TAWANAN CEO AROGAN

TAWANAN CEO AROGAN
Tidak Bisa Di Atur


"Ya tahu dong, dari dulu kebiasaan buruk kakak saat menyetir selalu melamun. kak, kakak sedang banyak pikiran ya? Wajah kakak kusut dan nggak bersemangat, ada masalah?" tanya Zayn menautkan kedua alisnya.


"Zayn, sayang. Kakakmu ini baru saja pulang dari rumah sakit, mana mungkin banyak pikiran." jawab Keinara mengelak.


"Kak, Zayn sudah tahu semuanya. Apa, kakak bahagia dengan laki-laki yang kakak pilih menjadi suaminya, kakak? Kalau kakak tidak bahagia lebih baik kalian bercerai saja, aku tidak mau melihat kakak kesayanganku menderita." balas Zayn menyarankan dengan harapan kakaknya bisa kembali hidup bahagia.


"Oh, jadi kamu sudah tahu semuanya? Baguslah jadi kakak tidak perlu memberitahunya lagi. Kakak sangat bahagia dengan pernikahan kakak ini. Kamu tidak perlu khawatir ya. Sekarang kamu kapan pulang, kakak mau kamu yang menangani perusahaan kita." kata Keinara mengutarakan maksudnya kepada Zayn.


"Zayn akan pulang kalau kuliah Zayn sudah selesai, kak. Ya sudah, cepat sembuh ya, kak. Salam sama suami kakak gue." kata Zayn sebelum mengakhiri video call sambil bergurau menggoda Keinara.


"Bye, sayang." balas Keinara mengakhiri panggilannya.


"Sayang jadi Keinara barusan sedang video call, dengan kekasihnya? Apakah Jonathan kekasihnya, ya?" batin Dave dalam hatinya.


Dave baru saja masuk ke dalam kamar, setelah menyelesaikan aktivitas berenangnya. Namun, saat ia masuk Dave mendengar Keinara sedang video call dan mendengar kalimat terakhir Keinara yang memanggil kata, sayang.


Setelah selesai mengganti pakaian, Dave ke dapur membuat kopi untuknya. Ia bisa saja menyuruh bibi yang bekerja di rumahnya untuk membuatkannya secangkir kopi panas, tapi setelah melihat bibi juga repot, ia memilih membuat sendiri.


Kemudian ia masuk ke kamar tamu, duduk di balkon yang bersebelahan dengan kamarnya. Tidak lupa ia membawa laptop untuk menyelesaikan pekerjaannya. Biasanya seorang Ceo lebih senang menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja, tapi Dave berbeda ia lebih senang menyelesaikan pekerjaannya di balkon kamar. Karena dengan melihat pemandangan alam sambil bekerja bisa menambah semangatnya.


Ia juga menghidupkan musik di kamarnya untuk menemaninya bekerja. Dari kamar sebelah Keinara mengendus hidungnya mencium aroma kopi yang membuat tenggorokannya merasa haus. Keinara dan Dave sama-sama penyuka kopi.


"Siapa yang minum kopi, kopinya wangi sekali. Aku jadi pengen." gumam Keinara mengendus-enduskan hidungnya.


Dave mendengar Keinara yang menginginkan kopi, tapi ia tidak mempedulikannya. Ia kembali melihat layar laptopnya memeriksa email yang masuk.


Keinara keluar membuat secangkir kopi yang sama seperti yang diminum Dave, lalu membawanya ke kamar. Ia sudah tidak sabar meminum kopi kesukaannya.


Dave teringat sesuatu, ia baru teringat kalau dokter berpesan Keinara tidak boleh minum kopi selama pemulihan, ia menghirup aroma kopi dari kamar Keinara.


"Astaga aku hampir lupa Keinara, bukannya sebelum sembuh kamu tidak boleh minum kopi." gumam Dave keluar bergegas ia masuk ke dalam kamar mereka setengah berlari.


Keinara hendak menyeruput kopinya, tapi Dave langsung mengambilnya.


"Dave, kenapa kamu ambil kopiku?" ucap Keinara tersentak kaget.


"Tidak boleh minum kopi selama pemulihan, jangan membantah apa yang kukatakan! Kalau kamu melanggarnya aku akan menciummu!" ancam Dave dari sorot matanya ia sangat serius.


"Tidak ada yang bisa melarangku minum kopi. Kembalikan kopinya, aku sudah satu minggu tidak minum kopi!" ucap Keinara tidak mau menyerah sebelum Dave memberikan kopinya.


"Kamu harus mendengarkan apa kata suamimu. Aku yang melarangmu, titik tidak ada koma. Kopi ini akan aku minum, kalau kamu mau mencicipi kopimu boleh. Aku akan mengijinkanmu mencicipinya." jawab Dave tersenyum menyeringai.


"Ok, aku akan mencicipinya walau sedikitpun tidak masalah." jawab Keinara mengalah.


"Ok, sebentar aku minum dulu baru kamu cicipi ya." ucap Dave meniup kopi yang masih panas, setelahnya di rasa sudah bisa di minum dengan sekali tegukan, ia langsung meminumnya tanpa menyisakan sedikitpun.


"Lho, kok dihabisin, tadi kamu bilang aku boleh mencicipinya, tapi apa yang mau dicicipi sudah habis begini!" ucap Keinara kesal memegang cangkir di tangannya.


"Aku tidak mengatakan kamu harus mencicipinya di cangkir ini." ucap Dave santai sambil terkekeh.


"Lalu?" tanya Keinara menaikkan alisnya.


"Kamu mau mencobanya sekarang? Cobalah sepuasmu." tanya Dave berjalan melangkah mendekati Keinara, ia memajukan bibirnya ke wajah Keinara.


"Apa-apaan sih? Nggak lucu!" ucap Keinara sambil menekuk wajahnya.


"Kamu bisa mencicipinya di sini." ucap Dave menunjuk bibirnya, dalam hatinya ia sangat senang bisa mengerjai Keinara.


"Lebih baik aku tidak minum kopi selamanya dari pada harus mencicipinya dari bibirmu. Dasar pria mesum, mengambil kesempatan dalam kesempitan, menyebalkan!" gerutu Keinara mengumpat kesal.


"Yakin kamu tidak mau mencicipinya? Padahal kopi buatanmu sangat enak sekali lho. Sepertinya setiap hari kamu harus buatkan kopi untukku." ucap Dave tersenyum puas melihat ekspresi wajah Keinara yang kesal.


"Tidak mau lebih baik kamu menyuruh wanita yang kamu cintai itu membuatkan kopi untukmu. aku mau menemui, Nenek dulu!" pamit Keinara menghentakkan kakinya meninggalkan Dave.


"Aku saja tidak tahu di mana wanita yang aku cintai." gumam Dave mengangkat bahunya tinggi.


Malam tiba mereka sudah berada di meja makan, bersama Nenek Nina. Karena Keinara baru pulang dari rumah sakit, Nenek Nina mengambilkan makan untuk Keinara, tapi Dave mengambil alih.


"Nenek, biar Dave yang ambilkan." ucap Dave mengambil piring dari tangan Nenek Nina.


"Tidak usah, aku bisa sendiri." jawab Keinara ketus, ia tidak senang mendengar perkataan Dave yang menawarkan bantuannya.


"Tadi saat Nenek yang mau ambil bukannya kamu tidak menolak. Saat aku yang ambilkan kamu malah menolaknya. Aku akan tetap mengambilnya jangan membantah, diam dan duduk di tempat, ok." ucap Dave melarang Keinara.


Keinara selama kamu belum pulih biar Dave yang melayanimu." ucap Nenek Nina menyarankan mengelus-elus bahu Keinara.


"Keinara tidak ingin merepotkan siapapun, Nek. Lagi pula Keinara sudah sembuh." ucap Keinara tersenyum manis.


"Kamu masih terlihat pucat, sudah menjadi tugas Dave sebagai suamimu untuk melayani selama kamu sakit. Nanti juga sebaliknya kalau Dave sakit sebagai istri kamu harus melayaninya. Yang namanya berumah tangga itu harus saling tolong menolong, saling bahu membahu dan yang terpenting adalah setia dan jujur. Jika ada masalah di selesaikan dengan cara baik-baik, jangan malah emosi atau marah-marah karena dengan marah-marah tidak menyelesaikan masalah, paham bukan kata Nenek." ucap Nenek Nina memberikan nasehat.