TAWANAN CEO AROGAN

TAWANAN CEO AROGAN
Baku Hantam


"Keinara sepertinya ada yang mengikuti kita, tapi siapa ya? Apa kamu mengenal mereka." tanya Nenek Nina melihat ke belakang.


Keinara membalikkan badannya melihat ke belakang untuk memastikan yang dikatakan Nenek Nina, dan membenarkan apa yang di ucapkan Nenek Nina.


"Astaga, sepertinya mereka perampok, Nek. Nenek tenang ya, kalau mereka macam-macam Keinara akan hajar mereka." ucap Keinara menenangkan hati Nenek Nina yang terlihat ketakutan.


"Tapi Keinara mereka ada beberapa orang, Nenek tidak mau terjadi apa-apa denganmu. Nenek akan minta bantuan kepada Dave." ucap Nenek Nina sambil mencari nama Dave di kontak ponselnya.


"Jangan, Nek. Dave tidak perlu tahu hal ini." protes Keinara mencegah.


Nenek Nina tidak menghiraukan protes yang diberikan Keinara, ia tetap menghubungi Dave.


Dave yang masih bersitegang dengan Ayyasha melihat layar ponselnya yang menyala.


"Nenek, apa Nenek sudah mau bicara denganku?" gumam Dave, ia tidak mau membuang waktu lagi.


Dave langsung mengangkat panggilan dari Nenek Nina.


[Halo, Nek] Dave.


[Dave tolong Nenek dan Keinara. Kami sedang dalam bahaya ada beberapa orang yang sedang mengikuti kami dan sepertinya mereka orang suruhan] Nenek Nina.


[Apa? Jadi, Keinara sudah ketemu? Ok, Dave akan segera ke sana, kirim lokasinya, Nek] Dave mematikan sambungan telpon genggamnya sepihak.


Nenek Nina tersenyum dalam hatinya mendengar kepanikan Dave.


"Semoga kali ini aku berhasil." gumam Nenek Nina menyunggingkan senyum.


"Berhasil apa, Nek?" tanya Keinara yang dapat mendengar gumaman Nenek Nina.


"Maksud Nenek semoga Dave berhasil mengalahkan orang yang sedang mengikuti kita ini. Nenek yakin, mereka pasti orang suruhan saingan bisnis Salendra Corp." ucap Nenek Nina, semburat senyum paksa terulas di bibir Nenek Nina agar Keinara tidak mencurigainya.


Keinara tidak memperpanjang lagi, ia juga mengambil ponselnya berniat mau menghubungi polisi.


"Nek, Keinara akan menghubungi polisi." ucap Keinara tanpa ia sadari, amplop hasil print USG terjatuh dari dalam tasnya membuat Nenek Nina tertarik ingin melihatnya.


Akan tetapi Nenek Nina tidak sempat mengambilnya karena sopirnya tiba-tiba mengerem pedal rem mobilnya secara mendadak.


"Maaf, Bu." ucap sopir itu dengan raut wajah menyesal.


"Nek, mereka ke sini." ucap Keinara dengan wajah panik melihat dari spion mobilnya.


"Jangan ada yang keluar dari dalam mobil, kita tunggu sampai Dave datang." ucap Nenek Nina tegas berpura-pura memasang wajah panik.


"Keluar." teriak Danang dari luar, ia sengaja memakai topeng agar Keinara tidak mengenalinya. Danang dan anak buahnya semakin gencar mengetuk kaca mobil.


"Ini tidak bisa di biarkan, Nek. Keinara akan memberi mereka pelajaran!" pekik Keinara sambil membuka pintu mobil.


"Jangan, Keinara! Mereka sangat berbahaya. Tempat ini juga sunyi jadi kamu jangan berbuat nekat, mereka bisa saja mencelakaimu, dan Nenek tidak mau terjadi apa-apa denganmu." ucap Nenek Nina melarang, ia sedikit meninggikan intonasi suaranya.


"Tapi, Nek_" Kalimat Keinara menggantung karena di potong Nenek Nina.


"Jangan membantah, Nenek sayang." perintah Nenek Nina tegas menahan Keinara untuk tidak turun dari mobilnya.


Keinara mengurungkan niatnya, tapi dalam hatinya ia sangat geram melihat gerombolan yang di duga preman terus memaksa mereka untuk keluar.


Dave dan Alpha sedang dalam perjalanan menuju lokasi yang Nenek Nina kirim.


Dave memutuskan memakai motor sport milik Alpha agar cepat sampai di tujuan, ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan Jakarta.


"Dave nggak gini juga kali bawa motornya. Sudah berapa kali kamu hampir menabrak orang? Ingat kamu itu bukan seorang pembalap!" protes Alpha yang duduk di boncengan.


"Alpha jangan berisik percaya padaku, kita tidak akan celaka." jawab Dave tanpa mempedulikan ocehan Alpha yang duduk di belakangnya.


"Dalam kondisi genting gini kamu masih sempat memikirkan ganti rugi? parah benar otakmu Alpha." ucap Dave menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak habis pikir dengan Alpha.


"Hahaha... aku hanya bercanda, bro." teriak Alpha agar di dengar Dave.


"Nggak lucu!" pekik Dave mengumpat kesal.


"Keinara merasa kesabarannya sudah habis. Jiwanya terus memberontak karena Nenek Nina terus menahannya agar tidak keluar dari dalam mobil.


"Aku tidak bisa diam begini saja. Dave saja sampai sekarang nggak datang, bagaimana pun caranya aku melawan mereka." batin Keinara sambil berpikir bagaimana agar ia bisa menghajar orang yang diduga adalah preman.


"Diam-diam Keinara membuka pintu mobil dan mendorong preman itu.


Nenek Nina terperanjat kaget melihat Keinara sudah di luar.


"Astaga, Keinara nekat sekali, aku harus memberi kode pada Danang, agar menyuruh anak buahnya jangan sampai mencelakai Keinara.


"Keinara." teriak Nenek Nina dari dalam mobil.


Nenek Nina dan sopir pun keluar berniat ingin membantu Keinara. Tetapi Nenek Nina menyempatkan membisikkan sesuatu pada Danang.


"Ingat, ini hanya pura-pura. Awas jangan sampai anak buahmu mencelakai Keinara." bisik Nenek Nina mengingatkan.


"Ibu tenang saja, saya sudah mengatakan kepada mereka semua agar tidak terlalu serius." ucap Danang cepat.


Keinara seakan tidak ingat kalau ia tengah hamil muda. Ia terus melayangkan pukulan kepada preman yang berusaha melawannya.


"Astaga, ini namanya berantem beneran. Bagaimana sih bang Danang? Kenapa dia nggak bilang kalau cewek ini jago berkelahi." gerutu salah satu anak buah Danang.


"Maju kalian!" bentak Keinara, sorot matanya tajam menyiratkan kemarahan besar, dadanya naik turun meluapkan emosi yang memuncak.


Saat Keinara mau maju, Dave dan Alpha pun sampai di lokasi. Dave dan Alpha langsung menghajar Danang dan anak buahnya.


Nenek Nina tersenyum puas melihat Dave sudah datang. Nenek Nina menghampiri Keinara dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Keinara, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali." teriak Nenek Nina panik.


Keinara merasa kram di bagian perutnya, ia terlalu banyak melakukan pergerakan. sehingga menimbulkan rasa kram yang begitu hebat dan berusaha menahan dari rasa sakitnya.


Teriakkan Nenek Nina membuat Dave mengalihkan pandangannya kepada Keinara yang dipegangi Nenek Nina.


Danang dan anak buahnya merasakan tubuh mereka remuk seketika karena Dave dan Alpha menghajar mereka.


"Keinara!" pekik Dave dan langsung membawa Keinara masuk ke dalam mobil dan membaringkannya.


Keinara tidak menyahut tapi air matanya lolos keluar begitu saja saat melihat Dave.


Nenek Nina menjadi semakin panik melihat keadaan Keinara yang tiba-tiba muntah.


"Dave kita bawa Keinara ke rumah sakit sekarang." ucap Nenek Nina memberikan saran.


"Nek, Keinara mau pulang saja. Keinara hanya butuh istirahat." ucap Keinara cepat agar Nenek Nina tidak memaksa lagi.


"Tapi Keinara kondisimu sangat lemah sekali. Kita ke rumah sakit saja ya, biar kamu bisa di tangani sama dokter." ucap Dave membujuk.


"Nek, Keinara mau pulang saja." ucap Keinara mendesak mengalihkan pandangannya kepada Nenek Nina tanpa mendengar bujukan dari Dave.


"Ya sudah, kita pulang ke rumah ya." jawab Nenek Nina tersenyum senang.


"Nggak, Nek. Keinara mau pulang ke apartemen saja." ucap Keinara menolak halus ajakan Nenek Nina.


Dave membuang napas panjangnya mendengar keputusan Keinara. Ia pasrah menghadapi Keinara yang dia anggap keras kepala.