Sebatas Nikah Kontrak

Sebatas Nikah Kontrak
Makan malam


Emir kembali turun, dengan gaya cueknya dia berjalan ke dapur. Tak dihiraukan nya Mutia yang duduk sendirian di ruang tamu.


"Emir mana istrimu?" tanya nenek yang juga sudah duduk di meja makan.


"Dimana dia, cih merepotkan" batin Emir


Dengan malas Emir kembali berdiri melangkah memanggil istrinya.


"Ara.."


Mutia menoleh, Hanya dengan lirikan mata Emir, gadis itu bergerak, dia mengikuti langkah Emir, mereka makan bersama dengan nenek Hamidah.


Perasaan kikuk masih saja menghantuinya. Belum lagi kalimat terakhir sang nenek yang penuh ancaman.


"Ambilkan makanan untuk suami mu?" tiba-tiba nenek memerintah.


"Apa? makanan apa saja yang disukainya?" tanya Emir dalam hati.


"Mau yang mana?" akhirnya kata itu yang keluar dari bibir Mutia, dengan kikuk memandang wajah Emir.


"Ikan dan sambal," sahut Emir.


Mutia mengambilkan nasi ikan dan sambal, "Sudah cukup" ucap Emir cepat.


Kemudian dia juga mengambil makanan untuknya sendiri. Dan pelan menyuapkannya ke dalam mulut, takut akan kemarahan sang nenek.


Hening hanya denting sendok yang bertabrakan dengan piring yang terdengar.


"Tiket dan semua perlengkapan kalian sudah aku siapkan, besok pagi kalian berangkat," ucap nenek Hamidah memecahkan kesunyian.


"Baik nek" sahut Emir


Namun tidak bagi Mutia, rasanya makanan yang ada di dalam mulutnya nyangkut dan tak bisa melewati kerongkongan nya. Dia bingung dan sangat terkejut, namun tak punya pilihan lain, nyawa dan kesembuhan ibunya lebih penting.


Lalu bagaimana dengan butik kecilnya? walaupun kecil tapi itu adalah hasil jerih payahnya dan dia sudah merintis nya sejak lama.


Emir telah selesai makan dan beranjak lebih dulu, tinggallah nenek dan juga mutiara.


"Malam ini kau menginap disini saja, ibumu akan berangkat malam ini, jangan khawatir ada dokter dan juga Tante mu yang akan menemani nya." ucap nenek lagi.


"Terima kasih nek." ucap Mutia menunduk hormat.


Makan malam telah selesai dan nenek sudah kembali ke kamarnya.


Mutia yang bingung dimana kamar Emir, hanya duduk di tempatnya tak tau harus kemana dan berbuat apa.


Emir hendak keluar mencari angin, namun dia justru melihat Mutiara masih duduk di meja makan.


"Apa yang di lakukan gadis bodoh itu? apa dia mau tidur disitu? lihatlah bahkan dia tidak mengganti pakaiannya. Bikin repot saja," omel Emir.


"Apa yang kau lakukan disini? mau membuat nenek kesal dan memarahi ku?"


"Tidak, tapi aku-"


"Cepat ikut, jangan banyak alasan." bentaknya.


Mutiara ingin menjawab tapi melihat tatapan tajam Emir membuat dia membatalkan niatnya itu.


Pria itu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya diikuti oleh Mutia, dan dengan perasaan ragu Mutia masuk saat pintunya terbuka.


Kamar yang sangat luas, hampir sebesar butik kecil miliknya yang telah lama dia tinggalkan, entah apa yang terjadi disana, gadis itu juga tidak tau.


Mutia masih memperhatikan sekelilingnya, dan itu tak lepas dari pandangan Emir, pria itu tersenyum sinis, "Perempuan matre!" bisiknya Pelan.


"Kau bisa tidur disitu" Ucap Emir, membuat sang gadis mengikuti gerak tangannya yang tertuju pada sofa yang ada di dalam kamar.


Setelah bicara dia keluar, Mutiara sedikit bernafas lega, dia pikir Emir akan bicara lain, dan gadis itu bersyukur setidaknya dia tidak dirugikan dalam pernikahan ini.


"Aku mau mandi, tapi dimana pakaian ganti ku?" batinnya


Melihat ada lemari, mutiara maju dan membukanya.


Gadis itu kaget sekaligus takjub melihat banyaknya pakaian wanita tersusun rapi disana dan semuanya baru. Mutia mengambil salah satunya dan dia terperanjat saat melihat merk yang tertera disana, jiwa kisminnya meronta. Baju limited edition yang hanya ada tiga di dunia, ada ditangannya saat ini. Bisa dibayangkan berapa banyak angka nol yang digunakan saat membeli gaun tersebut.


Dengan hati-hati dia meletakkan nya kembali ke dalam lemari, kemudian mengambil satu set piyama, lalu masuk kedalam kamar mandi. Setengah jam kemudian dia keluar dengan tubuh segar dan wangi.


Gadis itu mengusap rambutnya yang basah dan berbaring di sofa.


Sofa itu cukup besar menampung tubuhnya yang mungil.


Tak butuh waktu lama, dia pun terlelap.


Jam sebelas malam, Emir masuk ke dalam kamar. Dia mendapati istrinya yang terlelap di sofa.


Entah apa yang dia pikir kan, saat ini dia sudah berada di depan mutiara, menatap wajahnya yang damai.


***