Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Terjebak Cinta Sang Tuan Muda
35. Terungkap?


Tiara keluar dari kamar mandi dengan tangan terkepal, seakan-akan menyembunyikan alat yang membuat dunianya runtuh. Masih ada sisa air di pelupuk mata, tapi sebisa mungkin ia menenangkan diri, dan berusaha agar semuanya tampak baik-baik saja.


Sementara itu, Hadi kebingungan melihat Prabu yang berlari tanpa kata. Sahabatnya itu meninggalkan kamar begitu saja, tanpa berkata. Padahal, sebelumnya Prabu sangat bersemangat, apa lagi saat mengungkap kemungkinan hamilnya Tiara. Satu hal yang nyaris mustahil, karena vonis dokter jika ia sulit memiliki keturunan pasca kecelakaan. Namun, mengapa?


Hadi masih tertegun, dan bangkit saat mendapati Tiara keluar dari kamar mandi. Wanita yang mengenakan terusan merah jambu itu menampakkan wajah sedih, berbanding terbalik dari Prabu yang menggebu-gebu.


“Ke mana dia?” tanya Hadi, saat Tiara telah di sisi. Ia lantas mengalihkan pembicaraan, karena yang ditanya hanya menggeleng. “Ah, iya. Apa kamu sudah dapat hasilnya, Tiara?”


Tiara menatap Hadi dengan saksama. “Apa yang harus saya lakukan, Dokter?”


“Maksudmu?”


Tiara membuka genggaman, dan mengulurkan alat tes bergaris dua pada Hadi. Pria itu menyambut, dengan segaris senyum di bibir. Ini bukan sebuah keajaiban, tapi Prabu tentu akan sangat senang. Sebab, dari semua perempuan yang mengisi malam dan hari sahabatnya, hanya Tiara yang mendapatkan tempat paling istimewa.


“Berbaringlah.” Hadi memberi isyarat dan Tiara menurut dengan berbaring di sofa. Apa kamu mual akhir-akhir ini? Juga kehilangan selera makan drastis?” Hadi bertanya, sembari mulai mengukur tekanan darah Tiara.


“Tekanan darahmu rendah, mungkin kurang istirahat. Usahakan jangan tidur selalu lambat, dan banyak minum air putih. Kalau makan masakan berbumbu agak susah, kamu bisa makan buah atau susu. Dulu, istriku pun melakukan itu. Tidak ada makanan berat yang bisa dia makan selama hamil. Dan kami mengupayakan banyak hal, termasuk booster vitamin." Hadi menjelaskan panjang lebar.


Tiara memalingkan wajah, saat Hadi memberi ketukan-ketukan kecil di perutnya. Ia sungguh berharap, saat ini Prabu mendampinginya. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Laki-laki itu pergi bahkan sebelum ia bertanya.


“Setelah dia pergi begitu saja seperti tadi, apa saya harus memberi tahu Tuan Prabu soal ini?” Setelah pemeriksaan selesai, Tiara duduk, sembari memperbaiki terusan yang ia pakai.


“Tiara, itu—“ Hadi menghentikan ucapannya. Ditatapnya wanita yang tampak bersedih itu.


Mungkin, Tiara ragu akan mengungkap semuanya pada Prabu, karena jenjang kehidupan mereka terlalu jauh. Akan tetapi, bukankah Prabu menginginkan hal ini? Lagi-lagi Hadi bingung dengan pikirannya, dan dua orang yang tengah terjebak asmara itu.


“Tolong saya, Dokter. Tolong rahasiakan ini darinya, sampai saya siap untuk jujur.”


Hadi menatap mata yang memohon itu dengan perasaan tak tentu. Saat ini, ia merasa gamang dengan permintaan Tiara. Saat gadis lain mungkin akan menuntut Prabu dengan senang hati, Tiara malah berbeda. Ia bahkan bisa melihat keseriusan Prabu.


Bukan sekali atau dua kali, Prabu mengungkap keinginan menikah dan berumah tangga. Terlebih saat mabuk, sahabatnya itu sering meracau jika dia sangat ingin memiliki keturunan. Akan tetapi, ia sendiri tak paham, mengapa Prabu pergi begitu saja, pun tak bisa menebak apa yang ada di pikiran Tiara sekarang.


“Saya mohon, Dokter.” Tiara menyentak kesadaran Hadi dari lamunan.


“Ah, baiklah. Untuk memberitahu Prabu, itu menjadi hakmu sepenuhnya. Tapi, kamu tetap harus memeriksakan diri ke rumah sakit, karena aku tidak bisa memastikan apa pun di sini.”


“Begitu?” Tiara tampak ragu. “Apa itu perlu? Bukankah semua yang saya alami ini normal?”


“Ya. Memang normal. Tapi, tetap harus melakukan pemeriksaan sejak awal, Tiara. Hamil, bukan hanya soal mengidam dan menjaga perasaanmu sebagai ibu. Tapi, kesehatanmu juga penting. Besok, aku menunggumu di rumah sakit.” Hadi mengulurkan sebuah kartu nama.


“Hubungi aku, aku akan menemanimu. Di sana, nanti kamu akan mendapat perawatan yang baik, juga dukungan vitamin yang benar untuk kesehatan, dan juga bayimu.”


Tiara menyambut kartu nama itu, dan mengangguk. Sementara, batinnya gamang. Akan bertahan, atau merelakan anak yang ia kandung tetap menjadi kenangan.


"Soal biaya, jangan dipikirkan. Aku bisa membantu. Bukan demi Prabu, tapi demi keponakanku yang ada dalam dirimu."


Hadi yang sedang berkemas menghentikan gerakannya, dan menatap Tiara lurus. Dari mata yang membesar, tampak ia sedang terkejut.


“Saya merasa Tuan tidak benar-benar menginginkan anak ini, karena tumbuh di rahimku. Sampai sekarang, saya tau dia masih mengharapkan perempuan lain. Saya tidak mau dia bertanggungjawab hanya karena kasihan, atau memang keharusan. Saya—“


“Bagaimana denganmu? Maksudku, sebagai ibunya, apa kamu tidak menginginkan anakmu?” Hadi balas bertanya.


Seketika, tatapan Tiara mengabur. Jika boleh jujur, kebahagiaan Prabu sejak siang tadi itu membuatnya bahagia. Tapi, di sisi lain, ia tak ingin anaknya terus diabaikan karena terlahir dari ibu yang tak diinginkan. Sementara, mengubur identitas ayah dari sang anak juga tidak mungkin.


Diusapnya perlahan perut yang masih rata. Seperti menyalurkan kekuatan untuk dirinya sendiri, juga bayi di dalam sana.


“Aku memang tidak bisa menebak perasaan Prabu secara benar. Tapi, aku tau dia mencintaimu.” Hadi masih menatap Tiara. "Dan satu lagi, bukankah kalian bercinta dengan sadar, lalu kenapa kamu akan menolak anak itu? Apa pun itu, aku percaya anak tercipta sebagai buah cinta. Bukan simbol kesalahan." Hadi memberi penegasan. Lalu, tampak olehnya Tiara tersenyum tipis.


**


Prabu memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Tak jarang ia mengempat dan memukul setir dengan gemas, jika harus berhadapan dengan lampu merah atau kemacetan. Waktu sudah menunjuk pukul sembilan lewat, tapi jalanan Jakarta masih padat.


Telepon dari orang suruhannya tadi membuatnya takut. Jika ada yang datang ke apartemen, bisa saja nyawa Lusi dalam bahaya. Sementara, ia masih butuh banyak informasi dari wanita itu, mengenai perihal kenapa dia menghilang.


Sejak kehadiran Lusi, Prabu bergerak cepat. Ia menyewa seseorang untuk mengamati pergerakan Lusi. Termasuk siapa saja yang ditemui, juga yang datang ke apartemen. Ia tahu, ada sesuatu yang tidak benar, dan harus segera dipecahkan. Pergi tanpa pesan, lalu datang tanpa terduga, bukankah itu mencurigakan?


Namun, ia tidak mungkin mengorek keterangan dati Lusi. Tubuh yang kurus, juga wajah pucat, bisa saja menjadi tanda jika wanitanya mungkin mengalami sesuatu yang tak menyenangkan. Akan tetapi, rasa yang masih tertinggal dalam hati membuatnya tak mungkin melakukan intimidasi.


Saat tengah bergelut dengan pikiran, Prabu mengacak rambut dengan kesal. Ia juga mengusap wajah beberapa kali, teringat apa yang ditinggalkan di rumah. Tiara.


Bukankah tadi ia sedang menunggu sesuatu yang berharga? Lalu, kenapa ia bisa pergi begitu saja? Apa perasaan pada Lusi sedalam itu, atau karena penasaran ada apa dibalik kembalinya wanita itu?


Prabu memarkirkan kendaraan dengan asal, lalu segera menuju lift. Ditekannya panggilan, menghubungi Lusi, dan baru terjawab saat ia sampai tepat di pintu apartemen.


“Buka pintunya. Ini aku.”


Setelah menunggu beberapa saat, Lusi muncul dengan mata sembab. Saat pintu kembali tertutup, wanita itu langsung memeluknya dan menangis sesenggukan. Badan Lusi gemetar, juga tubuh basah oleh keringat.


“Tolong aku. A—aku takut!”


Prabu semakin yakin jika ada yang salah. “Apa yang terjadi? Ada apa?”


“L—Leana. D—dia---“


**


Bersambung ....