
"Dave, aku akan menjelaskan semuanya padamu. Aku memang sempat berbicara dengan Keinara. Keinara sudah tahu semuanya kalau, Jovanka itu adalah teman masa remajamu. Kemarin aku pergi tanpa permisi, karena aku diam-diam menyusul Keinara. Aku takut terjadi apa-apa padanya. Dan untung saja aku menyusulnya, kalau tidak _" Alpha menggantungkan kalimatnya sesaat membuang napas panjangnya.
"Kalau tidak apa?" tanya Dave cepat menatap Alpha dengan sorot mata tajam.
"Keinara pasti akan membiarkan dirinya terus menerus diguyur hujan deras di tengah taman. Aku bisa merasakan hati Keinara yang sangat hancur, tapi itulah hebatnya dia. Keinara tetap bisa tegar, aku salut dengannya." ucap Alpha menceritakan kejadian kemarin bersama dengan Keinara.
"Setelahnya Keinara dari taman, kamu tahu dia pergi ke mana?" tanya Dave mendesak tidak sabar.
"Maafkan aku, Keinara. Aku harus jujur pada Dave." batin Alpha menundukkan kepalanya.
"Keinara pergi ke apartemennya." jawab Alpha singkat.
"Sekarang katakan padaku di mana apartemennya, aku akan menjemputnya dan meluruskan kesalahpahaman ini." ucap Dave tegas dan mendesak.
"Nah itu, dia masalahnya aku tidak sempat menanyakan alamat apartemennya." jawab Alpha jujur, ia tidak ingin dicurigai oleh Dave.
"Ah, kamu memang tidak bisa kuandalkan!" pekik Dave membuang napasnya kasar.
Dave mengetuk-ngetukkan telunjuknya di meja mencari cara agar bisa menemukan apartemen Keinara. Mengingat di Jakarta sangat banyak apartemen mewah, tidak mungkin Dave menghubungi satu persatu apartemen tersebut.
"Alpha, apa kamu tidak punya ide sama sekali? Dari tadi kamu hanya celingak-celinguk seperti orang bodoh." ucap Dave menegur.
"Berisik aku juga sedang berpikir keras nih." ucap Alpha mengeryitkan keningnya sambil menengadahkan wajahnya menatap langit-langit atap kantornya, seolah ia sedang berpikir.
"Ah, kenapa nggak dari tadi." pekik Alpha tiba-tiba berteriak seperti orang kesurupan.
"Maksudmu?" tanya Dave heran.
"Kemarin sore Keinara naik taksi untuk bisa sampai ke apartemennya, kenapa tidak menghubungi taksinya saja?" ucap Alpha tersenyum lebar karena ia menemukan ide.
"Ah, dasar kamu lemot, taksi apa yang dia naiki kemarin sore dan berapa plat nomor kendaraannya?" tanya Dave sambil mengutak-ngatik ponselnya.
"Taksi apa ya? Aku kok jadi pelupa begini?" ucap Alpha menepuk jidatnya.
"Jangan katakan kalau kamu tidak tahu taksi apa yang Keinara tumpangi?" tanya Dave dengan sorot mata tajam memandang lekat Alpha yang berusaha keras sedang mengingat-ingat.
"Ini aku lagi mencoba mengingat, dia naik taksi warna biru atau putih ya? Aduh payah nih ingatanku." ucap Alpha merutuki dirinya yang pelupa.
Dave menundukkan wajahnya lesu.
"Jadi, Keinara sudah membohongiku? Dia tidak keluar kota, tapi aku tidak boleh diam saja. Aku harus mencari tahu di mana apartemennya. Oh iya, mungkin Jonathan bisa membantuku kalau tidak salah aku pernah melihat Jonathan pernah bertemu denganku di lobby apartemen yang di mana waktu itu, Keinara juga pergi dari rumah. Apa jangan-jangan apartemen Keinara ada di apartemenku juga? Aku harus menghubungi Jonathan." gumam Dave mencari nama kontak Jonathan di kontak ponselnya.
"Nih orang kenapa juga nggak bisa di hubungi, ke mana sih nih anak. Kenapa hari ini semua orang pada menyebalkan." gumam Dave menggerutu kesal.
"Aku menyebalkan, begitu maksudmu?" tanya Alpha sambil menunjuk dirinya.
"Iya, kamu menyebalkan. Bisa-bisanya kamu tidak ingat taksi apa yang di tumpangi Keinara. Biasanya kamu pintar, tapi kali ini kamu kelihatan sekali bodohnya. Jonathan juga tidak bisa di hubungi!" jawab Dave kesal sambil meremas kertas yang ada di mejanya.
"Begini saja, dari pada kamu marah-marah nggak jelas dan nggak membuahkan hasil sama sekali lebih baik kita cari Keinara sekarang. Kita berpencar saja." ucap Alpha mencetuskan idenya yang ke sekian kalinya.
"Aku setuju, tapi kalau kita pergi berdua siapa yang akan menghandle di sini? Jovanka belum bisa kuandalkan." jawab Dave yang masih terlihat kebingungan.
"Enak saja kamu mengatakan seperti itu, aku benaran mau mencari Keinara! Baiklah, kita berpencar!" perintah Dave menyambar kunci mobilnya melangkah keluar dari ruangan kerjanya diikuti dengan Alpha di belakangnya.
"Kalian mau kemana?" tanya Jovanka saat melihat Dave dan Alpha keluar dari ruangan.
"Kami ada urusan sebentar, tolong cancel semua meeting hari ini." perintah Dave tegas melanjutkan langkah kakinya.
"Baiklah, kalian hati-hati ya." ucap Jovanka berdiri dari duduknya memandangi punggung mereka sampai menghilang dibalik dinding lift yang akan mengantar mereka ke lobby.
"Alpha apa sebaiknya kita meminta bantuan sama temanmu saja, biar Keinara cepat di temukan." tanya Dave yang terlihat terburu-buru berjalan ke arah parkiran mobil.
"Keinara itu bukan di culik, Dave. tapi pergi karena dia kecewa denganmu. Jadi aku rasa tidak perlu minta bantuan kepada siapapun. Kita pasti bisa menemukan Keinara yakin dan percaya saja." ucap Alpha optimis.
"Baiklah kita saling berkabar saja, aku pergi dulu." pamit Dave melajukan mobilnya membelah jalanan kota Jakarta dengan kecepatan sedang.
Sementara di rumah keluarga Salendra. Nenek Nina sedang menghubungi Danang orang suruhannya, ia sudah menduga kalau Dave pasti tidak bisa menemukan Keinara.
"Danang, saya ada tugas untukmu. Tolong cari istri cucu saya. Kalau kamu sudah menemukannya cukup katakan saja padaku biar saya yang menjemputnya. Dave mengatakan kalau Keinara pergi ke luar kota, tapi naluri saya mengatakan bahwa dia tidak pergi ke luar kota. Keinara pasti masih berada di Jakarta." ucap Nenek Nina menjelaskan panjang.
"Baik Bu, saya akan bergerak sekarang." ucap Danang." panggilan telpon pun berakhir.
Nenek Nina seperti terlihat menyusun sebuah rencana, kedua sudut bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.
"Kalau, Danang berhasil menemukan, Keinara. Aku sendiri yang akan mengerjai Dave. Aku ingin tahu seperti apa perasaan Dave kepada Keinara. Apakah dia peduli atau tidak?" gumam Nenek Nina menautkan kedua alisnya menunggu duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu kabar dari Danang orang suruhannya.
Di tempat lain Dave terlihat sudah mulai jenuh, karena sudah beberapa apartemen dia datangi. Namun, ia tetap tidak menemukan nama Keinara. Sama halnya dengan Alpha dia juga sudah mulai lelah berkeliling dari satu apartemen ke apartemen yang lain, tapi tidak mendapatkan hasil apa-apa.
"Kalau saja kemarin aku ingat Keinara naik taksi apa, tidak usah repot seperti ini. Tapi ada baiknya juga sih, aku bisa tahu seberapa besar kepedulian Dave kepada Keinara." gumam Alpha, ia menghentikan dan menepikan motornya karena ponselnya berdering. Kedua bola matanya membulat saat melihat layar ponselnya.
"What! Nenek Nina menghubungiku? Tapi untuk apa? Wah, sepertinya ada sesuatu nih. Lebih baik aku angkat saja." gumam Alpha menggeser tombol berwarna hijau kemudian menempelkan benda pipih persegi itu di telinganya.
"Halo, Nek." sapa Alpha ramah.
"Alpha apa kamu tahu tentang Keinara?" tanya Nenek Nina dari seberang telpon genggamnya.
"A-aku hanya tahu kalau kemarin ia mengatakan kalau dia akan pergi ke apartemennya Nek, tapi aku tidak tahu di mana apartemennya Keinara." balas Alpha dengan jujur.
"Ok, di mana dia terakhir mengatakan kepadamu?" tanya Nenek Nina antusias.
"Di taman dekat pusat kota, Nek." kata Alpha singkat.
"Baiklah Alpha, terima kasih." balas Nenek Nina mengakhiri panggilan telponnya.
Nenek Nina kembali menghubungi Danang.
"Danang kamu pergi ke taman di dekat pusat kota sekarang, kamu bisa memulai pencarian Keinara di sana atau kamu juga bisa menemukan asisten pribadinya, dia pasti tahu di mana apartemen Keinara. Kata Alpha Keinara kemarin pergi ke apartemennya." kata Nenek Nina menjelaskan sangat hati-hati agar Danang tidak bingung.
"Siap Bu, terima kasih infonya akan lebih baik saya langsung menemui asisten pribadinya saja." balas Danang bergegas ia mencari Jonathan asisten pribadi Keinara.
Danang langsung bergerak melajukan mobilnya ke perusahaan Lexie Group menemui Jonathan. Sekitar dua puluh lima menit, Danang pun sampai di kantor Lexie Group ia berjalan melangkah menuju resepsionis dan mengatakan kepada resepsionis ingin bertemu dengan Jonathan.