
"Sudah turuti saja, tunjukkan kalau kamu itu suami yang baik. Apalagi dia baru sembuh dari sakitnya, dia pasti butuh asupan gizi yang banyak. Kemarin saja waktu di rumah sakit, kamu begitu perhatian padanya. Ini dia baru minta makanan saja, kamu sudah menggerutu." ucap Alpha menasehati.
"Tumben kamu bicara seperti itu." jawab Dave datar.
"Karena sebagai sahabat yang baik, aku harus terus mengingatkanmu agar kamu ingat dengan statusmu sekarang. Sekarang ini tanggung jawabmu bukan pada perusahaan Salendra Corp saja, tapi tanggung jawabmu sebagai suami sudah ada. Menjaga Keinara dan membahagiakannya dan satu lagi, jangan berencana menduakan, Keinara karena menurutku Keinara jodohmu yang sesungguhnya bukan orang lain atau pun teman masa remajamu yang pernah kamu ceritakan padaku." ucap Alpha panjang dengan raut wajah serius.
"Kamu sudah selesai ceramahnya, Alpha? Kalau sudah silahkan kembali ke ruanganmu. Dan katakan kepada sekretaris baru itu buatkan aku kopi yang enak." perintah Dave mengusir Alpha halus dan menyuruhnya menyampaikan pesan untuk Jovanka.
"Siap pak, bos. Perintah akan segera di laksanakan, semua kata-kataku tadi di renungkan ya." ucap Alpha sebelum benar-benar pergi meninggalkan Dave sendirian di ruangannya.
Alpha menghampiri Jovanka yang sedang duduk termenung.
"Jovanka." ucap Alpha memanggil tapi tidak ada sahutan.
Alpha melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Jovanka.
"Halo, apa kamu mendengarku?" tanya Alpha mendekati wajah Jovanka, ia penasaran ingin melihat raut wajah Jovanka yang sedang asik melamun.
"Eh, iya pak. Alpha maksudnya." jawab Jovanka tersadar dari lamunannya, ia memberikan cengiran kudanya.
"Kamu melamun lagi? Apa melamun salah satu hobimu? Dave menyuruhmu untuk membuatkan kopi untuknya. Ingat, gulanya sedikit saja." ucap Alpha mengintruksikan.
"Membuat kopi? Baiklah, saya akan membuatnya sekarang." ucap Jovanka bergegas pergi menuju pantry membuat kopi untuk Dave, tidak lupa dia juga membuat kopi untuk dirinya.
Jovanka menghirup aroma kopi yang khas membuatnya tidak sabar ingin menyeruput kopi yang ada di tangannya saat ini.
Setelah sampai di ruangan Dave, Jovanka menghentikan langkahnya. Ia masih terlihat gugup berhadapan langsung dengan Dave.
Tapi tidak ada pilihan lain selain masuk ke dalam.
Tok! tok! tok!
Jovanka mengetuk pintu ruangan Dave.
"Masuk." ucap Dave dari dalam ruangan kerjanya.
Ceklek!
"Pak ini kopinya." ucap Jovanka meletakkan secangkir kopi panas di atas meja kerja Dave.
"Letakkan di meja saja." jawab Dave singkat.
Jovanka meletakkan kopi panas itu dengan tangan bergetar. Dave mengangkat kepalanya melihat ke wajah Jovanka.
"Kamu sakit?" tanya Dave perhatian.
"Nggak kok pak, saya baik-baik saja. Saya permisi dulu." pamit Jovanka menundukkan kepalanya, ia langsung keluar dari ruangan Dave.
Dave kembali berkutat di depan layar laptopnya, memeriksa email yang masuk.
" Kopi buatan Jovanka persis seperti kopi buatan Keinara." batin Dave merasakan persamaan hasil racikan kopi buatan Keinara dan Jovanka.
Waktu berlalu begitu cepat, Dave pergi ke rumah makan, bu Ami untuk memenuhi permintaan Keinara yang menurutnya sudah sangat berlebihan.
"Keinara ini menyusahkanku saja, padahal aku sedang sibuk sekali. Di rumah ada bibi, kenapa dia tidak menyuruh bibi saja memasakkan makanan kesukaannya? Kenapa harus kepiting masakan, bu Ami? Aneh-aneh saja permintaannya, kenapa sih dia itu." gumam Dave menggerutu kesal berjalan melangkah menuju pintu masuk rumah makan langganan favoritnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Dave sampai di rumah makan bu Ami. Ia langsung memesan kepiting saus asam manis kesukaan Keinara, dua porsi sekaligus.
"Pak Dave datang lagi, silahkan masuk pak." ucap bu Ami menyambut tamu langganannya dengan ramah.
"Saya menunggu di sini saja, Bu Ami. Kepiting saus asam manisnya dua ya bu, kalau bisa cepat karena istri saya sudah kelaparan di rumah." ucap Dave meminta dibuatkan secepatnya.
"Jadi wanita yang bersama pak Dave kemarin istrinya?" tanya bu Ami sopan, ia sangat berhati-hati menanyakan perihal itu kepada Dave.
"Hah! Maksud bu Ami, apa ya?" tanya Dave berpura-pura tidak dapat mencerna perkataan bu Ami.
"Maksud saya wanita yang datang kemarin siang dan yang semalam datang ke sini bersama bapak, istrinya pak Dave?" tanya bu Ami mengulangi pertanyaannya.
"Astaga, aku keceplosan." gumam Dave gugup, mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kalau aku bilang aku salah bicara, pasti bu Ami tidak akan percaya, diakan orangnya kepo banget. Ya sudahlah, sudah kepalang basah. Lebih baik iya kan saja biar cepat selesai." batin Dave menyesal dalam hatinya.
"Hemm... wanita yang semalam memang istri saya, bu Ami." ucap Dave terus terang mengakui bahwa Keinara istrinya.
"Pak Dave memang laki-laki yang pintar memilih istri. Istrinya cantik, berkelas, tapi tetap mau diajak makan di rumah makan sederhana ini. Biasanya tuh ya, kalau wanita kaya raya, mana ada yang mau diajak makan di tempat seperti ini pasti makannya selalu di restoran ternama. Saya doa'kan rumah tangga pak Dave langgeng sampai selamanya dan cepat dapat momongan." ucap bu Ami mendoakan Dave.
"Amin." jawab Dave, tanpa sadar ia mengaminin ucapan bu Ami.
Bu Ami sudah selesai menyiapkan pesanan Dave dan ia pun memberikan paper bag yang berisi pesanan kepiting saus asam manis kepada Dave.
"Ini pak Dave, pesanannya." ucap bu Ami tersenyum lebar.
"Bu, saya bukannya pesan dua. Kenapa bu Ami membuatnya jadi tiga porsi?" tanya Dave mengerutkan keningnya saat menerima paper bag dari bu Ami.
"Yang satunya bonus untuk istrinya, Pak Dave. Sering-sering saja istrinya diajak makan di sini pak Dave." ucap bu Ami terkekeh senang.
"Wah, kalau begitu terima kasih banyak ya, bu. Saya pamit dulu." jawab Dave. setelah membayar pesanannya, Dave pun pulang ke rumah hanya demi mengantar kepiting saus asam manis pesanan Keinara.
Sementara di kediaman Salendra, Keinara sedang menikmati istirahatnya. Ia sedang rebahan di sofa ruang tamu sedang menonton film favoritnya. Dari halaman pekarangan depan rumah terdengar suara deru mesin mobil Dave.
Keinara langsung menghentikan aktivitas menontonnya, ia setengah berlari membuka pintu karena tidak sabar menyantap makanan yang ia inginkan dari tadi.
"Hemm... rasanya tidak sabar ingin menyantapnya." gumam Keinara senang melihat mobil Dave terparkir di depan garasi rumahnya yang mewah.
Dave turun dari mobilnya, ia melihat Keinara keluar dengan senyum riang.
"Kamu kenapa senyum-senyum seperti orang gila?" tanya Dave membuka pintu mobilnya dan berjalan melangkah menghampiri Keinara yang sudah berdiri di depan teras rumahnya yang besar itu.
"Enak saja kamu mengataiku orang gila. Mana makanan yang aku pesan? Aku sudah tidak sabar mau memakannya sekarang." jawab Keinara ketus sambil berkacak pinggang.