
"Astaga, baru jam sebelas dia sudah tidur, apa orang hamil memang hobi tidur ya?" batin Dave dalam hati.
Melihat Keinara tertidur Dave akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya.
Hari yang di tunggu-tunggu sebentar lagi akan tiba. Kehamilan Keinara yang sudah memasuki sembilan bulan membuat Dave semakin siaga pada Keinara.
Keinara yang belakangan ini sering mengalami kontraksi palsu sering merepotkan Dave. Namun, Dave tidak pernah mengeluh sedikitpun, ia menikmati perannya sebagai seorang suami dan calon ayah.
"Sayang, kamu tidak keberatan kalau aku terus merepotkanmu?" tanya Keinara menatap lekat Dave menjatuhkan bokongnya duduk di kursi samping Dave.
"Kenapa aku harus keberatan? bukankah sudah menjadi tugasku sebagai seorang suami untuk selalu ada jika istrinya sedang membutuhkan bantuan? Lagi pula anak yang kamu kandung ini adalah anakku, jadi kalian berdua sudah menjadi tanggung jawabku." jawab Dave menggenggam lembut tangan Keinara yang duduk di sampingnya.
"Terima kasih karena sudah menjadi suamiku, aku mencintaimu." ucap Keinara mengecup sekilas bibir Dave , merasa bersyukur dengan kehidupannya sekarang.
"Ehemm... kamu sengaja memancingku?" tanya Dave mengedipkan matanya.
"Tidak aku hanya mengecup bibirmu sekilas. Emang kamu terpancing?" tanya Keinara merasa tidak bersalah sambil terkekeh.
"Kamu sudah memebangunkan gairah milikku, sayang. Jadi kamu harus bertanggung jawab menyelesaikannya." ucap Dave tanpa permisi \*\*\*\*\*\*\* bibir Keinara dengan lembut.
Keinara juga membalas \*\*\*\*\*\*\* bibir Dave, mereka menyelesaikan tugas mereka sebagai suami istri dengan penuh kebahagiaan.
"Aku bahagia sekali, sayang. Terima kasih ya." ucap Dave mengecup kening Keinara cukup lama.
Tiba-tiba Keinara merasa sakit di perutnya. Dave panik, ia langsung memakai pakaiannya kemudian ia pergi ke dapur mengambilkan segelas air minum untuk Keinara.
"Aduh, Dave sakit sekali." teriak Keinara yang masih dengan posisi di bungkus selimut.
"Sayang, minum dulu ya." ucap Dave menyerahkan gelas yang berisi air minum yang ia bawa dari dapur kepada Keinara.
Keinara langsung meneguknya hingga tandas, kembali ia merasakan perutnya sakit seperti di putar.
"Aku akan membantumu memakai pakaian, setelah itu kita ke rumah sakit. Sepertinya kamu sudah waktunya mau melahirkan." ucap Dave mengambil baju daster Keinara kemudian memakaikannya dengan cepat.
"Sakit sekali, Dave." pekik Keinara meringis menahan rasa sakitnya yang semakin intens.
"Tahan ya, sayang. Aku panggilkan Nenek sebentar." ucap Dave bergegas melangkahkan kakinya mengambil langkah lebar menuju kamar Nenek Nina, ternyata Nenek Nina sedang berada di taman belakang.
"Nenek." teriak Dave dari dalam dengan panik.
Nenek Nina yang mendengar ada yang memanggilnya, membalikkan badannya langsung menghampiri Dave yang terlihat sangat panik.
"Ada apa Dave? Kenapa kamu terlihat sangat panik sekali?" tanya Nenek Nina menatap lekat wajah Dave.
"Nek, Keinara mau melahirkan. aku mau membawanya ke rumah sakit. Nenek temani Dave ya." ucap Dave dengan napas terengah.
"Keinara mau melahirkan? Ayo cepat nenek akan menemanimu." ucap Nenek Nina bangkit berdiri dari duduknya berjalan melangkah masuk ke dalam dengan tergesa.
Mereka bertiga pergi ke rumah sakit. Tepat jam tujuh malam, mereka dalam perjalanan mengantar Keinara. menuju ke rumah sakit oleh sopir pribadi.
"Dave aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit ini." ucap Keinara yang berusaha menahan rasa sakit di perutnya yang semakin intens itu.
"Kamu pasti kuat sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." ucap Dave menenangkan Keinara sambil membasuh keringat dingin yang membasahi wajah Keinara.
"Pak, cepat sedikit bawa mobilnya." perintah Nenek Nina pada sopir pribadinya.
"Baik bu, ini kecepatannya juga sudah tinggi." ucap sopir melajukan mobilnya membelah jalanan Jakarta dengan kecepatan tinggi.
Keinara semakin tidak kuasa menahan rasa sakitnya, perlahan tubuhnya pun melemas kesadarannya pun hilang.
"Keinara." teriak Dave panik, wajahnya menjadi pucat melihat Keinara yang sudah tidak sadarkan diri.
"Dave, Keinara kenapa?" tanya Nenek Nina, wajahnya pun kini terlihat panik.
"Keinara pingsan, Nek. Kita harus cepat sampai rumah sakit, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Keinara dan ini semua salahku." ucap Dave menjelaskan ia berusaha tetap tenang dengan kondisi Keinara yang pingsan.
"Pak, lebih cepat lagi bawa mobilnya ya." perintah Nenek Nina mendesak.
Lima belas menit kemudian, mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Keinara langsung di bawa ke ruang operasi karena tidak mungkin menunggu dia sampai sadar kembali. Beruntung Nenek Nina sigap menghubungi dokter kandungan Keinara saat dalam perjalanan menuju rumah sakit, sehingga tidak harus menunggu lagi.
Harapan Keinara ingin melahirkan secara normal pupus sudah, semua itu karena tiba-tiba saja dia pingsan saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
Kini Keinara melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan. Keinara masih belum sadar karena pada saat operasi Caesar dia terpaksa harus dibius total.
Dave merasa kebahagiaannya belum lengkap karena istri yang sangat dia cintai belum sadarkan diri.
"Sayang, cepat pulih ya. Kamu pasti ingin sekali menggendong anak kita bukan? Makanya cepat bangun." ucap Dave menjatuhkan bokongnya duduk di kursi samping brankar Keinara, ia menggenggam lembut tangan Keinara dengan penuh cinta.
Keesokan harinya, Keinara baru sadar kedua bola matanya memperhatikan sekeliling ruangan yang bercat nuansa putih itu.
"Aku di mana?" gumam Keinara kata pertama yang ia ucapkan setelah sadar dari pingsannya.
Saat baru menyadari Keinara berada di rumah sakit, Keinara meraba perutnya yang sudah rata. Memory otaknya di putar mengingat kejadian sebelum ia berakhir di rumah sakit.
"Anakku... anakku... anakku di mana, Dave?" teriak Keinara refleks saat ia dapat kembali mengingat semuanya.
Dave yang sedang berada di luar ruangan perawatan Keinara, langsung bergegas masuk ke dalam ruangan saat mendengar teriakkan Keinara.
"Mi, Pi! Sepertinya Keinara sudah sadar, aku mau menemuinya dulu." pamit Dave kepada mertuanya itu.
"Kami juga mau melihatnya, ayo kita masuk." ucap Nayaka mengajak Dave dan Kumala menemui Keinara.
Mereka bertiga masuk ke ruang perawatan Keinara yang sedang berderai air mata.
"Dave di mana, anak kita?" tanya Keinara dengan suara lemah.
"Anak kita sedang di ruang bayi. Syukurlah kamu sudah sadar. Kamu tahu anak kita sangat lucu dan juga tampan, aku akan menyuruh perawat mengantarkannya ke sini." ucap Dave senang melihat Keinara sudah sadar kembali.