
"Aku mau bertemu, Keinara. Aku akan mengatakan pada dia kalau aku sangat mencintainya." ucap Dave berjalan sempoyongan menuju pintu utama apartemennya hendak menuju ke apartemen Keinara.
"Dave, kamu mau pulang dalam keadaan kacau seperti ini? Keinara pasti akan semakin tidak percaya padamu, dia akan mempercepat perceraian kalian. Tidak seperti ini caranya, Dave!" ucap Damar menasehati menahan Dave.
Dave tidak mempedulikan ocehan Damar, ia terus berjalan dan akhirnya sampai di depan apartemen, Keinara. Ia pun mengetuk pintu dengan keras.
Damar semakin geram melihat Dave yang sembarang mengetuk pintu apartemen orang.
Keinara yang sedang termenung, tersentak mendengar ketukan dari luar. Keinara tidak sadar kalau dia termenung sudah cukup lama.
"Apa mungkin itu, Dave yang datang lagi?" gumam Keinara bergegas ia bangkit berdiri dan berjalan melangkah menuju pintu utama apartemennya.
Keinara pun membukakan pintu, matanya membulat melihat Dave yang penampilannya sangat kacau.
"What? Jadi, Keinara yang ada di dalam? Pantas saja, Dave ke sini." batin Damar yang menyaksikan Dave berdiri mematung di depan pintu apartemen milik Keinara.
Dave tersenyum melihat Keinara. Ia pun langsung memeluk Keinara sambil berkata.
"Keinara aku mencintaimu jangan tinggalkan aku." ucap Dave lirih memeluk Keinara erat.
Keinara mengendus-enduskan indera penciumannya, bau alkohol yang menyengat yang keluar dari bau aroma mulut, Dave membuatnya menjadi mual. Sontak saja ia langsung melepaskan pelukan Dave.
"Tolong bawa dia ke dalam." perintah Keinara kepada Damar. Keinara berlalu meninggalkan Dave yang di papah oleh Damar masuk ke dalam kamar, Keinara setengah berlari menuju wastafel di sana ia memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Hahaha...Keinara sayang aku mencintaimu, di mana kamu. Aku kerenkan?" ucap Dave meracau nggak jelas, ia tertawa lebar.
"Sepertinya aku perlu mengabadikan moment penting ini." batin Damar mengambil ponselnya di saku bajunya.
Keinara merasa sudah mulai enakan. Ia pun menghampiri, Dave yang terbaring di sofa dengan mata terpejam lalu kedua bola matanya melihat Damar.
"Apa kamu mengenalku?" tanya Keinara dengan ramah.
"Tentu saat kalian menikah aku juga datang, tapi saat itu aku tidak sempat memberi selamat pada kalian berdua. Dave adalah temanku, namaku Damar." ucap Damar tersenyum mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Keinara.
"Tadi Dave yang memintaku untuk mengantarkan minuman ke apartemennya. Dia belum pernah mabuk sampai separah ini, sepertinya dia sangat frustasi saat kamu memutuskan ingin bercerai dengannya. Dave sangat mencintaimu, Keinara. Jadi tolong pikirkan kembali keputusanmu itu. Jaga dia ya, aku pulang dulu." ucap Damar menjelaskan sambil berpamitan kepada Keinara.
Keinara tidak mengatakan apapun setelah mendengarkan penjelasan dari Damar.
"Apa benar, Dave mencintaiku? Dan dia seperti ini karena aku. Tapi, kenapa rasanya aku tidak percaya kalau, Dave benaran mencintaiku." gumam Keinara memandangi wajah Dave yang sudah tertidur lelap.
Keinara membelai wajah Dave yang sudah tertidur dengan pulas, ingin rasanya ia memeluk Dave. tapi ia takut akan membangunkannya. Keinara beranjak pergi masuk ke dalam kamarnya mengambil selimut untuk Dave.
Setelah memakaikan selimut, Keinara kembali lagi ke kamarnya, membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia memandang langit-langit kamarnya, rasanya ia sangat sulit untuk memejamkan matanya.
"Kira-kira, Keinara sakit apa ya? Memang belakangan ini Keinara rada sedikit aneh." gumam Nenek Nina sambil membuka amplop yang sudah ada di tangannya.
kedua bola matanya membulat dengan sempurna saat melihat isi dari amplop itu. Sudut bibirnya melengkung sempurna membentuk sebuah senyuman bahagia.
"Ja-jadi sebentar lagi aku akan punya cicit? Besok aku harus ke apartemen Keinara, aku harus memberitahukan kepada Dave. Dia pasti akan bahagia mendengar berita ini." gumam Nenek Nina, ia terlalu bahagia saat mengetahui Keinara hamil.
Keesokan harinya, cepat-cepat Nenek Nina pergi ke apartemen Keinara. Sepanjang perjalanan senyumnya mengembang. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima puluh menit, Nenek Nina sudah sampai di gedung yang menjulang tinggi itu.
Keinara masih terlelap dari tidurnya, karena semalam ia tidak bisa tidur. Sedangkan Dave, terbangun karena mendengar suara bel.
Dave merasa pusing dan mual karena kebanyakan minum. Ia pun lari ke kamar mandi mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya.
Nenek Nina terus menekan bel karena tidak ada yang membukakan pintu. Keinara akhirnya terbangun ia bergegas berjalan melangkah keluar dari kamarnya menuju pintu utama apartemennya dan langsung membukakan pintu.
"Nenek, silahkan masuk Nek." sapa Keinara mempersilahkan masuk.
Nenek Nina tidak langsung masuk, melainkan langsung memeluk Keinara sambil berkata.
"Keinara, selamat ya sayang. Terima kasih karena sebentar lagi, Nenek akan punya cicit." ucap Nenek Nina tersenyum senang.
"Dari mana Nenek Nina tahu kalau Keinara hamil?" tanya Keinara menautkan kedua alisnya.
Nenek Nina melepaskan pelukannya, kemudian mengambil hasil USG Keinara dari dalam tasnya.
"Ini semalam Nenek menemukannya di mobil, Nenek sangat bahagia sekali." ucap Nenek Nina menunjukkan sebuah amplop pada Keinara yang ia pegang dari tadi.
Keinara terdiam sejenak kemudian melihat Nenek Nina dengan tatapan memohon.
"Nek, tolong jangan kasih tahu, Dave tentang kehamilan Keinara." ucap Keinara meletakkan kedua tangannya di depan dada.
"Astaga sayang, tidak bisa begitu dong Dave harus tahu. karena anak yang ada di dalam perutmu adalah anaknya Dave. Jadi jangan katakan kalau kamu pernah tidur dengan laki-laki lain sebelum menikah dengan, Dave." ucap Nenek Nina berharap tebakannya salah.
"Nek, Keinara tidak pernah tidur dengan laki-laki manapun kecuali dengan, Dave dan itu juga karena dijebak oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Keinara hanya tidak mau Dave mengetahuinya saat ini karena belum saatnya.
"Sampai kalian beneran berpisah, begitu baru kamu memberitahunya? Maaf Keinara Nenek tidak bisa memenuhi permintaanmu, sayang. Nenek akan tetap memberitahukannya kepada Dave sekarang. Karena Nenek tidak mau kalian berpisah, karena sudah jelas kalau kamu hamil dengan Dave." ucap Nenek Nina menolak permohonan Keinara dengan halus.
"Dimana Dave?" tanya Nenek Nina sambil masuk ke dalam apartemen Keinara. Kedua bola matanya menyapu seluruh sudut ruangan apartemen Keinara mencari keberadaan Dave.
Keinara mengikuti Nenek Nina dari belakang, jelas di wajahnya terlihat kepanikan.
"Dave." teriak Nenek Nina terus memanggil Dave.
"Nek, please jangan kasih tahu Dave dulu. Nanti Keinara yang akan memberitahunya." ucap Keinara meminta dengan wajah memelas.
"Sayang jangan halangi Nenek memberitahu, Dave. Dia berhak untuk tahu." jawab Nenek Nina tegas.
Dave yang keluar dari dalam kamar mandi mendengar suara Nenek Nina yang sedang berbicara dengan Keinara, ia pun melangkah berjalan menghampiri Nenek Nina dan Keinara.