
Banyak yang ingin menjadi kekasih Keinara, tetapi Keinara tidak pernah menanggapinya. Keinara menganggap semua omongan laki-laki yang menyatakan cinta padanya, ia anggap hanya bualan semata.
"Keinara, kamu tidak boleh menangisi orang yang sudah membuatmu sakit hati. Ayo bangkit, kamu pasti bisa." batin Keinara dalam hatinya, ia menghapus air matanya dengan kasar.
"Tapi tunggu dulu, untuk apa aku juga sedih mendengar Dave memuji wanita lain? Aku juga heran kenapa belakangan ini, aku ingin sekali dia selalu ada di dekatku. Aduh, Keinara jangan yang aneh-aneh dong! Ayo sadar." gumam Keinara merutuki dirinya yang menurutnya sangat aneh belakangan ini.
Saat sibuk dirinya memikirkan Dave, tiba-tiba saja perutnya terasa mual. Keinara cepat-cepat berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya.
"Aku lemas sekali." ucap Keinara lirih bersandar sebentar pada dinding kamar mandinya.
Keinara memegangi dinding berjalan perlahan agar bisa sampai ke tempat tidurnya.
Sedangkan di perjalanan menuju kantor Salendra Corp. Dave terlihat gelisah dan mengkhawatirkan keadaan Keinara.
"Kenapa tiba-tiba aku kepikiran Keinara ya?" gumam Dave tetap fokus pada kemudi setirnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, ia sudah sampai di perusahaan Salendra Corp. Tapi hatinya tetap tidak tenang, saat ia sudah berada di depan ruang kerjanya, dahinya berkerut melihat sekretarisnya tidak ada di tempat.
Dave mendengar obrolan yang berasal dari ruangan kerja Alpha asisten pribadinya. Rasa penasarannya menuntun langkahnya untuk mendekati pintu ruangan Alpha. Dave membuka sedikit pintu ruangan kerja Alpha dan ia melihat Alpha sedang mengobrol dengan sekretaris barunya.
"Ternyata dia di sini." gumam Dave memperhatikan dua sejoli yang sedang asik bercengkrama.
Saat ia menutup pintu, Dave mendengar Alpha menyebut nama yang selama ini dicarinya.
"Aku tidak salah mendengar bukan? Dave menyebut ulang nama sekretaris baru itu dengan suara lirih, Jovanka? Apa dia Jovanka Lethesia Maldiva Pedro, teman masa remajaku?" tanya Dave pada dirinya sendiri.
Dave masuk ke dalam ruangannya, menjatuhkan bokongnya duduk di kursi kebesarannya.
"Aku harus tahu data-data gadis itu." gumam Dave memegang gagang telpon lalu menghubungi Sheila.
"Bu Sheila tolong ke ruanganku sekarang dan bawa data-data sekretaris baruku." perintah Dave jari tangannya sibuk mengetuk-ngetuk meja kerjanya seperti ada yang membuat dirinya penasaran.
"Baik pak Dave, saya akan segera ke sana." ucap Sheila, ia bergegas mengambil berkas lamaran Jovanka dan membawanya ke ruangan Dave.
Jovanka sudah ada di meja kerjanya, ia melihat Sheila keluar dari lift karyawan menuju ruangan Dave.
"Selamat siang, Bu Sheila." sapa Jovanka tersenyum ramah.
"Siang, Jovanka. Kamu sudah makan siang bukan?" tanya Sheila basa-basi.
"Sudah bu, tadi makan siang dengan Alpha. Ibu mau keruangan pak Dave?" tanya Jovanka menyelidik.
"Iya, pak Dave meminta saya untuk mengantar berkas lamaranmu ini." ucap Sheila menunjukkan map yang ia bawa untuk di serahkan kepada Dave.
"Saya juga tidak tahu, ya sudah saya masuk dulu ya." pamit Sheila bergegas masuk menuju ruang kerja Dave.
"Untuk apa ya? Apa dia mau memecatku?" batin Jovanka dalam hatinya.
Di ruangan, Dave sedang memeriksa berkas lamaran Jovanka yang dari tadi sudah mengganggu pikirannya.
"Jadi benar, dia adalah Jovankaku yang selama ini aku cari? Astaga, kenapa aku baru menyadarinya? Pantas saja tadi saat dia menyalamiku, ada getaran yang tidak bisa aku mengerti. Apa dia juga sudah tahu kalau aku teman masa remajanya? Apa dia juga merindukanku?" gumam Dave bertanya pada dirinya sendiri.
"Tapi, aku tidak mau memberitahukannya sekarang kalau aku adalah teman masa remajanya. Aku ingin dia mengingatku dengan caranya sendiri." batin Dave sibuk pada pikirannya sendiri.
"Ibu Sheila sudah bisa kembali ke ruangan." ucap Dave menyerahkan kembali berkas lamaran Jovanka pada Sheila.
"Baik pak, saya permisi." jawab Sheila bangkit berdiri dari duduknya berjalan melangkah keluar meninggalkan Dave di ruangannya.
Ada rasa bahagia dalam diri Dave karena ia sudah bertemu dengan teman masa remajanya, gadis berparas manis yang selalu ia rindukan bertahun-tahun lamanya.
Dave tidak pernah menyangka mereka di pertemukan dengan cara yang tidak pernah ia pikirkan dan sekarang mereka sedang berada di kantor yang sama.
"Hahaha... tidak menyangka saja sekarang ia menjadi sekretarisku. Aku sangat merindukanmu, Jovanka ingin rasanya aku memelukmu sekarang. Namun sepertinya waktunya belum tepat." gumam Dave sambil mengingat kembali masa remaja mereka.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Dave memperlakukan Jovanka seperti teman dari masa lalunya begitu intens dan perhatian. Jovanka berasa begitu nyaman berada di dekat Dave. Hal-hal kecil mereka lakukan bersama yang bisa membuat hati mereka bahagia. Namun, diantara kedekatan mereka belum ada salah satunya yang mengaku.
Dave dan Keinara juga semakin hari hubungannya semakin dekat, saat Keinara marah Dave selalu mengalah dan membujuknya. Seperti hari ini, Dave terlambat menjemputnya di kantor.
"Sudah setengah lima, Dave belum sampai juga. Kemana sih dia? Dia pikir menunggu itu enak?" gerutu Keinara, ia menghubungi Dave tapi tidak diangkat membuatnya mengumpat dalam hati.
Jam lima kurang, Dave baru sampai di kantor Keinara. Keinara langsung masuk ke dalam mobil Dave tanpa berniat mengajak Dave bicara.
"Keinara, aku minta maaf tadi aku mengantar sekretarisku pulang dulu karena ia sedang tidak enak badan. Jadi aku kasihan melihatnya." ucap Dave menjelaskan sambil melihat Keinara yang duduk di jok samping mobilnya.
"Oh, jadi kamu lebih mengutamakan sekretarismu itu dibanding aku? Apa kamu tidak bisa menyuruh sopir perusahaan untuk mengantarkannya? Atau kamu memang yang menawarkan diri untuk mengantarkannya? Kamu tahu aku sudah menunggumu hampir satu jam lamanya di sini! Seharusnya tadi aku menerima tawaran, Jonathan mengantarku pulang jadi aku tidak perlu menunggumu!" ucap Keinara melampiaskan kekecewaannya. Bukan karena Dave terlambat tapi karena mendengar pengakuan Dave yang sudah mengantar sekretarisnya pulang dan membiarkannya menunggu lama.
"Aku kecewa samamu, Dave." ucap Keinara lagi, cairan bening lolos keluar begitu saja dari pelupuk matanya.
Dave mendengar isak tangis Keinara, ia pun menepikan mobilnya di bahu jalan.
"Keinara, aku tidak bermaksud untuk mengecewakanmu, tapi tadi, aku sangat kasihan melihatnya meringis kesakitan. Aku masih punya hati nurani, Kei. Tidak mungkin aku meninggalkannya begitu saja. Sopir di perusahaan tadi kebetulan ijin pulang cepat." ucap Dave bersikap tenang menjelaskan kepada Keinara.
"Ok, apakah kamu akan melakukan hal seperti itu juga kepada karyawan lainnya jika mereka sakit?" tanya Keinara menghadapkan wajahnya kepada Dave yang belakangan ini ia sangat mudah sensitif.