya, saat ini Tiara benar-benar telah berubah. Tak lagi ceria, dan yang mencolok adalah gadis itu mulai berani mendebatnya, meski secara halus dan diplomatis.
“Apa karena hubunganmu dengan Tuan Prabu, dan kamu berubah sedemikian ini, Tiara?” gumam Nurma pelan.
**
“Tidak ikut?” Sundari menatap Lisa, yang mendampinginya menuju tempat pesta.
“Iya, Nyonya. Dia yang meminta saya menemani Nyonya selama pesta.” Lusi menjawab dengan santun.
“Tapi kenapa? Dia yang tadi mendandaniku, dan tidak bilang apa-apa?” Sundari semakin heran.
“Dia bilang sedang tak enak badan, Nyonya.” Lusi berkata sambil memberi isyarat pada pelayan untuk membelokkan kursi roda Sundari menuju taman belakang. Area yang telah disulap sedemikian rupa, dipenuhi gemerlap lampu yang menambah semarak.
“Sakit?” tanya Sundari. Disambutnya uluran Lisa yang membantunya bangkit, lalu menuju kursi besar bak singgasana.
“Iya, Nyonya.”
Sundari duduk, dan memerhatikan sekeliling. Tampak beberapa pelayan menyapanya dengan senyum terkembang. Wajah-wajah yang menyumbangkan tenaga untuk keluarga besarnya itu tampah dipenuhi kebahagiaan.
Hal yang membuatnya terenyuh. Akan tetapi, perasaannya sedikit terganggu dengan ketidakhadiran Tiara. Gadis yang memiliki andil besar terhadap kesehatannya.
Sementara itu di dalam kamar, Tiara merelakskan tubuh dengan berendam di bathub. Aroma terapi yang menguar dari sabun khusus membuat pikiran dan ototnya yang lelah kembali nyaman. Entah mengapa, akhir-akhir ini ia merasa suntuk dan cepat lelah.
Sebenarnya, meninggalkan pesta di bawah sana bukanlah keinginannya. Lebih dari siapa pun, ia ingin mendampingi Sundari. Bersukacita dengan semua orang, dan menghias malam ini dengan penuh tawa.
Akan tetapi, membayangkan di pesta itu ia akan berdekatan dengan Prabu, ia merasa sesak. Bukan tanpa alasan, karena ingkar atas rasa sayang dalam dada membuatnya tersiksa lahir batin. Bahkan, hanya dengan melihat Prabu di kejauhan pun hatinya terasa amat sakit.
Tiara mendesah pelan, saat mengingat semuanya. Awal datang ke rumah besar ini, juga malam-malam indah yang pernah dilaluinya bersama sang majikan. Tak lama, ia membuka mata dan merasakan air tempatnya berendam mulai dingin.
Tiara membasuh tubuh sekali lagi, lalu meraih jubah mandi. Tak lupa dibungkusnya rambut tang basah dengan selembar handuk kecil. Dengan langkah pelan, ditinggalkannya kamar mandi. Ia merasa sudah cukup lama berendam. Mungkin satu jam.
Namun, matanya membulat tak percaya, melihat pemandangan di depan sana. Sebuah buket bunga besar tergeletak di ranjangnya yang besar, berikut kuntum mawar yang hampir memenuhi ruangan.
Tak hanya itu, siapa yang kini duduk di tepi ranjang membuat napasnya nyaris berhenti. Tak jauh darinya, Prabu duduk dengan tatapan penuh arti. Di tangan pria itu ada sebuah buket mawar merah nan indah.
“T—tuan?” Tiara tercekat. Untuk sekadar menyapa saja, amat susah dilakukannya.
“Aku mengadakan pesta ini untukmu, tapi kamu tidak datang? Apa kamu begitu marah?”
Tiara terpaku di tempat, menatap Prabu yang bangkit. Ia tak habis pikir, bagaimana sang tuan bisa masuk, padahal tadi ia sudah mengunci pintu? Namun, semua tanya dalam benak sirna, saat melihat lelaki itu mendekat. Seiringan dengan langkahnya sendiri, yang bergerak mundur dan membentur pintu kamar mandi.
“Mungkin aku tidak pandai mengucapkan sesuatu yang manis, Tiara.” Prabu menjeda kalimatnya, sambil terus menyusut jarak.
Sementara itu, Tiara menanti dengan debar dada yang berdentam-dentam. Lelaki yang mendekat itu, adalah orang yang sangat ia rindukan dan ingin dihindarinya dalam satu waktu.
Rasa mendamba dalam hati membuatnya nyaris gila belakangan ini. Bukan karena rasa yang kain membelenggu, tapi saat tang sama ia mengingkari hadirnya rindu. Maka sekarang, saat Prabu ada di hadapan, terlalu berlebihankah, jika ia meminta pada Sang Pemilik Semesta, agar Prabu menyatakan rasa kali ini?
“Aku memang tidak pandai berkata-kata manis. Tapi, untuk semua yang kamu lakukan pada Eyang sampai dia bisa berjalan lagi, aku berterima kasih.” Prabu mengangsurkan buket bunga pada Tiara, di akhir ucapannya.
Saat itu juga sebulir bening menetes dari mata Tiara. Ia sadar, jika keinginannya mendengar pernyataan cinta dari sang majikan hanya impian semata. Ia bahkan tak tahu, apakah rangkaian mawar nan wangi ini sebuah kejutan manis, atau hal yang membuatnya semakin terjebak. Pada rasa cinta yang tersesat dan akan membuatnya didera tangis.
**
Bersambung ....
Jangan lupa vote, komen dan dukungan kalian ya, Dear. Terima kasih. 💕